Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM181. Mantan istri


__ADS_3

"Dia tak pasrah kek Riska juga. Ya mungkin, selera aku itu Canda." Kenandra melirik Canda yang mulai mengantuk dengan ponselnya yang menyala.


"Hei!" Givan memukul pelan lengan kakaknya. "Sepasrah-pasrahnya dia, dia tak suka kalau tangannya dicekal terus. Udah macam mau diapakan aja, dia trauma kek gitu." Karena obrolan mereka, Givan tahu selera bermain Kenandra.


"Kau pernah cerita, kalau waktu baru rujuk itu kau ikat tangannya pakai dasi." Kenandra mengalihkan pembicaraan mereka sesuai pembahasan mereka ketika berkumpul.


"Ya aku diledek skill aku kurang pandai, murka lah aku. Soalnya pas honeymoon di Sabang, empat hari hubungan badan itu dia tak bisa kl*maks. Keknya bosan gitu cara main aku masih kek awal, karena aku pikir dia nyamannya begitu. Ternyata sukanya sekarang agak hard sedikit, pukul-pukul manja, hentak-hentak ngagetin." Untuk para laki-laki, obrolan seputar se*s sudah menjadi hal yang lumrah.


"Putri pernah bilang, cara main Lendra itu begitu loh." Informasi dari Kenandra, membuat alis Givan menyatu.


"Tapi tak melulu begitu sih. Tergantung mood, dia pun selalu bilang mau kek mana. Mungkin karena bilang itu, jadi kita tak pernah bosan." Givan tidak terlampau terkejut, bahkan ia pernah dikatakan tidak lebih baik dari Lendra dalam permainannya.


"Terbuka ya? Aku malah enggan terlampau jauh sama Putri, takut tak jodohnya terus diminta ganti rugi. Eh, tapi salah tak sih Van kalau aku nanti nikah terus pengen childfree gitu? Aku mikirnya, aku ini udah tua. Aku takut anak aku kelaparan, karena aku yakin rumah sakit aku bakal bangkrut karena tidak adanya penerus yang gantiin aku. Bunga, masih lama sekali, mungkin kalau aku udah tujuh puluh tahunan dia baru punya gelar dokter aja. Dia belum lanjut pendidikan spesialis, tunggu lima tahunan lagi. Keknya, aku udah meninggal duluan." Kenandra menekuk jarinya untuk menghitung.


"Ya masalah meninggal sih itu urusan Allah, Bang. Aku aja empat puluh tahun, istri masih hamil. Memang aku agak tenang, karena ibaratnya warisannya itu banyak. Tapi kan kehidupan anak itu tak cukup warisan aja, dia butuh didikan, kasih sayang dan pembentukan akhlak. Ya kita lakuin di sisa umur kita gitu, Bang. Panjang umur ya syukur alhamdulilah, pendek umur ya mungkin itu udah kuasa sang Illahi. Childfree memang tak salah, salah kalau pasangannya tak setuju. Modelan Putri, keknya bakal setuju aja kalau mau berumah tangga tanpa anak. Tapi, perempuan lain belum tentu bisa kek Putri. Maksudnya, mau menua tanpa anak begitu. Karena, kita mikirnya kan nanti mati anak yang doain. Begitu, Bang."


Pikiran Kenandra langsung teringat akan gadis belia yang memberinya banyak cap merah tersebut. Ia yakin, bahwa perempuan itu tak akan mau hidup tanpa anak seperti keinginannya.

__ADS_1


"Jadi baiknya aku pertahankan Putri ya begitu?" Kenandra mengajukan permintaan saran kembali.


"Ya itu sih tergantung kecocokan kalian aja, Bang. Cocok ya bertahan, tak cocok ya ganti aja. Mumpung belum nikah kan gitu, kalau udah nikah malah berat karena ada anak. Belum lagi dengan kenangannya, mau tidur, ingat pernah sebantal bareng istri. Mau makan, ingat pernah sepiring bareng istri." Givan mengajari seolah Kenandra tidak pernah merasakannya sendiri.


Kenandra terkekeh. "Belum kalau ingat mantan istri pernah ngeludahin. Belum kalau ingat mantan istri pernah khulu."


"Ah, buktinya kalau ketemu sih masih campur suami istri. Munafik betul kau ini, Bang. Ketemu mantan, ya langsung tancapkan lagi." Givan meledek dengan nada bergurau.


Kenandra malu sendiri. "Kau begitu tak sih? Kalau ketemu mantan, hawanya ingat masa-masa romantis dulu. Gemasnya lagi yang jadi perempuannya dirayu itu terhanyut, ya gimana tak kejadian di ranjang lagi coba?" Kenandra membagi pikirannya saat ia bertemu dengan mantan-mantannya.


