
Dirinya, petugas eksekusi, seorang dokter, kepala desa pembaca hukum, yang berdiri di atas panggung kecil dengan pakaian yang ia kenakan berwarna serba putih. Ia hanya bisa tertunduk malu, ketika semua mata tertuju padanya.
Bagaikan algojo dengan wajah yang tidak terlihat. Eksekutor tersebut, identitasnya sangat disembunyikan. Itu adalah peraturan, untuk menjaga perasaan tidak enak hati si penghukum terhadap orang yang dihukum. Tentu saja, ia memiliki titik paham di mana daratan rotan nanti mendarat dengan aman.
Ia sepenuhnya sadar, bahwa dirinya dinyatakan bersalah berikut dengan hukuman yang mengikutinya. Ia sepenuhnya paham, bahwa hitungan satu diikuti dengan pendaratan rotan sebesar dua jari orang dewasa sepanjang satu meter setengah itu mendarat di punggung bagian bawahnya.
Bisik-bisik warga yang menonton, membuat rasa malunya bertambah. Ia mengerti, kini dirinya dan kehormatan keluarga besarnya sedang dipertaruhkan. Setelah ini, ia berjanji untuk tidak mempermalukan mereka lagi. Setelah ini, ia berjanji untuk lebih mengangkat derajat orang tuanya.
"Dua...."
Givan hanya terdiam, dengan mata terpejam menikmati panasnya gelombang panas yang datang tiba-tiba. Sabetan kecil itu, tidak menimbulkan rasa sakit. Namun, gelombang panasnya cukup mengejutkan diri Givan.
Ia dihukum seorang diri, karena hukuman Ai ditunda sampai ia bersalin. Ai pun, sedang menikmati kesendirian saat kebebasan dan aktivitasnya dibatasi.
"Tiga...." Tubuhnya bergetar dengan mata terpejam. Nikmatnya rasa, ia teringat akan suntik bius sebelum operasi sesar dilakukan. Ia teringat akan pengorbanan istrinya merunduk, agar tulang bagian belakangnya bisa dimasukkan suntik bius setengah badan.
"Empat...." Gambaran wajah Canda meringis kesakitan di kamar mandi karena diare, terlintas bersamaan dengan dirinya yang berada di atas tubuh Ai dan tengah menarik kepala ikat pinggangnya dari rok bervariasi jaring menyangkut di kepala ikat pinggangnya.
"Lima...." Tubuhnya tersentak, ia merasakan kekagetan kala sabetan tersebut dirasa terkena dengan tulang belakangnya. Ingatannya berputar, ketika ayah sambungnya mencarinya bermain dengan sebuah ranting pohon yang kering. Ranting tersebut, digunakan hanya untuk menakut-nakutinya saja. Ternyata, rasanya seperti ini ranting tersebut ketika mendarat di tubuhnya.
Ayah sambungnya yang memberinya makan sejak kecil, tidak tega sampai melakukan hal itu padanya. Namun, orang lain yang bertugas sebagai eksekutor malah dengan tega terus mendaratkan rotannya.
"Enam...." Terlintas ekspresi murka ibunya, dengan mata kecil yang melotot, meninggikan suaranya padanya. Lalu, dengan reflek ia meninggikan pula suaranya pada ibunya. Saat wajah ibunya terlihat kaget, dengan mata yang mulai berair. Ia sadar, bentakan refleknya menyakiti hati ibunya. Ia teringat permohonan ampunnya sampai bersujud pada kaki ibunya, agar ibunya tidak sakit hati padanya.
"Tujuh...." Panggilan ceria dari anak-anaknya, seolah terdengar di telinganya. Matanya terbuka, menelisik wajah orang-orang yang menonton dirinya. Tidak ada istrinya, tidak ada anaknya, hanya ada keluarganya saja yang menemaninya di samping panggung.
Pandangan itu melintas jauh di depan gerbang yang setengah terbuka. Beberapa pedagang keliling hadir di sana, bagaikan di halaman masjid ini diadakan konser musik koplo yang menarik perhatian orang-orang.
Sampai, seorang wanita yang bersedekap tangan dengan kerudung berwarna merah membuat Givan teringat dengan seseorang.
__ADS_1
Benarkah dia? Ia menonton dirinya tengah dihukum di depan banyak orang begini? Ia melihat harga diri seorang Givan digadaikan di atas panggung ini.
Kemejanya yang berwarna merah, dengan celana yang berwarna putih juga. Terkesan seperti tengah memperingati hari kemerdekaan republik Indonesia, dengan kacamata fotocromik yang terlihat pantas di bentuk wajahnya.
Dada yang cukup besar, meski telah ditutupi dengan kerudung. Membuat Givan semakin yakin, bahwa orang tersebut adalah ibu kandung dari anak yang ia asuh.
Tidak terasa, hitungan tersebut sudah sampai di angka tiga puluh. Sedangkan, Givan masih memperhatikan perempuan yang anteng di tempatnya.
Ia menoleh ke arah keluarganya, kemudian menunjuk pagar masjid tersebut dengan dagunya.
"Ada apa, Bang Givan?" Seorang dokter menghampirinya, mengkhawatirkan bahwa keadaan tubuhnya tidak kuat menanggung rasa pedas berbarengan dengan rasa malu tersebut.
