Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM123. Gifted


__ADS_3

"Autis, atau down syndrome?" tanya Givan, dengan menoleh sekilas pada anaknya yang tengah bermain bersama Hadi.


"Cerdas, mungkin. Autis itu, kondisi dimana ada masalah kompleks pada gangguan sarafnya. Dampak yang timbul karena adanya masalah pada saraf berupa susah berinteraksi, susah berkomunikasi non-verbal dan berkomunikasi verbal, kesulitan berbicara hingga mengalami kejadian dalam hal sosial-motorik. Kalau down syndrome, merupakan kelainan yang terjadi akibat adanya masalah pada kromosom. Orang yang mengalami down-syndrome akan memiliki mental yang seperti anak-anak. Meski secara fisik mereka tumbuh dengan normal, namun perkembangan mental mereka akan tetap seperti anak-anak usia delapan hingga sembilan tahun. Orang yang mengalami down syndrome juga memiliki ciri khas tertentu yang terlihat dari fisiknya seperti bentuk wajahnya. Beberapa orang dengan down-syndrome dapat hidup secara normal dan sebagian orang hidup harus bergantung pada bantuan orang lain. Kondisi down-syndrome biasanya akan ditandai dengan kelemahan keterlambatan pertumbuhan, fungsi fisik dan IQ yang rendah."


Alis Givan terangkat sebelah. "Bukannya autis itu ciri-cirinya kek lebih suka bermain sendiri, berinteraksi dengan orang lain hanya untuk mencapai tujuan, kontrol emosi yang buruk hingga menghindari kontak fisik dari sosialnya."


Putri langsung menggeleng. "Orang normal pun banyak yang kek gitu, Van. Kek kau datang, kalau perlu aja. Terus dulu, apa kontrol emosi kau bagus? Kau doyan ngamuk, meski cuma salah manggil aja. Kau dipanggil daeng marah, kau mau abang aja. Masalah kontak fisik, tuh buktinya sama Hadi nempel aja." Putri menunjuk Ceysa dan Hadi dengan dagunya.


Ceysa tengah memberi warna pada dagu Hadi dengan krayonnya. Hadi hanya diam, dengan memamerkan giginya.


"Aku kasih warna di sini." Ceysa menunjuk bagian bawah hidungnya.


"Jangan, Hadi aja. Nanti Ceysa tak cantik lagi."


Kedua orang dewasa itu melongo dengan saling memandang, ketika Hadi menahan tangan Ceysa yang akan mewarnai bagian bawah hidungnya untuk membuat kumis.


"Hadi jadi kek om brewok." Ceysa mentertawakan Hadi.


"Nah, Van. Itu interaksi yang bagus dan normal. Ke semua saudaranya kan dia begitu?" Putri menyenggol siku Givan dengan tangan kanannya.

__ADS_1


"Ya ke semua saudaranya ada interaksi. Tapi, cenderung dekat ke Hadi sejak kecil tuh. Hadi juga udah Ceysa aja dari kecil juga. Apa-apa, dia pun pasti belikan untuk Ceysa itu yang spesial. Kek misal pensil, sepupunya yang lain dapat satu, Ceysa dikasih dua atau paket lengkap dengan penghapus dan penggaris juga. Dia beli mainan, ya belikan untuk Ceysa juga. Jadinya, Ceysa pun kasih timbal balik yang sama. Daripada adiknya si Cani gitu, Ceysa lebih spesialkan untuk Hadi. Pernah aku sama Giska iseng gitu, jodohin aja nih nanti besar mereka harus menikah. Cuma mamah ngamuk, katanya udah biarin aja cari jodoh sendiri. Yang penting jangan persulit restu, kalau memang mereka udah minta menikah."


Putri manggut-manggut, ia paham dengan penjelasan dari Givan. "Normal lah anak kau, cuma IQ-nya tinggi. Cerdas loh dia, perasa juga keknya. Jangan sampai salah mengarahkan, dia bisa jadi pisau bermata dua. Masalah jodoh sih, ya apa kata nanti, Van. Mereka masih anak-anak, mungkin mereka memang satu frekuensi." Putri kembali memperhatikan Ceysa dan Hadi.


"Hadi ini pecicilan, petakilan, hiper aktif. Tak mungkin satu frekuensi sama Ceysa." Givan paham dengan Hadi yang akan menampakkan wujud aslinya, ketika tidak ada Ceysa di lingkungannya.


"Masa gara-gara cinta gitu? Ada suatu alasan yang buat Hadi pengen nemenin Ceysa terus mungkin, Ceysa pun ada suatu kenyamanan bisa berteman dengan Hadi mungkin." Putri memberikan penjelasan yang logis saja.


"Jadi, Ceysa tak perlu penanganan khusus kah?" Givan memastikan ulang.


Putri menggeleng. "Diarahkan aja, jangan sampai dia ada di jalan yang salah. Sekali jadi penjahat, mungkin dia langsung naik pangkat jadi mafia nantinya. Tes IQ aja, biar tau kan seberapa tinggi tingkat kecerdasannya," saran terbaik menurut Putri langsung dituangkan.


