
"Sulit untuk mau, bang Givan itu ketularan malas gerak kalau udah anteng di rumah sama Cendol itu." Ria memahami sedikit hal tentang kakak iparnya setelah beberapa waktu ia diajari tentang dunia bisnis.
"Ya karena enak kalau udah sama istri itu, Dek. Jangankan pergi, untuk pipis aja kadang kita tahan," celetuk Adi membuat Ria melongo.
Rasa heran Ria utarakan lewat tatapan polosnya. "Aku jadi istri nanti, aku tak akan tahan-tahan suami untuk pipis."
Seperti humor, Adi tertawa lepas untuk itu.
"Bukan ditahan istri, tapi kita harus nahan sendiri." Adi tidak berniat menerangkan lebih jauh.
"Ya tetap aja, itu pengaruh istri." Ria bersedekap tangan, karena hawa dingin yang menusuk.
"Kau ke Bunga dulu lah, terus supiri Papah ke rumah sakit. Kasian mamah kau dari pagi di sana, pasti capek betul dia." Adi tidak tega melihat istrinya kelelahan dan jenuh menunggu orang di rumah sakit.
Ia tahu rasanya bosan dan jenuh, karena ia selalu menjadi penunggu jika anak, menantu atau cucunya jika ada yang dirawat di rumah sakit. Ia terbiasa dengan rasa itu, karena tidak ada yang bisa untuk menjadi penjaga terbaik lagi menurutnya.
"Duh, Papah. Aku udah capek padahal." Ria ingin menolak, tapi tidak sampai hati.
"Ya nanti kau pulang lagi bawa mamah. Berangkat kau antar Papah, mata Papah kurang jelas kalau berkendara malam. Nah, kau pulang lagi bawa mamah. Kau pun tidur di rumah mamah aja sama mamah nanti, temani mamah." Adi mengira bahwa rencananya ini sudah paling benar.
"Oh, ya udah. Bentar ya, Pah?" Ria segera bergegas, untuk sedikit mengurus Bunga yang belum terbiasa dengan pengasuhnya tersebut.
Adi mengangguk dan berjalan menuju ke rumahnya. Ia seperti anak muda yang menghubungi kekasihnya, ia bertukar pesan chat dengan istrinya untuk membahas hal yang tidak penting dan perhatian kecil. Ia tidak menanyakan bagaimana keadaan di sana, karena kabar yang ia dengar baginya sudah cukup untuknya.
"Canda.... Aku ke papah dulu ya?" Givan merangkak ke atas ranjang, lalu merebahkan tubuhnya di samping istrinya yang masih berada di bawah selimut.
Ia baru saja mencuci alat yang menjadi penakluk istrinya, sampai Canda menggelepar dan tidak berdaya seperti ini. Ada rasa khawatirnya pada keadaan janin istrinya, karena kebuasannya yang sulit untuk dikendalikan.
"Aku tidur sama siapa, Mas?" Canda memeluk suaminya.
Ia tidak mau ditinggalkan suaminya, apalagi setelah penyatuan mereka. Canda merasa tersinggung dan merasa suaminya hanya mendekatinya ketika butuh pelepasan saja.
"Jadi gimana? Papah sampai masuk tadi, berarti penting." Givan memberikan usapan lembut pada Canda.
"Ditelpon aja, Mas jangan ke sana," rengek Canda manja.
"Ya udah, aku telpon papah dulu. Kalau genting, aku tak bisa biarkan orang tua aku repot sendirian ya?"
__ADS_1
Canda mengangguk. Konsep anak laki-laki seutuhnya milik ibunya, coba Canda pahami.
Givan meraih ponselnya, kemudian ia menghubungi nomor telepon ayah sambungnya. Panggilan langsung diterima, karena Adi tengah memainkan ponselnya.
"Hallo, Pah. Gimana tadi?" Givan langsung bertanya tanpa memberi salam pembuka lagi.
"Antar Papah ke rumah sakit, gantikan mamah kau di sana. Kasian mamah kau capek, nanti dia bisa drop. Papah udah bilang Ria sih, cuma Ria belum nongol juga."
Givan paham, tentang mata tua ayah sambungnya.
"Jadi sama aku kah, Pah?" Givan menawarkan diri dengan melirik istrinya.
"Coba suruh Ria dulu, Papah telpon tak angkat-angkat. Udah nungguin dari pas keluar dari rumah kau, papasan sama Ria yang mau ke Bunga." Adi berpikir, Ria ketiduran di sana.
"Oh, Ria ada di Bunga kah?" Givan bangkit dan mencari keberadaan kaosnya.
Ia baru memakai celana trainingnya saja, tidak dengan kaos yang nyaman ia kenakan.
"Iya, bilang dia suruh antar Papah. Udah kah sama Canda aja deh, kasian Canda." Sebenarnya, Adi memilih hal ini karena tahu bagaimana anaknya.
"Canda, aku ke Bunga dulu. Bilang Ria suruh antar Papah." Givan paham jika orang tuanya itu cukup lelah untuk bergerak. Anaknya banyak, cukup memerintah di usianya yang sudah menua ini.
"Jangan lama-lama ya, Mas?" Canda bangkit dan memakai piyama tidurnya.
"Hmm, aku temani kau ke kamar mandi dulu deh. Nanti aku ke Bunga setelahnya." Givan hanya khawatir istrinya terpleset di kamar mandi.
