Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM68. Tongkrongan keluarga


__ADS_3

"Far.... Pas kita telpon itu bahas apa ya?" Canda menghampiri Ghifar yang tengah duduk di bangku panjang, yang berada di bawah pohon mangga di halaman rumah Adinda.


"Entah bahas apa, tak jelas. Aku panggil-panggil kau terus, Canda, Canda, Canda. Tak sahut-sahut, udah nyahut, diem lagi. Tapi pas aku bilang, udah kah nelponnya, kata kau nanti. Pikir aku, ya kau butuh temen aja. Ya aku biarkan panggilan telepon itu nyambung terus. Pas mau aku udahkan itu, ya pas aku mau berangkat ke pasar malam itu. Kau nyahut dan katanya tak nitip apapun itu." Penjelasan dari Ghifar, semakin membuat Canda bingung.


Ah, sudahlah. Canda kini lebih memilih untuk melupakan pembahasan tersebut dan tentang hal tersebut. Ia berpikir, itu hanya imajinasinya yang datang karena kantuk tak tertahankan.


"Kau dari mana? Mama tadi pagi anter masakan ke rumah, katanya Biyung tak ada. Dari mana kau?" Ghifar memperhatikan banyak cucu Adi's Bird tersebut yang tengah saling berlari dan berubah menjadi patung. Mereka tengah bermain game zaman sekarang, seperti game yang mirip jadi-jadian.


"Oh, iya." Canda langsung menepuk pangkuan Ghifar dengan senyum lebarnya.


"Aku punya bayi kembar loh, Far. Nanti kau bantuin aku mandiinnya ya?"


Ghifar langsung tersenyum bahagia. "Yang betul, Cendol? Masya Allah, gen Ghava Ghavi nempel ke rahim kau." Ghifar menyebut saudara kembarnya yang sehat sampai sekarang. Mereka terlahir dari rahim yang sama dengan Ghifar, rahim Adinda.


Canda mengangguk, lalu membingkai perutnya yang sedikit menonjol di bagian bawah. "Ah, aku harus benar-benar bebani mas Givan. Anak aku dua nih sekarang, dia tak boleh kabur jadi ayahnya." Canda mengusap-usap perutnya dengan kasih sayang.


"Yaaaa, gimana ya? Nanti aku bantu carikan baby sitter lebih dini deh, butuh dua kah? Nanti aku bantu carikan ya?" Ghifar memahami keadaan rumah tangga Canda. Ia pun mendengar akan retaknya mimpi tersebut dan tentang anak-anak, yang katanya akan dibagi dengan Givan tersebut.


"Tak usah, ayahnya aja. Nanti kau paling datang, bantuin gitu kan? Melekan, sampai empat puluh hari. Terus, bantu gendong kalau lagi ngamuk dua-duanya. Anak-anak aku harus berat ke ayahnya lagi, aku harus menciptakan Ra yang selanjutnya." Ego Canda mulai bangkit, seperti akan menyiksa Givan hidup-hidup.


Ghifar terkekeh kecil. "Ah, modelan Ra bisa dijinakkan dengan mama kok. Simsalabim aja, mama datang merantai yang kembar juga nanti." Ghifar menyebut anak Canda yang dulunya begitu memberatkan Givan. Meski sekarang masih sama, tapi Ra sudah bisa terkendali dan tidak terpatok oleh ayahnya melulu.


"Aku tak mau, maunya mas Givan aja udah. Suruh dia asuh anak-anaknya." Canda pun kini tiba-tiba tak berniat mendukung jalur hukum yang akan ditempuh oleh suaminya itu. Ia kini benar-benar terdoktrin ucapan Nalendra dalam setengah kesadarannya tersebut, ia ingin Givan berada di sisinya bagaimana pun caranya.


"Kok gitu, Canda? Kau kan paham, kalau suami kau ada masalah." Ghifar tidak menyebutkan dengan gamblang.


Canda menggeleng. "Harus ada jalan keluar lain, yang buat mas Givan tetap sama aku di rumah." Ego yang salah, yang ia kembangkan.


"Sirikan? Kau mau? Mungkin itu hanya untuk status aja, tapi permasalahan bisa clear semua tanpa repot. Aku sih tak bakal dukung itu, karena kemarin kau diajak poligami resmi sama aku, kau tak mau."

__ADS_1


Canda malah fokus di kalimat akhir dari Ghifar. Ia tertawa geli, lalu mencubit lengan Ghifar.


"Aku tak mau rebutan batang." Canda mengatakan itu dengan masih tertawa geli.


Sejak dulu, ia ingin tetap menjadi pemakai tetap tanpa harus berebut. Ia tidak mau menunggu giliran, apalagi sampai menahan rasa inginnya ketika ia butuh suaminya.


