Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM270. Pendapat masing-masing


__ADS_3

"Dalam artian, berarti dia memang orangnya begini kah?" Givan seolah menghakimi Ajeng.


"Bang, aku bahkan tak tau kalau jabatan aku diturunkan," elak Ajeng dengan cepat.


"Aku sengaja, karena ada adabnya bertamu dan memberikan bayi itu. Di sana udaranya masih dingin, gimana kalau tak ketahuan dan bayi itu kena hipotermia? Bisa-bisa dia meninggal." Givan bukan menakut-nakuti, tapi itulah yang ia bayangkan.


"Aku datang dan aku ketuk pintu, aku taruh dia di teras, terus aku pergi. Aku ketuk pintu rumah, biar orang rumah tau kalau ada bayi di teras. Bukan tanpa alasan. Tapi aku tak mau ditanya begitu banyak tentang keterangan aku, aku tak punya banyak cerita untuk sharing dengan mereka. Lagi pun, mereka tak tau aku siapa. Udah aku terangkan di awal, kalau aku ketuk pintu rumah." Ajeng sampai sedikit berseru, untuk mempertegas semuanya.


"Ya kenapa harus masih ada tali pusarnya? Dia baru dilahirkan kan?" Gavin membuka suaranya lagi.


"Itu tali pusar, lepas kan umumnya tujuh hari. Sedangkan, bayinya baru tiga hari. Wajar, tali pusarnya belum lepas. Tali pusar loh itu, bukan ari-arinya." Ajeng kini mempertahankan suara nyaringnya.


"Iya, kenapa tega? Kau tak tau kan, kalau akhirnya tali pusar itu dimakan bapaknya sendiri?" Givan membalas suara lantang Ajeng.


"Heh!" Gavin terlihat begitu kaget, kemudian ia mendorong lengan kakaknya reflek.


"Eh? Salah kah?" Givan terkekeh dengan menoleh ke arah anaknya.


"Tak aku makan lah! Macamnya aku ini apa? Ada jepitan hijaunya itu kan?" Gavin menepis cepat.

__ADS_1


Yazid tertunduk dan menahan tawanya. Ia tidak tahu, jika respon Gavin terlihat menggelikan menurutnya. Ia pun tidak mengerti, kenapa Givan malah melucu di tengah keseriusan ini.


"Iya, kau ke manakan? Abang sampai mual-mual dengar tuduhan papah." Sekian lama, Givan baru bertanya.


"Memang harusnya gimana? Aku buang aja ke tempat sampah kamar, terus aku buang lah ke belakang."


Givan menepuk jidatnya sendiri. "Dikubur dong Adek Gavin!!! Ceysa bukan anak sendiri juga, aku yang kuburkan masa tali pusarnya lepas." Givan mengusap-usap dadanya sendiri.


"Eh, iya kah? Maaf lah, tak tau aku ini. Aku kira, itu kotoran aja." Gavin terkekeh malu.


"Haduh, ya ampun." Givan mengacak-ngacak wajahnya sendiri.


"Nah, Jeng. Dengan kau kasih bayi itu tak baik-baik aja, Gavin urus tanpa tau ilmu. Bayi itu baru aku ambil alih, setelah aku pulang dari persalinan istri aku di Tangerang. Bayi itu dalam keadaan stress, karena terus dibiarkan menangis. Kulitnya melipat, dia tinggal tulang dan kulit. Kau tau, sekarang anak kau jadi anak aku. Aku orang tuanya, aku sekarang punya dua bayi di rumah." Kebenaran yang Givan berikan, begitu menampar Ajeng.


"Kau lagi, Bang. Kau harusnya ingatkan dong. Sekongkol kek, jadi penculik dan minta tebusan ke keluarga kami tentang bayi itu. Jangan main support untuk buang bayi di teras!" Givan menghakimi Yazid.


"Aku malah tak tau dia pulang pas hamil tua untuk bersalin. Kalau aku tau, udah aku biarkan dia bersalin di sini dan suruh dia besarkan anak bayinya. Aku tak pernah percaya tentang laki-laki besarkan bayi, soalnya adik bungsu aku meninggal masanya diurus ayah aku soalnya ibu dalam perawatan rumah sakit setelah bersalin. Makanya, aku biarkan Elang tetap di Ajeng. Aku khawatir Elang tak umur panjang, kalau pindah ke tangan aku masa dia bayi," elak Yazid menjelaskan dengan nada cepat.


"Ya udah, berarti terima dengan lapang dada aja, Vin. Ternyata, Ajeng punya alasan tersendiri untuk pisah sama kau. Dia dari awal cari pembenaran terus. Orang benar itu, tak perlu mencari pembenaran." Givan kembali menyudutkan Ajeng.

__ADS_1


"Bang, sekarang aku tanya ya? Gimana, kalau harapan terbesar Abang itu disepelekan? Gimana, kalau keinginan Abang tentang peresmian pernikahan itu, tak dihiraukan pasangan?" Ajeng mengeluarkan penyebab terbesarnya, untuk tidak bertahan dengan Gavin lagi.


"Aku laki-laki, kau tau aku tak akan pernah ngerasain hal itu. Laki-laki punya kuasa untuk nentukan ingin menikah atau tidak, punya istri aja dia bisa kok nikah resmi lagi." Givan menarik logikanya di sini.


