Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM133. Di depan ruangan


__ADS_3

Gerakan perawat cukup cepat, dengan bayi mungil yang sudah berada di inkubator. Mereka mendorong bayi tersebut, untuk segera dibawa ke ruang NICU.


Alat-alat medis dan selang-selang khusus terpasang di tubuh mungil yang masih merah tersebut. Bayi itu, belum mampu menyambut dunianya.


Kenandra bergerak cepat, mengikuti tujuan mereka ke ruang NICU. Jangankan izin untuk menyentuh bayi tersebut. Sebatas melihatnya dari jarak dekat dan mengadzaninya dari jendela inkubator yang bisa dibuka pun, tidak diizinkan sama sekali selain tenaga medis yang menangani bayi tersebut.


Bagaimana jika bayi itu tidak selamat? Jiwa nurani Kenandra selalu tidak bisa, jika melihat nyawa melayang di atas tanggung jawab medis. Ia selalu ingin mengusahakan dengan maksimal, agar pasien-pasien yang ia tangani kembali sembuh dan panjang umur. Meski ia bukan Tuhan, tapi pasien yang ditangani olehnya selalu mendapat kesempatan kedua untuk menikmati indahnya dunia.


Givan mencari keberadaan Kenandra, semata-mata karena ingin menanyakan perihal sampel darahnya kapan bisa diambil. Meski memiliki banyak anak, rasa pedulinya tentang Ai sudah mati meski menyangkut nyawa lain yang berada di perut Ai. Sekali membenci, apapun yang diperalat oleh Ai tetap bukan menjadi urusannya. Givan sudah lepas tangan.


"Bang...." Givan memanggil Kenandra yang berdiri di depan ruang NICU.


"Apa sih kau?! Ke sini lagi kau?! Bikin rumit pikiran aja kau!" Kenandra masih kesal pada Givan tentang kejadian pagi tadi.


"Sampel darah aku kapan diambil?"


Detik itu juga, Kenandra terasa ingin menjotos adik angkatnya itu. Meski selalu bersama dari kecil dengan Givan, Kenandra selalu dihadiahkan kekesalan jika berurusan dengan anak yang selalu ia kira bodoh itu.

__ADS_1


"Balik!!! Keloni istri kau!!!" Kenandra sampai menunjuk arah pintu keluar.


"Ya tadi pun aku mau kelonan, Gavin nelpon suruh ke sini. Aku kira, sampel darah aku bakal diambil sekarang." Sebagai orang yang awam pada medis, Givan berpikiran lurus tentang tujuan tes DNA yang akan ia lakukan.


"Balik kau! Balik sana!!!" Kenandra sampai menginjak lantai beberapa kali dengan hentakan kuat.


"Iya, Bang. Iya, aku balik. Nanti telpon aja." Givan tidak merasa bersalah telah membuat kakak angkatnya kesal.


"Lagi pun, sampel darah tak diambil di rumah sakit ini. Sampel darah dan rambut bayi Ai pun, ditransfer dari rumah sakit ini ke rumah sakit swasta yang kita tuju untuk menjalani tes DNA. Kau pun diambil sampelnya di sana! Bukan di sini!" Kenandra sampai menekan-nekan suara kerasnya agar tidak mengganggu aktivitas di dalam ruangan.


Givan mengangguk-angguk mengerti. "Oke, oke. Aku pamit pulang ke mamah dulu." Givan mundur satu langkah.


Tetapi, Givan kembali memutar jalannya karena aktivitas di ruang operasi telah selesai. Ai telah dipindahkan ke ruangan lain, dengan ibu dan adiknya yang sudah tidak berada di tempat semula.


Tepat di depan ruangan Ai, Givan mendapati ibunya tengah sibuk dengan ponselnya. Lalu ketika ia melongok ke dalam ruangan, ia melihat pemandangan Ai yang ditemani oleh Gavin, Ai tengah ditangani oleh seorang dokter dan dua perawat. Tubuhnya menggigil hebat, sampai seluruh tubuhnya bergetar.


Ia tidak berniat masuk ke dalam ruangan itu. Pengalaman dua kali istrinya disesar, Givan paham reaksi apa yang Ai dapatkan sekarang. Givan mendekati ibunya, lalu duduk di samping ibunya.

