Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM191. Aset orang tua


__ADS_3

"Iyo, anak Biyung sayang. Terharu biru, sampai ingusan Biyung. Makasih udah mau patuh sama kita, Nak." Canda memeluk anak tirinya, setelah Nadya dan Ziyan pamit.


"Maaf ya, Ayah suka marahin Zio dari dulu. Soalnya Zio gampang betul tidur sih, habis sarapan eh tidur lagi." Givan pun memeluk tubuh anaknya yang dipeluk istrinya.


"Ish! Tak pakai soalnya lah, masa minta maaf kok dikasih soalnya." Canda memberi delikan tajam pada suaminya.


"Kebiasaan kau nempel ke Zio. Di rumah, kau harus digubrak-gubrak aja biar tak nempel molor. Ini anak bujang nempel molor juga, kan emosi Gue," ungkap Givan dengan ekspresi yang cepat berubah.


Zio menyeka air yang membasahi matanya, ia tertawa geli mendengar ucapan ayahnya. Begitu menggelikan menurutnya, ketika ayahnya dengan logat kentalnya menyebut dirinya sendiri dengan sebutan 'gue'.


"Ya tak apa, Yah. Biar aku ada kemiripan sama Biyung," timpal Zio kemudian.


Pelukan mereka terlepas. Givan langsung meraup wajah anaknya dengan gemas. "Hm! Dasarnya memang nempel molor. Eh, Zio udah daftar ulang kan? Apa belum ya? Takut terlewat, takut kelupaan tuh." Givan menggaruk kepalanya.


"Belum mulai, Yah. Nanti, tiga hari sebelum masuk sekolah itu daftar ulang. Kalau daftarnya aja sih udah, Yah. Guru yang daftarkan, nanti tinggal daftar ulangnya aja." Zio memandang wajah ayahnya dari samping.


"Tiap tahun kita daftar sekolah ya, Mas?" Canda teringat tumpukan kwitansi pembayaran sekolah yang berada di atas meja kerja suaminya.


"He'em." Givan tertawa geli. "Tak apa ya swasta juga ya? Biar Zio pintar agamanya." Givan memang memasukkan anak-anaknya ke sekolah Islami terdekat dengan biaya yang lumayan. Memang ada SMP negeri, sayangnya letaknya lebih jauh lagi dari daerahnya. Givan berpikir, agar anaknya berani berangkat dan pulang sekolah sendiri.


"Tak apa, Yah. Buktinya bang Chandra aja sekolah di swasta Islami, dia tetap bisa pacaran kok."


Canda dan Givan saling memandang dengan mata yang mekar sempurna. "Jadi kau mau pacaran kecil-kecil juga?!" Givan bertanya penuh penekanan dengan ekspresi yang seperti siap memakan korban bulat-bulat.


"Tak, Ayah. Kabur...." Zio melarikan diri masuk ke rumahnya.


"Dasar, Semprul!" Givan geleng-geleng kepala, Canda hanya bisa tertawa melihat interaksi ayah dan anak tersebut.


"Yuk bangun. Istirahat dulu, Cendol. Terus aku mau banyak obrolan sama orang ladang, kini giliran lahan mahar kau yang waktunya peremajaan." Givan membantu istrinya untuk bangkit.


"Aku tak diajak keluar dong?" Canda menggandeng tangannya kala mereka sudah beriringan untuk kembali ke rumah.

__ADS_1


"Eh, iya." Givan menepuk jidatnya. "Kan kita mau keluar bareng dulu ya?" Givan menaikturunkan alisnya.


"Keluar bareng gimana?" Canda tidak mengerti arah pembicaraan suaminya.


Givan melepaskan tautan tangan mereka, kemudian ia melepaskan kaosnya. "Ngerti kan?" Givan bertelan*ang dada di teras rumahnya.


"Ngapain tuh?" Canda masih tidak mengerti maksud suaminya.


Givan menghela napasnya. "Udah! Ayo aja." Ia tidak mau banyak menjelaskan, karena ia yakin akan terbawa emosi kembali.


Ia menarik tangan istrinya, tak lupa ia mengunci pintu rumah mereka.


"Mau ngapain sih, Mas?" Canda terheran-heran melihat perilaku suaminya.


"Kuras tangki." Givan langsung mengangkat tubuh istrinya.


"Begituan?" Canda melebarkan matanya dengan berpegangan pada leher suaminya.


"Iya dong. Kapan lagi coba? Rindu kali loh ini." Givan membawa istrinya ke dalam kamar mereka.


"Ada AC, Sayang. Kau tenang aja." Givan langsung menyetel AC mereka di suhu yang cukup dingin, tapi penyebaran udara dingin itu belum merata.


"Aduh, Mas." Canda hanya bisa pasrah, ketika suaminya menyibak dress-nya.


Sore hari yang cukup ramai, dengan aktivitas cucu-cucu Adi dan Adinda yang tengah bermain sepeda di halaman rumahnya. Menjadi gangguan tersendiri, untuk seorang notaris yang datang dengan permintaan Adi.


