Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM97. Bertemu ibu kandung


__ADS_3

"Ai nih, Van. Bener-bener harus diurus. Dia tak bisa panik, kaget, khawatir, apalagi kalau secara bersama-sama." Kenandra bertamu di rumah Givan, setelah seharian dirinya mengurus Ai di rumah sakit.


"Ngurus gimana sih? Aku ada istri juga yang harus diurus. Canda pun sama lagi hamilnya, sama-sama butuh perhatian dan waktu aku. Daripada nelantarin istri untuk ngurus dia, ya beribu mending aku ngurus Canda aja." Pada dasarnya, Givan memang enggan mengurus Ai.


"Ya maksudnya, harus ada yang wanti-wanti." Kenandra kadang merasa kasihan, kadang merasa khawatir pada Ai.


"Ya harus dirinya sendiri. Keluarga pun gimana? Dia tak ada keluarga." Givan jadi membayangkan bagaimana Ai pasca operasi sesar.


Ia tahu bagaimana tidak berdayanya wanita yang baru saja melakukan operasi persalinan secara sesar. Ia berpengalaman sendiri, karena dua kali Canda merasakan persalinan secara sesar.


"Kau kontak aja keluarganya, suruh jemput dia di sini. Ngapain loh dia di sini? Cuma buat dirinya kena hukuman aja." Kenandra melambaikan tangannya pada anaknya yang baru keluar dari salah satu pintu rumah anak-anak Givan.


"Kau lah, Bang. Malas aku." Givan tidak mau berhubungan lagi meski dengan keluarga Ai.


"Papah...." Bunga memanggil ayahnya dengan lembut.


"Hallo, Cantik. Main apa hari ini?" Kenandra langsung menyambut anaknya tersebut.


Ia merasa telat menikah, jika melihat anaknya yang masih seusia anak TK saja. Namun, teman-teman sebayanya bahkan sudah ada yang memiliki anak usia anak SMA.


"Ngaji sama biyung. Abis ngaji, aku dikasih dua ribu." Bunga memamerkan giginya.


Nilai yang kecil. Tetapi, mampu membuat anak tersebut tersenyum lebar.


"Wow, jajan apa dua ribu?" Kenandra merapikan rambut anaknya.


"Sosis bakar, beli sama kak Key." Bunga menunjuk rumah Key yang pintunya setengah tertutup.


"Terus sama siapa lagi?" Kenandra mengagumi putrinya yang cenderung lebih mirip mantan istrinya itu.


Mantan istrinya sudah menikah lagi, tapi tidak dengan dirinya. Entah perempuan yang bagaimana, yang akan menarik perhatiannya.


"Sama kak Jasmine. Oh, iya. Tadi kita jajan banyak, dikasih uang di jalan sama...."


"Sama siapa???!" Givan panik mendengar salah satu anak dalam amanat itu diberi uang oleh seseorang.


"Apa ya, Pah?" Bunga malah memandang wajah ayahnya.

__ADS_1


"Apa memang? Papah tak tau, Nak." Kenandra memeluk anak semata wayangnya.


"Ma.... Mak apa tuh?" Bunga seperti tengah mengingat sesuatu.


"Ammak?" tanya Givan yang sialnya diangguki oleh Bunga.


"Di mana ketemu ammak?" Givan seketika kebakaran jenggot.


"Pah...." Bunga memegangi kemeja ayahnya. Ia takut mendengar suara Givan yang meninggi tersebut.


"Di mana jeh ketemu ammaknya? Ayah nanya, Ayah kaget aja, Nak." Kenandra menenangkan putrinya.


"Di tukang jualan sosis bakar." Suaranya amat lirih, seperti tengah berbisik.


"Ya Allah...." Givan tidak percaya, dengan kehadiran Putri di lingkungannya.


Ia merogoh kantongnya dan mendapatkan ponselnya. Dengan cepat, ia menelpon orang tua Jasmine dalam dokumen. Yaitu ayah kandung Nalendra, mantan suami Canda. Beliau dan istrinya adalah orang tua Jasmine dalam akta kelahiran dan dokumen pelengkap lainnya.


"Mangge, hallo." Givan mondar-mandir di teras rumahnya.


"Ya, Van." Mangge Yusuf menerima langsung panggilan telepon suami dari mantan menantunya. Givan sudah seperti orang kepercayaannya, untuk mengurus semua usaha yang putranya tinggalkan.


"Mangge, Putri nemuin Jasmine. Anak-anak bilang, Jasmine dikasih uang sama Putri." Givan kalap, karena ia dalam keadaan tersandung kasus syariat. Bagaimana caranya ia menghadapi Putri, jika dirinya tidak dalam keadaan bebas.


"Waduh, waduh." Mangge ikut paniknya aja.