__ADS_1


Adinda hanya melirik sekilas, ketika barisan kursinya sedikit bergoyang. Ia membiarkan putra sulungnya berada di sampingnya, yang masih bertukar pesan dengan kakak kandung Ai. Adinda tahu, jika Givan memiliki kisah tidak mengenakan dengan kakak dari Ai tersebut. Menyuruh anak sulungnya untuk membuat kakak Ai datang, jelas hal itu hanya buang-buang tenaganya saja. Adinda paham bagaimana tabiat anak sulungnya, ketika ia benar-benar sudah sakit hati terhadap seseorang.


Meski jika dilihat dari tindakan Awang adalah benar, semata-mata untuk membela adiknya yang dilecehkan dan direndahkan oleh Givan. Tapi tetap salah di mata Givan, karena Awang tidak memperlakukannya dengan baik.


"Awang sama istrinya, udah lagi di bus. Mereka udah jalan mau ke bandara. Orang tuanya wafat aja, Ai katanya tak datang dan tak tau tuh. Benar-benar mengasingkan diri, kek tak bakal butuh keluarganya aja. Sebenarnya, Ai ini kenapa sih? Dulu begini tak sih, Van?" Adinda memalingkan pandangannya ke anak sulungnya yang duduk di samping kanannya.


"Tak juga, patuh. Manut aja tuh, kerjaan pun cekatan. Cuma memang pernah ada yang cerita, kalau Ai ini tukang plagiat fashion style seseorang pas dia masih kerja sama aku." Givan hanya menjawab seadanya yang ia tahu, karena ia memang tidak lama menjalani hubungan dengan Ai.


"Kau awalnya memang cinta gitu sama dia?" Adinda bertambah tidak mengerti, kenapa anaknya bisa suka dengan perempuan yang memiliki pola pikir aneh seperti Ai.


"Tak lah, awalnya se*s, bukan cinta. Ngerasa enak, ngerasa pas, ngerasa cocok, jadi kan kek timbul cinta kali ya?" Givan pun malah tidak mengerti akan perasaannya saat itu. "Biasanya aku kejar dia, karena kita ini udah tunangan. Aku malu, misalkan harus gagal tunangan. Aku malu, karena mulut aku udah gembar-gembor dan selalu ngenalin dia tunangan aku ke relasi bisnis ke teman yang di sana juga. Orang yang gagal bertunangan itu dicap jelek, apalagi pihak laki-laki. Orang-orang bakal berpikir, habis manis sepah dibuang. Nah, aku tak mau dapat predikat jelek sekalipun kelakuan aku jelek. Aku tak mau diketahui oleh hal layak umum. Jadi kan aku mengusahakan, biar setelah pertunangan ini, pernikahan tuh ya terjadi. Ditambah pulang ke Cirebon, Ghifar mojok terus sama Canda. Udah lagi emosi, kesal sendiri, lihat adik mesra terus sama pasangannya. Ya panas hati aku, Mah. Aku abangnya, aku tak mau dilangkahi untuk pernikahan. Terus ya, pikiran spontan aja ngerusak Canda. Ya pikir aku mereka udah jauh, mainannya udah di rumah terus. Masak-masakan di dapur, masker-maskeran, segala cabutin ketek Ghifar, mijatin Ghifar, nyamperin Ghifar, sampai datang cuma buat bangunin Ghifar kerja. Kalau misal terjadi sama aku kan, ya bukan aku yang tanggung jawab karena Canda perawannya diambil Ghifar. Ternyata dia masih segel, aku lagi yang kena." Givan sampai geleng-geleng kepala, ketika ingat akan kecerobohannya saat itu.


"Tapi kalau masa itu kau jadi sama Ai, rasanya Mamah yang tekanan batin punya mantu kek dia. Kek Canda aja, kadang capek mulut." Adinda sampai murung membayangkannya.


Givan mengamati ibunya dari samping dan terkekeh geli. "Mungkin masa aku sama Ai, aku tak tau sifat aslinya. Karena pas itu kan, masih baru dan lagi manis-manisnya gitu. Dari kelakuan dia niru style orang, padahal udah terlihat bahwa dia ini iri hatinya besar. Dia ingin sama terlihat seperti orang yang menjadi perhatiannya. Cuma kalau berantem itu, ya berani jawab kencang juga. Kalau Canda kan, kek umumnya perempuan. Dimarahin ya nangis-nangis bombay jawabnya, udah sesenggukan aja kalau dimarahin tak habis-habis." Intinya, Givan merasa dirinya memang tidak mengenal Ai begitu jauh. Karena awalnya pun, ia hanya tertarik ke arah se*s*al.


"Mah, sini dulu. Ini, Ai....

__ADS_1


...****************...


__ADS_2