
"Udah ah, kau ini ternyata." Givan mereda tawanya.
"Yang berubah, Ai. Ingat sakitnya cambuk kemarin. Ingat malunya!" Awang menekan nada bicaranya.
"Iya, A." Ai pun tidak memiliki kosa kata lagi untuk merendahkan orang lain.
Givan segera menyelesaikan perihal mengisi data diri itu. Lalu mereka meninggalkan penginapan tersebut dan menuju ke suatu kedai kopi, untuk bekal mereka di rumah furniture.
"Pak Taleb tuh." Givan menyikut lengan adiknya, ketika mereka berjalan beriringan ingin masuk ke kedai kopi tersebut.
Gibran mengangguk samar. Ia tertunduk, ia malu untuk berpapasan dengan ayahnya anak perempuan yang sering ia antar jemput itu.
Meski ia mengantar dan menjemput Mariam sampai di depan rumah Mariam, tapi Gibran tidak pernah turun untuk meminta izin pada orang tua Mariam. Ia belum memiliki keberanian sebanyak itu, karena ia tidak pernah berbicara langsung pada orang tua anak perempuan manapun yang ia ajak.
"Teungku haji mana, Van? Masih sore ini, kok tak keluar?" tanya pak Taleb, yang menyadari keberadaan keturunan temannya tersebut.
"Ngopi di rumah Ghifar, anak perempuan yang paling kecilnya lagi rewel. Maunya gendong aja tuh kalau tidur." Givan tahu tentang kebenaran ini.
"Wah, dipijat tuh. Barangkali badannya ada yang sakit. Bawa aja ke tukang pijat bayi tuh, di RT sebelah." Pak Taleb menunjuk arah gang yang kurang dari lampu penerangan.
"Iya ya, Pak? Nanti disampaikan deh." Givan langsung mencari pemilik kedai dan membuat pesanan.
Gibran hanya bisa mengekori kakaknya, ia takut jika diajak berbicara oleh pak Taleb. Lebih takutnya, ia khawatir ditegur karena sering mengantar Mariam di depan rumah tapi tidak pernah mampir ke rumah.
"Bran, Mariam lagi sakit tuh. Tak kau tengok kah?"
Gibran langsung kaku, kala pak Taleb mengajak kau berbicara. Givan menoleh ke arah adiknya, ia paham ekspresi adiknya, ia terkekeh kecil dan menoleh ke arah pak Taleb berada.
"Sakit apa, Pak?" Givan tahu adiknya tidak berani menyahuti.
Seperti anak kecil, Gibran bahkan sampai memegangi ujung baju kakaknya.
"Ngeluh kepalanya pusing terus, matanya tak nyaman." Pak Taleb mengupas kacang kulit miliknya.
"Periksa mata aja dulu, Pak. Kemungkinan, matanya minus tuh. Kalau udah minus, bisa jadi minusnya nambah tuh. Kalau chatting sama Gibran soalnya sampai malam, Pak. HP terus kan? Mana tau jadi matanya bermasalah." Givan melirik adiknya yang semakin tegang.
"Mana ada!" Gibran langsung menepis perkataan kakaknya.
__ADS_1
Pak Taleb sebenarnya mengerti bahasa tubuh Gibran yang ketakutan. Ia tidak mengerti, kenapa teman masa kecilnya itu berniat menikahkan anak-anak mereka. Padahal, mental Gibran terlihat belum berani untuk menghadap pada orang tua dari teman wanitanya itu.
"Iya keknya minus ya? Nanti besok dibawa periksa deh. Udah dua hari soalnya, dia ngeluh tak nyaman terus matanya, pusing kepalanya." Pak Taleb melirik Gibran. "Kau main lah, tengok dia. Bapak larang dia main HP untuk sementara, kok kau tak nyariin tak kabar-kabaran tuh?" Pak Taleb sengaja melemparkan pertanyaan pada Gibran, ia ingin tahu jawaban pemuda tersebut.
"Udah tau, Pak. Udah biasa kalau ngilang pasti sakit." Gibran menjawab tanpa berani memandang wajah pak Taleb.
"Nah, tuh tau. Kenapa setiap sakit tak pernah ditengok?" Pak Taleb sampai menyangga rahangnya untuk tetap menoleh ke arah Gibran.
"Memang boleh?" Gibran memberanikan diri untuk memandang wajah pak Taleb sekilas.
"Boleh lah. Kau bawa naik motor aja diam aja, paling Bapak lapor ke bapak kau." Pak Taleb terkekeh kecil.
"Tuh, boleh," timpal Givan dengan mencolek lengan adiknya.
