Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM203. Drop dan tukak lambung


__ADS_3

"Astaghfirullah! Ghifar!" Aku terkesiap, melihat Ghifar yang memegangi sesuatu di depan dadaku.


"Diam! Diam! Ada bayi kau. Molor kau terus, suami kau jengking kau tak tau." Ghifar memandang fokus ke arah dadaku yang tertutup kain.


"Ini bayi aku?" Aku memeluk tubuh mungil yang hinggap di dadaku.


Tangis lirihnya terdengar. Jemari kecilnya keluar dari selimut yang menutupi tubuhnya. Aku hanya bisa melihat rambutnya saja yang terlihat tidak lebay, tapi kriwil. Padahal tidak ada turunan Ghifar, tapi ia kriwil. Bukan kriwil juga sih, tapi sedikit bergelombang. Namun, karena masih bayi, ya terlihat kriwil.


Puk, puk....


Tangan yang begitu mungil itu, menepuk-nepuk dadaku berulang.


Subhanallah, jadi ini makhluk kecil yang menyadarkanku dari mimpi burukku. Terima kasih, nak. Terima kasih sudah menjemput biyung, sebelum biyung diantar naik menggunakan keranda dorong yang begitu banyak di sana itu.


"Betul kan, Mah? Feeling aku caranya kek gini bangunin Canda." Ghifar menoleh ke samping kirinya.


Aku mengikuti arah pandangnya.


Jantungku seperti mendapat sentakan keras, melihat suamiku terbaring di single bed mewah yang berada di samping brankarku. Selang infus terpasang di punggung tangannya, ditambah dengan kantong infus yang tergantung di samping ranjangnya.


"Mas Givan...," panggilku dengan air mata yang tak terbendung.


"Pegang anak kau, Cendol! Harus tetep diselimuti, jangan sampai dia kedinginan." Suara Ghifar menggangguku lagi.


"Mas Givan.... Mas Givan kenapa, Mah?" tanyaku pada mamah Dinda, yang duduk di tepian ranjang mas Givan dan memijat jemari mas Givan.


"Kecapean. Cepat bangun, kau urus itu anak kau. Anak Mamah lagi sakit, Mamah tak bisa urus anak kau," ucapan mamah Dinda selalu menikam, tapi memberi semangat tersendiri.


Aku mengangguk. Kemudian aku sedikit menunduk untuk bisa melihat bayi yang terasa begitu ringan ini.


"Bantuin dia sampai ujung dada kau, Cendol! Aku emosi terus sama kau. Mau kubenahi, takut aku yang nyaplok nantinya." Usilnya mulut Ghifar ini.


Aku langsung mencubit perutnya. Ia meringis dan tertawa geli.


"Ya kenapa kau coba? Kenapa tak Mamah, atau perawat aja?" Aku melirik ke arah ibu mertuaku itu.


"Udah dari tadi. Barulah pas anak kau rewel ini, aku yang pegang. Di tangan Mamah, dia malah pulas. Coba kau singkap sedikit, terus benahi posisi ujung dada kau." Ghifar mengisyaratkan dengan bola mata yang terarah pada bayiku.

__ADS_1


"Bentar, bentar." Aku mulai membenahi posisi bayi ini, agar bisa menikmati ASI.


"Masya Allah." Aku mendapat kejutan lain, ketika wajah bayiku terlihat tidak sengaja. Ia mirip dengan mas Givan, bahkan alis yang melengkung itu sudah persis seperti ayahnya. Mas Givan pasti bahagia, karena salah satu anaknya benar-benar mirip dengannya.


Dia anak yang memukuliku dan mengatakan 'ayo, ayo' ternyata ini pelakunya. Aduh, sayang. Makasih, nak. Biyung jadi terbangun karena pukulan kecil dari tangan kau.


"Cepat besar ya anak Biyung?" Aku mengusap-usap pipinya pelan, ketika mulut kecilnya sampai di tujuannya.


"Segini dia udah besar, susunya aku jorrrr terus." Ghifar membenahi selimut yang menutupi tubuh bayiku.


"Masa? Memang dia kecil betul?"


Pertanyaanku, memang berapa lama aku terlelap?


"Iya, pas lahir cuma satu koma sembilan. Sekarang udah dua koma tiga, udah naik empat ons." Ghifar mengusap-usap punggung anakku dengan pelan.


"Memang sekarang udah berapa lama?" Aku benar-benar bingung di sini.


"Dari kau sesar?" Ghifar malah bertanya balik.


