Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM148. Ongkos pesawat


__ADS_3

Begitu jelas dan terinci, diikuti dengan video pengakuan beberapa orang. Meski awalnya Awang tidak tertarik untuk mendengarnya, tapi akhirnya ia menyimak dengan seksama.


Nyatanya, tetap hanya rasa malu yang ia dapatkan mendengar penjelasan dan bukti yang ada. Ia tidak mau ini, ia tidak mau mendengar keburukan tentang adiknya yang ia ketahui tanpa diceritakan oleh orang lain kembali.


Tabiat seorang pemandu lagu, yang bekerja di malam hari memang sudah didengar luas di masyarakat. Dengan Awang mengetahui bukti-bukti tersebut, bertambah malu dan merasa bahwa adiknya begitu bodoh.


Jelas-jelas, dunia Ai memang di lingkungan yang menjajakan diri. Dengan Ai hamil dan meminta pertanggungjawaban pada customernya, terlihat jelas di mata Awang bahwa adiknya begitu bodoh.


Di luar keinginan Givan yang ingin Ai di makan banyak orang. Resiko kehamilan adalah resiko paling besar, bila menjajakan diri sendiri. Harusnya, Ai berpikir untuk menutup resiko tersebut.


Ia tidak berpihak pada laki-laki yang membuat adiknya hamil tanpa pernikahan. Tapi, ia berpikir menggunakan sudut pandang dan pendapatnya sendiri.


Ditambah lagi, ia tidak begitu mempersalahkan hal yang sudah terlewat. Ia tidak ingin mengungkit dan membahas tentang hal yang sudah tiada. Kini, otaknya berpikir untuk menyelesaikan masalah Ai dan hukumannya. Bagaimana caranya, ia harus menyelamatkan adiknya dari hukuman yang menjeratnya.


Ia paham, membawa Ai kabur adalah hal yang paling mudah. Namun, nama keluarganya jelas akan bertambah buruk dengan tindakan itu. Menggantikan diri Ai, untuk menjalani hukum cambuk adalah hal yang paling tepat menurutnya. Masalahnya, apa hal itu bisa dilakukannya?


"Gimana, A?" Nafisah menyenggol lengan suaminya.


Awang menoleh sekilas pada istrinya. Kemudian, ia menatap Adi dan Adinda bergantian. "Aku transparan aja di sini, Mah, Pah. Barangkali, aku bisa menggantikan Ai menjalani masa hukumannya. Ya, aku bakal ambil opsi tersebut. Karena jujur aja, misal menggantinya dengan denda itu hal yang mustahil. Sekalipun kami jual rumah kami untuk di kampung, rasanya tetap tidak akan cukup untuk bayar denda hukuman Ai di sini. Hukuman Ai diganti oleh aku pun, karena kan kondisi Ai baru melahirkan, lagi di masa nifas dia ini," ungkapnya perlahan.


"Kalau hukuman itu, dijalaninya nanti setelah Ai fit dan selesai nifas. Tapi setau Saya, hukuman itu tidak pernah ada ceritanya digantikan. Karena, hukuman itu sendiri bertujuan untuk membuat jera pelaku tersebut. Masalah denda, keknya Ai ini punya denda yang harus dibayar juga." Adinda melirik suaminya. Ia tidak tahu pasti, ia kurang mengingat tentang hukuman yang harus Ai jalankan.


"Gitu ya, Mah? Ya barangkali karena kondisi Ai ini, jadi kepala desa dan ketua RT bisa berpikir ulang." Awang tersenyum samar menanggulangi kegugupannya.

__ADS_1


"Ya nanti misal Ai udah boleh pulang, kita atur waktu ngobrol lagi dan ditengahi pak RT sama kepala desa," putus Adi kemudian.


Awang baru teringat akan pekerjaannya. Awang baru teringat, bahwa mobilnya sudah mendapat muatan dan surat pengantar untuk mengantar muatannya ke suatu tempat.


"Waduh, baru ingat aku, Neng." Awang menepuk jidatnya.


"Kenapa, A?" Nafisah terlihat bingung.


"Mobilnya udah di muatin, kalau gak cepat dikirim ya nanti semennya ngebatu." Awang memikirkan pekerjaannya di kampung.


"Ohh, ya ditelpon aja kantor sama teman dekatnya. Kan biasanya bisa diganti tuh, diserep kah namanya kalau tak salah?" Adinda tahu, karena ayahnya dahulu pernah bekerja di bidang yang sama seperti Awang.


"Iya sih, Bu." Awang langsung memikirkan uang jalan yang sudah digunakannya untuk ongkos pesawat.


