
"Ada apa?" Givan bertanya dengan suara tegasnya.
Tawa merendahkan terdengar dari seberang telepon. "Kau sama Abang kau udah berani ketus begitu, Van? Sombongnya...." Kekehan Kenandra masih terdengar jelas.
"Saudara aku, tak ada yang makan adiknya sendiri." Givan menunjukkan sisi dinginnya.
"Oh ya? Bukan kau yang makan Aca ya berarti? Kakak kau itu, kakak sepupu kau meski umurnya di bawah kau. Dia anaknya kakak dari ibu kandung kau, dia anak pakdhe kau!" balas Kenandra menyudutkan.
Givan memejamkan matanya. Ia dari awal sudah mantap untuk berubah, termasuk tidak mau mengungkit dosa-dosa dan aibnya kembali. Lantas, bagaimana jika orang lain yang malah menguak kembali?
"Kasian juga Ghifar, Canda direbut kau. Sekarang dapat istri bekas kau. Kau ujian untuk saudara-saudara kau! Kau pokok masalah, dari semua masalah hidup berkumpul di atap kekeluargaan kau!" tambah kenand kemudian.
Givan membuang napasnya. Ia mengusap wajahnya kasar, kemudian ia menoleh ke arah anaknya yang tengah bermain seorang diri.
"Mau kau apa?" Givan tidak mau seluruh keburukannya diungkap kembali, apalagi jika sampai didengar oleh anak-anaknya.
Ia ingin tetap mencerminkan sebagai ayah yang baik dan orang tua yang baik. Ia paham, manusia tidak ada yang sempurna. Semua orang pasti memiliki sisi jelek dan buruknya. Hanya saja, ia sudah bertekad untuk membuat perubahan yang lebih baik untuk dirinya sendiri. Ia tidak mau menjadi contoh yang buruk untuk anak-anaknya, ia tidak mau seumur hidupnya ia berada di jalan yang salah.
"Izinkan adik ipar kau untuk hidup sama aku, minggu-minggu ini aku pulang dan pengen secepatnya ngadain pernikahan," putus Kenandra cepat.
"Begini kah cara kau minta restu? Kau telpon cuma untuk bilang hal yang sama?" Nada bicaranya naik satu oktaf.
"Aku butuh pembuktian atas ucapan aku, aku butuh keyakinan untuk Ria atas diri aku. Kau persulit aku, kek kesannya aku di sini yang tak bersungguh-sungguh. Toh, lagi pula kau cuma ipar. Ria masih punya orang tua, Ria masih punya ibunya. Kau terlalu pemilih untuk dia, macam kau sanggup hidupi dia dan tuntun dia sampai ke akhirat nanti. Kau cuma ipar, Van! Aku pulang, aku mau kau cepat urus semuanya!"
"Kau nyuruh aku, Bang?! Kau minta restu dan kau nyuruh aku sekarang? Kalau kau berpikir, kalau aku ini tak penting. Coba, kau tanyakan ke Ria harus ke siapa dia mohon izin! Karena asal kau tau aja, ibunya bahkan nyerahin dan percayakan diri Ria ke aku. Aku memang cuma menantu dan cuma ipar, tapi kau buka mata kau seberapa besar kepercayaan mereka ke aku dan seberapa besar tanggung jawab aku untuk kelangsungan hidup dan kebahagiaan mereka. Karena Canda aja, dia tak begitu peka dan tak begitu peduli untuk keluarganya. Karena apa? Karena dia pun udah nyerahin dan percayakan kehidupannya untuk aku. Kau ingin direstui, ya kau pulang. Ngobrol kita di sini, pakai bahasa yang baik. Karena kau mau minta restu, bukan nagih hutang!" Kekesalan Givan bertumpah ruah.
"Ohh, jadi dagu kau naik karena kau begitu direpotkan mereka, begitu?" Kenandra tersenyum miring di seberang telepon. "Kau persulit, aku pun tak akan maksa. Kau sombong betul! Macam cuma satu-satunya perawan aja adik ipar kau! Macam cuma satu-satunya perempuan aja adik ipar kau! Aku tak jadi sama Ria, aku pun tak akan rugi! Dia tak cantik seberapa, dia tak menonjol di bidang manapun. Dia tak sebagus yang kau kira! Jadi, harusnya kau bersyukur kakak kau ini mau nikahi dia!" Kesombongan Kenandra menjadi satu, beradu pada dengan keangkuhan Givan.
