
"Suntik hormon testosteron sintetis dan progestin, cukup aman karena bersifat sementara, atau bisa kembali ke keadaan semula, karena tidak menyebabkan kemandulan permanen seperti pada vasektomi. Kekurangannya, biaya untuk mendapatkannya cukup mahal. Selain itu, layaknya pil KB wanita, suntik KB pria juga harus tepat waktu agar efektivitas kontrasepsi tetap terjaga. Beberapa penelitian menyebutkan cara hormonal ini juga dapat memengaruhi n**** se*s pria."
Canda langsung menoleh cepat ke arah suaminya, setelah mendengar kalimat terakhir dari dokter. Ia kurang cocok, mendengar penjelasan itu. Ia pun tidak ingin, suaminya melakukannya.
"Resiko lainnya apa, Dok?" Givan merasa tidak masalah dengan kekurangan dari KB tersebut.
"Tak di semua rumah sakit ada. Biasanya, ada di rumah sakit besar aja."
Mendengar hal itu, Givan langsung memiliki feeling bahwa di daerahnya tidak tersedia.
"Tapi di Aceh Tengah ada kok, Pak. Nanti Saya cek ulang daftar rumah sakit yang menyediakan suntik KB untuk laki-laki itu. Setiap dua bulan sekali, Bapak harus suntik pengulangan. Cara kerjanya, menurunkan kadar testosteron alami dalam tubuh pria untuk menekan proses pematangan s***** muda."
Givan langsung teringat, ketika dulu dokter mengatakan bahwa kandungan s*****nya tidak matang. Pasti, proses terjadinya kurang lebih seperti KB yang akan ia lakukan.
"Cara lain apa, Dok?" Mendengar pertanyaan Canda, Givan langsung memahami bahwa Canda tidak cocok dengan KB tersebut.
"K*****, vasektomi atau keluar di luar."
Canda tertarik dengan saran pertama. "Cara penggunaan k***** untuk yang kurang cocok tapi harus diambil cara itu, gimana solusinya, Dok?"
Givan menggaruk kepalanya. Ia sedikit bingung dengan pertanyaan istrinya. Ia tidak mengerti, kenapa Canda menginginkan hal itu jika kurang cocok.
__ADS_1
"Bisa dengan cara mengenakan ketika hampir kl*maks saja, Bu. Atau bisa dengan cara alami, dikeluarkan di luar. Tapi bagi laki-laki yang kontrolnya kurang bagus, disarankan lebih baik penggunaan k**** ketika menuju kl*maks aja. Karena tadi Ibu mengatakan, kurang cocok tapi harus. Ya menurut Saya, hanya itu saran terbaiknya."
Dengan penjelasan tersebut, Canda langsung menoleh pada suaminya dengan tersenyum lebar. Givan hanya mampu menghela napasnya, karena tadi ia ingin mengambil opsi untuk KB suntik untuk laki-laki.
"Kalau untuk KB suntik untuk laki-laki atau perempuan, pil atau yang terbaru koyo, nanti bisa mulai setelah Ibu selesai nifas," pesan dokter tersebut dengan membereskan alat-alat medis miliknya.
"Saya pernah koyo, tapi timbulnya panas dingin dan kemerahan di area koyonya, Dok," aku Canda kemudian.
"Oh, ya jangan, Bu. Apalagi, koyo ini lepas pakainya sering. Tapi Ibu bisa juga ambil implan atau IUD."
"Tak, Dok. Saya tak mengizinkan KB tersebut, karena pengalaman dari ibu Saya yang tetap hamil sekalipun menggunakan IUD dan implan." Givan sedikit trauma dengan cerita ibunya.
Ia tidak ingin istrinya mendapat pengalaman yang lebih buruk dari ibunya. Meskipun resikonya bisa dibilang rendah, tapi ketakutan Givan besar jika sampai terjadi sesuatu pada istrinya.
"Mari ikut Saya untuk mengambil resep penebusan obat, Pak Givan. Setelah itu, silahkan diurus administrasi untuk biaya rumah sakit perawatan Ibu Canda yang belum diselesaikan."
Mereka berdua saling tersenyum senang, ketika mendengar bahwa Canda sudah boleh pulang dari rumah sakit tersebut.
"Karena jauh, Saya sarankan untuk mengambil penginapan di lingkungan rumah sakit saja. Karena tiga hari ke depan, Bu Canda harus datang kembali untuk kontrol. Kontrol ini pun, nanti biayanya akan ditarik dengan administrasi yang ada. Jadi sifatnya wajib ya, Pak Givan. Maka dari itu Saya tidak menyarankan Ibu dan Bapak untuk pulang ke rumah kerabat yang ada di sini, karena jarak, kasian Ibu dan bayinya masih rentan."
