Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM138. Bertemu Awang


__ADS_3

"Ayah mau ke mana sama kakek? Apa lama?" tanya Chandra, dengan memperhatikan ayahnya yang mengenakan jaket yang cukup tebal.


Penampilan Givan apa adanya, tapi wajah rupawannya tetap menarik perhatian orang-orang yang melihatnya.


"Sebentar, kau di kamar aja sama Biyung kau." Givan menunjuk istrinya yang tengah bermain ponsel di atas tempat tidur.


Harum percintaan mereka sudah digantikan dengan aroma pewangi ruangan yang menyala secara otomatis setiap lima belas menit sekali. Kamar ini aman untuk anak remaja yang mulai ingin tahu segalanya tersebut.


"Sini, Bang. Abang suka celana ini tak? Biyung belikan ya?" Seperti biasa, setiap hari barang-barang baru diantarkan oleh kurir paket untuk masing-masing anak-anak Canda. Pasti saja, secara bergiliran di antara mereka memiliki barang baru dari ibunya tersebut.


"Aku pengen susu pembentuk otot, Biyung." Chandra sudah melipir mendekati ranjang tersebut.


Givan mengerutkan keningnya, ia yakin anaknya belum baligh. Dari ciri-ciri tubuh anaknya pun, terlihat sekali Chandra masih baru masa beranjak remaja. Anak kelas satu SMP tersebut, malah sudah ingin memiliki masa otot.


"Nungguin apa, Mas? Gih, jangan lama-lama." Canda memerhatikan suaminya yang malah berdiam diri di tempatnya tersebut.


"Oh...." Givan sedikit kaget dengan seruan istrinya.


"Untuk susu masa otot, biar Ayah yang pilihkan nanti. Kau pilih celana training panjang aja, Ayah pikir itu udah gantung di kaki kau." Givan menunjuk training tebal berwarna putih yang dipakai anaknya.


Chandra sudah mulai tumbuh tinggi dengan cepat.


"Iya, Yah." Chandra sudah duduk manis di samping ibunya.


Selepas ayahnya meninggalkan kamar. Ia merogoh ponselnya, kemudian mematikan sambungan panggilan video yang masih tersambung. Ia berharap, teman wanitanya itu tidak mendengar semua obrolannya dengan kedua orang tuanya.


"Kalau piyama mau tak, Bang?" Canda menunjukkan foto di layar ponselnya.


"Eummm, jangan deh. Aku bukan anak kecil lagi, Biyung." Chandra merasa tak enak hati saat menolaknya, ia seperti ragu-ragu dalam bertutur tadi.


Canda memperhatikan tubuh anaknya dengan seksama. Membuat Chandra merasa malu sendiri dengan mata ibu kandungnya tersebut.


"Biyung, jangan kek gitu." Chandra menutupi dadanya yang tidak bidang sama sekali.


Canda hanya terkekeh kecil dan geleng-geleng kepala. Ia tetap menganggap anaknya adalah anak kecil, meski anaknya tersebut sudah tidak merasa kecil lagi.


"Ayo, Pah." Givan sudah bersiap di dalam mobilnya.


Mobil berwarna pink milik istrinya, berhenti tepat di depan teras ruko mangge Yusuf, tepat di mana ayah sambungnya duduk dan tengah mengobrol dengan mangge Yusuf.

__ADS_1


"Eh, di rumah Canda sama siapa? Ma Nilam suruh ke sana kah?" tanya mangge Yusuf, dengan memperhatikan Givan yang berada di dalam mobil pink yang kaca jendela setengah terbuka itu.


"Ada Chandra, biar sama Chandra. Aku tak lama kok, Mangge. Cuma nganter Papah aja."


Mangge Yusuf dan Adi beradu pandang. Sepertinya, Givan benar-benar tidak ingin singgah untuk menemani Ai sementara waktu.


"Oh ya udah, ati-ati," ucap mangge Yusuf dengan memperhatikan Adi yang berjalan dan masuk ke dalam mobil tersebut.


"Ya, Mangge."


Tin.....


Givan membunyikan klakson mobilnya sekali, sebelum kendaraannya melaju di jam sepuluh malam ini. Givan yakin, dengan istrinya masih bermain ponsel, Canda pasti mengharapkan ia kembali dengan membawa makanan. Ia akan membungkus beberapa makanan yang ia temui jalan, yang mungkin masih buka di makam hari seperti ini.


"Van, mamah tuh minta ART. Mamah udah capek jadi ibu rumah tangga katanya, cukup masak aja sama ngurus Papah." Adi membuka obrolan agar supirnya tidak mengantuk.


"Devi aja kah, Pah? Chandra udah nolak pakai pengasuh, dia udah pengen mandiri sendiri. Tapi kalau di mandiri di rumah sendiri tuh, aku khawatir dia terlalu bebas sama HP-nya. Meski jam sebelas malam, aplikasi yang onlinenya langsung terkunci semua lewat HP aku. Tapi, tetap aja di jam bebas dia takut nonton aneh-aneh. Tadi aja, lagi VC sama perempuan coba." Givan geleng-geleng kepala, ia tidak habis pikir dengan tingkah anak-anak zaman sekarang.