__ADS_1
"Sadar diri!" ketus Givan cepat.
"Terserah kau, Van! Terserah apa kata nanti juga. Asal kau tau aja, adik ipar kau yang ngejar-ngejar aku lebih dulu. Kau tak mau urus pernikahan kita, aku pun tak mau repot ngurus!" Kenandra langsung mematikan sambungan teleponnya sepihak.
"Hallo, hallo..... Hallo." Givan menarik ponselnya dari telinganya, kemudian memperhatikan wallpaper ponselnya yang sudah kembali seperti semula.
Kenandra benar-benar mematikan panggilan telepon tersebut tanpa ba-bi-bu lagi.
"Makin curiga," gerutunya dengan memperhatikan layar ponselnya.
"Ayah...."
Givan mencoba fokus sepenuhnya untuk anaknya lebih dulu. Ia tidak mau pikirannya terbagi, hingga ia ceroboh menjaga Cani.
"Iya, Cantik." Givan mencoba menarik sudut bibirnya dan berjalan menghampiri putrinya.
"Aduh." Givan menepuk jidatnya. "Tak ada yang disuruh, Dek. Masa Ayah keluar sendiri? Nanti Adek sama siapa?" Givan menata rambut Cani yang keluar dari kerudungnya. Anak itu tidak mau melepaskan kerudungnya sama sekali, meski kondisinya tengah dalam perawatan medis seperti ini.
"Ikut Ayah," rengekan manja Cani selalu menjadi senjata.
"Huh...." Givan berpikir sejenak. "Ayah izin ke perawat penjaga dulu, ya? Takut tak boleh, Cantik. Nanti Ayah dimarahi." Givan memasang ekspresi tak berdaya.
"Oke, Ayah. Aku tunggu di sini." Cani bertepuk tangan karena gembira.
"Oke, Sayang. Bentar ya?" Givan melangkah keluar dari ruangan anaknya sejenak.
Beberapa hari di rumah sakit, akhirnya Cani diperbolehkan pulang setelah lima hari dalam perawatan medis. Senyum bahagianya kini selalu menghiasi hari-harinya, keceriaan dan kegembiraannya berbaur bersama saudara-saudaranya karena ia bisa berkumpul kembali.
__ADS_1
"Udah selesai nifas aku, Mas." Canda mengeluarkan kata-kata sederhana yang memompa semangat Givan.
Givan melirik ke arah istrinya dengan alis yang terangkat sebelah. Senyum mesumnya terukir, tapi segera sirna karena ia teringat bahwa dirinya belum bisa untuk melakukannya karena ia lupa untuk melakukan suntik KB untuknya.
"Sabar ya?" Givan mencoba menyembunyikan harapannya.
Ia baru bisa bernapas lega dan sedikit tenang, karena anaknya baru pulang dari rumah sakit. Namun, ia sudah dihadang karena permasalahan ranjang mereka. Ia tidak mau kebobolan, ia pun tidak mau membuat Canda berKB yang pernah Canda alami dulu.
"Udah kepengen, Mas." Canda langsung memeluk lengan suaminya.
"Aku capek, Canda." Menurut Givan, itu bukanlah alasan. Ia hanya berpura-pura memiliki alasan, agar ia bisa menghindari aktivitas dewasa mereka untuk keamanan istrinya.
"Tapi kangen." Canda beralih memeluk tubuh suaminya.
"Ya udah, tidur pelukan yuk? Kan kangen kan? Bukan gatal?" Givan memicingkan matanya melirik istrinya.
Canda tergelak lepas. "Gatal aku ini, makanya tak tahan lama-lama jadi janda."
Giliran Givan yang menertawakan istrinya, kemudian ia meraup wajah istrinya. "Karena kau tak bisa cari nafkah itu sih."
"Ayolah, Mas. Pakai sarung begitu tuh, Mas. Aku pernah tengok di belanja online, ada sarung yang bentuknya unik." Canda mendongakkan kepalanya, untuk melihat wajah suaminya dari bawah.
"Hmm, gimana ya?" Givan mengetuk-ngetuk dagunya.
Dering ponsel Givan yang tergeletak di meja membubarkan kesan mesra yang ada. Givan lekas melepaskan pelukan istrinya, kemudian menilik nama yang tertera di layar ponselnya.
"Hmm, ini lagi." Givan tidak mengerti, kenapa orang tersebut menghubunginya kembali setelah berkata begitu sombongnya.
__ADS_1
...****************...