Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM101. Jasmine anak amanat


__ADS_3

"The real karma itu benar adanya ya???" Putri tertawa mengejek.


"Tak capek ngeluarin tenaga, tak capek berpikir, udah dapat hukuman aja. Pasti malu betul kan???" Ia bertepuk tangan pelan.


"Puas betul lihat kau begini, Van." Putri terlihat bahagia, senyumnya sampai begitu seluas samudera.


"Ya, terima kasih kembali." Givan tidak ingin banyak meladeni perempuan tersebut.


"Loh? Kok begitu?" Putri bingung dengan respon Givan.


"Terus kau mau ngapain lagi?" Givan tengah merasa sakit, emosinya terpancing dengan kehadiran Putri di sini.


"Tenang, Van. Aku udah cukup puas untuk ini, aku capek berurusan lagi sama kau." Putri teringat dirinya mendekam di penjara. Begitu berat ia menerima, sampai akhirnya ia nyaman di sana.


Hal yang memilukan untuknya. Ia baru saja menikmati kebersamaannya bersama ayah dan ibunya, tapi Yang Kuasa malah menarik mereka di sisinya.


Di satu sisi ia merasa beruntung, karena masih mendapat kesempatan untuk menikmati kebersamaan bersama orang tuanya. Namun, di sisi lain ia merasa kurang puas menikmati mengurus orang tuanya. Ingin rasanya ia menyalahkan Givan karena hal ini. Tapi, pemahaman ilmu agama yang ia dapat dari bui cukup membuatnya mengerti.


Ada rasa jera dari perbuatannya, karena berurusan dengan keluarga Givan. Masih untung, anaknya dibesarkan mereka tanpa hitungan materi.

__ADS_1


Ia tidak bisa membayangkan, bagaimana jika Jasmine diasuh oleh orang lain dan tidak mendapat pendidikan yang tepat. Ia merasa dirinya memang gila. Tapi, ibu gila sepertinya ingin yang terbaik untuk anaknya.


Sejak dulu, ia selalu memberikan yang terbaik dan termahal untuk anaknya. Ia selalu berusaha keras agar anaknya mendapat jatah maksimal, dari ayah kandungnya meski tanpa ikatan pernikahan dengannya. Ia paham, memiliki anak tanpa ikatan pernikahan adalah beban ibu dari anak tersebut. Bukan beban Nalendra, yang tidak sengaja menanam benih di rahimnya.


Sebagai seorang wanita. Ia pun mengidamkan pernikahan impian dan suami yang begitu mencintainya. Meski dulu ia akan mampu membantu Nalendra untuk mewujudkan pernikahan impiannya, tapi ia mengerti bahwa ia tidak pernah mendapatkan cinta dari suaminya. Hal terberatnya tidak memiliki Nalendra, karena ia tahu hati Nalendra bukan untuknya.


Ia rela menjadi budak se*s dan fantasi dari Nalendra pun, nyatanya hal tersebut tidak mampu membuat Nalendra jatuh hati padanya. Ia marah dengan dirinya sendiri, karena tidak bisa mendapatkan ayah biologis dari anaknya. Maka dari itu, ia memutuskan untuk benar-benar mempersulit pernikahan mereka. Agar, Nalendra tetap terkunci dengannya. Dengan alasan anak Nalendra bersamanya.


Ia menyadari keegoisannya itu. Harapannya, Nalendra akan luluh karena anaknya tumbuh dengan cantik dan sehat di tangannya. Sayangnya, keegoisannya malah menjadikannya kehilangan dua-duanya.


Anaknya diambil alih oleh Nalendra. Hingga sampai Nalendra wafat di usia muda, anaknya diambil alih oleh mantan istri Nalendra. Hal yang paling menyebalkan dalam hidupnya terjadi, karena mantan istri Nalendra menikahi kekasihnya. Kini, anaknya besar dengan bimbingan agama dari mantan istri dari ayah kandung putrinya dan mantan pacarnya.


Panas hati itu mungkin semakin membara, jika ia tidak melihat secara langsung bahwa putrinya tidak dibanding-bandingkan dengan anak-anak yang lain. Givan dan Canda menyamaratakan Jasmine, seperti anak kandungnya sendiri.


Putri memang tidak tahu, jika Canda memakaikan anak-anaknya dari konveksi miliknya. Hanya Jasmine yang menolak dengan pakaian sehari-hari tersebut, karena anak itu paham dengan perpaduan warna dan model terkini. Hal tersebut menjadi keuntungan sendiri, saat Putri melihat dengan matanya bahwa pakaian anaknya lebih unggul dari anak-anak Canda.


Pemikiran Canda dan Givan. Anak-anak mereka tumbuh dan cepat berganti ukuran pakaian, tidak ada salahnya membelikan pakaian sehari-hari dengan kualitas standar dan harga rendah. Karena pada akhirnya, akan terbuang percuma. Tapi jelas berbeda, jika anak-anak tersebut akan berjalan-jalan atau bepergian. Mereka semua, tidak laki-laki maupun perempuan, semuanya rata bagaikan model fashion show anak-anak.


