Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM255. Sudut pandang berbeda


__ADS_3

"Aku pun dulu berpikir Mamah dan papah condong ke Ghifar. Musuh terbesar aku dalam rumah itu Ghifar. Aku cemburu buta, karena aku tak tau kondisi sebenarnya. Sama, mungkin kau pun tak tau kondisi yang sebenarnya terjadi di sana. Setelah tau, aku malah nyesel buat sekeliru itu bahkan yang rugi diri aku sendiri. Apa cara terbaiknya? Ya hanya memperbaiki hubungan," timpal Givan kemudian.


"Itu cuma kekeliruan kakak beradik, Van. Aku orang tua." Kenandra merasa pokok permasalahan dalam ruang lingkupnya jelas berbeda.


"Jadi beda kah? Menurutku sama aja. Sama-sama keliru, sama-sama kita tak tau kejadian sebenarnya. Lagian, kalau kau trauma. Ya tak usah menjalin hubungan dengan siapapun, karena kau malah buat luka untuk orang baru. Kau duda, bebas, jajanlah, daripada rusak orang. Dosa-dosa tanggung kau sendiri, penyakit kau sendiri yang rasakan. Kalau sama Ria begini, gimana? Kau berdosa, Ria juga berdosa. Kau kena penyakit, Ria juga kena penyakit. Bukan aku nyaranin kau berbuat dosa, tapi daripada kau rusak anak gadis orang." Givan mengerutkan keningnya tanda ia serius.


"Kau tak tau luka batin aku, Van! Kau enak, bisa dibawa Mamah saat perceraian. Bahkan, kau diusahakan Mamah biar kau ikut dia. Aku gimana? Aku bahkan datang sendiri ke umi, untuk berbakti ke umi."

__ADS_1


Givan dan Adinda saling memandang. Mereka berkomunikasi dengan tatapan mata mereka.


Mereka mulai menghubung-hubungkan jika Kenandra memiliki trauma pada seorang wanita. Tapi, kenapa sampai selanjut ini baru ia buka? Namun, itu hanya tebakan mereka. Perlahan, mereka bertanya-tanya kembali agar memahami semuanya.


"Makanya, kau cari itu kebenarannya. Dulu aku awal kesalnya sama Ghifar, karena dia dijemput pulang dari rumah tante Zuhra, sedangkan aku dibiarkan ambil pendidikan jauh. Aku tak tau, kalau dia itu kena penyakit paru-paru, disuruh berbobot sampai delapan bulan. Aku taunya, kalau Mamah dan papah ingin Ghifar kembali, sedangkan aku tak. Nah, mungkin kau tak tau alasannya, kenapa umi Sukma tak bawa kau." Givan sampai menunjuk sofa kosong diibaratkan sebagai diri Ghifar.


Givan yang tidak tau sangkut pautnya pun, mendengarkan dengan seksama bermaksud agar ia tidak melakukan yang sama dalam kehidupannya. Ia menjadikan tolak ukur pengalamannya, dalam cerita ibunya. Ia pernah menekan Canda untuk melakukan salah satu pekerjaan rumah, tapi dalam kondisi semua anak dipegang pengasih. Ia mulai membanding-bandingkan dirinya seperti Haris. Mungkin menurutnya, ia tidak sama dengan Haris.

__ADS_1


"Astaghfirullah...." Kenandra menggosok wajahnya dan menghela napasnya.


"Makanya, dulu Mamah diajak nikah sama abi kau. Mamah tak mau, karena Mamah tau tabiat abi kau. Dia bilang papah Adi tempramen, dia bilang papah Adi kikir. Tapi setelah Mamah jalani, tak begitu dia. Dia marah, kalau ada sebabnya. Tak setiap hari dia bentak-bentak marah. Kikir itu di bagian mana? Mamah bertanya-tanya untuk pendapat orang tentang papah Adi itu kikir. Karena dilihat dari sisi manapun, papah Adi ini cuma menjaga hartanya. Tak semua orang ia royalkan, karena dia ngerasain usaha cari uang itu sulit. Perihal uang juga, papah Adi tak segan-segan nagih hutang satu atau dua kali. Karena, itu ijabnya hutang. Sedangkan yang ditagih, tidak terima dan merasa bahwa papah Adi itu kikir dan semacamnya. Apa Mamah dibatasi dalam soal uang? Tak tuh. Uang Mamah habis, papah Adi suruh ambil lagi ke Bank, ya dia nurut aja. Untungnya, tak salah pilih laki-laki. Coba dulu kalau papah Adi tak kunjung datang, mungkin udah tuh Mamah gantikan posisi umi kau. Soalnya cuma abi kau, yang bilang sayang dan jelek-jelekin papah Adi. Padahal mereka teman, satu regu lah ibarat kata." Adinda menjejerkan telunjuknya, saat mengatakan 'satu regu'.


"Tuh, jangan lihat dari sudut pandang kau aja. Ini Mamah di posisi netral, kalau kau dengar dari umi Sukma, mungkin lain cerita. Kalau kau dengar dari abi Haris, lain cerita juga. Aku pernah juga soalnya tinggal sama papah kandung, ya beliau jelek-jelekin Mamah. Ceritanya beda, tentang perpisahan mereka. Bukan karena aku lebih percaya Mamah, tapi lebih ingin sama-sama hidup bahagia aja. Toh, papah sambung aku papah Adi. Galak cuma di mulut aja. Aku pun masih dalam asuhan ibu kandung, karena milih tetap sama Mamah. Aku tak bisa bayangkan, kalau aku ayah kandung dan diasuh ibu sambung dengan cerita kecil kalau aku ini hiperaktif. Mungkin aku udah jadi sejenis rendang, gulai atau sop ayam spesial." Givan tak menyadari, bahwa hal itu membuat pikiran Kenandra kembali memikirkan bagaimana jika ia memiliki istri dan Bunga dalam asuhan istri barunya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2