"Tak ada yang jatuh ke cucu ya, Pak? Coba dibaca ulang kembali." Notaris tersebut menyerahkan secarik kertas dengan hiasan materai tempel.


"Tak ada, sesuai yang Saya dan istri Saya minta. Ngomong-ngomong, ini udah sesuai hukum belum ya? Apa secara agama saja?" Adi melayangkan kertas tersebut.


"Kalau hukum dan agama ya berbeda, Pak. Kemarin ibu Dinda minta secara hukum saja, karena ada dua anak yang lain darah dan lain kandung katanya. Biar rata katanya, jadi Saya buat sesuai hukum negara," jelas notaris tersebut dengan perlahan.

__ADS_1


"Adi manggut-manggut. Jadi, ini tinggal minta tanda tangan ahli waris kami saja kah?" Adi membaca sekilas kertas tersebut.


"Ahli waris, disaksikan saksi dan pihak bersangkutan. Terus, pengesahan dan Saya simpan. Nanti Saya kembali jikalau Pak Adi dan ibu Dinda sudah tiada, kalau salah satu pihak masih hidup, surat kuasa dan waris ini belum bisa dibagi asetnya. Nanti pun, Saya yang nanti akan membaginya. Saya akan libatkan keluarga Pak Adi, ketua RT dan kepala desa setempat kalau udah waktunya. Tapi sebelumnya mohon maaf ya, Pak? Semoga Pak Adi dan bu Dinda panjang umur terus, ini kan surat untuk nanti kalau udah tak ada umur." Notaris tersebut tersenyum kaku, khawatir Adi tersinggung dengan ucapannya.


"Saya ngerti kok, Pak. Jadi Saya kumpulkan anak-anak Saya kah?" Adi menaruh kembali lembaran tersebut.


"Iya, Pak. Silahkan, Pak."


Adi segera berjalan menghampiri istrinya yang tengah memperhatikan cucu-cucunya bermain. Ia sama sekali tidak berniat mengusir cucu-cucunya untuk tidak bermain di halaman rumahnya, meski tengah ada tamu penting di rumahnya. Ia tidak mau membuat cucunya kapok bermain di halaman rumahnya, karena ia marahi.


"Tanda tangan nanti, Dek. Abang mau panggil anak-anak dulu." Adi melewati istrinya.


"Ya, Bang." Adinda tidak berniat untuk masuk ke dalam rumah tanpa suaminya. Apalagi, melihat tamunya adalah laki-laki yang lebih muda darinya. Tapi, jauh di atas usia anak-anaknya.


Adi memanggil anak-anaknya tanpa alasan yang jelas. Beruntung, Givan belum menarik gas motornya. Ia mengurungkan niatnya untuk pergi, tapi ia mengajak istrinya untuk berkunjung ke rumah orang tuanya.


Sofa yang tidak muat menampung mereka semua, berakhir dengan mereka semua yang duduk bersama di atas karpet ruang keluarga yang memiliki tempat cukup luas. Padahal, di depan televisi sudah diisi dengan satu set sofa santai di ruang keluarga tersebut. Namun, di belakang sofa tersebut masih cukup luas untuk dibentangkannya sebuah karpet permadani dengan ukuran jumbo.


"Ada apa ini, Pah?" Ghifar terlihat tegang dengan keramaian yang ada.


Belum lagi dengan kehadiran kakaknya, Icut. Membuat Ghifar yakin, bahwa lalu ini akan membicarakan hal yang penting.


"Ini soal pembagian aset Papah dan Mamah." Adi memperhatikan satu persatu anaknya.


"Loh, kok gitu? Jangan ngomong jelek lah, Pah." Ghava mengerti ini tentang apa, meski ayahnya tidak menjawabnya dengan kebenaran isi surat tersebut.


"Maksudnya, biar nanti pas udah tak ada, kalian tak berebut gitu. Papah sama Mamah tak mau, kalau sampai akhirnya kalian perang saudara, bunuh-bunuhan hanya karena warisan orang tua. Biar adil, Mamah dan Papah bagi sesuai hukum negara." Meski Adi meyakini hal itu adalah tidak mungkin, tapi di suatu masa khawatirnya itu akan terjadi karena himpitan ekonomi. Ia paham, tentang roda kehidupan yang pastinya berputar.


"Ya Allah, Pah. Jauh-jauh aku datang, kok malah begini?" Icut pun tidak suka mendengar langkah siaga yang diambil orang tuanya.


"Maksud Mamah dan Papah baik, Cut. Tanah sepetak aja, itu bisa buat perang saudara. Apalagi, ini sampai bisa untuk buat satu kabupaten ibaratnya," terang Adinda kemudian.

__ADS_1


Delapan saudara tersebut saling memandang. Gibran baru sadar, orang tuanya menyuruhnya untuk pulang ternyata untuk keperluan hal ini.


...****************...


__ADS_2