"Bukannya ikut campur, Bang. Maaf aja nih. Mungkin yang Ajeng maksudkan tuh, dia melakukan hal ini, karena Bang Gavin tak kunjung penuhi keinginannya untuk resmi. Sama kek masanya, harapannya dulu pengen aku kerja dan punya pendapatan untuknya, tapi tak kunjung ia dapatkan, karena masa itu seluruh perusahaan lagi pengurangan karyawan besar-besaran. Dia pergi cari nafkah sendiri dengan izin aku, tapi setelah dia berhasil kan dia urus perceraian kami. Kan sampai di sini paham, Bang? Anak udah diambil alih Abang, menurut aku udah aja tak usah diperpanjang. Kita sama-sama tau nih wataknya Ajeng, kita sama-sama ngerti nih pengalamannya Ajeng selalu bertindak dan menyepak sesuka hatinya." Yazid membuka lukanya atas Ajeng.


"Jangan nuduh sembarang ya, Bang!" Ajeng mengacungkan telunjuknya ke arah Yazid.


Yazid menoleh ke arah Ajeng. "Ini bukan nuduh, aku punya kesimpulan sendiri tentang kau. Di cerita kau pun, pasti aku yang jahat sama kau kan karena aku tak nafkahi dan ini itu. Di cerita aku pun, kau adalah pelaku yang tak berhati. Kau tak mau berjuang nemenin aku sampai berpenghasilan tetap lagi, kau tega ceraikan aku masanya kau berjaya dengan uang kau dan kau nikah lagi masanya kita belum resmi cerai. Terus, kau ngilangin hak yang serupa masanya harapan kau tak kunjung disempurnakan. Bahkan, kau jadikan anaknya korban atas keegoisan kau. Menurut cerita Bang Gavin pun, kau pemberi luka untuknya. Meski menurut pandangan kau, kau merasa terus tersakiti dengan sikap laki-laki."


Givan menarik Yazid, bukan untuk memperkeruh keadaan. Ia ingin obrolan, yang akhirnya membuka semuanya seperti ini. Tapi bukan untuk tuduhan berkelanjutan seperti ini.


"Ya kami pun udah dengar langsung dari mulut kau, Jeng. Kami puas dengar penjelasannya, kami pun ikhlas lepasin kau gitu aja juga. Untuk pekerjaan, jabatan ini kan posisi kau sebelumnya sebelum ngenal Gavin. Jadi silahkan berjuang kembali di jabatan kau ini, rumah silahkan kau tempati dengan bayang-bayang keroyalan Gavin yang tak kau dapatkan lagi dikemudian hari. Terima kasih, udah kasih kami bayi yang seperti kembar, sebagai pelipur lara kami bahwa salah satu bayi kembar kami gagal berkembang di kandungan. Dia udah gemuk, sehat dan sempurna. Dia tumbuh kek bayi pada umumnya, dia pun dapat keluarga lengkap dan kehangatannya juga. Kau pun harus tau, bahwa kami tak berniat ngasih tau nama bayi yang kau lahirkan. Kau pun harus tau, bahwa kelak kami tak berniat sedikitpun bercerita tentang sejarah kehadirannya, sampai dia ada di teras rumah. Aku tak mau dia benci kau, benci dengan seseorang yang udah ngelahirin kau karena dia tau sejarah kehadirannya. Benar kata Ayahnya Elang, di cerita kau, Gavin yang jahat, tapi di cerita kami, kau kasih pengalaman buruk khususnya untuk diceritakan di kemudian hari. Di selalu ceritakan ke anak-anak kita, tentang sejarah masa mereka dalam kandungan, drama mereka dilahirkan dan kisah mereka kecil. Tapi, mungkin bayi perempuan yang kau lahirkan tak akan pernah dengar sejarah tentangnya sendiri, kecuali kami berniat bohongi dan karang cerita tentangnya." Givan berkata perlahan, agar Ajeng memahami.


"Itu bukan hal yang penting juga kan?" Ajeng menundukkan pandangannya, karena ia merasa disudutkan.


"Bayangkan dari sudut pandang dia, dari sudut pandang anak kecil. Kau tak akan pernah ngerti, kalah hati kecilnya bisa terluka karena rebutan balon aja. Apalagi, kalau dia dengar cerita kalau dia dibuang di teras dan segala cerita pelengkap lainnya. Mereka memiliki kebanggaan tersendiri, masa dengan cerita kelahirannya yang unik. Kek aku contohnya. Aku lahir di tengah malam, terus ada kucing berantem, pas di malam Jum'at Kliwon, ditambah lagi hujan angin. Aku kek merasa cerita aku lebih menarik, dengan latar belakang lebih seru karena adanya kucing ribut. Karena jarang ada kucing ribut ini, tak setiap hari." Givan pernah merasakan persaingan cerita antara saudaranya tentang sejarah kelahiran masing-masing.


"Kenapa kau berpikir tak ada yang penting selain tentang kepentingan kau sendiri?" Gavin mengeluarkan pertanyaan itu dari hatinya.

__ADS_1


Kekecewaannya semakin menjadi, karena ia mendapat respon Ajeng yang di luar dugaannya. Ia pun, seolah diperlihatkan dengan jelas bagaimana tentang perempuan yang ia cintai itu.


...****************...


__ADS_2