Aku mengangguk cepat. "Iya, dari bayi aku lahir." Aku memperjelasnya.


Hah?


Yang benar saja?


"Kau tak lagi isengin aku, Far?" Aku fokus pada Ghifar yang tengah mengusap-usap tubuh bayiku.


"Serius, aku sampai udah bolak-balik dua kali ke Aceh. Yang pertama, aku pulang antar Chandra dan kubur kista kau. Yang kedua, aku anter papah, karena ladang butuh papah. Ya biasa sih, sekalian aku minta jatah dulu ke Aca." Ia terkekeh malu.


Ya ampun, ada saja yang buat ngik-ngik.


"Memang papah datang kapan?" Aku tidak tahu kapan papah datang. Karena selama sebulan aku di sini, aku tidak pernah dijenguk papah. Mamah pun, datang menjelang aku persalinan saja.


"Pas hari kau disesar. Papah datang sama Novi, besoknya Novi langsung urus coffee shop ayahnya yang tersebar di Pulau Jawa ini." Ghifar sesekali memandang wajahku.


"Terus mas Givan kenapa? Sejak kapan dia sakit?" Aku menoleh ke arah suamiku lagi.

__ADS_1


"Tiga hari yang lalu, drop. Kurang darah, tukak lambung mendadak kumat. Terus pagi tadi abis tindakan sedikit. Kamera selang tuh dimasukkan dari mulutnya setelah bius total, tindakan apa tuh namanya? Ya pokoknya begitu. Sekarang lagi pemulihan aja. Darah pun udah berangsur normal, cuma Hb masih rendah."


Ya Allah, tidak seperti biasanya suamiku sakit. Biasanya, ia hanya sakit kelelahan dan batuk pilek biasa.


"Terus aja, Far. Mulut kau kalau sama Canda sama-sama embernya," sindir mamah Dinda kemudian.


Mamah pun tadi mengatakan bahwa mas Givan hanya kelelahan saja. Rupanya, ini lebih serius.


"Sekarang dia tidur, atau belum sadar, Far?" Aku mengorek informasi dari Ghifar saja. Karena jika bertanya pada mamah, mamah seolah menutupinya.


"Pengaruh bius katanya sih. Udah bangun, terus ngantuk katanya. Kek kau aja begitu. Ya semoga tak berkepanjangan kek kau begini. Baru sih satu jam dia bilang mau tidur. Kata dokter sih keadaannya stabil, dia memang dalam kondisi tidur aja."


Aku khawatir mas Givan tersesat di alam mimpi sepertiku. Aku sampai tak bangun selama sepuluh hari, pasti karena perjalanan jauh di mimpi tersebut, dari Bener Meriah ke Padang, lalu kembali lagi ke Bener Meriah.


"Mah, bangunin mas Givan. Aku kangen, Mah." Aku merengek ke mamah Dinda, agar beliau iba padaku.


Mamah mengangguk. Beliau menggosok punggung tangan mas Givan yang terbebas dari selang infus.


"Mas Givan...." Setiap aku memanggilnya dengan harapan ia mendengar. Aku selalu berusaha menahan tangisku.


Ya Allah, mas. Kau tak pernah-pernahnya sakit seperti ini. Apalagi, sampai terbaring tak berdaya dengan selang infus yang terpasang. Mas takut dengan infusan, mas takut menjadi pasien di rumah sakit.


"Udah, kau tenang dulu. Fokus ke bayi kau dulu, Canda." Ghifar menghalangi pandanganku dengan berdiri tepat di sisi wajahku berada.


"Aku mau lihat suami aku, Far." Aku mencoba menggeser posisinya.


"Eh, ehh. Itu tengok, Canda. Kuku bayi kau panjang-panjang, dipotongi kah?" Ghifar mengangkat jemari anakku pelan.


Ish, ada saja cara menggangguku.


"Awas dulu sih, Far." Aku gemas sekali dan ingin mencubitinya.


Bayiku bersuara, suaranya amat pelan dengan kaki yang terasa tengah menendang-nendang.


"Mah, kejer lagi. Gimana ini?" Ghifar malah panik.


"Ya diangkat dong, Far. Kenyang kali. Orang ASI Canda tumpah-tumpah terus, apalagi langsung diminum bayinya." Mamah bergerak ke arahku.

__ADS_1


Wajahnya kentara tengah lelah sekali. Aku pasti merepotkan semua orang, sampai-sampai suamiku pun tak mampu mengurus jadwal makannya sendiri.


...****************...


__ADS_2