Nafisah tahu, apa yang dipikirkan suaminya sekarang. Ia ingin bercerita pada Adinda pun, khawatir disangka bahwa mereka mengeret uang mereka seperti adiknya. Nafisah paham, Ai di sini membebani keluarga dan keuangan Adinda. Apalagi ia tahu, bahwa Givan terlihat lepas tangan pada adik iparnya.


"Kenapa, Wang?" Adinda mengerti dengan kerumitan Awang, meski laki-laki seumuran anak sulungnya itu hanya diam tertunduk.


Awang tengah memikirkan, bagaimana caranya ia menggantikan uang tersebut jika orang lain yang akan mengantarkan pekerjaannya. Barang apa dan perhiasan apa yang bisa dijual, untuk menggantikan uang yang mereka gunakan untuk ongkos pesawat mereka. Sama halnya dengan Nafisah, ia pun merasa tidak enak hati jika harus terus terang mengenai uang tersebut. Ia paham, adiknya sudah banyak menyusahkan di sini. Ia tidak mau, bertambah beban Adinda, karena sudah mempertemukannya dengan adiknya.


"Kayanya, kami pulang lebih cepat aja. Aku kepikiran pekerjaan aku, Mah." Awang tersenyum kaku, dengan menyugar rambutnya.


Adinda memicingkan matanya. "Kan bisa digantikan teman. Kalau kunci kendaraannya ada di kau, kan perusahaan biasanya punya kunci cadangannya. Ayah aku dulunya pernah jadi supir juga kok. Semen kan? Ya, sama. Ayah aku pun mudanya supir semen juga."

__ADS_1


Glek.


Awang menelan ludahnya dan mengusap keringatnya sendiri. Bagaimana caranya ia beralasan, jika Adinda paham aturan mainnya seorang supir kendaraan besar.


"Namanya diserep kan gitu bahasanya? Dicover lah gitu, untuk bahasa umumnya. Almarhum ayah aku dulu, supir dari semen I********t. Beliau dari muda, jadi supir angkutan besar di semen itu. Terus pernah ikut pendidikan security, jadi security beberapa tahun. Pernah ikut juga jadi operator alat berat di tambang batunya, di area dalam semen itu. Punya keahlian, tapi tak punya sertifikat pendukung kek gitu lah, jadi balik lagi jadi supir kendaraan besar. Aku asli Cirebon, rumahnya di dekat perusahaan semen besar itu lah. Terus nikah sama orang Aceh, ikut dia ke sini." Adinda menoleh pada suaminya. Ia mengukir senyum pada suaminya dan mengusap lengan suaminya.


"Wah, dekat aja ya ternyata?" Awang cukup kaget, jika Adinda adalah penduduk asli tetangga kota.


"Iya. Kalau Givan, bukan anak kandungnya Papah Adi ini. Givan anak suami Saya terdahulu, ayahnya orang keturunan Cirebon, tapi aslinya bukan dari Cirebon. Jadi, kakeknya Givan dari ayahnya itu orang Cirebon. Nah, neneknya itu orang Bogor. Ayahnya Givannya dari kecil sampai besar di Bogor. Setelah kakeknya Givan pensiun dari kerjaannya di Bogor, pada pulang tuh ke Cirebon. Kenal aku, nikah sama aku."


Awang manggut-manggut, ia menyimak cerita Adinda. "Oh, aku baru tau nih, Mah. Ayahnya Givan meninggal atau bagaimana itu, Mah?" tanyanya kemudian.


"Ada kok, masih hidup. Cerai pisah dulu sama Saya. Malah, ayahnya Givan ini nikah sama orang Majalengka juga, daerah yang dekat bandara itu nah. Waktu dulu, ya Givan bolak-balik aja. Kadang ngunjungin ayahnya, atau ayahnya yang ditarik ke Kalimantan sama dia di sana. Sekarang sih, ya ayahnya Givan anteng di Majalengka sama istrinya," terang Adinda yang menambah kekagetan Awang.


Jika keluarga Givan ada yang satu kota dengan mereka. Berarti, besar kemungkinan bahwa aib mereka di sini akan tersebar di kampungnya.


"Orang sendiri ya, Mah? Aku juga dari daerah di depan pabrik semen itu, ibu aku punya warung makan, A Awang sering makan di tempat ibu jualan. Ya kenal A Awang pun, karena aku sering layanin kalau dia beli makanan." Nafisah terlihat akrab dengan tawa ringan.


"Oh, ya? Beda generasi sih ya? Jadi aku tak tau nih. Memang anak siapa kau ini?" Adinda tidak mengenali Nafisah karena seumuran anaknya. Tapi, ia mungkin mengenali orang tua dari Nafisah.


Menyebut warung makan yang berada di depan pabrik semen itu. Awang kembali diingatkan dengan uang jalan, yang dipakainya untuk ongkos pesawat mereka berdua.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2