Putri memperhatikan interaksi anak yang ceria itu dengan seksama. Struktur wajah Ceysa pun, tidak seperti anak yang mengidap sesuatu. Ia anak normal, dengan sorot mata tajam.


"Ini nih, di psikolog tesnya pun. Kek gini hasilnya, jadi pas dikasih fotonya pun aku bingung bacanya sendiri. Pas aku sekolah, tes IQ tuh ada keterangan rata-rata, atau di atas rata-rata dan di bawah rata-rata. Zaman sekarang tak ada eh." Givan mengeluarkan selembar hasil tes tersebut dari amplop coklat.


Putri langsung menerima secarik kertas dengan dominan warna putih tersebut. Ia membaca dari atas, kertas yang tertulis bahwa anak itu mengikuti tes IQ.


"Sekor 161? Serius ini, Van? Aku yang menurut aku pintar aja, cuma 115." Putri membolak-balikan kertas tersebut dengan tidak percaya.

__ADS_1


"Aku search Google ya? Barangkali kau tak percaya. Seingat aku, 161 ini di atas superior atau extremely gifted," ungkap Putri, dengan memainkan ponselnya.


"Kok bisa sih kau tak search Google dulu?" Putri melanjutkan ucapannya dengan mengetikan sesuatu di mesin pencariannya.


"Aku buru-buru. Pagi hasil tes datang, jam sepuluh aku ada penerbangan. Dapat kiriman foto pun, tak ada keterangan rata-rata atau gimana, jadi ya udah aku cuma liat sekilas aja, pikir aku yang penting tak di bawah seratus aja lah." Givan mengatakan alasannya tidak mengecek hasil tes Ceysa secara langsung.


"Nih...." Putri tidak memperdebatkan alasan Givan. Ia langsung menunjukkan layar ponselnya yang menampilkan sebuah artikel.


"Model tes IQ ini namanya Stanford-Bine. Tapi ada sebuah ilmu, yang mengatakan perlu diperbaharui lagi setelah usia dewasanya, masa lagi matang-matangnya tuh usia dua puluh lima ke atas, tapi sebelum tiga puluh tahun."


Givan hanya mengangguk. Ia menyimak bacaan tersebut, dengan mengingat sekor tes IQ miliknya.


"Aku cuma 110, Canda 105. Canda manusia rata-rata, aku berarti di atas rata-rata. Kau 115, di atas rata-rata juga. Betul...." Ia melirik hasil tes anak tirinya. "Ceysa di atas superior, di atas berbakat, sekornya di sangat berbakat. Tapi, aku tak tau dia berbakat dalam hal apa? Apa pembobol gembok dengan numerik itu disebut berbakat? Apa ahli rubik juga disebut berbakat?" Givan bertanya-tanya seorang diri dengan memperhatikan wajah anak tirinya yang tengah tersenyum pada Hadi tersebut.


"Nih, kau dengarkan ya penjelasan aku. Menurut aku, ini penting kau pahami dan kau ketahui. Istilah gifted lebih dikenal dengan sebutan anak berbakat, anak luar biasa, anak jenius dan anak istimewa. Seseorang bisa dikatakan anak luar biasa apabila dia memiliki perbedaan dengan anak pada umumnya. Perbedaan yang dimaksud terletak pada ciri khas yang unggul. Anak-anak berbakat memiliki potensi yang luar biasa untuk mejadi pribadi yang positif maupun negative. Hal ini ditentukan bagaimana penanganan yang mereka dapat pada masa tumbuh kembangnya baik di dalam keluarga dan di masyarakat. Jadi peran kau penting. Ada lagi pendapat kek gini, anak-anak berbakat dikategorikan sebagai anak berkebutuhan khusus karena mereka berbeda dengan anak yang lain. Tuh, Van. Jadi dia bukan OCD atau OCDP apa autis, tapi dia gifted, anak berbakat dengan IQ tinggi. Dalam undang-Undang nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional mengamanatkan bahwa, warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus, pasal 5; ayat 4. Tapi entah ya kalau udah diperbaharui undang-undangnya, ini ilmu dulu aku dapat dan belum aku perbaharui lagi. Hal ini menyatakan bahwa perbedaan kemampuan yang dimiliki oleh anak berbakat, membuat mereka harus mendapat pendidikan yang berbeda dari anak lainnya. Nah, banyak lagi deh. Tapi kau sebagai orang tua, kau harus tau point yang aku sebutkan tadi. Jadi, kau harus bisa arahkan pendidikan dia. Kau pun, harus menangani dia secara khusus."


Givan cukup shock, mendengar penjelasan Putri dengan tempo cepat tersebut. Jadi, ia salah telah memberikan pendidikan Ceysa seperti anak-anaknya yang lain?


...****************...

__ADS_1


Sulit bawa tulisan yang mengandung hal begini-begini nih 🙈 Tapi menurutku ini perlu dibawa masuk episode, biar paham Ceysa ini anak seperti apa.


__ADS_2