Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM235. Cek laboratorium


__ADS_3

"Kau kenapa ini?" Givan bergegas mendekati Gavin yang duduk seorang diri di kursi taman rumah sakit tersebut.


Gavin menggeleng. Ia mencoba menegakkan posisi duduknya, kemudian mengatur napasnya.


"Kau ke mobil dulu, sini Abang bantu. Abang mau bawa Cani periksa dulu, demam tinggi dia." Givan dengan sigap memposisikan diri untuk merangkul adiknya.


"Abang sama siapa ke sini?" Gavin bersuara, ketika ia tengah dibantu berjalan.


"Gibran, masih di mobil dia." Givan berjalan perlahan, mengikuti langkah pelan adiknya.


Lututnya dengan kuat menopang, ketika Gavin merasa kakinya begitu lemas melangkah. Untung saja, mereka cepat sampai di mobil berwarna pink tersebut.


"Kau tidur dulu aja." Givan mendudukkan adiknya di bangku belakang mobil tersebut.


"Aku langsung pulang kah, Bang?" tanya Gibran yang tengah membenahi pakaian anak perempuan kakaknya tersebut.


"Nanti, tunggu Abang mau periksa Cani dulu. Kasian sih abang kau sendirian kalau kau pulang duluan." Givan membenahi posisi adiknya agar nyaman beristirahat di dalam mobilnya.


"Oke, oke." Gibran keluar dari mobil, dengan menggendong keponakannya yang sudah berpakaian rapi.


Anak perempuan tersebut terus bersandar di bahu pamannya, sampai ia akhirnya diambil alih oleh ayahnya. Cani terlihat begitu lemas, hal itu yang membuat Givan ingin segera memeriksakan Cani.


"Kau tunggu di sini, jangan ajak abang kau ngobrol. Biar dia suruh istirahat dulu," pesan Givan sebelum meninggalkan adik-adiknya.


"Oke, Bang," jawab Gibran dengan membenahi kancing kemejanya.


Givan melangkah cepat ke poli umum, berharap agar anaknya mendapat pertolongan dan pengobatan sesegera mungkin. Namun, baru juga mendaftar. Givan sudah diminta untuk membawa anaknya ke laboratorium rumah sakit tersebut, agar Cani diambil sampel darahnya.


"Loh, tapi kan baru semalam dia demam ini." Givan memahami, bahwa cek darah dilakukan setelah demam tidak kunjung sembuh selama tiga hari.


"Soalnya tadi Bapak cerita, demamnya turun naik terus dan keadaaan anak Bapak terlihat lemas terus. Lebih baik ikut saran Saya, Pak. Biar di sini, anak Bapak mendapat penanganan yang tepat."

__ADS_1


Dengan penjelasan seperti itu, Givan langsung teringat tentang beberapa ciri demam yang membahayakan. Spekulasinya mulai bermunculan, meski ia tidak tahu di mana Cani saat mendapat serangan dari nyamuk. Atau, keadaan Cani merujuk pada kondisi di mana di pencernaannya terdapat bakteri yang menyebabkan sakit tipes.


"Baik, Sus. Di mana ruang lab-nya?" Givan mengambil alih surat pendaftaran yang sudah jadi tersebut.


"Di lantai dua, Pak." Perawat tersebut menunjukkan arah di mana tangga berada.


"Terima kasih." Givan tersenyum ramah, dengan bergegas pergi membawa anaknya.


Cani hanya bisa bersandar di bahu ayahnya. Kantuknya mulai datang lagi, sepanjang perjalanan pun ia tertidur di dekapan ayahnya.


Tangis Cani harus ia terima, kala anak itu diambil sampel darahnya. Beberapa pertanyaan Givan ajukan, sampai akhirnya ia memutuskan untuk sore datang dan sekalian memeriksakan Cani dengan hasil lab yang sudah keluar.


Petugas laboratorium pun mengatakan, bahwa mereka akan cepat menghubungi nomor telepon yang tertera, bilamana ditemukan hasil yang serius. Givan pun mengiyakan, ia bergegas pergi karena pikirannya terbagi dua dengan keadaan adiknya di dalam mobil.


Ia berlari kecil, dengan mendekap Cani yang rupanya sudah terlelap lagi dalam gendongannya. Ia sedikit khawatir, kala melihat Gibran dari jauh seperti tengah membantu seseorang untuk keluar dari pintu tengah mobil tersebut.


