Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM218. Drama sarapan


__ADS_3

"Mah, minta makan dulu sih." Givan menggosok perutnya yang terlihat cekung ketika lapar.


"Mamah belum masak nasi. Bentar ya? Mamah beli nasi campur dulu. Berapa orang sopir, biar sekalian dibelikan?" Adinda mencari keberadaan dompetnya.


"Abang aja, Dek. Masih berkabut betul di luar, Adek di sini aja. Mana uangnya?" Adi mengajukan diri, meninggalkan cucunya yang tengah memperhatikan kamar tersebut dengan pandangan kosong. Sedangkan Canda, begitu mudahnya ia terlelap karena merasa begitu nyaman.


"Beli banyak aja, Pah. Sopir dua, aku dua. Sisanya barangkali Papah atau Cendol lapar." Givan memperhatikan ibunya yang tengah memberikan uang pada ayah sambungnya.


"Kau dua orang dihitungnya?" Adi terkekeh kecil. Ia tahu anaknya kelaparan, ia pun tahu jika anak sulungnya terbiasa dengan porsi makan yang banyak.


"Biji aku dua." Givan tertawa geli menjawabnya.


"Dodol!" Adinda ikut menyambung tawa, dengan menghampiri anak Canda yang bergerak seorang diri di tengah ranjang.


Adinda tidak mengerti, kenapa Canda bisa langsung mengukir pulau dengan air liurnya. Sedikit rasa lucu, melihat wajah menantunya yang pulas tersebut.


"Mah, barang-barang aku taruh mana dulu ini? Pintu kamar aku terkunci kah? Ada orang atau gimana? Tadinya mau langsung pulang ke rumah tuh, tengok Cala masih melek aja. Kasian nanti dia sendirian, karena aku udah nebak Canda molor lagi." Givan berdiri di ambang pintu kamar orang tuanya, dengan membawa koper yang cukup besar.


"Aduh.... Udah-udah, taruh sini dulu." Adinda tidak melihat, jika anaknya tadi berusaha membuka pintu kamarnya sendiri.


"Ada apa sih, Mah?" Givan sejak tadi sudah curiga.


"Udah, nanti juga tau sendiri." Adinda tidak berniat memberitahu di tengah kelelahan anaknya.


"Mah, sopir mau ke WC katanya." Givan bolak-balik menaruh barang-barangnya yang sudah bercampur dengan oleh-oleh.


"Buka pintu samping nah, dari sana aja kan dekat."


"Ya, Mah." Givan kembali memutar arah untuk membuka pintu yang masih dikunci dari dalam tersebut.


Rasa penasarannya kembali memuncak, kala ia mendengar suara tangis bayi selain anaknya. Ia kembali ke kamar orang tuanya, memperhatikan anaknya yang terbuka matanya tapi tidak menangis. Givan pun merasa, suara tangis itu lain dari suara tangis anaknya.


"Ada apa, Van?" Adinda menyadari keberadaan anaknya yang memperhatikan mereka di ambang pintu kamar.


"Eummm, ada bayi nangis." Givan menunjuk arah pintu samping.

__ADS_1


"Udah kau temani dulu sopir yang mau ke kamar mandi. Kebelet BAB kali dia." Adinda mengalihkan perhatian anaknya.


"Eummm, ya deh." Givan kembali ke teras depan rumah.


Adinda terus mengajak cucunya itu berinteraksi. Mendengar sedikit cerita Canda tadi, yang mengatakan bahwa anaknya suka begadang. Membuat Adinda benar-benar teringat akan kelakuan Givan kecil.


Dari bayi, sampai usianya di atas dua tahun, Givan begitu menjungkirbalikkan malam-malamnya menjadi siang hari. Bedanya, ia hanya menjaga Givan seorang diri, terkadang ditemani oleh orang tuanya. Sedangkan Canda, suaminya malah mengambil waktu lebih banyak darinya untuk begadang menemani Cala. Adinda pun mendengar langsung dari mulut Givan, bahwa dirinya menjaga Cala dari jam sepuluh malam dan tiga pagi. Baru sejak jam tiga Canda dibangunkan, lalu tak lama mereka sampai di rumah orang tuanya.


Adinda tertawa geli, kala Cala menggeliatkan tubuhnya sampai terkentut. Bahkan, suara kentutnya sampai terdengar kencang.


"Nanti siang, cek ke dokter ya? Barangkali Cala butuh vitamin, barangkali Cala capek." Adinda memijat-mijat kaki cucunya.


Cala merespon dengan isakan kecil. Adinda menyadari, bahwa Cala sudah menyelesaikan masa rondanya. Ia yakin, sekarang sudah waktunya Cala untuk tidur.


"Dek, bangun dulu. ASIin Cala dulu, ngantuk dia." Adinda menggoyangkan lengan menantunya.


"Bentar, Mah." Canda mendengar tapi enggan membuka matanya.


Tidak disangka, rengekan Cala berubah menjadi tangis kejar. Adinda dan Canda langsung panik, karena anak itu rupanya langsung mengamuk.


