Retak Mimpi

Retak Mimpi
IS165. Bujukan Canda


__ADS_3

"Cium-cium lagi! Risih tau!!" Canda menghalau bibir suaminya yang mengganggu lehernya.


"Cemburunya bikin n****." Givan langsung memeluk istrinya dengan erat. Ia tersenyum geli, dengan menggesekkan pipinya pada pipi istrinya.


"Ya iya! Kalau ng****g aja, dekat-dekat yang sah." Canda menepuk jidat suaminya dengan kesal.


Givan ingin marah, karena istrinya berlaku kurang sopan. Namun, saat melihat wajah Canda, ia malah tertawa lepas.


"Iya dong, pahala. Masa mau berzina?" Givan kembali menciumi pipi istrinya.


"Ah! Tak mau aku, risih!" Canda pura-pura menolak ajakan suaminya itu.


"Kau bayangkan risihnya jadi aku, Canda. Dikit aja kau bayangkan. Di mana, kau ganggu aku yang lagi kerja cek laporan. Kau ganggu aku, yang lagi kasih perhatian ke anak. Kau ganggu aku, yang lagi enak tidur. Satu lagi, kau ganggu aku yang lagi enak nonton bola. Tapi aku diam aja, aku malas ngeluh karena enak kok dirisihin istri. Coba kalau kau risihin aku pas tak pakai baju. Uhh, mantapnya ini body hasil olahan mekanik handal." Givan langsung memposisikan dirinya di atas tubuh istrinya.


Ia memamerkan giginya yang begitu putih karena venner, kemudian ia menaikturunkan alisnya penuh harap.


"Ngapain sih?" Canda menahan wajah suaminya yang semakin mendekat. Nyatanya, ia tidak mampu menahan tawa melihat wajah suaminya yang kadang menggemaskan itu.


"Ngajakin anu." Givan menahan bagian tubuhnya, agar tidak menindihi perut istrinya yang cembung.


"Tak mau, Mas." Canda menutupi wajahnya.


"Mau ah, masa tak mau. Sok bilang, kau mau gaya apa? Aku sedia deh, yang penting kau nyaman." Givan mengenyahkan tangan istrinya yang menutupi wajah istrinya.


"Mau di**** sampai keluar."


Givan langsung menyatukan alisnya. "Masalahnya kau lemas kalau udah keluar. Lepas itu kau langsung bilang udah ngantuk betul, cepetan geraknya. Aku **** tapi tak sampai keluar." Givan langsung menegakkan punggungnya, ia bersiap menyingkap dress malam istrinya.


"Tuh." Canda terlihat kecewa, kala suaminya tak mau menurutinya.


"Gini deh...." Givan masih mempertimbangkan hal itu. Ia sudah bersiap di posisinya, dengan dress Canda yang sudah naik sampai ke perut.

__ADS_1


"Apa? Aku mau kek gitu, kan belum pernah. Pertama dan terakhirnya, aku begitu sama bang Daeng." Canda menarik contoh yang pernah ia lakukan dengan mantan suaminya.


Givan selalu kesal sendiri, setiap istrinya menarik nama seseorang yang sudah tiada tersebut. Ingin marah pun, ia bingung ingin marah pada siapa. Karena jelas, Nalendra sudah tiada.


"Terakhirnya sama aku pokonya, kau boleh pertama kalo sama dia. Aku **** di awal, terus kita main. Kalau kau mau keluar, aku turun lagi. Biar sama-sama adil, biar nantinya kita bisa keluar semua." Givan menawarkan pilihan yang menurutnya paling adil.


"Memang Mas tak jijik?" Canda paham, jika mereka sudah beradu maka intinya mengeluarkan bau khas dari pertempuran mereka.


"Tak lah, ngapain jijik?" Givan segera menurunkan punggungnya.


Canda tiba-tiba teringat, akan kegilaannya di luar pernikahan bersama Nalendra. Ia tidak bisa menolak, saat Nalendra memberikan sapuan yang memabukkannya. Ia pun sampai dijadikan tempat gesekan yang Nalendra berikan pada bagian pahanya.


Dalam menikmati sapuan suaminya, ia malah terus membayangkan kegilaannya dulu. Ia sampai langsung menuntut pernikahan, ketika Nalendra melatihnya untuk membela dirinya sendiri, kala ada seseorang yang hendak memperdayanya.


"Suara kau mana, Canda? Anyeb betul kah aku nih?" Givan menegakkan punggungnya, ia menyadari bahwa istrinya tidak merespon sapuan yang ia berikan.


Canda langsung melihat ke arah suaminya. "Mas...." Suara Canda menggantung, ia bingung ingin mengatakan apa. Sedangkan, wajah suaminya sudah terlanjur datar.


