
"Anaknya pak Sanusi, Mah. Mamah kenal?"
Adinda menggeleng dan tersenyum kuda. Ia tidak mengenal semua orang yang tinggal di kampungnya, ia tidak tahu pasti siapa itu yang Nafisah sebutkan.
"Murung aja, Wang. Ada apa?" tanya Adi, yang mengamati Kerumitan Awang sejak tadi.
Awang gelagapan, ia tersenyum lebar secara mendadak untuk menyamarkan kekalutannya. Ia tidak bisa menyembunyikan kerumitannya secara rapi, ia bukan orang yang handal untuk berbohong. Meski satu darah dengan Ai, ia sangat berbanding terbalik dengan sifat Ai. Anak laki-laki pertama itu, benar-benar bisa menjadi panutan untuk adik-adiknya.
"Gak ada apa-apa, Pah." Elak Awang kemudian.
"Kok dari tadi Saya perhatikan, kek mikirin apa gitu." Adi ingin tamunya transparan.
"Ada apa, A?" tanya Nafisah dengan mengusap lengan suaminya.
Awang yang bekerja kasaran, terlihat cenderung lebih tua dari Givan meski usia mereka seumuran. Kulitnya yang cerah terpapar sinar matahari, membuat warnanya berubah kecoklatan.
"Eummm...." Ia tidak bisa berbohong pada istrinya.
"Kenapa, A?" Nafisah yakin ada Kerumitan yang suaminya rasakan sendiri.
"Nanti kita ke Ai aja." Awang cukup merasa malu untuk mengatakan bahwa ia tidak memiliki uang untuk mengganti uang jalan yang ia pakai.
Ia berharap, adiknya memiliki tabungan untuk ongkos mereka pulang. Ia pun mengharapkan adiknya semoga bisa meminjamkannya uang, untuk mengganti biaya uang jalan yang dipakainya.
__ADS_1
"Maksud Saya ngajak mampir itu, ya biar kalian bisa istirahat dulu. Dari kemarin datang dari perjalanan jauh, langsung ke rumah sakit aja. Nah, sekarang istirahat di sini dulu. Malam nanti, barulah ke sana lagi. Mumpung Ai ada yang gantiin jaga juga, malam kan bisa nemenin Ai lagi," jelas Adinda lembut, berharap agar Awang mau mengerti tentang niat baiknya.
Meski niat baik itu tersampaikan. Tapi, ia tidak bisa untuk meminta bantuan pada Adinda. Menurutnya, keluarga Adinda sudah terlampau baik.
Awang kedatangan telepon. Ia langsung mengangkat ponsel anaknya, yang menggunakan nomornya. Ia hidup selama ini, hanya fokus bekerja dengan ponsel biasa yang hanya bisa digunakan untuk berkomunikasi saja. Ia sudah cukup keteteran, menghidupi dua anaknya yang keduanya berada di bangku sekolah. Anak pertamanya yang sudah duduk di bangku SMA dan anak keduanya, duduk di bangku kelas tiga SMP. Ia tengah memikirkan daftar ulang tahunan kenaikan kelas di SMA anak pertamanya, ia pun tengah memikirkan biaya masuk SMA untuk anak keduanya.
"Ya, Pak. Saya kemarin udah izin, nanti Saya minta teman Saya yang antar, Pak." Kantor angkutan kendaraan besar tempatnya bekerja menghubunginya. Karena mereka ingin, muatan yang tidak sedikit itu cepat diantarkan karena sudah ditunggu.
"Oh iya, Pak. Nanti Saya transfer uang jalannya." Awang mencoba memberikan kalimat penenang pada atasannya.
Adinda membaca sesuatu. Ia langsung berpikir, bahwa inilah kerumitan Awang yang membuatnya melamun di tengah obrolan.
"Uang jalan kau kepakai?" Tebak Adinda setelah Awang selesai dengan ponsel android milik anaknya itu.
Awang tertunduk, ia cukup malu untuk mengakuinya. Tapi, ia merasa tidak yakin Ai akan memberinya pinjaman untuk uang jalan yang telah dipakainya. Ia khawatir adiknya marah, karena seolah tidak langsung Awang meminta ongkos pesawat untuk kedatangannya pada adiknya.
Anggukan kecil terlepas. Awang hanya bisa tetap menunduk, karena ia malu mengakuinya.