"Coba kau panggil Jasmine, tanyakan dia ammaknya ngapain aja. Nanti Mangge ke sana, Van. Mangge lagi sama Ceysa, beli makanan angkringan," lanjutnya kemudian.


Givan baru ingat, jika salah satu anaknya itu diajak oleh kakeknya. "Ya, Mangge. Aku lagi jalan ke rumah Jasmine." Givan meninggalkan Kenandra dan Bunga di teras rumahnya.


Givan langsung mematikan sambungan teleponnya, kemudian memasukkan ponselnya ke dalam satu. Beberapa saat kemudian, ia tengah duduk bersama anak yang memiliki keistimewaan pada jarinya tersebut. Jemari tangan Jasmine, berjumlah lebih dari sepuluh. Begitupun dengan total jumlah jari kakinya.


"Dek.... Kau jajan di mana tadi?" Givan tidak bisa menyembunyikan wajah paniknya.


Anak berusia dua belas tahun tersebut memandangi wajah ayah angkatnya. "Banyak tempat, Yah. Tadi aja kan, habis ke warung sama Chandra." Anak di usia tanggung tersebut menunjuk arah timur.


"Bukan, yang sama Bunga itu." Givan memperjelas arah tujuannya bertanya. Ia membiasakan anak-anak untuk bercerita dengan sendirinya, jadi ia hanya memancing saja.

__ADS_1


"Ohh...." Jasmine manggut-manggut mengerti.


"Di tukang sosis bakar, di depan toko material Ayah. Waktu itu, ada mobil lagi bongkar semen." Jawaban yang tepat, karena pertanyaannya jajan di mana.


"Katanya Jasmine dikasih uang ya?" Givan sudah tidak sabar, menunggu anak itu untuk bercerita sendiri.


"Oh, iya." Anak itu memukul pangkuannya sendiri.


"Ayah tau?" Anak tersebut memandang lepas netra ayah sambungnya.


Givan menggeleng, ia menanti cerita dari Jasmine.


"Aku dikasih uang banyak sama ammak, aku bilang delapan lembar aja, saudara-saudara aku lagi kumpul delapan orang. Terus dikasih, pipi aku dicium, katanya ammak kangen."


Givan dengan tegang mendengarkan cerita tersebut. "Terus gimana lagi?" Matanya terpaku dengan isyarat tangan Jasmine yang tengah berbicara tersebut.


"Aku bilang, kalau kangen ke rumah aja. Aku punya rumah, di pondok biyung. Ammak cuma manggut-manggut aja, katanya ammak lagi sibuk, ammak nunjukin map yang banyak, katanya ammak lagi kerja di lampu merah sana, terus singgah di sini. Ammak jadi kurus loh, Yah. Ininya besar betul, tapi badannya kecil." Jasmine menunjuk dadanya yang sudah membentuk sebesar biji salak.


Givan mengingat proyek apa yang berada di lampu merah terdekat. Sampai ia teringat, tentang proyek jalan tol yang terletak cukup dekat dari lampu merah yang terdekat.


Givan paham, pekerjaan tersebut tidak memandang gender. Terlebih lagi, Putri yang cerdas pasti memiliki posisi yang cukup tinggi.


"Ayah panik, Dek. Ayah takut kau dibawa ammak." Givan memeluk anak tersebut, kemudian mencium pucuk kepalanya.


Masa dulu ia bersikap kurang ramah pada Jasmine, semata-mata agar Putri mundur menjadikannya ayah dari anaknya. Ia tidak pernah ingin terlibat pernikahan dengan Putri, meski ia merasa memanfaatkan Putri untuk kepentingannya sendiri. Namun, Putri pun terlihat jelas memanfaatkannya. Putri adalah lintah darat berkedok perjanjian kerja sama.


"Ah, masa? Ayah kan selalu nyuruh aku sama mangge Lendra aja." Jasmine menelisik kebenaran di wajah ayahnya. Anak itu cukup pintar seperti ibunya.


"Lah, kau pikir bagaimana? Kebesaran kau, aku didik kau, aku suapi kau, aku ikat rambut kau, kau kira itu apa?" Givan seperti berbicara pada temannya.


Jasmine memahami bagaimana ayah angkatnya. Ia memeluk ayah angkatnya dengan terkekeh geli. Ia paham bagaimana ayah angkatnya menyayangi dan mengasihi dirinya, hanya saja ingatan kecilnya sering mengingatkan tentang Givan yang sering membentak ibu kandungnya.


"Terus, ammak kau ngomong apalagi?" Givan mengusap-usap kepala anak angkatnya. Ia masih ingin mendengar cerita Jasmine, perdana bertemu dengan ibu kandungnya setelah sekian lama.


"Ammak.....


...****************...

__ADS_1


__ADS_2