
"Eummm.... Apa yang ayah sebut s***** itu, Biyung?"
Canda malah terkejut, karena ternyata suaminya memberitahu sebutan untuk air anak laki-lakinya. Canda langsung mengangguk cepat, mengiyakan pertanyaan Chandra.
"Yang mimpi itu, apa tentang mimpi perempuan telan*ang?"
Canda mengangguk kembali mengiyakan. Langkanya bahkan terhenti, menunggu jawaban anak pertama yang ia lahirkan itu.
"Sebulan yang lalu aku mimpi itu, aku lapor ayah terus diajarin mandi wajib. Kata ayah wajib mandi wajib, kalau abis mimpi jorok begitu."
Canda mengerutkan keningnya. Kenapa mimpi basah disebut dengan mimpi jorok oleh anaknya?
"Kok tak cerita ke Biyung?" Canda merasa dilewatkan.
"Biyung kan perempuan, aku malu lah," jawab Chandra kemudian.
Mereka melangkah kembali. "Mimpi itu sering kah?" tanya Canda dengan menggandeng tangan anaknya.
"Tak, Biyung. Baru satu kali itu. Kata ayah jangan dipikirkan, nanti berdosa." Canda sedikit tenang, mendengar jawaban anaknya yang seperti ini.
"Puasa tak boleh bolong, sholat diusahakan tepat waktu tuh. Dosa kau udah diemban sendiri, Bang Chandra udah tau mana yang baik dan buruk." Canda menyelipkan nasihatnya.
"Iya, Biyung. Ayah banyak bilang juga. Biyung, aku suka rumput laut." Mereka sudah melangkah masuk ke dalam minimarket.
"Tapi uang aku tak banyak, Biyung," lanjut Chandra membuat Canda terkekeh. Canda tahu harga rumput laut kering siap makan di minimarket memiliki harga yang lumayan, sedangkan anaknya makan dua bungkus saja tidak cukup.
__ADS_1
"Ya nanti Biyung stok." Canda mulai mengambil keranjang merah dan mulai berbelanja bersama anak pertamanya.
Di ruang tamu rumah Givan, akhirnya obrolan mereka mendapat kesepakatan. Awang menyetujui harga yang Givan minati, Givan pun telah menyampaikan apa yang istrinya inginkan.
Rumah dengan halaman rumah masuk untuk dua mobil tersebut, akan diambil oleh kepemilikan atas nama Canda. Keluarga Awang diperbolehkan menempati secara gratis, karena Canda dan Givan tidak memiliki tujuan untuk membeli rumah itu. Namun, Awang merasa tidak enak hati jika ia tinggal secara cuma-cuma. Sampai akhirnya, titik temu memberi kesepakatan bahwa tiap bulannya Awang menjanjikan untuk membayar biaya tinggal mereka di rumah mereka sendiri yang sudah ia jual pada Canda dan Givan.
Awang kembali ke rumah dan menceritakan pada Ai dan Nafisah. Sayangnya, ketika ia menghubungi Deden. Adiknya itu mengatakan akan keberatannya, ia pun menuntut bagian hasil dari penjualan rumah tersebut.
Lamunan Awang kembali buntu, padahal ia mengharapkan jalan keluar atas terjualnya rumah peninggalan orang tuanya.
"Dibeli berapa sama Givannya, Wang?" tanya Adinda dengan mendekati Awang yang duduk seorang diri di hari menjelang malam seperti ini.
Ia dan suaminya mengetahui perdebatan dan konflik yang terjadi karena rumah warisan yang dijual tersebut. Mereka sudah membayangkan anak dan cucunya berebut harta dan menimbulkan perpecahan antar saudara.
"Seratus juta, Mah. Sertifikat asli suruh dikirim ke sini, terus biar jadi urusan Givan untuk balik namanya." Awang tertunduk dengan pikiran yang rumit.
"Minta setengahnya." Awang meluruskan pandangannya pada Adi. "Aku kurang paham mengenai pembagi warisan, tapi seingat aku tak begitu pembagiannya," lanjutnya perlahan.
Adi menarik napas dalam, ia menghembuskannya perlahan. "Setau Papah begini.... Bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan. Jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan. Misalkan anak perempuan itu cuma satu, maka ia memperoleh separuh harta. Papah hanya pernah dengar ilmunya itu, tapi kelak Papah sendiri nanti datang ke notaris atau kuasa hukum keluarga. Karena Papah punya hutang juga, jadi nanti ribet pembagiannya." Adi memamerkan giginya yang sudah tidak asli lagi.
