
"KAU DENGAR, AI!!! TIDAK DENGAN HIDUP BERSAMA! TIDAK DENGAN MEMBESARKAN ANAK BERSAMA! KAU TAK TULI KAN?! KAU MASIH WARAS KAN?! KAU PAHAM BAHASA MANUSIA KAN?! KAU BUKAN SIAPA-SIAPA AKU! KAU TAK BERARTI UNTUK AKU! KAU TAK BERHARGA UNTUK AKU DAN KAU TAK BERGUNA UNTUK AKU!!!" Napas Givan tersengal-sengal, setelah mengeluarkan perkataan yang langsung menyakiti hati Ai.
"Van! Suara kau ngalahin orang kesakitan pasca operasi." Kenandra mengguncang bahu Givan.
Ai tertunduk, ia menangis lepas dalam kekecewaan. Hancur sudah, remuk sudah dan tidak berarti untuk semua pengorbanannya. Givan mematahkan semua harapan dan angan-angan Ai. Ai langsung merasa kalah, mendengarkan mulut tajam Givan.
Harusnya pun sejak awal, Givan berpikir untuk mencaci maki Ai. Namun, perubahan besar-besaran pada dirinya. Membuat nuraninya sendiri merasa telah bersalah karena membuat orang lain menangis karena tutur katanya. Iya paham, tentang mulut yang lebih bisa menyakiti lebih dari berarti. Bukan karena korbannya Ai, yang ia berikan lontaran kasar, membuat hatinya terenyuh sendiri. Namun, karena memang sejak bersama Canda kembali ia memperbaiki lisannya agar kejelekan mulutnya tidak ditiru oleh anak-anaknya.
"Aku minta maaf, soal ucapan aku. Tapi, harusnya kau paham tanpa harus diomong kasar dulu," lanjut Givan dengan suara yang lebih rendah, tapi tetap tidak terdengar lembut.
"Van, lebih baik kau pulang aja. Kau keloni aja istri kau, daripada ada drama kejang lagi. Anak Ai bisa tak selamat, kalau keadaan ibunya kembali kejang." Kenandra menyesali idenya, membuat Givan datang ke sini.
Ia tidak suka kematian dalam hal medis, meski sering kali terjadi. Tetapi, ia merasa amat menyesal jika tidak bisa menyelamatkan nyawa pasiennya.
"Bentar, Bang." Givan merasa tugasnya belum selesai.
"Aku minta kontak keluarga kau, untuk urus kau di sini. Aku minta baik-baik, aku harap kau ngerti tanpa diomong kasar lagi." Givan memperhatikan Ai kembali.
Ai menggeleng dan tetap menangis. Tangisnya amat lama, sampai membuat Givan pergi karena rasa sabarnya yang habis.
Givan bergerak menyelesaikan pekerjaannya di kebun sawit milik anak tirinya, Ceysa. Kebun sawit yang terus bertambah jumlahnya tiap tahun tersebut, atas kuasa Canda juga. Nalendra benar-benar sudah menyiapkan semuanya, sebelum dirinya tiada.
Di dalam ruang inap tersebut, Kenandra memperhatikan Ai sejak tadi. Ia mencoba menggunakan cara halus, agar pikiran Ai terbuka.
__ADS_1
"Ai, aku tak berniat campuri masalah kau. Cuma, kau coba bayangkan kek mana keadaan kau lepas kau disesar. Jangankan duduk, berjalan. Napas aja kau ngerasa sakit, batuk dan bersin itu bisa fatal. Setelah kau disesar, nanti kau harus belajar lagi untuk bisa miring ke kiri dan kanan, barulah kau belajar duduk dan berdiri. Kau yang paham, bahwa kau nanti akan butuh uluran tangan orang. Tapi asal kau paham, Ai. Givan, sama sekali tak peduli sama kau. Lagi pun, Canda lebih menjadi kewajiban untuknya. Kandungan kau disesar dengan usia kurang dari tujuh bulan, aku pun bakal punya kerepotan untuk kontrol anak kau di NICU. Satu lagi di sini, yang perlu kau sepakati." Kenandra mengeluarkan surat permohonan permintaan sampel darah dari kantong kemejanya. "Kau perlu tanda tangan di sini, biar kalau hasilnya memang anak Givan, anak kau bisa dapat hak penghidupan yang Givan kasih." Kenandra tidak menceritakan hasil terbaliknya, karena ia paham Ai akan enggan untuk menandatangani surat itu.
"Aku gak yakin anak aku kuat, kalau dilahirkan usia enam bulan." Ai memandang Kenandra sekilas, kemudian ia tertunduk dan terisak kembali.
"Ya kau berdoa untuk itu, kesempatan hidupnya kan bisa lima puluh persen tuh." Kenandra hanya memberikan sedikit kalimat penenang.
"Itu pun, Ai. Aku tak bisa selalu ada untuk kau, untuk kontrol anak kau juga. Aku punya tanggung jawab di rumah sakit aku, aku harus cek ke sana," lanjut Kenandra, dengan duduk di kursi yang Givan tempati.
