Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM105. Fir'aun


__ADS_3

Namun, kedatangan Putri bertepatan dengan datangnya seorang wanita yang memberi Givan keturunan pertama. Wanita tersebut tidak terganggu dengan kehadiran seseorang yang duduk di teras rumah milik Givan, ia hanya sibuk mengeluarkan beberapa barang bawaannya dari mobil ke teras rumah Key.


Ada kekesalan sendiri, jika ia mengunjungi anaknya. Barang bawaannya terkadang merepotkannya. Tetapi, jika tidak dibawa. Anaknya pasti bertanya apa oleh-oleh untuknya dari Bali.


"Lagi car free day semua, Kak Fira." Ibu Muna memberitahu dengan sopan.


Mendengar nama Fira disebut, Putri merasa familiar dengan nama itu. Benar saja, Fira adalah wanita yang pernah ia temui di rumah Adinda. Perempuan cerewet, yang selalu membuat anak sulung Givan menangis. Hanya saja, awalnya Putri tidak yakin bahwa itu adalah Fira.


Tubuh Fira yang terlihat lebih profesional dan terbentuk, sedikit membuatnya pangling. Pasalnya, ia ketika melihat Fira dulu. Ia berpostur tinggi dan cenderung gemuk dengan lipatan lemak di perut.


Tentu saja, sekarang Fira sudah berpenampilan lebih baik. Karena uang yang mampu ia hasilkan, sudah bisa memodali dirinya layaknya anak sultan. Olahraga rutin yang menjadi rutinitasnya, membuat tubuhnya bak Miss Universe.


"Iya biarin, Bu. Minta air putih dingin aja." Fira menyeka keringatnya, karena kelelahan membenahi barang bawaannya sendiri.


Ingin ia memberikan hanya untuk anaknya saja. Tapi, ia yakin anak-anak Givan yang lain akan meliriknya sinis jika tidak diberikan juga. Ingin ia hanya memberikan uang saja, tapi menurutnya itu terlalu biasa dan juga Givan mampu memberikan uang sebanyak mungkin untuk anak-anak.


Alhasil, setiap ia berkunjung maka akan menghitung jumlah anak-anak yang menjadi cucu Adi's Bird. Jika membawakan baju, ia sudah seperti pedagang pakaian. Jika membawa makanan, ia sudah seperti penghantar katering. Jika membawa pernak-pernik, ia malah teringat pedagang manik-manik yang berkeliling di tempat wisata. Sedangkan, ia membawa semuanya. Bahkan, ia sampai membayar bagasi pesawat agar barang bawaannya masuk semua.


Putri masih enggan menyapa perempuan yang terengah-engah dengan menyeka keringatnya tersebut. Tanpa sungkan, Fira membebaskan kepalanya dari hijab. Kemudian, bersandar pada pintu rumah Key yang tertutup rapat. Ia memiliki waktu istirahat sejenak, sampai rombongan yang selalu membuat pening kepalanya tersebut datang.


Satu hal, yang membuat Fira enggan merebut Key dari Givan. Yaitu, karena ia kurang suka dengan anak-anak. Belum lagi, dirinya yang selalu gagal berkomitmen menjadikannya ingin selalu lebih baik menata kehidupannya dengan keberhasilannya.


Sapuan angin, membuat kantuknya datang. Ia cukup lelah di perjalanannya tadi, istirahatnya masih kurang cukup.


"Ini, Kak Fira." Bu Muna memberikan satu botol berisi air dingin dan satu buah gelas.


"Ya, makasih. Mereka berangkat dari jam berapa, Bu?" Fira segera menuangkan air untuk membasahi kerongkongannya.


"Dari jam setengah tujuh, sama keluarga bang Ghifar juga," jawab bu Muna.


Fira melirik jam tangannya, waktu menunjukkan pukul setengah sembilan pagi. "Biasanya mereka pulang jam berapa, Bu?" Fira meluruskan pandangannya kembali menatap ibu-ibu yang duduk di depannya.

__ADS_1


"Tak nentu, Kak. Soalnya di car free day ini bukan untuk olahraga, tapi untuk jajan. Kadang abis dari car free day, ya lanjut ke swalayan. Ada yang nungguin juga tuh, kakak itu nunggu dari jam tujuh. Baru betul mereka berangkat ke car free day, kakak itu datang." Ibu Muna menunjuk keberadaan Putri dengan ibu jarinya.


Karena terhalang mobilnya dan mobil pink yang tertutup sarung anti air tersebut, pandangan Fira jadi tidak jelas untuk melihat seseorang tersebut. Namun, ia baru menyadari bahwa ada mobil merah yang terparkir di sisi kanan mobil pink tersebut.


Ia sampai berdiri menggunakan lututnya, agar mampu melihat seseorang yang duduk jenuh di teras rumah tersebut.


Alasan terbesar Putri tidak menyapa Fira, karena ia tidak percaya diri dengan kondisi fisiknya yang kini terlihat lebih buruk dari Fira. Ia malu akan hal itu, ia malu jika Fira mengenalinya.