"Hutang Bank, Pah? Biasanya kalau hutang Bank kan lunas kalau bersangkutan meninggal." Awang sedikit mengerti tentang hal ini.
"Bukan, hutang ke Givan Ghifar. Mereka sih katanya ngasih aja, tapi Papah biar ada tujuannya gitu. Maksudnya, biar semangat ngembangin untuk bayar hutang. Dari awal tak pernah hutang Bank, paling hutang ke saudara dalam jumlah besar, atau hutang ke anak." Adi teringat akan pamannya yang berjasa besar dalam setiap kesuksesannya. Ayahnya Safar tidak pernah melepaskan uluran tangannya, saat Adi membutuhkan suntikan modal.
"Jadi, baiknya aku gimana?" Awang bingung dengan uang seratus juta yang sudah masuk ke rekeningnya.
__ADS_1
"Menurut Mamah sih, dari seratus juta itu. Punya kau sama Deden, delapan puluh juta. Artinya, empat puluh jutaan. Punya Ai dua puluh juta," tambah Adinda kemudian.
"Salah keknya kita nih, Dek. Mau dipanggilkan kyai yang ngerti aja kah?" Adi menyarankan opsi lain.
Awang menggeleng. "Aku gak punya uang untuk bayarnya, Pah. Biar nanti aku telpon lagi Dedennya, biar dia mau ngerti aja dulu. Aku sih gak mikirin warisan aku, gak harapkan itu juga. Tapi, aku ini disangka makan haknya Deden sama Dedennya. Yang aku pikirkan ya itunya, aku gak mau disebut makan hak adik sendiri." Awang mengatakan apa yang menjadi beban pikirannya.
"Ya udah, tenangkan diri aja dulu. Biar dibahas besok lagi, udah malam ini, tak enak kan kalau nelpon Deden lagi?" Adi mengambil jalan tengah sementara.
Awang mengangguk. "Iya, Pah. Biar besok aku obrolkan lagi sama Naf, Ai dan Dedennya." Ia tersenyum samar.
"Papah sama Mamah permisi tidur dulu ya?" Adi merangkul istrinya untuk pergi ke kamar mereka.
Awang kembali teringat akan hukuman untuk adiknya. Setelah pulih, Ai kembali harus menjalani masa kurungan mandiri. Kemudian, Ai akan diminta untuk menebus denda emas murni, ditambah dengan menjalani hukuman cambuk. Kerumitannya berkecamuk dalam hembusan asap rokoknya.
Hal yang tidak terduga menghantam Canda. Tanpa keluhan apapun, tanpa ada indikasi yang serius. Pagi ini, ia diperlihatkan bahwa salah satu janinnya terdesak oleh jaringan kista yang kian membesar di dalam rahimnya bersama bayi kembarnya.
"Jadi, terbentuknya kista dermoid ini adalah hasil dari perkembangan berbagai jaringan yang seharusnya bertumbuh di luar lapisan kulit justru terperangkap di dalam struktur kulit sehingga membentuk kantong. Diduga, terbentuknya kista ini terjadi karena adanya masalah pada proses pembentukan janin di dalam kandungan. Begitu, Pak Givan," ungkap dokter, ketika Givan tengah dirundung ketidakyakinan dengan kabar buruk yang ia dengarkan.
"Tapi Saya tidak merasakan gejala apapun, Dok." Canda tidak bisa menahan rasa gemetar pada tangannya, setelah mendengar kabar buruk tersebut.
Ia memikirkan bagaimana nasib janinnya, apa masih berkembang atau sudah tidak ada harapan. Karena dokter belum memberi vonis, tentang kabar salah satu janin kembarnya.
"Sama dengan jenis kista lainnya, kebanyakan orang yang mengidap kista dermoid cenderung tidak merasakan adanya gejala. Tapi setelah adanya perubahan ukuran yang tidak wajar, barulah timbul nyeri hebat di bagian yang terdapat kista," terang dokter kemudian.
"Terus gimana keadaan salah satu janin kembar Saya yang mendapat desakan dari kista tersebut, Dok? Dia masih tumbuh sehat, atau tak punya harapan untuk tumbuh hidup, Dok?" Givan menunggu jawaban dengan perasaan kacau.
__ADS_1
...****************...