Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM274. Pernikahan Shauwi dan Keith


__ADS_3

"Abang masih mikirin untuk itu, Canda." Kenandra mengusap wajahnya dan meluruskan kedua kakinya.


"Tuh kan? Aku tak mau, kalau bang Ken tak mampu buat Ria hamil. Aku pengen keluarga aku pun besar, karena aku sama Ria cuma dua bersaudara nih. Iri itu pasti ada, masanya lihat keluarga mas Givan yang begitu ramai dan heboh, sampai mau duduk saat kumpul aja susah."


Kenandra kembali menoleh ke arah Canda. Ia tidak mengerti sebenarnya Canda mendukungnya atau tidak.


"Kau support aku tak sebenarnya? Kau barusan ngomong kek usahakan aku untuk mampu hamili Ria, tapi tadi kau tuduh aku KDRT segala macam. Sebenarnya, kau ada di pihak mana? Kalau ada di pihak aku, ya dekatkan aku dengan Ria dong, bujuk suami kau itu. Kau mau Ria hamil kan? Dengan banyak anak kan? Ya kau harus support aku." Kenandra tersenyum samar.


"Oh ya? Memang Abang mampu dan masih kuat untuk hamili Ria berkali-kali?"


Kenandra merasa emosinya seperti terayun-ayun. Ia tadi dituduh, di-support dan sekarang ditantang.


"Kau pikir, Canda??? Selagi laki-laki itu masih hidup, dia bakal bisa hamili perempuan karena benihnya tak ada yang basi karena usia!" Kenandra menekankan suaranya dengan urat-urat lehernya yang menonjol.


"Udah ah! Emosi terus aku ini." Kenandra bergerak untuk masuk meninggalkan Canda seorang diri.


Canda berkedip seperti boneka. Ia kebingungan, kenapa Kenandra terlihat marah? Ia merasa, ia hanya bertanya. Yang dimaksud dengan dirinya pun tentang stamina, bukan tentang masa kadaluarsa benih laki-laki.


"Ish! Agak-agak ini laki-laki." Canda bangkit dan bergerak untuk pulang ke rumah.


Ia khawatir bayi-bayinya menangis, karena menunggu suaminya bangun tidur itu pasti lama.


Pernikahan Shauwi dan Keith dihadiri oleh Givan dalam kondisinya yang kurang fit. Ia terus menguap, ketika mereka tengah menikmati makanan yang tersaji.


"Kenapa sih kau, Bang?" Ghifar menepuk paha kakaknya pelan, mereka duduk beriringan.


"Ngantuk terus rasanya." Givan mengusap wajahnya.


Suasana bahagia dengan kehangatan keluarga begitu terasa. Pelaminan yang tersanding di depan teras rumah, dihiasi dengan dua orang manusia yang tengah mempertahankan senyumannya.


"Yah, ini apa sih?" Ceysa mendekati ayah sambungnya.


Sedari tadi ia sudah berkumpul bersama keluarganya, ia terlihat begitu rindu pada orang terdekatnya. Tak luput dari Hadi, yang sampai sekarang pun mengekori gerak langkah Ceysa.


"Kue bhoi, bolu khas Aceh yang berbentuk ikan. Ceysa suka?" Givan mengesampingkan piringnya, kemudian ia langsung memberi tempat untuk anaknya di pangkuannya.


Mereka duduk bersama dengan alas karpet. Dikhususkan untuk mereka, agar menikmati suasana dengan makan di dalam ruang tamu yang akses jendelanya terbuka semua.


"Suka, Yah." Ceysa masih memperhatikan makanan yang ia bawa.


"Hadi bisa ambilkan banyak untuk Ceysa. Ayo ke sana." Hadi mencoba mencari perhatian Ceysa.

__ADS_1


Ceysa menoleh ke arah Hadi. "Coba Hadi ambilkan." Senyum manisnya terukir.


Givan tidak mengerti, kenapa Ceysa terlihat seperti perpaduan antara Canda dan Nalendra. Dulu, ia melihat Ceysa seperti copyan Nalendra yang ia besarkan.


"Oke." Hadi melipir untuk mengambilkan apa yang Ceysa inginkan.


"Tengil!" Adi memberi jalan cucu laki-lakinya untuk lewat di depannya.


"Kan aku udah bilang permisi, Kek." Hadi mencoba berjalan sopan dengan merundukkan sedikit punggungnya.


"Ya kau jangan bolak-balik aja! Sini sama Abu." Zuhdi mencoba menahan anak sulungnya untuk duduk di pangkuannya saja.


"Mau ambil kue bhoi untuk adek Ceysa, Bu! Ihh, Abu tuh!" Hadi mencoba melepaskan diri dari ayahnya.


Anak kelas satu SMP itu, tentu tidak mau dipangku oleh ayahnya. Di samping dirinya merasa malu, ia pun memiliki tujuan lain.


"Abu nikahkan kau kecil-kecil nih sama Ceysa, Di. Dari turun mobil, kau pepet terus adek Ceysa," ancam Zuhdi pelan.


"Sok, sok, sok. Abang ini!" Giska mendengar dan ia memberi lirikan tajam.


