
"Lemes, BESTie??? Kenapa?" tanya Givan, ketika Putri menghampirinya yang tengah duduk di teras rumah, dengan menyuapi anak kandungnya yang diasuh oleh Ghifar.
Ra sama sekali tidak mau ikut tinggal bersamanya, gadis kecil itu sudah terlanjur nyaman menjadi anak asuh istri Ghifar. Tapi besar nanti, Givan yakin anaknya akan kembali ikut dengannya.
"Sarafnya kena keknya itu orang. Udah aku orangnya bukan penyabar, dia kekeh betul orangnya. Malas aku anak ngobrol manusia kek gitu, rasanya kek buang-buang tenaga," adu Putri setengah menggerutu.
"Oh iya, ini laptop sama bukti-buktinya. Menurut aku, Van. Kau perkuat buktinya dengan hal lain, biar suatu saat Ai bangkit lagi kau udah siap. Menurut aku sih, rencana dia keknya lagi mati suri karena dia hamilnya beresiko. Jadi, khawatirnya suatu saat ia meledak lagi, kau punya bukti yang terkuat. Ada beberapa yang menurut aku cacat, atau tidak tepat. Di bagian pengakuan dalam pesan dari Farhad, terus video pengakuan Farhad dan waktu Farhad pulang paling akhir. Dalam tiga hal itu, ada pengakuan yang berbeda. Kau bisa disalahkan, atau bahkan ada seseorang yang menyudutkan kau karena ketidakakuratan bukti tersebut. Memang subjeknya bukan kau, tapi kan dalam porsi kau yang disalahkan di sini. Jadi saran aku, kau konfirmasi ke pihak Farhad, mana dari ketiga kebenaran ini yang paling benar." Putri berbicara, dengan menggerakkan tangannya seiring maksud dari ucapannya.
Hal itu membuat Givan yang tengah memperhatikan Putri, malah teringat dengan putri bungsu dari Nalendra. Anak tiri Givan juga, memiliki kecenderungan berbicara dengan menggunakan isyarat.
"Makasih sarannya, berapa rekening kau? Untuk ucapan terima kasih, juga reward dari sikap baik kau." Givan ingin menghargai Putri.
__ADS_1
Putri menoleh cepat pada Givan. Ia menatap Givan begitu dalam, kemudian ia menghembuskan napasnya.
"Kalau aku mampu jadi ahli psikolog. Dari dulu, aku udah perdalam ilmu-ilmu tentang itu. Tapi aku cuma ingin memahami lawan bisnis aku dari ekspresi dan beberapa hal yang aku pelajari dari pendidikan psikologku, bukan ingin berprofesi sebagai psikolog. Aku bukan orang yang telaten dan sabar, aku sadar diri aku tak bisa membimbing pasienku kelak meski cuma ngobrol. Jadi, jangan ngeledek aku tentang bayaran atas S.Psi aku yang baru aku praktekan tadi." Putri melirik ke arah lain.
"Tapi, aku tertarik untuk minta kau ngobrol sama anak aku yang suka jebol gembok pagar rumah." Givan kembali menyuapi anak perempuannya yang tengah bermain ponsel.
"Siapa?" Putri memperhatikan aktivitas Givan yang menyuapi anaknya secara berulang.
Wajah anak itu begitu mirip dengan Canda. Namun, sorot matanya buas dan penuh wibawa seperti Givan. Anak hasil rujuk tersebut, terlihat memiliki sifat ayahnya.
Putri semakin tertarik mendengar cerita Givan. Apalagi ia tahu, bahwa Ceysa adalah benih yang sama dengan anak kandungnya.
__ADS_1
"Terus gimana lagi tentang Ceysa?" Putri tahu nama anak yang disebut Ces oleh ayah sambungnya tersebut, karena ia ikut andil untuk memberikan nama anak itu dan menyusun nama anak itu.
"Dia suka keliling tempat, memperhatikan sesuatu dalam diam. Dia kecil udah di rumah ini, tapi lebih dari sepuluh kali ia selalu mengelilingi rumah-rumah ini setiap hari. Kadang, dia diam mandang jendela, mandang letak kastok, perhatikan juga di mana letak benda itu berada. Misal aku biasa taruh keranjang baju kotor di kamar itu di pojok paling kiri, terus aku ada simpan di pojok paling kanan. Dia nyadarin tuh, dia nanyain kenapa aku tak taruh di tempatnya. Menurut aku, ya itu sama-sama tempat, atau sudut yang pantasnya keranjang baju kotor di berada di kamar. Tapi, menurut Ces itu bukan tempat yang benar, tempat yang benar adalah tempat yang semula. Kadang aku berpikir, apa dia ini mengidap OCD atau Obsessive compulsive disorder. Kau pasti pernah dengar kan gangguan mental itu?" Givan menjeda kalimatnya sejenak, Putri pun langsung mengangguk tanda mengerti apa yang dimaksud dengan OCD.
"Tapi ya aku mikirnya, ya tidak juga. Dia cuma mengamati, tidak melakukan aktivitas berulang-ulang yang menghambat produktivitasnya," lanjut Givan kemudian.
"Jangan salah loh, OCD dan OCPD itu hal yang berbeda. Kalau Ceysa tidak merujuk pada gejala OCD, bisa jadi OCPD. Nah ini sih, bukan lagi mendiagnosis. Tapi kita lagi ngobrol aja, akut takut kau tersinggung kalau aku bahas tentang gangguan mental tentang sifat perfeksionis itu yang dihubungkan dengan aktivitas anak kau." Putri mencoba berhati-hati dalam berbicara.
"Kan aku yang bahas, aku lagi ngobrol juga. Soalnya kalau sama Canda, dia langsung marah. Anaknya nakal aja, dia tak mau anaknya disebut nakal. Maunya dia, ya anaknya belum ngerti kalau itu tak baik. Baper dia, kalau ada ibu-ibu wali murid yang bilang kalau salah satu anaknya di sekolah itu nakal. Makanya mau tak mau, Canda ambil rapot anak-anak itu ya aku ikut juga. Untuk menjaga Canda dari mulut ibu-ibu, soalnya Canda cepat nethink dan baperan." Givan pun mencoba mencari jalan keluar, tentang kekhawatirannya pada Ceysa.
"Oke, jadi gini...." Putri menarik napas panjang. "Obsessive compulsive disorder atau OCD, bisa diartikan sebagai gangguan mental yang ditandai dengan munculnya pikiran yang mengganggu secara terus-menerus. Munculnya pikiran ini adalah, wujud obsesi terhadap suatu hal yang tidak atau kurang realistis. Obsesinya itu, sering kali menimbulkan kecemasan dan memicu perilaku berulang-ulang sebagai cara untuk mengatasi rasa cemas akibat obsesi yang dialaminya. Jadi misal dia habis beresin sprei kasurnya, dia pergi untuk ambil minum. Tapi baru beberapa langkah, dia balik dan lihat ulang sprei kamarnya yang baru ia tata rapi. Nah kejadian berulang-ulang itu, nengok sprei lagi dia, lihat lagi spreinya tetap rapi tanpa disentuh seseorang, yang malah buat produktivitasnya terhambat. Jadi aturan dia udah minum, udah nyapu dan ngepel setelah pasang sprei itu. Tapi dia stuck di kamar aja, untuk nengok keadaan spreinya yang baru ia pasang itu. Apa ada gejala Ceysa yang mengarah pada hal yang aku contohkan itu?"
__ADS_1
Givan mengingat kembali aktivitas anak tirinya. Ia perinci dan ia putar ulang di pikirannya beberapa kegiatan Ceysa yang ia perhatikan.
...****************...