
"Jangan erat-erat betul meluk suami kau, Dek!" Adi melihat menantunya begitu risih.
"Aku doain Mas Givan terus dari tadi. Aku khawatir terus, tak tenang terus." Canda tidak menghiraukan perkataan ayah mertuanya.
Givan mengusap punggung Canda, agar istrinya memahami bahwa pelukan itu terlalu erat untuk lukanya. Dari usapan tangan tersebut, Canda merasakan hawa panas dari telapak tangan suaminya. Dengan segera, ia menyentuh dahi suaminya menggunakan punggung tangannya.
"Mas demam?" Raut khawatir tercurahkan dari sorot mata Canda.
"Iya, aku udah minum obat juga." Givan tidak ingin membuat istrinya khawatir berlebihan.
"Telpon Papah aja ya nanti, Van?" Adi menggaruk ceruk lehernya dengan ujung telunjuknya. Ia merasa canggung, melihat kemesraan tersebut.
"Ya, Pah." Givan menoleh dan memberikan seulas Senyumnya.
Adi mengangguk, kemudian ia segera pergi dari rumah anak dan menantunya itu. Sapaan dari cucu-cucunya, berujung dengan salah satu cucunya yang malah ikut dengannya. Cani sudah menggandeng tangan kakeknya, dengan senyum yang merekah. Ia amat senang, jika berada di sisi kakeknya. Kakeknya, ada figur yang menyenangkan untuknya.
"Cani tuh mau punya dua adik loh." Adi mengayunkan genggam tangan tersebut.
Cani mendongak melihat rambut yang sudah bercampur dengan warna abu-abu tersebut. "Biarin, anak biyung."
Adi terkekeh mendengar jawaban Cani. "Memang Adek anak siapa?" Bentuk wajah, teduhnya mata dan rampingnya hidung tersebut begitu mirip menantunya yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri.
Adi seperti condong pada Cani, karena ia tahu cucunya itu serapuh dan secengeng menantunya. Ditambah lagi, Cani belum mampu menjaga dirinya sendiri.
"Anak Kakek," jawab anak tersebut dengan riang gembira.
"Ih, enak aja. Anak Kakek ya ayah." Dialog mereka terus berlanjut, sampai akhirnya mereka sampai di rumah megah tersebut.
Di dalam hunian nyaman milik Givan. Canda terus mengompres dahi suaminya, agar demam ringan itu cepat mereda. Canda tidak mengerti, bahwa demam tersebut timbul dari hukuman yang Givan jalani. Givan pun tidak berniat memberitahu, bahwa lukanya terasa begitu nyeri meski tak menggores kulitnya.
"Mas tidur aja, biar bangun tidur udah mendingan." Canda tidak tega, melihat kelopak mata suaminya yang sesekali terbuka dengan semburat merah. Givan menahan kantuk yang ditimbulkan dari efek obat.
__ADS_1
"Ya udah, sini bareng." Givan memeluk istrinya agak jatuh ke atas dadanya.
"Janin aku kegencet loh, Mas!" Canda mengadukan hal itu.
Givan terkekeh, kemudian menggeser tempat di sebelahnya agar Canda bisa merebahkan tubuhnya. Ia tidak tenang dalam tidurnya, jika Canda tidak terlelap bersamanya. Ia khawatir, Canda beraktivitas dan mendapatkan kemalangan yang tidak pernah disangka sebelumnya.
"Cepet sembuh ya, Mas?"
Cup....
Setelah mencium suaminya, ia malah memeluk tubuh suaminya. Tempat ternyamannya, adalah ketiak suaminya.
Canda mulai merasakan nyaman, karena tidur adalah aktivitas yang paling mudah untuk dilakukan. Mereka terlelap bersama, merasakan ketenangan masing-masing. Givan yang tenang, karena hukumannya sudah terpenuhi, Canda yang tenang karena suaminya sudah ada di sampingnya.
Hukuman mandiri, tidaklah menakutkan untuk Givan. Dengan berada di rumah selama satu minggu, ia merasa memiliki waktu lebih banyak bersama istrinya dan anak-anaknya.
Ditambah pekerjaan yang sudah ia bereskan dulu dan kebutuhan dapur yang terpenuhi, menjadikan hunian tersebut hidup tanpa masalah apapun. Mungkin akan beda ceritanya, jika Givan adalah dari kalangan menengah ke bawah. Hukuman mandiri adalah hal yang paling menyiksa, karena anak istrinya ikut merasakan juga kekurangan dalam hal pangan. Sekalipun ia mendapat jatah sembako dari desa, hitungan itu hanya untuk satu orang, hanya untuk orang yang menjalani hukuman, bukan untuk satu keluarga.
Ia mulai bercerita pada Canda, tentang Putri yang ingin menemui anaknya. Salah paham itu terjadi, karena Givan lupa memindahkan kartu nama Putri yang berada di saku belakang celana jeans-nya. Sedangkan, Canda mengecek seluruh kantong dalam pakaian sebelum masuk ke dalam mesin cuci.