Ia masih diam, tetap bergerak dan menunggu respon Canda. Nyatanya, Canda tetap tak merespon meski tak menolak gerakannya.


Langsung saja Givan bangkit dari atas tubuh istrinya. Ia memasukkan kembali pusakanya ke tempatnya, dengan ia langsung membenahi celananya yang sedikit melorot.


"Malas aku kalau tak respon begini, Canda! Berapa kali aku bilang, bilang kalau memang tak enak, tak diam begitu, Canda! Aku tersinggung!!" Givan berkata menggelegar, dengan melangkah ke kamar mandi.


Canda duduk di tengah ranjangnya. Ia hanya bisa memperhatikan pintu kamar mandi yang tertutup rapat.


Ia tidak mengerti, rupanya suaminya amat peka. Ia pun tidak sengaja teringat akan kenangan itu, tapi rupanya Givan tidak bisa mentolerir apapun jika Canda sudah membuatnya tersinggung.


Givan keluar dari kamar mandinya, dengan wajah yang basah. Ia langsung merebahkan tubuhnya di sisi kiri ranjang, dengan memunggungi istrinya yang masih duduk di atas ranjang.


Canda membenahi dress-nya yang sudah tidak beraturan. "Mas tak mau lanjutin?" Ia tidak pandai membujuk suaminya, jika suaminya sudah diam seperti ini.

__ADS_1


Givan tak menjawab, ia mencoba memejamkan matanya di tengah denyutan kepala atas dan juga bawahnya. Ia tidak ingin melanjutkan, jika ia sudah dirundung emosi seperti ini. Ia khawatir lepas kontrol, lalu memberikan sedikit perlakuan kasar pada istrinya yang memiliki trauma.


"Mas...." Canda mengusap lengan suaminya.


Givan tetap tidak merespon. Ia cukup minder dan sungkan, jika Canda kerap kali tidak merespon pemberiannya yang ia lakukan dengan setulus hati. Jika bukan Canda orangnya, ia tidak akan pernah menurunkan kepalanya sampai di sana.


Ia akui, sejak dulu ia bukanlah orang yang pandai memberikan kepuasan. Ia hanya paham, caranya memuaskan dirinya sendiri. Tetapi, ia mau belajar dan mencoba untuk istrinya.


Tapi terkadang, respon diam Canda membuatnya berpikir bahwa perlakuannya tidak memberikan kenikmatan. Ia berulang kali sering meminta Canda untuk mengatakan, jika memang Canda kurang merasa atas perlakuan suaminya. Lalu, beritahukan titik yang benar yang ingin Canda dapatkan dari suaminya. Bukan malah diam, dengan pikiran yang berkelana. Itu membuat ego Givan terluka.


"Mas, kok diamin aku? Aku tak bisa tidur kalau Mas ngadep sana." Canda memerhatikan suaminya, agar Givan mau berbalik badan ke arahnya.


"Mas...." Canda kembali menyentuh lengan suaminya.


"Sana cuci!" Hanya itu yang Givan katakan.


Ia tetap memunggungi Canda, dengan mata yang terpejam rapat. Ia tetap ingin, meski sudah banyak air dingin ia siramkan ke titik tersebut. Namun, ia tidak ingin mendapatkan respon buruk dari istrinya kembali. Ia selalu minder, ia selalu seperti ini, ketika Canda tidak merespon perlakuannya.


Canda sudah kembali dari kamar mandi. Ia masih berharap suaminya bisa memeluknya malam ini, karena jelas ia tidak bisa tidur tanpa pelukan suaminya.


"Mas Givan....," rengeknya dengan memeluk tubuh suaminya dari belakang.


Ia mengendus aroma suaminya, mencoba mencari kenyamanan untuk tidurnya.


"Mas, aku minta maaf sih, Mas. Mas jangan diam aja, aku kan udah kasih. Salahnya di mana aku ini? Kok Mas ngambek?" Canda sebenarnya paham, bahwa suaminya marah karena tidak mendapat suaranya atau dukungan tangannya untuk menyentuh tangan suaminya yang berada di perut bagian bawahnya.


"Ya Allah, Mas Givan. Ayo ulangi lagi, jangan marah dong." Canda tetap berusaha membujuk suaminya agar malam ini ia mendapatkan pelukan suaminya. Karena rasanya berbeda ketika dipeluk, atau memeluk. Canda menginginkan pelukan, bukan dirinya yang harus memeluk suaminya.


"Aku di atas deh. Gantian, giliran aku yang **** Mas deh," bujuk Canda yang langsung dipikirkan oleh Givan.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2