
"Ai nih, kemungkinan melahirkan lebih dini. Aku udah minta tim dokter untuk kasih perawatan intensif, biar bisa hidup keduanya gitu. Kalau misal dilahirkan sekarang, kesempatan hidup untuk bayinya itu cuma tujuh belas sampai lima puluh persen. Itu pun, bayinya dipastikan bakal lama di NICU. Dengan keterbatasan fisiknya juga, ya mungkin juga bayi ini bakal sering bolak-balik rumah sakit," terang Kenandra, sebelum dirinya membuka pembicaraan tentang selembar surat yang ia bawa.
"Ya daftarkan BPJS lagi aja." Givan mengerucut ke arah biaya. Ia tahu bagaimana Ai dan apa yang Ai incar pada dirinya.
Kenandra menghela napasnya dan memperhatikan Givan sejenak. "Masalahnya, bukan di biaya aja. Okelah cover BPJS nih, gampangannya begitu. Tapi perawatan bayi dengan fisik yang kurang sempurna ini, apalagi ini menyangkut organ dalamnya juga, ya berobatnya tak mungkin semuanya bisa cover BPJS. Belum lagi kebutuhannya yang lain, alat bantu dan lain sebagainya. Tapi, bukan itu yang mau aku bahas. Aku cuma mau sampaikan aja, kalau memang keadaan bayi Ai tuh ya kesempatan hidup jika dilahirkan dini itu sedikit. Nah sedangkan keadaan sekarang, ya mau tak mau harus melahirkan lebih cepat. Ini lagi diusahakan sama tim dokter, untuk nunggu usia kandungan tujuh bulan aja, sekitar tiga mingguan lagi. Nah setelah itu, bayi bakal dilahirkan secara sesar. Aku bawa surat, tentang permohonan untuk minta sampel darah dan rambut bayi tersebut. Untuk kita pergunakan sebagai alat tes DNA kecocokan dengan kau. Ini surat permohonannya dari rumah sakit yang berbeda, karena di rumah sakit Ai di rawat sekarang kan, tidak menyediakan fasilitas tes DNA dan semacamnya." Kenandra menjelaskan secara perlahan dan terinci, agar Givan bisa memahami.
"Bang, kasian loh," ucap Canda tiba-tiba.
Givan menoleh ke arah istrinya, yang duduk di sisi kiri Kenandra. Suami istri tersebut, dihalangi oleh Kenandra.
"Sampel darah, pasti akan diambil untuk cek kelainan dalam kesehatannya. Jadi misalkan tak tes DNA pun, ya anak itu tetap diambil sampel darahnya. Gitu, Canda," jelas Kenandra kemudian.
"Kau nih, kasian-kasian terus. Coba egois sedikit, Canda," ketus Givan dalam sorot mata tajam.
"Jangan bawa-bawa Canda dulu deh, Van. Nanti, pikiran kau malah makin ke sini makin ke sana aja." Kenandra malah memunggungi Canda dan menghadap penuh pada Givan.
"Abang!!!" Canda memukuli punggung kakak ipar angkatnya itu.
Kenandra terkekeh, kemudian memutar alat duduknya untuk menghadap Canda sementara. "Minta waktu untuk pinjam suaminya sebentar ya? Kau main-main aja dulu deh, ke ibu, atau ke mamah. Gih...." Kenandra mengusap bahu Canda.
Namun, itu bukan maknanya untuk Givan. Ia langsung menepis tangan kakak angkatnya tersebut, ia tidak suka ada laki-laki lain menyentuh Canda meski saudaranya sendiri.
"Jantannya sensitif betul. Tak boleh kah?" Kenandra menoleh ke arah kiri secara maksimal, untuk bisa melihat posisi Givan berada.
"Canda jangan diusap-usap, Bang. Nanti keluar jinnya." Givan mengelabui tindakan tidak sukanya dengan gurauan.
Mereka semua tertawa lepas, dengan Canda yang mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Aku ikut Fani ke PAUD Cani aja." Canda beranjak.
"Jajan aja, Canda. Jangan gabung sama ibu-ibu ngobrol." Givan selalu menitipkan pesan ketika Canda akan ke sekolah anaknya. Karena pasti saja ada hal buruk yang disampaikan mereka, lalu berakhir dengan Canda yang menangis pada suaminya.
"Iya, Mas." Canda berjalan tiga langkah untuk menghadap ke suaminya.
