Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM213. KB laki-laki


__ADS_3

"Maksa betul sih kau, Cendol." Ghifar hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Far, aku pengen ketemu Papah. Kau jangan bawel coba, Far. Nanti pun kan kita konsultasi dulu begitu. Tak sekarang-sekarang juga, nanti tunggu masanya kami semua sehat. Tak langsung kita langsung pulang ke sana, Far." Canda menjelaskan rencananya dan suaminya.


"Tapi kau harus dengar saran dari dokter, kau tak boleh bantah. Kalau memang tak disarankan untuk perjalanan jauh naik mobil juga, ya lebih baik kau jangan maksa." Ghifar hanya tak mau Canda menyesal seumur hidup.


"Iya, Far. Aku janji bakal dengar saran dokter. Kita tuh tak cuma mikirin tentang Papah aja, tapi sadar kami punya tanggung jawab besar di sana." Canda dan Givan pun memikirkan tentang perhatian untuk anak-anak mereka.


"Iya aku paham, Canda. Intinya, apapun itu kau harus pertimbangkan matang-matang. Inget nyawa si kecil, dia dari dalam perut udah penuh perjuangan loh. Di dalam rahim kau, dia berebut nutrisi." Ghifar menginginkan hal itu, agar Canda tidak hanya memikirkan dirinya sendiri.


"Oke, Far." Canda manggut-manggut di seberang telepon sana.


"Nanti kabarin lagi ya, Dek? Papah mau ngobrol-ngobrol dulu." Adi berniat mengakhiri panggilan video tersebut.


"Ya, Pah. Assalamualaikum." Canda menutup panggilan video tersebut, setelah salamnya terjawab.


Ia meletakkan ponselnya di dekat bantalnya berada. Kemudian, ia memperhatikan wajah anaknya yang masih terlelap.


Perlahan, ia menarik ujung dadanya dari mulut anaknya. Setelah berhasil, ia menyeka mulut anaknya dengan tisu yang tersedia.


Begitu terlihat kecil, meski Canda selalu menangkisnya dengan kata imut. Namun, rona merah di bayi itu menandakan bahwa ia belum kuat dengan udara di sekitar. Ditambah, pakaian yang cukup tebal dengan penutup kepala yang selalu terpasang bermaksud agar membuatnya selalu hangat meski ia berkeringat.


"Cala, anak Biyung. Sehat-sehat, Nak. Cepat besar, cepat kuat. Rindu saudara-saudara Cala tak? Di sana, kak Cani nanyain terus loh." Canda mencoba berinteraksi dengan anaknya yang terlelap.


Bukannya merespon, Cala malah terganggu dengan suara Canda. Ia mengeluarkan suaranya yang masih terdengar pelan, dengan mencoba memenuhi keinginannya untuk mendapatkan ASI kembali dengan cara memakan sarung tangannya.


"Ya ampun, Nak. Biyung kita Cala udah kenyang. Putar ya? Giliran yang sebelah kanan." Canda memutar letak kepala anaknya, agar berada di bagian dada kanannya.


Tangis itu mereda, ketika Cala mendapatkan ASI untuknya kembali. Bayi prematur itu, seolah tidak mau lepas dari ASI sejenak saja. Kini, ia kurang menikmati sufor khusus perawatannya karena ia lebih menyukai rasa dari ASI.


Givan kembali ke kamar istrinya, setelah ia mengantongi informasi bahwa dirinya sudah sehat. Givan hanya perlu menjaga makanannya, diusahakan juga agar ia tidak sampai telat makan lagi.


"Masih ASI dari tadi, Canda?" tanya Givan, setelah ia memasuki kamar istrinya.

__ADS_1


"Iya, Mas. Sakit pinggang aku nih." Canda mencoba menegakkan punggungnya.


"Sini aku usap-usap." Givan mencari keberadaan minyak aromaterapi.


Ia duduk di belakang istrinya, kemudian menyibakkan baju bagian belakang istrinya. Bekas anestesi yang berada di punggung Canda, terlihat bekasnya meski hanya samar.


"Sebentar lagi, ada dokter yang cek kau. Setelah kau keluar dari rumah sakit, kita langsung konsultasi ke dokter anak dulu perihal Cala ini. Terus, aku nanti cari hotel untuk tempat kita tinggal sementara. Misalkan katanya Cala belum boleh perjalanan jauh. Satu bulan nunggu Cala kuat, keknya tak apa kan? Kalau kau tak mau di hotel, nanti aku carikan kost-kostan yang layak untuk yang punya anak bayi. Aku pengen kau sama Cala nyaman." Givan membalurkan minyak aromaterapi tersebut, kemudian mengusap-usap punggung istrinya perlahan.


"Iya, Mas. Aku ikut gimana baiknya Cala aja." Canda tidak mau terlalu memaksakan keadaan anaknya.