Ia mulai mengenal perempuan, pada saat SMA. Namun, sekali mengenal perempuan ia langsung buas.


"Ati-ati, Van. Tadi mangge Yusuf cerita, anaknya pak Dasuki hamil kelas lima SD. Laki-lakinya SMP kelas dua, barulah tadi disirikan. Terus anaknya pak Dasukinya pindah ke neneknya, di Pekanbaru katanya. Diusir dari kampung secara halus sih, jadi mungkin mereka sendiri ngerasanya gimana gitu."


Givan melongo mendengar cerita dari ayahnya. Ia tidak percaya, dengan anak-anak zaman sekarang yang lebih cepat dewasa tersebut.


"Ya itu sama laki-lakinya, pindah ke Pekanbaru. Maksudnya tuh, mereka jadinya di neneknya anaknya pak Dasukinya ini. Mereka jadi ikut ibu dari istrinya pak Dasuki gitu," jelas Adi secara gamblang.


Givan geleng-geleng kepala. "Edan!" Ia memukul-mukul stir mobilnya.


"Ya makanya ati-ati, apalagi ayahnya kek kau." Adi melirik putranya sekilas.


"Kalau kek gitu, ya aku ajarkan caranya biar perempuannya tak hamil."


Tangan Adi reflek memukul pelan lengan anaknya yang tengah mengemudi itu. Givan terkekeh kecil, dengan menoleh pada ayah sambungnya.


"Insha Allah, anaknya Canda imannya kuat kek Canda." Givan yakin, turunan istrinya tidak berbeda jauh dengan akhlak istrinya, meski bercampur dengan darahnya.


"Aamiin. Semoga jangan bodoh kek Canda aja, runyam nanti masalahnya."


Givan tertawa puas, mendengar istrinya diejek secara tidak langsung tersebut.

__ADS_1


"Agak laju aja kali ya, Pah? Jalanan kosong." Givan meminta izin lebih dulu, agar ayah sambungnya tidak kaget.


"Iya, ati-ati." Adi langsung mengenakan sabuk pengaman.


Sesampainya di rumah sakit, Adi meminta anaknya untuk masuk. Agar istrinya tidak keluar dari rumah sakit seorang diri, pastinya ada Givan yang menemani nantinya.


Ketidaksinkronan dengan bayangan Givan dan Adi. Rupanya, Ai sudah ada yang menemani.


Penyebab utama timbulnya dendam Givan pada Ai, ada di depan matanya. Dagunya langsung naik, seolah menantang kakak kandung Ai yang seusianya tersebut.


Awang yang tidak mengerti bahasa tubuh seorang Givan, menanggapi santai saja Givan yang baru memasuki ruangan tersebut. Ia bersikap, seolah tidak ada masalah sebelumnya.


Karena tindakannya dahulu, hanyalah jiwa seorang kakak yang tidak terima adiknya dihina sedemikian rupa. Awang pikir, Givan telah menyelesaikan amarahnya dan memaklumi tindakannya dahulu.


Sampai akhirnya, jabatan tangan yang tidak kunjung diterima oleh Givan, langsung dimengerti oleh Awang. Awang cukup peka, dengan sikap laki-laki matang yang terlihat angkuh tersebut.


"Ayo, Mah." Givan langsung melipir mendekati ibunya yang tengah mengobrol dengan isti Awang, Nafisah.


Kakak ipar Ai yang seumuran dengan Ai tersebut, terlihat langsung akrab dengan keluarga Adi's Bird. Ia bisa berbaur, dengan sikap ramah tamah Adinda.


"Hei, Van. Saya pikir, kamu yang punya salah sama Saya. Saya tersinggung dengan jabatan tangan Saya yang gak kunjung kamu sambut." Tatanan kalimat dengan nada yang kurang bersahabat, kini menjadi perhatian mereka semua.


Givan memutar tubuhnya, menghadap pada laki-laki yang ia lewati beberapa langkah tersebut. Ia tidak mengatakan apapun, selain menunjukkan mata iblisnya yang langsung memerah. Emosinya meluap seketika, hanya dengan kehadiran orang untuk menginjak harga dirinya.


"Dibicarakan esok saja, Bang." Adi menepuk pundak laki-laki yang seumuran dengan putra sulungnya itu.


"A Givan...." Suara Ai membuat emosi Givan akan meledak.


Sorot tajam Givan, langsung terarah ke arah Ai. Givan berada di ambang emosi yang sulit dikendalikan.


"A Givan, gendong anak kita ke tempat peristirahatan terakhirnya."


Givan menekuk jemarinya dalam kepalan tangannya. Menyadari putranya yang sudah sulit mengontrol dirinya sendiri, Adinda langsung mengusap-usap punggung anaknya.


"Givan tak bisa, Ai." Adinda yang menjawab lebih dulu.


"Kenapa gak bisa, Mah?" Ai terlihat tertarik untuk mendengar alasannya.


"Aku junub." Perkataan Givan mematahkan semangat yang sudah Ai bangun dengan kewarasan yang tersisa.

__ADS_1


Di tengah kelaraan dan dukanya. Laki-laki yang amat ia harapkan, ternyata baru saja tersenyum puas di atas ranjang. Kenyataan berbanding terbalik dengan harapan dan angan-angan.


...****************...


__ADS_2