
"Eh, loh?" Canda terkejut, dengan dua tamunya yang berlainan tempat tersebut.
"Mamah...." Key langsung berlari ke arah ibu kandungnya dengan senyum ceria.
Anak-anak yang baru turun dari mobil, langsung mengikuti arah berlarinya kakak sulungnya.
"Mamah, bawa apa?"
"Mamah dari mana?"
"Mamah, aku punya makanan."
"Mah.... Mamah bawakan Gymboree pesanan aku tak?"
Putri langsung bangkit dan mencari suara anak yang terakhir berbicara tersebut. Ia hafal suara yang selalu ia dengar setiap hari itu. Dengan susunan kata dan cara bicara anak itu, yang terlihat jelas bahwa anak itu paham dengan merek brand yang cukup besar.
"Ada. Mahal!!! Ayah kau suruh ganti." Fira menatap sinis laki-laki yang menurunkan belanjaan dari dalam mobil tersebut.
"Aku tak minta kau bawakan, Fir," jawab Givan enteng.
"Tau, tapi anak kau request. Mau kubelikan satu, anak-anak yang lain juga nanti kepengen. Ini sampai aku belikan dua belas biji, entah buat siapa aja."
Canda tertarik untuk mendengar versi lengkap, informasi tentang brand tersebut.
"Satunya berapa?" Canda menghampiri Fira yang dikerubungi anak-anak. Bukan Firanya, tapi barang bawaannya.
"Ukuran paling kecil itu, dua ratus lima puluh tiga. Ukuran dua belas, sampai ke harga enam ratus ribu. Ini cuma kaos aja loh, Canda. Kaos lengan pendek, baju main." Fira membentangkan satu kaos bermerek tersebut.
"Kenapa dibeli? Banyak lagi ini, udah kek seller online." Canda ikut mengacak-acak isi plastik besar tersebut.
"Buat anak kau! Kalau ibunya bukan kau, malas betul aku bawakan. Nanti hadiah aku, tak sesuai sama akidah yang kau ajarkan lagi." Fira mengukur baju yang berada di tangannya ke bahu Key.
"Tergantung itu sih." Canda mencari oleh-oleh untuk dirinya, karena Fira selalu membelikan juga untuknya.
"Eh, aku bawakan dress malam. Tapi entah muat tak, badan kau melar betul sih jadinya. Dada kau besar betul, entah muat tak sama lingkar dada dress ini." Fira menunjukkan sebuah dress berwarna salem pada Canda.
"Aku lagi hamil lagi, Fir." Canda sibuk membolak-balikan kain yang terpotong rapi menjadi dress malam tersebut.
"Serius???" Mata besar Fira semakin membulat.
Canda mengangguk. "Kembar katanya sih," timpalnya kemudian.
"Ahh, serius?" Fira tertawa bahagia, dengan memeluk tubuh Canda.
"Ish!!" Canda merasa risih dengan pelukan Fira yang mengganggunya melihat-lihat barang bawaan Fira.
__ADS_1
"Canda yang hamil, Fir. Bukan kau!" Givan geleng-geleng kepala, dengan menyerahkan satu plastik makanan pada Fira.
Fira melepaskan pelukannya pada Canda. Ia mengambil jajanan kaki lima yang diberikan padanya tersebut, kemudian ia melongok isi di dalamnya.
"Kan aku ikut senangnya aja, Van." Fira bergulir memandang laki-laki yang meninggalnya tanpa belas kasih itu.
"Ck.... Aku ragu kau senang." Givan menyusun makanan milik anak-anaknya, lalu ia turun lagi dari teras rumah Key.
"Kan nanti kau harus nambahin list barang bawaan kau ke sini, Fir," ucap Canda yang membuat senyum di wajah Fira langsung hilang.
"Nambah lima ratus ribu lagi, untuk baju Gymboree." Ia menggeleng lesu.
Givan menghampiri Putri, kemudian ia bergulir memandang anak-anaknya. "Ke sana aja, Put. Mereka bakal lama." Givan menunjuk perkumpulan anak-anakya.
"Jasmine aja diminta ke sini, Van." Putri canggung untuk berbaur bersama mereka, karena ia minder dengan keadaan ekonominya.
Ditilik dari satu set pakaian muslimah yang ia bawa hanya untuk anaknya, ia akan merasa tidak enak hati dengan anak-anak Givan yang lain. Mereka pasti akan memandangnya lain, karena tidak diberi barang yang serupa.
Satu set gamis anak berwarna ungu bermerek Ethica, begitu yakin dibelinya untuk anaknya. Ia yakin, ukuran dan warnanya pasti disukai anaknya. Belum lagi harga barang tersebut, yang berkisar tiga ratus ribuan yang pasti akan dilirik Jasmine. Hanya saja permasalahannya, ia hanya membawa satu. Sedangkan Fira, sudah seperti orang yang tengah berjalan di Pasar Tanah Abang.
"Tak bakal mau dia. Dia masih uprek nyari oleh-oleh. Kalau kau tak mau, ya udah tungguin aja. Aku mau ke dalam dulu. Kau udah ada minum kan?" Givan melirik pada sebuah gelas teh yang berada di sudut tiang beton teras rumahnya.