"Lah, dari awal bilang pas telpon yang pertama kalinya itu kan transparan aja. Biar sama-sama enak, biar masalah cepat terselesaikan. Ya udah, berapa nilainya? Terus kirim ke mana? Anak-anak kau pun, di sana sama siapa? Punya pegangan tak mereka? Karena aku perkirakan, kau bakal lama di sini untuk nunggu hukuman Ai selesai."
Awang langsung meluruskan pandangannya. Ia cukup terkejut, karena sambutan Adinda mendengar bahwa dirinya telah menggunakan uang jalannya tersebut langsung dibantu tanpa banyak pertanyaan.
"Di sana sama bibi, Mah. Ya kemarin aku berangkat sih, aku kasih mereka seratus ribu. Kalau harus lama di sini, bisa-bisa aku dikeluarkan dari perusahaan. Aku dikasih pegangan mobil besar itu, ya dengan perjanjian harus produktif. Susah dapat pegangan, Mah. Awal bujangan aku sampai nunggu tiga tahunan, rela jadi supir serep cuma nungguin biar dikasih pegangan." Awal paham konsekuensinya adalah kehilangan pekerjaan, jika terlalu lama meninggalkan pekerjaannya.
__ADS_1
"Ya kalau kau ikhlas, lepas aja. Kau bisa kerja di peternakan Saya, yang ada di Cirebon. Kalau jadi supir mobil besar kan, uang juga besar ya? Tapi libur setelah dapat muatan itu lumayan kan? Belum juga, tak pulangnya sampai lima harian. Uang besar itu, ya habis karena libur dan ditinggal perjalanan." Adinda cukup mengerti, karena ia adalah anak seorang supir.
"Nah itulah, Mah. Pulang, kasih uang ke istri. Aku pulang lagi, ya cerita uang udah habis." Awang menyadari pendapatannya hanya cukup untuk sehari-hari saja. Tak jarang ia mengutang, untuk menutupi biaya sekolah anaknya.
"Iya, keluar aja. Di peternakan Saya aja nanti, sistemnya bulanan jadi terasa uangnya." Adinda tidak mengatakan bahwa pendapatan jika bekerja padanya akan jauh lebih baik.
"Jagain peternakannya kah, Mah?" Awang cukup tergiur, karena ia sudah tidak ingin terlalu lama di jalanan lagi. Di usianya, terkadang ia ingin menikmati waktu lebih banyak di rumah bersama keluarganya. Mimpinya pun tidak jauh berbeda dengan Givan.
"Kemarin sih iya, butuhnya yang tinggal di situ untuk jaga peternakan. Tapi, sekarang butuhnya supirnya. Dulunya, Ghifar pernah ikut tuh. Katanya sekali ngirim itu, dapat tiga ratus ribuan. Itu tuh dulu, jamannya Ghifar bujang, udah tiga belas tahun yang lalu lah. Ghifar ini adiknya Givan, anak pertamanya Papah Adi." Kembali Adinda mengusap lengan suaminya.
"Ngirimnya ke mana itu, Mah?" Awang mulai memperkirakan waktu dan jarak.
"Ada, di daerah Cirebon juga. Kalau ikut bongkar, malah dapat tambahan juga. Sore pengiriman, tengah malam pulang. Tengah malam pengiriman, pagi pulang. Pagi pengiriman, siang pulang. Siang pengiriman, sore pulang. Soalnya bukan satu peternakan aja, punya kakak aku pun peternakan juga. Mobil pick up pun bukan satu, biasanya dikasih pegangan perorangan. Kalau supir ini, ya modelnya setelah kirim barang baru dapat uang. Kalau jagain peternakan, sistemnya bulanan."
Awang beradu pandang dengan istrinya. Ia merasa cukup tergiur, tapi ia sadar bahwa ia tidak bisa memutuskannya seorang diri. Belum lagi tanggung jawabnya bertambah, karena ia harus mendidik adiknya yang terlanjur rusak itu. Jika tetap bertahan pada kendaraan besar, ia yakin ia tidak bisa mengontrol Ai karena hidupnya lebih banyak di jalanan.
"Nanti diobrolkan sama Nafisah dulu, Mah," putus Awang kemudian.
"Iya, tak apa. Tak di peternakan juga, ada juga di tempat lain. Tapi keknya tak ada di Majalengka, Wang. Jadi, mana nomor rekeningnya?" Adinda sudah menyalakan layar ponselnya.
"Oh, bentar. Aku hubungi teman aku dulu, Mah." Awang segera mengutak-atik ponselnya.
...****************...
__ADS_1