Ayahnya yang fashionable pun, tidak mau anak-anaknya mati gaya ketika berpergian. Berbeda dengan Canda, yang selalu tampil apa adanya dengan pakaian yang menurutnya nyaman. Hal itu tidak dipermasalahkan oleh Givan, karena Canda akan selalu terlihat mahal di matanya. Belum lagi, tas yang Canda kenakan memiliki harga jual kisaran puluhan sampai ratusan juta. Siapa yang akan berpikir, bahwa Canda adalah dari karangan atas. Karena dress yang ia kenakan seharga lima puluh ribu, tapi tasnya sudah seperti harga satu mobil keluarga. Orang lebih memerhatikan pakaian seseorang, ketimbang dengan tentengan yang berada di bahu Canda.

__ADS_1


"Terus, kau mau apa? Tak bisa kah hidup tentram di kampung halaman kau aja? Tempat aku syariat Islamnya kuat, kau akan dijatuhkan hukuman jika terbukti melanggar aturan." Givan memperingati hal ini, agar Putri tidak merecoki kehidupannya seperti Ai. Memberitahu dulu tentang aturan di provinsi ini, mungkin bisa mencegah badai pada rumah tangganya datang kembali.


"Aku ada kontrak kerja di proyek pembangunan tol. Aku kerja di sana, aku bakal pergi lagi ke proyek selanjutnya kalau pekerjaan aku di sini udah selesai. Jujur ya? Aku ambil proyek pertama di sini, karena mau lihat pertumbuhan Jasmine." Menjadi orang yang tidak munafik, adalah diri Putri. Hanya saja, terkadang pola pikir dan kelancaran berbicaranya di luar nalar.


Pada dirinya sendiri, Putri sudah bertekad untuk tidak membuat masalah lagi. Namun, Givan tetap mewanti-wanti hal tersebut. Apalagi, Jasmine berada di tangannya. Sudah pasti, Putri akan sering bertukar kabar dengannya seperti Fira.


"Kau mau ambil anak kau?" Givan langsung menanyakan hal itu.


Gelengan tepat menunjukkan bahwa Putri tidak bermaksud mengacak-acak kehidupan anaknya. "Aku ajak dia ke makan nenek kakeknya, tapi dia cuma minta dikasih tau bin kakek neneknya siapa. Dia bakal doakan dari jauh aja, karena dia bilang aku harus sekolah, les, ngaji, hafalan, belajar, ngerjain PR dan sebagainya. Bukan waktunya liburan, jadi dia tak mau aku bawa pergi." Putri mengedikan bahunya. "Aku tak bakal maksa, tapi aku mau nengok dia secara baik-baik. Hidup aku belum ada arah dan tujuan, aku tak mungkin bawa dia berkelana mengikuti arah angin. Usianya ini, memang harusnya sekolah dan merasakan hangatnya keluarga."


Givan tercengang mendengarnya.


"Terus terang aja, Put." Givan sudah amat lelah dengan ujian-ujian yang tiada akhir.


"Ya mungkin, kelak dia besar nanti dan aku udah berumah tangga nanti. Aku bawa dia pilih, untuk tinggal sama siapa. Aku masih bisa dapat kesempatan itu kan?"


Sudah bisa ditebak. Bukan hanya punggungnya, kepalanya terasa cenut-cenut sekarang.


"Aku diamanatkan sama Lendra, untuk besarkan Jasmine. Akan aku serahkan dia ke suaminya kelak, sebagai pengganti tanggung jawab aku padanya. Bukan suruh milih tetap ikut aku, atau ikut kau. Kau paham, Put? Aku cuma ingin yang terbaik dan teraman untuknya. Provinsi ini cukup menjaga marwahnya, tentu dengan ilmu agama yang dia punya juga. Masalah keimanan, aku tak bisa janjikan itu. Tapi aku usahakan, dia berakhlak baik dan mengerti cara memperlakukan manusia. Aku tak nuntut sumbangan dari aku, untuk kenyangkan perut Jasmine. Aku tak nuntut perhatian dari kau, untuk ikut andil membesarkan Jasmine. Satu yang kau harus ingat, dia tetap tau bahwa kau ini kandungnya dan Lendra ayah kandungnya. Kelak nanti, akan aku jelaskan kenapa dia bisa ikut dokumen mangge Yusuf. Tapi bukan sekarang, usianya belum waktunya memahami hal yang sensitif. Yang penting, kau hiduplah jadi orang baik. Biar anak kau tak malu, karena udah terlahir dari ibu seperti kau. Buat dia bangga dan hidupnya berkah, karena udah dilahirkan ke dunia lewat perempuan hebat seperti kau. Akan aku kenalkan kau di sisi baik kau, tapi saat dia lihat kau di sisi buruk kau, kau tanggung itu sendiri. Aku udah menyarankan, agar kau hidup baik agar keburukan kau tak dilihat. Jasmine hampir menginjak masa remaja, semua yang ia pahami akan diklaim buruk jika tidak sesuai dengan ilmu pengetahuannya. Jadi, hiduplah dengan baik biar jadi kebanggaan anak kau." Givan berkaca untuk perubahan dirinya sendiri. Hal-hal baik lah yang ia tonjolkan untuk anak-anaknya, sedangkan sisi kelamnya disembunyikan rapat-rapat.

__ADS_1


Haru menyelimuti hati sekeras Putri. Perkataan Givan, sungguh menyentuh sanubarinya sebagai seorang ibu.


...****************...


__ADS_2