
Setelah empat hari berada di rumah sakit, Ai diperbolehkan pulang dengan kakaknya dan kakak iparnya yang berada di sisinya. Barang-barang Ai sudah berada di rumah Adinda, karena kamar inap Ai begitu kecil untuk ditinggali Ai, Awang dan Nafisah.
Berakhir, mereka akhirnya menempati kamar tamu di rumah Adinda. Dengan ranjang besar dan ruangan besar yang cukup untuk ditinggali tiga kepala.
Kepasrahannya semakin menjadi, melihat kepala desa berkunjung untuk menengok keadaannya. Ada kecemasan tersendiri, akan hukumannya yang kembali dibahas nantinya. Ia tidak ingin menjalani hukuman lebih lama, ia sudah teramat ingin meninggalkan provinsi yang membuatnya trauma untuk kembali lagi.
"Turut berdukacita atas meninggalnya anaknya, Dek Ai. Semoga, Dek Ai cepat pulih biar bisa beraktivitas lagi," ucap kepala desa, ketika melihat Ai tengah duduk bersandar di kepala ranjang.
"Makasih, Pak." Ai tersenyum samar. Di balik senyumnya, ada kerumitannya yang tak terkira.
Kepala desa manggut-manggut, ia keluar dari kamar tamu tersebut. Kemudian, duduk bersama Adi dan Adinda yang duduk di sofa tamu.
"Penuh ujian ya, Teungku?" Kepala desa membuka obrolan ringan.
"Ya begitulah. Saya pikir, pernikahan itu ujian terbesar hidup Saya. Ternyata, ujian terbesar itu menuntut anak-anak ke jalan yang benar." Adi terkekeh samar dengan geleng-geleng kepala.
"Beda porsinya, Pak. Ada juga yang merasa ujian hidup terbesar itu kala beras habis, minyak habis, gas habis, anak nangis minta jajan, kilometer udah bunyi terus, istri niup-niup bara kayu untuk rebus batu. Dah tuh, rasanya mau mati pun tak tega ninggalin keadaan rumah lagi kek gitu." Kepala desa tertawa kecil.
Adi menyambungi dengan tawa. "Tapi jaman sekarang udah tak ada begitu, Keuchik. Soalnya, sekarang sih bisa ngutang. Ngutang di warung aja gampang betul, karena tetangga sendiri rasanya tak mungkin tega untuk kita tolak hutang kita." Adi merasa tidak pernah menemukan kasus sekompleks itu di lingkungannya.
"Hm, betul. Tapi segitu untung, Teungku. Di daerah lain, Bank keliling itu merajalela. Di sini kan tak begitu, Teungku," sambung ketua RT yang setia menemani kepala desa berkunjung ke rumah warga.
"Silahkan diminum." Canda menghidangkan seteko teh manis hangat, beserta gelas tehnya juga.
"Iya, iya. Terima kasih, Dek Canda," sahut kepala desa tersebut.
Canda hanya mengangguk dan tersenyum ramah dengan undur diri. Givan setia memperhatikan istrinya, dengan memangku anak perempuannya yang paling kecil.
__ADS_1
"Ya memang ada, kalau uangnya ada pun Saya belikan."
Obrolan itu, terdengar di telinga Givan yang duduk bersama tamu tersebut. Kenandra yang berada di dalam kamar tamu bersama Ai dan keluarga, tengah membicarakan tentang obat-obatan yang membantu pemulihan pasca operasi.
"Canda pakai tiap kali abis sesar, ya langsung sembuh lebih cepat. Tapi dasarnya orangnya begitu, operasi tak operasi, ya banyakan rebahan."
Givan bertambah penasaran, ketika Kenandra menarik nama istrinya. Ia beranjak, dengan menggendong Cani dalam dekapan hangatnya.
"Satu jutaan satu kali minum, belinya lewat dokter rumah sakitnya bisa juga."
Ai memandangi anak perempuan yang berada di dekapan Givan. Anak perempuan yang begitu mirip dengan Canda, sampai kerudung pun tidak pernah lepas seperti Canda.
Anak berusia tiga tahun lebih tersebut, merasa takut karena Ai memandangnya dengan berlebihan. Ia langsung memeluk leher ayahnya dan membisikkan kalimat, bahwa ia ingin keluar dari kamar ini.
Interaksi bisik-bisik antara Cani dan Givan begitu dekat. Ai langsung membayangkan jika Givan tengah membisikkan kalimat pada anaknya. Sayang, ia tidak akan bisa melihat kegiatan Givan yang tengah berinteraksi dengan keturunan darinya.