"Ohh....." Fira mengenali wajah tersebut, tapi ia lupa dengan namanya. Namun, ia tahu jika perempuan tersebut pernah menjadi kekasih Givan.


Ia terkekeh kecil. "Pasti mau labrak karena udah dihamili Givan ya, Bu?" Fira berbisik pada ibu Muna.


"Bukan yang ini yang ngaku hamil sih, ini mau nengok anaknya aja katanya." Bu Muna mengatakan hal tersebut, karena Fira adalah kerabat yang bisa menjaga kepercayaan keluarga tersebut. Karena cukup lama ia bekerja pada Givan, ia menjadi sedikit tahu sejarah hidup tuannya tersebut.


Mata besar Fira membulat. "Serius ada???" bisik Fira kemudian.


Bu Muna mengangguk. "Saya permisi dulu ya, Kak? Lagi jemur pakaian soalnya." Bu Muna rasa, ia cukup banyak mengobrol dengan Fira.


Fira tidak berniat mendekati Putri, karena ia merasa tidak memiliki urusan dengan perempuan tersebut. Setelah lelahnya hilang, ia malah mengoperasikan ponselnya untuk menghubungi nomor ayah dari anaknya tersebut.


Sampai tiga panggilan, tidak terjawab oleh Givan. Fira sedikit mengerti, keramaian di car free day tersebut. Kini ia beralih menghubungi ibu sambung dari anaknya, ia ingin memberitahukan bahwa ia berada di rumah mereka.


"Eh, Canda!" Nada cerewet Fira langsung terdengar.


"Apa?" Canda tengah sibuk menggiring anak-anaknya untuk masuk ke dalam mobil.


"Aku ada di rumah kalian, cepat balik lah. Eh, tapi belikan darling dulu. Nitip deh, kalau kau tak punya receh." Fira terkekeh seorang diri.


"Udah beli banyak, nanti tinggal ambil aja. Ini kita mau balik, uang cash sampai habis, nyari mesin ATM sulit, minimarket terdekat diblokade pedagang." Canda duduk di kursi depan sebelah suaminya.


Anak-anak mereka sudah masuk semua ke dalam mobil, berikut dengan pengasuh dan barang bawaan mereka. Mengajak Ghifar adalah alibi saja, agar pengasuh dan beberapa anak mereka bisa ikut pergi tanpa kekurangan tunggangan.

__ADS_1


"Oke, oke. Bilang Key, ada Mamah nunggu di depan rumah Key gitu." Fira sudah rindu senyum manis anaknya. Ia memang tidak suka anak kecil, tapi bukan berarti ia benci dengan anaknya atau anak-anak orang. Ia hanya tidak suka dengan kehebohan mereka dan suara tangis mereka yang mengganggu.


"Kak Key, Mamah nunggu di rumah loh." Seru Canda dengan menoleh ke belakang mengarah pada Key.


"Coba aku mau lihat, Biyung." Key merespon dengan suka cita.


"Video call, Fir." Canda sudah mengarahkan layar ponsel tersebut dengan semestinya.


"Ada Fir'aun kah?" Canda menoleh pada istrinya.


Canda mengangguk, dengan video call yang sedang berlangsung.


"Ya ampun, Mamah Kafir." Key memegangi kedua pipinya dengan raut kagetnya.


Fira memutar bola matanya malas. Ia melepaskan kerudungnya, berujung disebut kafir oleh anaknya sendiri.


"Mamah capek lah, tadi gotong-gotong barang bawaan sendiri. Lepas kerudung sebentar, langsung dibilang kafir." Wajahnya langsung cemberut.


Karena jarak yang cukup jelas, jika Putri tidak bersembunyi. Ia cukup mendengar dengan jelas pembicaraan ibu dan anak tersebut.


Putri langsung mengaca pada kelakuan buruknya yang tidak diketahui anaknya. Jangankan ia tidak berkerudung, ia tidak berpakaian pun pernah. Lalu, ia akan disebut apa jika anaknya tahun akan hal itu? Fira dijadikan contoh olehnya, dengan interaksinya bersama anak kandungnya. Pasti reaksi Jasmine pun tidak jauh beda, ketika melihat ibunya berbuat sesuatu yang kurang baik menurutnya sendiri. Teringat akan ucapan Givan, tentang pola pikir anak yang melihat dari cover seseorang.


"Dari kapan kau udah di rumah, Fir'aun?"


Putri menoleh ke arah tempat Fira, ketika mendengar suara laki-laki yang dihukum sembilan hari yang lalu tersebut.


"Yayah.... Jangan sebut Fir'aun dong! Kan anak-anak kita jadi sebut aku Kafir!"


Canda sudah terbiasa, dengan sikap Fira yang terkadang sering genit pada suaminya tersebut.


Givan hanya merespon dengan tawa lepas. Percakapan dihentikan, karena Fira akan bersiap menunggu kehadiran mereka. Ia tahu, jarak car free day ke rumah Givan tidaklah jauh.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2