"Boleh-bolehnya aja, macam Abang pernah aja jenguk perempuan?"
Pak Taleb menahan tawanya, mendengar ucapan anak laki-laki yang belum memiliki pengalaman tentang perempuan tersebut.
"Tak pernah juga keknya. Abang langsung nikah sama kakak ipar kau." Givan tertawa geli.
"Ya berarti Abang pun sama lah!" Gibran tidak tahu tabiat kakaknya tentang perempuan.
"Tak apa ke rumah, Bran. Bawa pergi, izin. Bilang juga, tujuannya mau ke mana," ungkap pak Taleb perlahan.
"Iya, Pak." Givan mengangguk beberapa kali.
"Nanti besok dijenguk, Pak. Nanti aku sanguin dia untuk beli parcel buah." Givan menoleh ke arah pak Taleb.
Pak Taleb tertawa kecil, kala melihat Gibran mencubit perut kakaknya. Ia baru tahu, jika hubungan anak-anak teman masa kecilnya itu cukup hangat.
"Permisi ya, Pak? Mau ambil gorengan." Givan melipir, untuk mengambil gorengan yang berada di samping meja pak Taleb.
"Oh iya, silahkan." Pak Taleb memberi tempat untuk Givan.
Gibran membuang wajahnya ke arah lain, saat kakaknya yang menjadi tempat persembunyiannya itu bergerak menjauh. Ia hanya berdiri di ambang pintu kedai, menunggu beberapa kopi yang mereka pesan tengah dibungkus.
"Adik kau belum ada bidang usaha kah?" tanya pak Taleb lirih, ketika Givan tengah memilih gorengan yang masih hangat tersebut.
__ADS_1
"Belum, Pak. Ini lagi diajarin." Givan melirik ke arah adiknya.
"Gelarnya apa sekolah jauh tuh?" Pak Taleb bertanya iseng, karena sebenarnya ia sudah tahu dari anaknya.
"Pengembangan SDA kalau tak salah. Ya, Bran? Tak jauh dari pertanian, Pak." Mendengar pertanyaan kakaknya, Gibran langsung menegang.
Pak Taleb pun memicingkan matanya, karena merasa jawaban itu berbeda. Sekilas ia berpikir, bahwa Gibran membuat pengakuan bohong pada anaknya.
"Loh, bukannya desain ya?" tanya pak Taleb heran.
"Iya kah?" Givan memandang adiknya menuntut penjelasan.
"Gelar sarjana pengembangan SDA itu, kalau desain pascasarjana," aku Gibran khawatir.
Givan melongo saja. Kenapa bisa adiknya memiliki gelar yang bertolak belakang? Ia baru paham, kenapa orang tuanya mengeluarkan biaya besar, padahal Gibran mendapat beasiswa selama empat tahun mengambil pendidikan sarjana.
"Wow, keren kau." Pak Taleb bingung ingin menimpali apa.
Givan masih menatap adiknya intens, ia menuntut jawaban dan bukti dari ucapan adiknya. Sampai akhirnya kopi yang mereka pesan sudah siap, gorengan yang Givan pilih pun sudah dihitung. Givan melakukan motornya untuk kembali ke rumah orang tuanya, ia ingin melihat bukti gelar yang adiknya ucapkan.
Adinda dan Adi terlihat bingung, ketika Givan menarik baju adiknya untuk masuk ke kamar milik Gibran.
"Kenapa, Bang?" Gibran nampak bingung.
"Coba, tunjukkan hasil pendidikan kau di sana." Givan bersedekap tangan.
Gibran melirik orang tuanya yang baru saja masuk ke dalam kamar. Ia khawatir dimarahi, karena ia pun menyembunyikan hal itu dari orang tuanya.
"Ada apa, Van?" Adinda terlihat bingung, saat Givan fokus memandang adiknya yang melangkah ke arah lemari.
"Lihat aja, Mah." Givan menunjuk adiknya yang kembali ke arahnya dengan dagu.
"Ini, Bang." Gibran menaruh map besar itu di atas ranjang.
"Tiga belas sertifikat kompetensi khusus, delapan piagam penghargaan seni." Gibran tidak memperjelas, karena khawatir orang tuanya ikut memasang wajah tegas seperti kakaknya.
"Kau jelaskan ini apa." Givan duduk di tepian tempat tidur, dengan memilah tumpukan kertas khusus tersebut.
__ADS_1
"Ini gelar sarjana aku, ini gelar....." Gibran memandang orang tuanya, ia ragu-ragu untuk membuka mulutnya.
...****************...