Ai mengusapi air matanya. Ia meluruskan pandangannya pada Kenandra kembali dengan bertanya-tanya.
"Rumah sakit punya Abang?" Alisnya menyatu.
Kenandra mengangguk, ia membaca sekilas isi surat permohonan yang masih di tangannya tersebut.
"Aku punya rumah sakit bedah umum di Malaysia."
"Nih, tanda tangan di sini." Kenandra memberikan surat tersebut berikut dengan penanya.
Mau tidak mau, Ai membubuhkan tanda tangannya di surat tersebut. Itu adalah salah satu syarat, agar dirinya mendapat jatah penghidupan dari Givan.
"Oke, terima kasih. Kau istirahatlah! Aku tinggal dulu, aku punya keperluan di luar." Kenandra langsung mengambil secarik surat dan penanya kembali, ia ingin mengajukan surat tersebut untuk keperluan tes DNA untuk bayi yang akan Ai lahirkan.
Ia mau dibuat repot sedemikian rupa, agar dirinya mendapat timbal balik yang serupa dari pengajaran yang Givan dan Canda berikan. Meski ia pun membayar seorang pengasuh, untuk menjaga dan mengurus anaknya. Namun, perihal perintah, pendidikan, kasih sayang dan ilmu harus terpenuhi juga dari pihak orang tua asuh yang terbiasa memberikan ilmu dan agama yang baik.
__ADS_1
Ai memainkan ponselnya, mencari sebuah nama dalam kontak teleponnya. A Awang, membuat ibu jarinya bergulir untuk menyentuh informasi tentang kontak yang diblokir olehnya tersebut. Adik seperti apa dia ini, yang memblokir akses komunikasinya sendiri dengan kakaknya.
Ia ragu untuk menyentuh ikon panggil, setelah membuka nomor kakaknya yang ia blokir tersebut. Tersemat ketakutannya, karena ia teringat bahwa ia meninggalkan rumah tanpa izin dari keluarganya. Hanya dompet yang berisi KTP dan beberapa rupiah nilai uang, yang ia bawa ketika meninggalkan rumah tersebut untuk merantau di Jepara bersama seorang teman jauhnya.
Akankah, ia punya keberanian untuk menghubungi keluarganya dan memberitahu keadaannya sekarang? Mungkinkah, Ai menceritakan tanpa memanipulasi kebenaran yang terjadi?
Namun, sakit pada kepalanya kembali menyerang. Mendadak, tubuhnya diambang kontrol dirinya. Sebelum, akhirnya lonjakan gerakan berulang terjadi di luar kesadarannya.
Beruntung, kejadian tersebut diketahui perawat yang akan menggantikan kantong infusnya. Nyawanya kembali selamat, tapi dengan tindakan cepat yang dilakukan oleh pihak rumah sakit.
Bayinya akan dilahirkan, setelah kondisi Ai pulih. Bayi itu harus segera dilahirkan, meski resiko kematian sudah mengintainya.
Kekalutan Kenandra langsung menyerubung, ketika pihak rumah sakit mengabari bahwa mereka membutuhkan izin operasi dari pihak orang terdekat pasien. Dalam langkah cepat, Kenandra menempelkan ponselnya di telinganya dengan menebar kabar tersebut. Ia sadar, ia tidak bisa menanggulangi kerepotan itu seorang diri.
Adinda dan Adi, menjadi sasaran utama penerima kabar tersebut. Karena menghubungi Givan, adalah hal yang membuat kapok Kenandra karena kejadian sebelum Ai kejang kembali. Kenandra tidak suka ada keributan, suara meninggi atau makian pada pasien. Karena akan membuat mental pasien terguncang, juga beresiko pada keadaan pasien seperti yang Ai alami sekarang.
"Nanti mamah ke sana sama Gavin, kalau kau tak mau Givan ke sana lagi. Mamah mau siapkan beberapa barang dan pakaian yang mungkin Ai butuhkan. Terus gimana nomor keluarga Ai? Apa udah didapat?"
Kenandra menepuk jidatnya sendiri, ketika menyadari bahwa nomor telepon keluarga Ai belum ia kantongi juga.
"Belum dapat, Mah," jawab Kenandra yang tengah berjalan cepat menuju ruangan yang dijelaskan pihak rumah sakit.
"Nama kakaknya Ai atau bapaknya Ai siapa? Tanya Givan, terus cari aja di HP Ai. Kalau cara baik-baik tak bisa, udah aja kita nyolong-nyolong." Di tempatnya, Adinda pun berjalan selincah mungkin untuk mencari tas besar yang digunakan untuk membawa beberapa barang yang Ai butuhkan.
__ADS_1
"Eummm....." Kenandra berpikir mengenai ide yang kurang sopan tersebut. Ia tidak pernah mengecek isi ponsel orang lain, kecuali adik ipar Givan yang pernah diamanahkan oleh Givan agar ia menjaganya.
...****************...