"Ya ampun, tak sabaran betul. Dasar, anak Ananda." Canda lekas bangkit, kemudian membuka resleting depan daster yang terlihat nyaman dan trendy tersebut.


"Benahi dada kau. Udah adzhan, Mamah sholat dulu. Terus mau siap-siap di dapur. Papah lagi beli sarapan, nanti kau mandi bersih-bersih, Cala sama Papah aja." Adinda menepuk pelan lengan Canda.


"Ya, Mah." Canda fokus memperhatikan wajah anaknya, dengan menggoyang-goyangkan tubuhnya. Cala bisa terlelap, jika dirinya diayun kecil dalam dekapan hangat.


Adinda mulai beraktivitas di dapur, setelah ia menunaikan ibadah sholat Subuh. Ia sempat menilik keberadaan anak sulungnya di teras rumah, yang ternyata tengah mengopi dan mengobrol bersama dua sopir.


Kembali, ia hanya melirik pintu kamar Givan. Ia terkadang ingin masuk untuk melihat ketika mendengar suara bayi menangis, tapi keadaan pintu yang selalu dikunci membuatnya segan. Ditambah lagi, perdamaian belum didapat untuk dijadikan solusi dan jalan terbaik.


"Eh, Dek. Sarapannya di depan. Papah mau sholat dulu." Adi masuk ke dalam kamar, dengan langsung masuk ke dalam kamar mandi pribadinya.


"Ya, Pah." Canda menoleh mencari keberadaan kain jarik miliknya.


Ia sudah tahu, jika Cala ingin ASI pasti membutuhkan waktu lama. Sampai-sampai, ia merasa dadanya begitu kosong karena ASI seluruhnya sudah dikuras.

__ADS_1


Setelah Cala aman dalam gendongan kain jarik, Canda mengenakan penutup menyusui agar ia bebas mengASIhi Cala di depan keluarga yang berlalu lalang.


Canda keluar dari kamar, mencari keberadaan makanan berada. Ia tidak memungkiri, jika perutnya kosong melompong karena terus memproduksi ASI.


"Mas...." Canda melongok dari pintu depan.


"Hmm, ya." Givan langsung menoleh, dengan mengunyah makanannya.


"Makan." Canda membuat isyarat seperti menyendokkan sesuatu ke mulutnya.


"Oh, iya." Givan paham, jika istrinya juga lapar.


Kebetulan sekali, stok makanan mereka sudah habis sesaat sebelum mereka turun. Pelaku penghabisannya adalah Canda, Givan membiarkan istrinya makan siang dan malam. Karena tidak ada perubahan dalam tubuh Canda juga, menurutnya Canda tetap terlihat ideal meski tengah rakus-rakusnya makan.


"Suapin kah?" Givan sudah menyiapkan sebungkus nasi campur dan sebuah sendok untuk istrinya.


"Bukain aja, minta piring buat alasnya. Aku bisa kok, tak enak sama sopir masa ditinggal." Canda cukup ahli mengayun sembari makan.


Bukan ia ingin melupakan adab makan, tapi keadaan yang memaksanya makan sambil berdiri. Karena anaknya yang belum pulas selalu merengek ketika ia duduk. Cala seperti tahu, jika ibunya dalam kondisi duduk.


"Oke, nanti aku ambilkan minumnya juga. Di ruang tamu aja ini ya?" Givan meletakkan nasi yang sudah dibuka dari bungkusnya itu di meja ruang tamu.


"Iya, Mas." Canda tengah mengintip anaknya dari cela alat penutup menyusui tersebut.


Saat melewati ruang keluarga, Givan kembali mendengar suara tangis bayi. Pikirannya ke mana-mana, ia malah berpikir bahwa Ai bersalin kembali dengan bayi yang tertinggal di rahimnya. Terdengar tidak mungkin, tapi Givan terus bertanya-tanya tentang suara tangis itu.


"Minta papah gantikan Canda ngayun Cala, Van," ujar Adinda ketika melihat keberadaan anaknya di dapur.


"Tapi papah tak bisa nyusuin Cala, Mah. Cala diayun sambil ASI." Givan keluar kembali setelah mendapatkan segelas air putih dan mangkuk plastik untuk alas makan Canda.


Suapan pertama, Givan berikan pada istrinya. Setelahnya, Givan membiarkan Canda untuk makan sendiri. Ia kembali ke teras, melanjutkan sarapannya sampai habis.


Tangis anak bayi dari kamar itu semakin jelas. Anak bayi tersebut cenderung mengamuk, bukan lagi merengek seperti tadi.


Cala tidak sensitif bunyi ketika tidur, tapi ia kagetan jika mendengar suara yang tiba-tiba keras. Cala melepaskan ujung dada ibunya, dengan ia mengeluarkan suara tangis karena rasa kagetnya.

__ADS_1


Suara bagi yang mengamuk itu begitu jelas terdengar, dengan suara grasak-grusuk orang dewasa yang terbangun.


...****************...


__ADS_2