"Uangnya ada kan?" Pikir Givan, istrinya akan meminta uang.
"Ada, yang tiga ratus pagi tadi di nakas kan?" Canda menyentuh lutut suaminya.
"Iya, belum ambil ke ATM. Nanti ya? Mau ke Pintu Rime dulu sebentar, pulangnya tarik uang." Givan berpikir, ia tidak akan lama dan tiga ratus ribu cukup untuk sementara ia pergi. Apalagi, ada uang cash beberapa gepok yang berguna untuk kebutuhan mendadak.
"Iya, minta cium dulu."
Kenandra kini memalingkan pandangannya.
"Salim dulu." Givan mengulurkan tangan kanannya.
"Iya, abis ngobrol langsung berangkat. Orang tuh, ngaca dulu coba. Ada kotoran matanya." Givan membersihkan kotoran mata istrinya.
"Iya kah?" Canda terkekeh kecil, membiarkan suaminya membersihkan kotoran matanya.
"Kalau di rumah sendirian, ke mamah aja atau ke ibu. Aku dilangsung pulang lagi, tak lama di sana, ambil dokumen sama cek lapangan aja sebentar." Givan membingkai wajah istrinya dan menciumi seluruh wajah istrinya.
"Van, kau tak tau kah gimana ngirinya aku?" Kenandra sampai menopang dagunya.
"Ada istri malah diceraikan." Givan memandang sinis kakak angkatnya.
__ADS_1
"Aku digugat cerai, Bodoh." Kenandra tertawa sumbang.
"Aku berangkat ya, Mas?" Givan membenahi hijab panjangnya.
"Iya, ati-ati." Givan mengangguk dan memperhatikan langkah istrinya yang beranjak bersama anak-anaknya yang lain.
Mereka seperti rombongan satu RT. Padahal, hanya rombongan satu keluarga. Belum lagi, di depan rumah Adinda. Sudah banyak keponakan Canda yang menunggu, untuk berangkat bersama dengan anak-anak Canda.
"Gimana, Bang?" Givan kembali fokus berbicara dengan Kenandra.
"Surat pengajuan permohonan sampel darah dan rambut. Udah begini, gila loh Ai malah tak mau tanda tangan. Kasian sih sebenarnya, nangis aja. Stress betul keknya dia ini. Cuma pikiran aku, dia stress ini karena mikirin nasibnya yang bakal merugi segala-galanya. Dia stress, bukan mikirin lima puluh persen kesempatan anaknya untuk hidup. Keknya sih begini, menurut aku begini." Kenandra mengeluarkan surat dari sakunya.
"Coba nanti kau minta langsung ke Ai untuk tanda tangan, karena omongan aku tak mempan." Kenandra memberikan secarik kertas tersebut.
Givan menerima dan membacanya. Surat ini sudah ditandatangani oleh Kenandra, tapi perlu tanda tangan Ai juga.
"Sebelum ke Pintu Rime, kau sempatkan dulu ke Ai." Kenandra menepuk pundak Givan.
Givan menoleh, lalu menghela napasnya. "Malas betul aku, takut tak kontrol emosi. Kirain, kau datang anterin surat izin operasi. Di awal tadi, kau ceritakan tentang Ai yang bakal disesar," ujar Givan kemudian.
"Kalau surat izin operasi itu, turun pas mau dioperasi. Bukan jauh-jauh harinya," pungkas Kenandra dengan jelas.
"Udah males betul aku ngurusin Ai. Awal sih, berani aku ngelabrak kalau dia ngomong apa atau apa ke anak-anak. Sekarang, aku lebih fokus ngomongin anak-anak aja kalau mereka dengar kabar buruk dari luar." Givan sudah berada di ambang tidak memiliki kepedulian terhadap Ai.
"Ya gimana ya? Masalah kau tak akan pernah selesai, sampai akhirnya dia pulang dari kampung ini. Itu pun, harus benar-benar ada kesepakatan bahwa tidak akan mengganggu kehidupan masing-masing lagi." Kenandra menggaruk kepalanya.
"Ai itu mau uang, sedangkan aku itu ada tak ikhlas jamin uang untuk dia. Tapi bahasanya Canda sedekah, ya udah aku ikut Canda aja untuk sementara. Canda gampang nethink, kalau aku tak sesuai dengan pemikirannya." Givan menyugar rambutnya ke belakang.
__ADS_1
"Selain uang, tujuan utama Ai itu....
...****************...