"Kata mamah gimana, Mas?" Canda menanyakan keputusan ibu mertuanya dulu, sebelum ia memutuskan sendiri.
Canda tidak ingin menentang keputusan ibu mertuanya, tapi ia akan mencoba memikirkan ulang. Jika masalah ini bukan tentang Putri, mungkin Canda segera memutuskan sendiri. Namun, ia sadar siapa yang akan berkunjung. Itu bukan lawannya, Putri terlalu hebat untuk keluguannya.
"Kasih ketemu, tapi ditemani. Kek kita ini duduk bareng, lihat Putri ngobrol sama Jasmine gitu." Givan memberitahu pilihan orang tuanya, yang dibahas sebelum dirinya pulang ke rumah untuk menjalani masa hukuman mandiri tersebut.
"Apa tak berpengaruh untuk anak-anak yang lain? Kan pasti mereka bertanya-tanya, siapa perempuan yang ngobrol sama salah satu kakaknya itu." Canda memahami sifat ingin tahu anak-anaknya.
"Yaaa, anak-anak kan memang udah tau kalau Jasmine punya ibu kandung. Key, Jasmine, Zio, Ceysa kan memang punya orang tua lain. Cuma minus Zio, karena kita tak pernah nunjukin foto Nadya." Bukan tanpa alasan, foto-foto Nadya yang berada di sosial media kurang pas jika ditunjukkan oleh anak-anak. Busana yang Nadya kenakan, tidak menunjukkan bahwa ia adalah orang yang baik.
Memang tidak boleh menggunjing orang dari luarnya saja. Tapi, anak-anak selalu melihat cover dan warna sebelum membeli buku. Pola pikir anak-anak, sedikit berbeda dengan orang dewasa. Mereka memiliki pemahaman lain, dari kesan pertama saat melihat seseorang.
__ADS_1
"Ya udah, Mas. Nanti kan Mas hari Jum'at, selesai masa hukum. Nah, hari Minggunya aja Putri suruh datang. Mumpung anak-anak libur gitu kan?"
Givan manggut-manggut, menurutnya memang hari Minggu adalah waktu yang pas. Di samping karena hari libur anak-anak beraktivitas di sekolah, ia pun sudah terbebas dari masa hukuman juga.
"Hari Jum'at kan besok, Canda. Apa sekarang aja ngasih tau Putri? Biar dia bisa mempersiapkan gitu. Dia harus memiliki pakaian yang sopan, untuk nemuin anaknya. Pasti juga bawa barang bawaan, untuk kenang-kenangan ke anaknya." Givan mematok kedatangan Fira yang selalu repot dengan batang bawaan. Mungkin saja, ibu dari anak asuhnya pun seperti itu.
"Ya udah sok ditelepon, dispeaker. Aku mau dengar juga."
Tentu Givan langsung melakukannya. Tidak membuat Canda salah paham, adalah salah satu upaya yang dilakukannya setiap hari.
"Hallo, assalamualaikum...." Givan langsung bersuara, ketika panggilan telepon seluler tersebut langsung terhubung.
"Ya, wa'alaikum salam. Dengan siapa?" Tata cara berbicara formal Putri langsung dikenali oleh Givan.
"Givan, Put." Givan menyebutkan namanya.
Suara tawa riang Putri langsung terdengar. "Ya, Van. Gimana? Gimana?" Putri langsung memahami, ke mana arah panggilan telepon dari Givan ini.
"Eummm.... Istri aku izinkan kau ketemu Jasmine, tapi di rumah aku."
Sengaja ia memilih kediamannya sendiri, agar tidak menciptakan kehebohan orang-orang atau masyarakat yang melihat. Khawatirnya, terjadi kembali kesalahpahaman yang berujung pada kepala desa lagi.
"Alhamdulillah.... Makasih, Canda. Aku tau kau pasti sulit mikirin hal ini." Putri hanya asal mengutarakan rasa senangnya. Ia tidak tahu, jika Canda ada di dekat suaminya.
"Sama-sama," sahut Canda ringkas.
"Wow, ada istri kau juga, Van." Putri begitu ekspresif sayangnya tidak bisa dilihat oleh mata Givan dan Canda.
"Iya ada, ada di samping aku. Aku pilihkan waktu di hari Minggu ya, Put? Soalnya, anak-anak punya banyak waktu di hari Minggu. Mereka libur sekolah, madrasah, libur ngaji di mushola juga." Givan masih teringat hari libur mengaji di mushola yang ditukar menjadi Minggu sore, karena sebelumnya adalah Kamis sore. Hari Minggu menjadi pilihan libur mengaji, karena mushola tersebut digunakan sebagai tempat tahlil mingguan bersama.
"Oke, siap. Makasih ya, Van?" Suara Putri masih begitu riang.
__ADS_1
Givan lupa memberikan waktu kapan Putri harus datang. Hingga, di hari Minggu yang sudah ditunggu-tunggu oleh Putri akhirnya tiba juga. Namun, kedatangan Putri bertepatan dengan kedatangan....
...****************...