"Gimana tentang vasektomi?" bisik Givan di telinga kanan istrinya.


"Aku tak mau, Mas. Nanti tak seru dong? Tak bisa buang di perut, di dada, di muka."


Givan terkekeh geli, sampai perutnya kembang kempis. Kemudian ia meraup wajah istrinya dari belakang, lalu menaruh dagunya di bahu kanan istrinya.


"Mas kan emosian, itu kan penyaluran dari emosi Mas. Lebih baik jangan deh, Mas. Aku mau Mas panjang umur." Canda mengusap wajah suaminya, yang bertengger di bahu kanannya.


"Ya udah, nanti kita cari jalan keluarnya sama dokter yang menangani kau nanti." Jemari Givan mengusap keringat yang membasahi wajah putri kecilnya.


Givan kalap, ia langsung melompat turun dari brankar istrinya.


"Ya silahkan, Dok." Givan tersenyum kaku pada dokter yang tiba-tiba berada di ruangan istrinya.


Canda masih mencoba membenahi dadanya, agar tidak terlihat oleh dokter tersebut.


"Mau lihat bekas lukanya dulu ya, Bu. Bayinya, boleh dipegang Pak Givan dulu." Dokter tersebut berkata dengan cukup ramah.


"Oh, iya." Givan langsung mengambil alih bayi yang berada di dekapan istrinya. Kemudian, ia mencoba menghalangi pandangan dokter laki-laki tersebut kala Canda tengah membenahi dadanya.


Tangis Cala langsung terdengar, bayi itu benar-benar ingin terus menguras ASI ibunya. Givan berjalan bolak-balik, mencoba menenangkan anaknya, sembari mengamati istrinya yang tengah diperiksa oleh dokter tersebut.


"Dibuatkan sufor aja, Mas." Canda tidak tega mendengar tangis anaknya yang tidak kunjung berhenti.

__ADS_1


"Lama tak ASI-nya tadi?" Givan tidak ingin bayinya kembung.


"Ya lama, sejak Mas pergi diperiksa itu." Canda melirik ke arah suaminya.


"Ditegakkan aja, Pak. Biar dia suruh sendawa dulu. Kepalanya, bisa di ke bahukan." Dokter mencontohkan seolah di bahunya tengah ada seorang bayi yang tengah ditegakkan di sana.


"Oh, iya-iya." Givan mengerti, karena ini bukanlah anak pertamanya.


Cala cukup tenang, berada di posisi seperti itu. Bahkan, mata sipitnya terbuka setelah ia mulai sendawa. Bayi yang belum jelas melihat tersebut, menatap kondisi kamar dengan tatapan kosong.


"Bangun tuh, Mas." Canda melihat bahwa mata anaknya berkedip beberapa kali.


"Iya kah?" Givan mencoba melihat mata anaknya yang terbuka itu.


Ia seperti melihat cerminan wajahnya sendiri saat dirinya bayi. Cala memanyunkan bibirnya, entah respon apa yang tengah ia lakukan.


"Anak Ayah, sholehah ya Nak?" Givan bergerak untuk duduk di sofa yang tersedia dengan menyangga tubuh anaknya di depan wajahnya. Ia tengah mengagumi makhluk kecil itu, yang teramat mirip dengannya.


Kebahagiaan kali ini, tidak kalah dengan kebahagiaan sebelumnya. Namun, ia seperti mendapat anugerah tak ternilai karena harapan kecilnya terwujud meski hanya hal yang tidak penting. Wajahnya, turun ke wajah anaknya. Hal itu yang sedikit ia harapkan sejak dulu. Meski ia tak memungkiri, bahwa wajah-wajah anaknya yang lain seperti perpaduan Canda dan dirinya.


"Dok, KB yang pas untuk Saya apa ya?" Canda membuka obrolan, ketika infusnya sedang dilepas.


"Sebelumnya, memang pernah ikut KB apa?"


Givan langsung menyimak obrolan tersebut. Ia tidak mau istrinya ikut KB kembali. Karena ia merasa, bahwa minat istrinya terhadap se*s itu berkurang karena efek KB tersebut. Maka dari itu, ia berinisiatif agar dirinya saja yang ikut KB.


"Pil, suntik. Tapi selalu kebobolan." Canda paham, memang itu adalah kesalahannya karena kurang teliti dalam mengecek tanggal.


"Kalau KB untuk laki-laki apa ya, Dok?" Givan merasa, bahwa dirinyalah yang perlu ikut KB.


"Oh, iya. Di sini ada KB khusus laki-laki, jangka waktunya per delapan Minggu."


Canda dan Givan saling melirik. Mereka mulai tertarik untuk mendapatkan informasi tersebut.

__ADS_1


"Apa itu, Dok?" tanya mereka hampir bersamaan.


...****************...


__ADS_2