"Tak, udah muak ya muak aja aku sih. Tak ada kasian-kasian, tak ada romantis-romantisan. Niat romantisan sih sama Canda aja, cuma aku malah geli sendiri." Givan bergidikan jika teringat masa-masanya dengan para mantannya. Hanya penuh dengan n**** b***** saja, itu malah membuat Givan merasa ragu jika sholat taubatnya sudah diterima.


"Nadya," jawab Givan tanpa menoleh.


"Iya, kau pasti ingat masa-masa kalian nantinya." Kenandra tertawa geli melihat urat wajah Givan yang nampak datar saja.


"Masa-masa apa? Masa-masa aku dikhulu Canda begitu? Tak akan aku ingat-ingat lagi, rasanya pengen kusantet Canda masa itu. Dihidupi, dicintai, disayangi, suami kedapatan masalah bukannya bantu, malah kabur dan ceraikan aku. Kalau ketemu dia masa itu, rasanya pengen kusekap dia di kamar." Kenandra tertawa puas, melihat Givan dengan raut kesal bercampur gemas tersebut.

__ADS_1


"Malah kawin lagi dia," timpal Kenandra dengan melirik Canda yang hampir pulas dengan ponsel yang tergeletak.


"Nah, itu. Aku kawini Nadya tak ada romantis-romantisnya. Di kamar berdua aja, sulit sekali aku turn on karena kesal terus tuh hawanya. Dimarahin tuh, malah berani marahin balik. Pengen jajan, sayang uang. Pengen nyalurin ke Nadya, baru kutengok rupanya, udah pengen baku hantam aja aku. Datang-datang aku ke kamar, langsung dipalak dapat uang berapa. Ya ampun, capek belum hilang langsung diminta uang. Kesal sampai ke ubun-ubun aku sama dia ini. Harusnya kan, kasihlah aku minum dulu. Biarin aku mandi dulu, makan dulu, tak langsung dipalak."


Kenandra terdiam mendengarkan, ia tak banyak tahu tentang informasi Givan dan mantan istrinya. Rupanya, hubungan rumah tangga Givan dengan Nadya tidak sebaik hubungannya dengan Canda.


"Jadi kau tak pernah nafkahi?" Kenandra memperhatikan Givan dari samping, ia menunggu Givan melengkapi keingintahuannya.


"Nafkahi, tapi batin keknya tak. Pas awal aja, kebawa suasana baru. Dia udah nampakin sifat aslinya, ya udah tuh aku udah jarang pulang. Aku sadar, aku pun salah. Tapi dia pun bersalah, karena terlampau menuntut di tengah keadaanku yang tak mampu. Jangan pernah sampai ngalamin rumah tangga aku sama Nadya. Intinya, merebut kebahagiaan orang lain itu tidak bisa membahagiakan dirinya. Intinya, dzolim ke istri sholehah itu balasannya langsung di dunia. Senyesel-nyeselnya hidup, ya waktu reuni itu. Kalau aku tak datang ke reuni, mungkin aku tak dikhulu Canda." Givan geleng-geleng kepala dan memijat kepalanya.


"Selain harga diri. Kita jadi kehilangan istri yang kita cintai ya, Van?" Kenandra merangkul adik angkatnya dan mengusap-usap punggungnya. "Aku pun gara-gara ketemu mantan, aku malah dikhulu Riska," tambahnya kemudian.


Givan melepaskan rangkulan Kenandra. "Itu sih memang sifat dasar kau! Ketemu Novi yang cuma cemceman aja, kau buat berantakan kehidupan Novi dan suaminya." Givan tahu jika pertengkaran Ghifar dan mantan istrinya, dipicu oleh kehadiran Kenandra.


"Ya gimana ya? Orang cuma ngobrolin yang udah-udah aja, terus si perempuannya terhanyut. Aku malah tak bergerak, karena paham dia istri Ghifar. Wajarnya aku puji-puji Canda aja, cantik betul, wangi betul pasti suaminya betah. Istri kau kan paling bilang, ah masa, terus gaplok-gaplok manja gitu. Respon Novi beda, Van." Kenandra coba menjelaskan permasalahannya dulu.


"Hei, masalahnya istri aku sama istri orang itu beda. Istri orang pada canggung sama ipar tuh, istri aku kan tak begitu. Jangankan ke Ghifar, yang mantan pacarnya dulu. Ke Ghava Ghavi, bahkan ke adik-adik yang kecil pun dia dekat. Sandar-sender, manja-manja, udah kek saudara sekandung." Givan tidak mengerti kenapa istrinya berlaku seperti itu.

__ADS_1


"Kenapa istriku berbeda ya, Van?" Kenandra terkekeh geli.


...****************...


__ADS_2