Dugaannya benar, Gibran tengah membantu Gavin untuk duduk di dalam mobilnya. Ia sampai ngos-ngosan, ketika sampai di hadapan adik-adiknya.


"Mau duduk katanya, Bang. Jatuh dia ke sini, buat panik aja." Gibran menunjuk tempat bagian kaki kakaknya.


"Ya ampun." Givan menggeleng berulang dengan memerhatikan Gavin.


"Dirawat aja yuk? Cani juga tadi abis diambil sampel darahnya. Keadaan kau begini, buat cemas nanti di rumah." Givan mengusap-usap bahu adiknya yang bersandar lemas pada kursi.


"Kau kenapa sih, Bang?" tanya Gibran mengarah pada kakaknya yang terlihat pucat dan lesu tersebut.


"Tak tau. Abis ngobrol-ngobrol, ingat semua, terus pas keluar rumah sakit udah lemas aja." Gavin menghapus air matanya yang berlinang tak tertahankan.


Kenapa begini?


Ia selalu menanyakan hal demikian. Ia begitu sulit menerima kehadiran bayinya, yang cara penyampaiannya tidaklah benar. Ia tidak percaya, Ajeng begitu tega melakukan hal tersebut pada bayinya.

__ADS_1


Ia tidak mampu menanyakan langsung pada Ajeng, karena mencoba mengikuti saran dari orang tuanya dan kakaknya untuk membuang semua tentang Ajeng. Mereka semua menerima kehadiran bayinya, dengan syarat tidak banyak menanyakan yang Ajeng berikan. Karena dengan meninggalkan bayinya di teras rumah, Ajeng sudah mencerminkan bagaimana pribadi dirinya.


"Ya udah, dirawat aja lah. Di rumah nanti gimana coba?" Fokus Givan terbagi karena mendengar rintihan anaknya.


Ia tidak mengerti, kenapa demam anaknya begitu tinggi, setelah demam itu turun kala Cani mendapat dekapan dari pamannya. Karena saran yang diberikan perawat tersebut, Givan terus memikirkan hasil lab anaknya.


"Tapi aku tak sakit apa-apa, Bang." Gavin merasa dirinya tidak memiliki gejala tertentu.


"Terus, kalau udah di rumah kau mau diobati apa? Canda pun dulu pernah sakit lemas itu, tiba-tiba lumpuh mendadak dia. Udah coba, nurut aja!" Suara tegas Givan langsung keluar.


"Iya udah, Bang. Nurut aja deh." Gibran sudah takut, ketika mendengar kakaknya bersuara tegas.


"Kasih KTP kau! Kasih ke adik kau untuk daftarkan dulu. Anang cari kursi roda dulu, jauh jalannya dari sini ke UGD tuh," pinta Givan pada Gavin.


Posisi parkiran tersebut cukup jauh, berada di bagian belakang halaman rumah sakit tersebut. Givan tidak bisa memutar kendaraannya, karena akses untuk langsung ke UGD adalah dari pintu masuk. Sedangkan parkiran ini, memiliki jalur pintu keluar masuk yang berbeda.


"Nih." Gavin bahkan memberikan dompetnya pada adiknya.


"Oke." Gibran langsung bergegas pergi, setelah mengantongi dompet milik kakaknya.


Semua orang memperhatikannya, karena kulitnya yang cerah dengan model rambut yang seperti Chandra, membuatnya terlihat asing di kalangan umum. Gibran bagaikan pendatang asing, ditambah dengan kacamata penghalau silau yang ia kenakan.


Entah bagaimana awalnya, ia pulang dari pangkas rambut bersama keponakannya, dengan model rambut yang sama dengan keponakannya. Mereka bagaikan kumpulan para mafia, yang berkumpul dalam satu jaringan berbahaya.


Beberapa saat kemudian, Gavin sudah berada di kamar rawat dengan status pasien umum. Setelah ini, Givan akan meminta adiknya pulang, untuk membawa data dan asuransi milik kakaknya tersebut.


Sampel darah Gavin pun diminta, bahkan sampel urin dan air liurnya pun diambil. Kini, ia bisa beristirahat sembari menunggu hasil lab itu keluar.


Givan menyangka notifikasi yang masuk tersebut, adalah dari makanan siap saji yang ia pesan dengan aplikasi online. Namun, rupanya notifikasi tersebut datang dari laboratorium rumah sakit tersebut.


Ia langsung bergegas, meninggalkan adik-adiknya dalam ruangan tersebut. Ia panik, setelah mendapat kabar dari hasil laboratorium Cani.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2