"Tak akan profesional jadi saudara, Dek. Anak kau tengil." Zuhdi sudah memiliki feeling bahwa menantunya nanti adalah keponakannya sendiri.


"Ya jangan dinikahkan kecil-kecil juga!" Giska melirik suaminya tajam.


"He'em, kalau sama-sama mau sih. Tak mau ya jangan, jangan memaksakan. Barangkali kelak nanti, mereka punya pasangan sendiri-sendiri," tambah Givan, yang sedari tadi menyimak obrolan pelan itu.


"Adek Ceysa.... Ini." Hadi membawakan sepiring kue bhoi untuk Ceysa. Ia tersenyum lebar, dengan mengharapkan dirinya diberi jalan untuk bisa sampai ke Ceysa kembali.


"Eummmm, banyak betul. Hadi sih, Ceysa doyan dikasih banyak-banyak," tutur Ceysa yang membuat geli yang mendengarnya.


"Ya tak apa, biar Ceysa berubah jadi gemoy." Hadi berkata enteng, dengan mulai melewati kerumunan keluarganya yang tengah makan itu.


Semua keluarga tertawa lepas. Hadi seperti kurang paham arti gemoy yang sebenarnya, membuat para orang tua terbahak karena penuturan Hadi yang terdengar polos itu.


"Pah...." Gibran mendekati ayahnya, ia menunjukkan pesan yang datang dari teman wanitanya.


Adi menyipitkan matanya untuk membaca lebih jelas. "Ya nanti tinggal ke sana aja." Adi memberi saran yang menurutnya baik.


"Aku tak punya uang." Gibran memberi tatapan nelangsanya.


"Minta sumbangan sama Abang-Abang kau. Bang nyumbang, untuk ngapel gitu." Adi sengaja berbicara agak kencang, agar didengar oleh anak-anaknya yang lain.

__ADS_1


"Oh ya, Bran. Ada job ngecat ruang kamar anak, mau tak? Yang punya rumah cerita, dia kepengen kamar anak-anaknya kek ruang bermain, kek sekolah TK." Zuhdi mendengar bahwa adik iparnya berbakat dalam bidang yang ia butuhkan.


"Tuh...." Adi menyenggol lengan anak bungsunya.


"Boleh, Bang." Gibran langsung menyetujui. Kemudian, ia menoleh kembali ke arah ayahnya. "Kasih aku sangu dulu, katanya pak Taleb mau ngomong." Sebenarnya Gibran was-was untuk datang ke sana.


"Tapi kalau kau masih begini, pak Taleb tak akan kasih izin. Bukannya apa-apa, Abang khawatir aja." Givan khawatir adiknya mendapat omongan kurang baik dari orang tua teman wanitanya.


"Iya sih, Bang." Gibran pun sadar diri bahwa dirinya memang belum memiliki penghasilan tetap.


"Kau atur bisnis kau sama Abang-Abang kau, Bran. Cepat gerak, mumpung Mamah Papah masih hidup dan masih sehat," ucapan Adi membuat anak-anaknya kesulitan menelan.


"Pulang dari sini ikut Abang, Bran. Abang punya arahan." Givan tidak ingin mereka lebih jauh membahas tentang umur orang tuanya.


"Gimana jadi, Bang? Besok Gibran kalau memang bisa, ya aku bawa. Apa, mau kau bawa?" Zuhdi sudah terbiasa memanggil teman seusianya itu dengan sebutan abang, ketika tengah berkumpul bersama seperti ini.


"Sama aku pulang dari sini aja. Besok, bisa kau ajak." Givan hanya baru ingin memberikan arahan.


"Tapi setelah Maghrib aku diminta datang dulu ke Mariam, Bang." Gibran bingung untuk mengatur waktu.


"Bisa malam setelah Isya, kau datang aja ke rumah Abang." Givan sembari menyimak obrolan anak perempuannya dengan keponakannya.


"Oh, ya. Pah, aku diminta Bang Givan untuk olah ladang jahe." Gavin teringat pembicaraannya saat di pesawat.


Adi mengangguk. "Ke Lampung aja, pelajari dulu di sana." Adi ingin anaknya langsung terjun ke lapangan.


"Sama Papah sih, Pah. Biar aku paham ngolahnya gimana." Ia berharap ayahnya turun langsung untuk mengajarinya.


"Seminggu aja sama Papahnya." Adinda langsung menurunkan izinnya.


"Aku sih, Bang? Kek mana?" Ghavi memasang wajah memelasnya.


Semua orang terkekeh. Karena Ghavi terlihat sekali bahwa ia hanya akting.


"Besok pagi, Gibran berangkat sama Zuhdi, kau datang ke Abang." Givan langsung mengatur waktunya lagi.


Canda langsung pura-pura menangis sedih. "Akunya kapan, Bang? Semalam Abang tidur aja. Udah seminggu lebih, Abang! Dari Abang berangkat ke Brasil." Canda mendadak mengubah panggilannya pada suaminya, seperti pada adik iparnya.


Givan tak kuasa menahan tawa gelinya. Ia merangkul istrinya dan mencoba membekap mulut istrinya, ia merasa malu dengan gurauan istrinya yang terdengar dewasa menurutnya itu.


"Iya, iya. Adek malam ini ya, Dek?" Adi yang menjawab mewakili Givan.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2