Putri mengangguk, kemudian ia duduk kembali di tempatnya. Ia tidak bisa berbaur di sana, ia terlalu canggung untuk melakukan hal itu. Ditambah lagi, Canda yang malah asyik makan di sana. Canda lupa dengan keberadaan tamu lain di rumahnya itu.
Sampai beberapa menit berlalu, hingga Givan kembali ke luar dan mendapati Putri masih seorang diri di teras rumahnya.
Canda menoleh dan bertanya lewat isyarat dagunya.
"Ini." Givan menunjuk Putri yang menyibukkan dirinya dengan bermain ponsel.
Canda baru ingat, jika ia memiliki tamu lain. Ia langsung menepuk jidatnya sendiri dan meninggalkan makanannya. Ia menghampiri suaminya, lalu mengajak Putri berjabat tangan dengan ramah.
"Maaf, lupa kalau lagi ada tamu tuh." Senyum Canda begitu teduh.
"Bilang aja kau ikut berburu harta karun bareng anak-anak," sindir Givan pada istrinya.
Canda terkekeh malu, kemudian menepuk lengan suaminya.
"Aku ke mamah dulu ya? Ngasih jajanan ke mamah dulu." Setiap berpergian, Givan tidak akan lupa dengan ibunya. Meski jajanan anak-anak, ia tahu ibunya pun pasti ingin mencicipi.
Canda mengangguk. "Jangan lama-lama, Mas. Aku capek." Canda melirik matanya sekilas pada Putri.
Givan mengerti, ia diminta cepat kembali untuk mengawasi Putri berada di tengah kediamannya tersebut. Karena Canda, jelas butuh istirahat dan tak akan mampu meladeni mulut Putri yang begitu pandai.
Givan mengangguk. "Nanti langsung balik lagi kok, cuma ngasihin aja. Kau temani Putri dulu, nanti aku balik, kau baru boleh istirahat." Givan mengusap kepala Canda dengan penuh kasih.
__ADS_1
Canda mengangguk, kemudian ia duduk di sebelah Putri. Membiarkan suaminya yang beranjak pergi, melewati pintu samping rumahnya dengan secangking jajanan anak-anak tersebut.
"Udah lama kah, Put?" tanya Canda, dengan sedikit duduk berserong ke arah Putri.
Putri tersenyum manis. "Lumayan, dari jam tujuh. Givan tak ada bilang, jam berapa harusnya aku datang. Jadi, aku pikir lebih pagi lebih baik. Biar waktunya panjang gitu."
Canda menangkap sinyal, bahwa Putri akan cukup lama berada di kediamannya. Mungkin, seharian penuh.
"Iya, soalnya anak-anak minta car free day. Olahraga sih tak, tapi nyari dadar gulung."
Putri ikut tertawa, mendengar ucapan Canda. Pembawaan Canda, membuat dirinya sedikit rileks.
"Kapan ya Jasmine punya waktu? Aku udah pengen ngobrol sama dia." Putri memandang anaknya dari tempatnya.
Jasmine tengah berusaha memakaikan Cani baju dengan merek Gymboree. Ia membantu adik kecil tersebut, untuk memakai baju dengan model dan warna yang sama seperti dirinya.
"Kak Jasmine, sini dulu." Canda langsung menyerukan nama anak itu.
"Ya, Biyung," sahut Jasmine, yang masih membantu adiknya mencoba kaos baru tersebut.
"Biyung...." Ceysa yang malah berjalan ke arah Canda.
"Lah, kak Jasmine yang dipanggil, Ceysa yang ke sini. Kenapa, Dek?" Canda memperhatikan anaknya yang begitu mirip dengan ayah kandung Jasmine tersebut.
"Tante...," sapa Ceysa, dengan mencium tangan Putri.
"Hei, Cantik. Anaknya mangge Lendra ya ini?" Putri langsung mengenali Ceysa dari wajahnya saja.
Ceysa mengangguk, kemudian ia langsung berisik pada ibu kandungnya tersebut.
"Ohh.... Ya panggil Hadinya, ajak ke sini. Berani tak?"
Rupanya, anak itu menginginkan kawan bermainnya ikut serta dalam mengacak-acak barang bawaan Fira tersebut.
"Memang boleh, Biyung? Nanti mamah marah tak?" Ceysa menoleh ke arah Fira yang tengah lahap memakan sosis bakar dan bermain ponsel tersebut.
"Boleh, kan mamah beli banyak. Kalau tak kebagian tuh, ya milih yang lain. Gitu." Canda merapikan anak rambut Ceysa yang keluar dari hijabnya
Ceysa mengangguk. "Aku ke Hadi dulu ya?" Ia perlahan turun dari teras, kemudian melangkah ke arah pintu samping sebelah kiri.
Dengan kejelian matanya, Shauwi langsung berjalan cepat melihat arah perginya Ceysa. Ceysa adalah tanggung jawabnya, ia akan disalahkan jika lalai terhadap Ceysa.
"Ke Hadi aja katanya, Dek," ujar Canda yang menyadari bahwa pengasuh anaknya bergerak cepat.
"Aku datang, Biyung. Biyung perlu bantuan aku?"
__ADS_1
Canda dan Putri yang tadi memperhatikan Shauwi yang berlari ke arah pintu samping, kini memutar kepalanya melihat anak tanggung itu sudah berdiri di hadapannya.
...****************...