Givan seperti mendapat kesempatan untuk mendapatkan informasi sebelum dokter tersebut beranjak pergi. "Jadi, bayi Saya belum siap untuk perjalanan jauh ya?" tanyanya cepat, sebelum dokter tersebut pamit pergi.
__ADS_1
"Biasanya saja, perawatan bayi prematur itu bisa sampai satu bulan di rumah sakit. Tapi bayi Ibu Canda, tidak demikian karena cukup kuat dan sehat. Tapi bukan berarti, bayi tersebut bebas untuk tidak dirawat intensif. Untuk bayi yang lahir prematur, usia minimal bayi naik pesawat adalah satu bulan. Namun, perlu diingat bahwa usia satu bulan bayi yang lahir prematur berbeda dengan bayi yang lahir normal. Usia satu bulan bayi prematur memakai satu bulan koreksi. Misalnya, apabila bayi lahir pada usia kehamilan tiga puluh lima minggu, maka usia satu bulan dari bayi prematur tersebut bukan empat minggu tapi sembilan minggu. Jadi, kurang lebih nanti dua bulan mendatang baru diperbolehkan. Ada lagi peraturan lainnya di salah satu maskapai penerbangan untuk bayi prematur adalah, bayi dengan kondisi tersebut boleh naik pesawat, tapi akan dianggap sebagai Medical Cases (MEDA) dan akan ditangani sebagai penumpang yang memerlukan penanganan khusus. Jadi perlu diingat ya, Pak Givan. Satu bulannya bayi prematur itu, sembilan mingguan. Jadi, sekitar dua bulan lebih satu Minggu. Itu pun, biasanya memerlukan Medical Information Form atau MEDIF."
Keterangan dari dokter tersebut, seperti menjelaskan semuanya tentang pertanyaan-pertanyaan Givan dan Canda.
"Saya permisi dulu ya, Pak Givan, Bu Canda? Pak Givan, bisa ke ruangan Saya dulu." Dokter tersebut undur diri dengan tersenyum ramah.
"Baik, Dok. Bisa." Givan menjawab cepat, dengan meraup wajahnya.
Ia tidak mungkin selama itu harus berada di daerah ini. Selain anak-anak, banyak urusannya yang menunggunya. Tapi, jelas keadaan tersebut tidak bisa dipaksakan. Keselamatan anaknya menjadi pertaruhan, bila ia mementingkan egonya saja.
"Mungkin bisa jalur darat, Mas."
Givan sudah memikirkan dirinya sendiri ketika menyebrang pulau dengan kapal. Ia sendiri selalu mabuk, maka dari itu ia selalu menghindari perjalanan laut. Bagaimana nanti dengan anaknya, Givan memikirkan kondisi anaknya di kapal laut jika mengambil opsi perjalanan darat.
"Aku ke dokter dulu, Canda. Mau ambil resep, terus urus administrasi dulu. Kau tunggulah di sini, baru nanti kita rapi-rapi setelah aku datang. Sebelum kita keluar dari rumah sakit, kita ke dokter anak dulu untuk cek up Cala. Setelahnya, kita ambil penginapan di sekitar sini. Aku belum tau gimana-gimananya nanti, Canda. Kau tenanglah dulu. Nih, pegang Cala. Kau main HP aja dulu, kalau bosen nemenin Cala tidur. Ingat, jangan ditinggal ya? Apa kau kau ke kamar mandi dulu? Aku antar ya?" Givan membuat Canda bingung karena banyak perkataan yang keluar dari mulutnya.
"Ya udah Mas pegang Cala dulu, aku mau pipis." Canda mencoba turun dari brankar, dengan Givan langsung membantunya dengan satu tangannya. Dengan tangannya yang lain, ia gunakan untuk mendekap anaknya.
"Nanti kau di kamar aja ya? Anteng ya? Jagain Cala, kau jangan berbenah atau siap-siap dulu. Tunggu aku balik, baru kau siap-siap nanti aku bantu kau ganti bajunya. Terus...."
Canda langsung menahan mulut suaminya dengan telapak tangannya. "Cerewet, dibilang iya tuh." Canda mendelik kesal pada suaminya. Givan terkekeh, kemudian ia ikut masuk ke kamar mandi membantu istrinya untuk buang air kecil.
__ADS_1
Cala menjadi bukti betapa khawatirnya ayahnya pada ibunya, sampai-sampai ia ikut dibawa masuk ke kamar mandi untuk menemani ibunya.
...****************...