"Ya udah, berarti jangan ambil jalan pintas itu." Menurut Ghifar, hal itu pasti akan sangat menyiksa hati seorang Canda. Ia tidak mau dan tidak kuasa, jika melihat Canda harus berbagi suami dengan salah satu musuh terbesar Canda. Ghifar tahu, bahwa sejak dulu Canda tidak suka dengan mantan kekasih suaminya tersebut.


"Aku pun tak mau, Far." Canda malah bersandar pada lengan Ghifar. Hanya bersandar, tanpa memeluk lengan tersebut ataupun merangkul pundak Ghifar.


Ghifar diam saja, karena memang Canda sering seperti itu bukan hanya padanya. Dengan saudara-saudaranya yang lain pun, Canda lumayan dekat dan tidak canggung.


"Sabar ya? Aku juga tak bisa bantu banyak, selain nampung kau atau anak-anak kau. Istri aku tak izinkan aku terlalu ikut campur urusan kalian, nanti malah kau yang dikira ada main sama aku katanya." Ghifar tidak merangkul Canda, aku mengusap lengan perempuan tersebut. Pandangannya masih fokus pada anak-anak yang tengah silih berganti meminjamkan mainan.


Dua laki-laki yang lahir di tahun yang sama dengan Ghifar, saling memandang dan langsung melangkah menuju halaman depan rumah orang tuanya.


Ghifar menoleh ke arah sumber suara. Sedangkan, Canda sudah mengetahui siapa pemilik suara tersebut. Ia tidak menoleh, ataupun melirik pada adik iparnya tersebut.


"Lagi mengulas kenangan indah dong, BESTie." Ghifar malah merangkul dan mengusap lengan Canda.


Mereka semua tertawa geli, melihat Ghifar yang langsung pura-pura romantis dengan Canda tersebut. Mereka semua paham, bahwa Ghifar dan Canda tengah bergurau saja.


"Punya mika untuk buat jilid tak, Bang?"


Canda langsung menegakkan punggungnya dan melirik ke arah sumber suara. Ternyata, ada orang lain selain yang ia kenali dari suaranya tadi. Ada Ghava juga, yang tengah membawa staples berukuran cukup besar.


"Ada di kantor, di rumah sih tak simpan keknya. Telpon Haikal aja, biasanya dia masih di kantor jam segini." Ghifar melirik jam tangannya.


"Kau nih, punya studio besar. Mika aja, minta ke Abang kau," celetuk Canda dengan mengerutkan alisnya.

__ADS_1


"Tempat fotocopy pada tutup, Cendol." Ghava berbicara sedikit ngegas pada kakak iparnya tersebut.


Saking dekatnya mereka, mereka memanggil Canda dengan sebutan kakak ipar ketika mereka tengah berada di depan orang tuanya saja. Canda sudah seperti teman nongkrong untuk mereka.


"Ada apa sih tutup?" Canda menyipitkan matanya yang tiba-tiba merasa kering dan pedas.


Tidurnya kurang, membuatnya memiliki kantung mata yang terlihat menonjol. Ditambah lagi, kebiasaannya yang memiliki waktu tidur lebih ketika hamil, malah membuat matanya terlihat begitu lesu.


"Entah sih hari apa, padahal bukan tanggal merah." Tiga laki-laki tersebut duduk mengapit satu kakak iparnya itu.


"Suami kau ke mana, Cendol? Kau bisa lepas liar, tumben betul." Ghavi menurunkan anaknya, untuk berbaur bersama saudara sepupunya tersebut.


"Di rumah, lagi sibuk sama laptopnya. Mata aku pedas betul, semalaman aku kurang tidur." Canda mengucek matanya dan menguap lebar. Setelah itu, ia malah menyandarkan kepalanya pada lengan Ghava yang duduk di sebelah kanannya.


"Abis sat set sat set kah?" Mereka semua meledek dan mentertawakan Canda.


"Stttttt, iyalah." Canda malah membaurkan tawanya.


"Mantap dong? Kalau perlu jasa kameraman, bolehlah colek aku aja. Kalian yang beraksi, aku yang rekam." Ghava mencontohkan seperti dirinya tengah mengangkat sebuah kamera berukuran besar.


Mereka semua malah lebih terbahak-bahak, termasuk Canda mengerti akan pembahasan kamera di ranjang tersebut. Karena sebelumnya, ia pernah mencobanya dengan suaminya, meski akhirnya dihapus kembali karena takut dicuri oleh orang lain.


Tinnnn.....


Sebuah mobil keluarga yang hendak masuk ke halaman rumah tersebut, membuat para anak-anak berlarian ke arah orang dewasa yang duduk di bangku panjang di bawah pohon mangga tersebut.


...****************...


Siapa yang datang 🙄

__ADS_1


__ADS_2