"Ya, Mas. Bentar."
Setelah istrinya kembali ke dalam selimut, Givan langsung bergerak ke luar rumah. Udaranya dingin, seperti memeluknya yang mengenakan kaos pendek saja. Hingga sudah wajar, training tebal adalah pakaian umum orang-orang yang tinggal di daerah dingin itu. Belum lagi sarung yang selalu ada di bahu mereka yang masih berada di warung kopi, sarung tersebut seperti penghalau nyamuk dan penghangat tubuh mereka.
Rasa tidak tega, ketika ia melihat adik iparnya sudah terlelap dengan mulut terbuka. Ia paham, Ria sudah amat nyenyak dan menjelang mati suri. Ria sudah sulit dibangunkan, ketika salivanya meleleh menandakan ia tidak bisa mengatur air liurnya karena begitu pulas.
Lantai yang terasa seperti bongkahan es balok, menjadi alas tidur Ria. Tepatnya, gadis itu tertidur di ruang tamu lantai dua tersebut. Meski berada di lantai dua, rasa dingin itu tetap menjalar.
Ia malah berinisiatif untuk memindahkan Ria, agar tidur bersama Bunga dan pengasuh Bunga. Kemudian, ia kembali ke luar dengan pintu otomatis yang menggunakan sandi tersebut. Lantai dua yang memiliki tangga di luar, membuat Givan tidak perlu masuk lebih dulu ke tempat tinggal Ceysa.
"Ria udah tidur, Pah." Givan berjalan kembali ke rumahnya, dengan menghubungi ayah sambungnya kembali.
__ADS_1
"Lah, terus gimana?" Adi sebenarnya sudah menebak hal ini. Namun, ia tetap tidak bisa membiarkan istrinya berada di rumah sakit malam ini. Sekalipun ada ranjang yang nyaman, rumah sakit bukanlah tempat yang nyaman untuk beristirahat.
"Aku izin ke Canda dulu, Pah. Nanti aku suruh mak Nilam atau ibu ke Canda dulu, suruh nemenin dia sementara aku nganter Papah. Udah malam begini, aku yang khawatir sendiri sama Cendol." Givan merasa istrinya tidak bisa menjaga dirinya sendiri dengan baik.
"Eh, bentar, Pah." Givan memundurkan langkahnya, ketika melihatku lampu rumah anak laki-laki tertuanya yang masih menyala.
Givan mematikan sambungan teleponnya, kemudian memasukkan ponselnya ke saku. Kakinya melangkah menuju ke rumah Chandra, lalu segera menempelkan telinganya ke daun pintu rumah tersebut.
Tidak terdengar apapun, tapi ia yakin anaknya belum tidur di sana. Apalagi, esok pagi adalah hari libur. Givan yakin, anaknya masih bermain dengan mainan remajanya. Ia tahu kebiasaan anak laki-lakinya yang seringkali begadang diam-diam, ketika hari libur.
Suara petikan gitar terdengar samar, dengungan seseorang menandakan benar tebakan Givan. Sadar pintu rumah tersebut terkunci, Givan langsung menekan kode kunci rumah masing-masing anak yang berbeda kode tersebut. Tanggal lahir anak-anak mereka, adalah kode setiap pintu rumah tersebut.
"Hayo...." Givan mengagetkan anaknya yang tengah memeluk gitar dan bersandar tersebut.
Chandra tersentak kaget. Ia tidak mendengar suara kode yang disentuh, karena telinganya terpasang headset yang terhubung dengan bluetooth. Satu yang menjadi kepanikannya, ponselnya menyala dengan menampilkan wajah seorang wanita seumurannya di sana. Chandra sedang melakukan panggilan video.
"Ayah...." Chandra membalik layar ponselnya, agar ayahnya tidak mengetahui bahwa ia tengah melakukan panggilan video.
Pantas saja Chandra sudah menolak diawasi oleh pengasuh, ternyata anak SMP tersebut sudah mulai tertarik dengan lawan jenis.
Givan hanya manggut-manggut, ia tidak membuat anaknya takut meski tahu anaknya bersalah. Satu yang ia pelajari dari cara didik orang tuanya yang coba ia terapkan, yaitu merangkulnya menjadi teman.
"Tidur sama biyung gih. Ayah mau antar kakek dulu sebentar." Givan mengambil alih gitar anaknya, kemudian menggantungnya di tempat semestinya.
"Ayah, aku cuma lagi belajar gitar." Chandra mencoba mengungkapkan alasannya, agar ia tidak mendapat amukan ayahnya.
Givan tidak meladeni hal itu. "Temani biyung kau dulu." Ia merangkul anaknya yang masih mengenakan headset tersebut.
Chandra pun mengantongi ponselnya dengan cepat, meski sambungan panggilan video itu belum terputus. Ia mengikuti langkah kaki ayahnya, yang membawanya masuk ke dalam rumah.
Dalam diam, hati Chandra sudah was-was.
Givan menepuk-nepuk pundak anaknya yang hanya terlapisi singlet saja. Givan tidak mengerti, kenapa para remaja sok kali dengan tubuh cungkringnya.
"Malam ini begadang sama Ayah ya?" Nada halus ayahnya membuat Chandra curiga.
...****************...
__ADS_1