Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM61. Kemungkinan retak


__ADS_3

"Belum selesai kah tadi, Bang?" tanya Ghifar, setelah bertemu dengan kakaknya yang baru keluar dari balai desa. Para anggota keluarganya pun, satu persatu keluar dengan bercengkrama seperti biasa.


"Iya, ngobrol biasa aja sih. Tapi ya memang seputaran itu. Kalau Ai bangun, mau diminta keterangan. Keuchik pun, minta bukti jual beli Ai tuh. Bukti transfer contohnya, atau semacamnya CCTV. Jadi mereka bisa bantu juga Abang nanti di pengadilan," jelas Givan lirih, karena mereka masih berada di balai desa.


"Loh, kok bisa Keuchik malah bantu kau?" Ghifar langsung menutup mulutnya sendiri, karena perkataan tersebut mengundang perhatian banyak orang, termasuk keluarga Eva yang baru keluar dari balai desa.


"Ya bantu semampunya gitu, umum aja sih. Jadi kek pengajuan dari desa kan, biasanya sidangnya lebih didulukan begitu. Keuchik minta bukti itu, buat membenarkan bahwa memang aku ini ada jual beli sama Ai, biar mereka percaya begitu. Karena mana tau, mulut aku ngarang di sini. Ya paling nanti aku hubungi bang Ken dulu, untuk kirim bukti CCTV-nya. Karena bukti transfer, aku bisa cetak mutasi ke Bank. Tapi sebelum proses ini lanjut, Ai tetap dimintai keterangan tentang fitnah itu dan benar tidak kalau ada transaksi pembayaran atas tubuhnya tuh. Memang aku salah kan, malah beli perempuan yang pasti kena sanksi juga. Cuma di sini aku ada kalimat, hanya membeli tapi tidak memakai. Makanya dibutuhkan CCTV, benar tidak aku langsung pergi setelah ada transaksi itu gitu tuh. Karena begituan kan, butuh waktu itu, Far. Kalau memang aku ada cicipi Ai, ya aku juga kena sanksi dobel. Syariat di sini, aku kena. Hukum juga, aku kena. Yang penting sekarang siapkan bukti aja dulu, biar nanti proses kedepannya udah siap begitu." Givan membuat tanda kutip.


Ghifar manggut-manggut. Lalu ia celingukan mencari seseorang. "Eh, mana istri kau?" Ghifar merasa kehilangan kakak iparnya.


"Tuh." Givan menunjuk ke salah satu pohon di depannya.


Gerobak tukang bakso terlihat jelas di mata mereka. Dengan seorang perempuan yang tengah bersantap dengan seorang laki-laki.


"Keluar duluan dia, pas aku dikasih tau untuk siapkan bukti. Udah mojok aja sama Ghavi." Rasa cemburu Givan tidak begitu besar pada Ghavi, karena latar belakang istrinya yang memang hanya menganggap Ghavi ipar saja. Berbeda dengan Ghifar, yang memiliki masa lalu menjadi kekasih Canda.


Terlihat keceriaan Canda yang meladeni lelucon dari Ghavi tersebut. Ia sesekali menggigit bakso lewat garpunya, lalu barulah ia melirik ke arah suaminya itu.


"Mas...." Ia melambaikan tangannya.


Ghifar menepuk pundak kakaknya. "Aku balik duluan, aku mau penuhi list mamah dulu. Nanti kau apa yang lain, yang antar ke rumah sakit." Ghifar hendak melangkah lebih dulu.


"Sini dulu, Far. Mau bakso tak?"


Namun, Ghifar langsung menggeleng. "Canda kalau lihat aku sama bakso, hawanya nanti minta dibayari aja. Aku trauma, Bang." Begitu serius ucapan Ghifar, tapi Givan malah terkekeh geli.

__ADS_1


"Ya udah, nanti infokan aja ke Abang." Givan meninggalkan Ghifar dan menuju ke istrinya.


"Mas, aku tak bawa uang." Canda tersenyum lebar.


Itu sudah biasa menurut Givan. Ketika keluar bersama seperti ini, selalu menjadi tanggung jawabnya mengeluarkan dana. Berbeda saat Canda keluar sendiri, ia mau keluar uang bahkan untuk mentraktir seseorang yang ia ajak.


"Hmm." Tanpa malu, ia malah menyosor ke mulut istrinya.