Hatinya semakin teriris melihat Canda menghampiri suaminya, kemudian ia berjinjit untuk bisa mencium pipi suaminya. Ai ingin berada di dalam keharmonisan itu, ia ingin kembali menerima tawaran Givan yang pernah ia tolak mentah-mentah.
Pesan yang disampaikannya pada kakaknya, langsung disampaikan pada Givan ketika malam harinya. Awang menuggu putusan Givan, kala ia menyampaikan pesan dari Ai.
"Aku tak mau kalau berdua, aku trauma berdua-duaan sama bukan muhrimku." Givan menggeleng berulang.
Awang memahami, itu adalah obrolan pribadi. Jelas adiknya keberatan jika ia ikut serta, atau Canda hadir di tengah obrolan mereka.
"Yaaaa, bang Ken atau siapa gitu. Dia ada di kamar Ai, lagi ganti perbannya."
Givan mengangguk, kemudian ia melangkah masuk ke dalam rumah orang tuanya. Ia berjanji pada dirinya sendiri, untuk tidak banyak berbicara dengan Ai. Karena ia tahu, istrinya tidak lama lagi akan mencarinya. Karena ia sudah berjanji, ia akan kembali ke rumah pukul delapan malam dan mengizinkan Canda untuk mencarinya jika ia tidak kunjung pulang.
__ADS_1
Kenandra telah menyelesaikan tugasnya. Ia tengah mengajari Ai, untuk beraktivitas nyaman dengan luka operasinya. Melihat kedatangan Givan, Ai berhenti mencontohkan cara yang Kenandra ajarkan.
"Bang Ken, Givan minta ditemani untuk ngobrol sama Ai katanya," ungkap Awang ramah, dengan memamerkan senyumnya.
Kenandra tidak kuasa menolak permintaan halus tersebut. Ia mengangguk dan tersenyum tipis.
"Sini keluar dulu, Neng," ajak Awang pada istrinya. Awang mengerti, Ai akan canggung jika dirinya atau istrinya berada di dalam obrolan private mereka.
"Mau ngomongin apa, Ai?" Givan bertanya dengan duduk di sofa dobel, yang berada di dekat ranjang Ai. Sofa tersebut berhadapan dengan ranjang samping kanan, di mana Ai berada.
Kenandra menyimak, ia duduk di tepian ranjang, di ujung kaki Ai. Ia hanya diam, dengan memperhatikan dua orang tersebut.
Ai memperhatikan Kenandra sejenak. Ia menyampaikan pada kakaknya, bahwa ia ingin mengobrol dengan Givan empat mata saja. Ia pun memberitahu, bahwa ia ingin membicarakan masalah pribadinya dengan Givan.
Givan memahami sorot kebingungan Ai. "Aku tak mau ngobrol, kalau cuma berdua sama kau. Aku trauma, Ai." Givan berterus terang.
Akhirnya, Ai mengerti dengan ucapan kakaknya yang meminta Kenandra untuk tetap berada di dalam kamar tersebut. Ia menarik napasnya dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Ia sudah merangkaikan kata yang cukup hati-hati sekali, agar tidak memancing emosi Givan. Ia ingin mendengar penjelasan dari Givan, dengan nada lembut agar tersampaikan dalam hatinya.
"A, aku pengen nanya baik-baik. Tolong, jangan pakai emosi di sini." Ai akan mengerti, jika Givan bertutur lembut.
Givan menganggukkan kepalanya samar. Ia menunggu Ai melanjutkan ucapannya.
"A, sebenarnya gimana sih perasaan Aa ke aku waktu dulu itu?"
Givan langsung memejamkan matanya sejenak. Kemudian, ia memijat pelipisnya. Ia tidak ingin membahas kisah kelamnya, karena sekarang ia sudah bertekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Membahas kisah lamanya, hanya membuatnya semakin menyesal karena masa mudanya tidak begitu efektif untuk masa tuanya sekarang. Andai saja, ia bisa merubah masa lalunya di masa sekarang. Mungkin, ia sudah memperbaiki segalanya yang sudah ia rusak untuk kehidupannya sendiri atau kehidupan orang lain.
Tidak ada yang lebih berharga, kecuali tobatnya seorang pendosa.
__ADS_1
Ai masih menunggu lontaran kalimat dari Givan yang masih memijat pelipisnya.
...****************...