Hukuman tersebut dihentikan sementara, saat dokter menghampiri Givan untuk mengecek keadaan Givan. Sialnya untuk Givan, rasa panas itu berubah menjadi rasa sakit yang menjalar ke ulu hatinya. Setelah didiamkan cukup lama, karena pejedaan hukuman tersebut. Harusnya, hukuman tersebut tidak pernah berhenti agar ia tidak merasakan sakit lebih dini.
"Tak apa." Givan menggeleng, ketika dokter berdiri di sampingnya dan menyentuh bahunya.
"Oke, kita lanjutkan."
Saat matanya tertuju pada wanita yang berdiri di dekat pagar lagi, ia sudah tidak menemukan wanita tersebut. Matanya mencari-cari sosok tersebut, hingga warga yang menonton merasa takut sendiri karena seolah ditandai oleh sang anak juragan tersebut. Mereka khawatir, wajah mereka yang dikenali oleh anak juragan tersebut, datang ke rumah mereka dan membentak mereka karena sudah hadir di eksekusinya hari ini.
Beberapa warga yang merasa takut hal-hal yang tidak diinginkan terjadi pada mereka, berbondong-bondong meninggalkan halaman dengan alasan meninggalkan pekerjaan rumah. Padahal, Givan tengah mencari seseorang. Bukan menandai wajah-wajah warga yang hadir di sini, untuk diberi hukuman kembali karena sudah melihatnya dipermalukan di sini.
Sosok yang ia cari, tidak terjangkau di matanya. Tiba-tiba ia teringat wajah tersenyum anak angkatnya yang memiliki kelebihan pada jemarinya, tengah digandeng dan dibawa masuk ke dalam mobil bersama ibu kandungnya.
Givan khawatir, kesempatan ini diambil oleh Putri untuk membawa anaknya pergi. Jelas, Givan tidak akan mengizinkan hal itu. Ia tidak pernah ingin anak angkatnya pergi darinya.
"Lima puluh."
Hukuman telah selesai, dengan dirinya yang langsung dibawa turun oleh dokter yang bertugas untuk dicek keadaannya. Ringisan Givan semakin terasa, saat angin menerpa luka pedas yang ditimbulkan sebilah rotan tersebut.
__ADS_1
"Mana yang sakit, Bang?"
Tangan Givan mencoba meraba salah satu cincin tulangnya yang menonjol di punggungnya. Ia berpikir, rotan tersebut terpentok dengan tulangnya.
Rasa sejuk dibalurkan ke seluruh punggungnya, guna meminimalisir rasa panas yang belum menghilang juga. Keluarga pun, masih tidak diizinkan untuk menemui Givan. Sampai petugas menyerahkan kembali Givan pada keluarganya di rumah.
"Bisa tolong tambahkan lagi?" Givan merasa rasa sejuk itu masih kalah dengan rasa panasnya.
"Oh, iya. Tentu, Bang."
Givan berpikir, jika orang yang dihukum bukanlah dirinya. Mungkin, dokter tidak pernah mau diperintahkan oleh pasiennya seperti ini.
Lapisan olesan gel, terus ditambah lagi dan lagi. Givan berharap, rasa panas tersebut lekas hilang dengan bantuan gel itu.
Dirinya diperintahkan untuk berbaring menghadap ke atas. Alat rekam jantung dan juga tensi darah langsung terpasang di tubuhnya.
Datang kepala desa yang memberinya sekotak makanan, lalu diminta untuk segera memakannya. Agar dirinya bisa langsung mengkonsumsi obat pereda nyeri.
Demam ringan mungkin dirasakan, sampai efek panas dan sakit tersebut benar-benar tidak ia rasakan lagi. Givan diberi obat-obatan, agar keadaan tubuhnya kembali fit.
Dalam tenda putih yang berada di belakang panggung tersebut, dirinya ditinggalkan sementara untuk cepat mengkonsumsi makanannya.
Panggung segera dibereskan, dengan peralatan yang digunakan tersebut. Sampah-sampah segera disatukan dan dipindahkan dari halaman masjid tersebut. Tempat kembali dibersihkan, agar terlihat nyaman untuk beribadah.
Kesibukan orang-orang, seolah tidak melihat wanita berkerudung merah tersebut yang mendekat ke arah tenda. Senyumnya dipahat sempurna, ketika menemukan ayah angkat anaknya yang tengah menenggak air mineral kemasan botol.
"Waduh, waduh.... Bang Givan," sapanya tanpa memasuki tenda.
Givan kenal dengan suara itu, suara yang pernah meneriaki namanya karena kenikmatan. Ia segera menoleh ke arah suara itu muncul, sampai ia menemukan wanita berkerudung merah tersebut tersenyum lebar padanya.
__ADS_1
...****************...
Kurang lebihnya mohon maaf 🙏 Saya tidak menemukan artikel yang pas, tentang deskripsi rasa sakit dari hukuman tersebut dan sistem eksekusi itu berlangsung. Di lain waktu, Saya akan menggali wawasan lagi agar lebih paham tentang berlangsungnya hukuman tersebut. 😁🙏