"Ini nih, Kakak Ipar." Ghavi mengarahkan bakso jumbo itu ke mangkuk Canda.


"Nih yang kecil-kecilnya."


Givan melongo saja, melihat istrinya menukar bakso yang berukuran kecil tersebut dengan Ghavi.


"Habis bakso jumbonya, Bang," terang tukang bakso tersebut.


Pantas saja Canda bertukar bakso dengan Ghavi, Givan baru mengerti permasalahan sederhana ini.


"Ya udah tak apa, Bang." Terlanjur duduk menurut Givan. Ia malu, jika tidak jadi membeli.


"Kurang tak, Vi?" tanya Givan, dengan memperhatikan adiknya yang menyantap bakso mungil dari lemparan mangkuk Canda.


Ghavi menggeleng. "Tak, Bang." Ia tengah kepedasan sekarang.


Givan memperhatikan adiknya yang sibuk makan dengan Canda tersebut. Begitu akrab Canda dengan saudara darinya, meski saudaranya kebanyakan adalah laki-laki. Bahkan, bertukaran isi piring pun terlihat biasa saja.

__ADS_1


Rasanya begitu tidak mungkin dan tidak akan, ia mengganti kakak ipar atau menantu untuk keluarganya. Ia tak mungkin mengganti tempatnya untuk pulang tersebut, atau memperbanyak rumahnya. Seperti saran termudah yang diberikan oleh ketua RT setempat.


Namun, kepala desa tetap ingin mendapat konfirmasi dari pihak Ai sendiri. Saran pernikahan, bukanlah yang terbaik untuk kedua belah pihak. Tidak cukup adil, meski pada akhirnya akan menyelesaikan masalah. Itu menurut kepala desa tersebut.


"Kak Eva, sini dulu. Sini makan-makan dulu," tawar Canda ramah, saat Eva dan keluarganya berjalan ke luar lingkungan balai desa tersebut.


Givan hanya tersenyum ramah saja, ia tidak keberatan jika mereka mau. Mereka semua pun, sudah disumpah untuk tidak menjual informasi dan aib keluarga Givan. Eva pun siap menjadi saksi, bilamana kasus Givan naik ke pengadilan.


"Iya, Canda. Kami buru-buru," tolak Eva dengan tersenyum simpul.


Hari sudah semakin siang, sedangkan mayoritas dari keluarga Eva masih memiliki anak kecil. Pasti anak-anak mereka di rumah merengek menantikan ibunya yang kembali ke rumah untuk mengurus mereka.


Canda hanya membalas dengan senyum, lalu kembali fokus pada isi mangkuknya. List nama-nama anaknya terlintas di otaknya, membuat Canda langsung meminta tukang bakso tersebut untuk membungkuskan untuk anak-anak mereka.


Mereka tetap makan, meski dengan keadaan pikiran yang semrawut. Canda mencoba menikmati masa-masa kebersamaannya dengan suaminya, sebelum suaminya benar-benar menjalani masa hukuman. Ia paham suaminya bersalah, ia pun akan selalu membenci kesalahan suaminya. Tapi ia tidak munafik, jika ia pun membutuhkan suaminya dan ayah dari anak-anaknya.


Pikiran Canda, suaminya akan dihukum lama. Kemungkinannya, dengan Ai juga. Bukan tanpa masalah, karena pikir Canda pengakuan suaminya itu bukanlah kebenaran. Pasti aslinya lebih dari itu, lebih dari keterangan yang suaminya ceritakan.


Mungkin, suaminya mengatakan hal itu agar dirinya aman saja. Pikir Canda, suaminya mungkin benar membeli Ai dan memakan Ai. Bukannya pergi, seperti apa yang diceritakan suaminya di depannya dan di depan khalayak umum. Pikir Canda juga, mungkin pada akhirnya ia yang harus mengalah.


Maka dari itu, ia mencoba menikmati kebersamaan mereka. Walau ia berpikir juga, mimpi sederhana mereka tidak akan pernah terwujud. Mimpi mereka retak, karena salah satu dari mereka tidak bisa menjaga sudut-sudutnya agar tidak berbenturan dengan batu.


Ia sadar, dirinya akan kalah jika pada akhirnya suaminya mengungkapkan isi hatinya. Ia tahu, siapa perempuan yang suaminya cintai dan berati. Ia mengerti, hanya raga yang ia miliki, bukan hati suaminya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2