Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM141. Sering main


__ADS_3

Givan terdiam tanpa ekspresi. Ia tidak bisa membaca apa yang ada di pikiran anaknya, ia tidak bisa memahami apa tujuan anaknya untuk menikah.


"Nikah?" Givan memastikan kembali, karena barangkali ia salah dengar.


"Iya, besar nanti." Givan mengangkat kedua tangannya mengisyaratkan seolah dirinya sudah tumbuh tinggi.


"Memang tujuan nikah itu buat apa?" Givan ingin tahu bagaimana perencanaan anaknya akan hidupnya sendiri.


"Biar bisa pelukan tiap hari." Hal sederhana yang ada di pikiran anak itu.


Givan garuk-garuk kepala, ia bingung harus bagaimana menjelaskannya. Namun, ia tiba-tiba merentangkan kedua tangannya dan memeluk anaknya. Chandra yang malah bingung di sini, ia tidak mengerti dengan tindakan ayahnya.


"Begini loh pelukan," ucap Givan kemudian dengan melepaskan pelukannya.


"Iya tau, tapi kalau sama Izza kan pasti beda. Kalau ngobrol dengan jarak dekat aja rasanya aneh, Yah. Kek deg-degan gitu loh, kaki kek geli."


Givan bisa menyembunyikan keheranannya dari mulutnya, tapi tidak dari ekspresi wajahnya. Dahinya mengkerut, dengan garukan ringan di kepalanya yang tidak gatal.


Ia mengingat sisa rasa kasmaran yang pernah ia rasakan dulu. Karena saat dewasa, rasa suka terhadap lawan jenis sudah bercampur dengan n****.


"Ohh, iya-iya. Ayah paham, Bang. Kau lihat biyung sama Ayah tiap hari kan?" Givan sudah memahami deskripsi perasaan anaknya.


Chandra mengangguk cepat. "Aku sering lihat biyung peluk-peluk Ayah, gelendotan di lengan Ayah. Tapi Ayah ketawa aja, gemas tepok jidat biyung."

__ADS_1


Givan tertawa geli, mendengar penuturan anaknya. Ternyata interaksinya dengan istrinya, menjadi perhatian anak-anaknya.


"Karena rasanya risih, Bang. Kau diikuti Ra sama Cani aja, rasanya gimana coba? Belum kalau kau lagi serius nyusun balok, terus datang adik-adik kau banyak tanya ini itu. Apa kau tak gemas? Pengen kau marahin, takut nangis kan adik-adik kau? Tapi kalau mereka tetap ganggu kau, kau tak bisa serius kan? Ya mirip-mirip begitu lah rasanya, Bang. Udah menikah itu udah beda, karena ketemu tiap hari. Kita diurus kan, dicucikan bajunya, dimasakin, diajak ngobrol tiap hari." Givan tidak menceritakan tentang hubungan yang begitu intens di atas ranjang mereka. Pikirnya, besar nanti pun anaknya akan tahu sendiri.


"Oh, jadi kalau nikah itu rasanya udah kek ke asik sendiri ya?" Chandra menantikan jawaban ayahnya, tapi nyatanya malah menambah Givan bingung menyusun kalimat.


"Yaaaa.... Mirip begitu lah. Udah tak ada jarak, udah tak malu gitu misalkan mau kentut, ya kentut aja." Givan membuat anaknya tertawa geli.


"Iya ya, Yah. Karena dia belum jadi istri kan, mau kentut itu malu. Malahan, aku pengen terlihat rapi dan wangi terus kek Izza."


Givan manggut-manggut, anak laki-lakinya benar berada di masa pubertas. Ia mengerti, masa itu tidak bisa dihindari. Hal itu, pasti terjadi secara alami dan naluriah.


Namun, ia teringat tentang cerita ayah sambungnya tentang anak pak Dasuki. Ia tidak mau, anaknya sampai salah jalan di masa pubertasnya.


Dari benihnya yang bukanlah laki-laki baik, ia sedikit tidak yakin jika istrinya bisa melahirkan anak baik-baik dari sumber benihnya. Meski harapannya tidak seperti itu, harapannya tentu akan mengacu pada hal yang baik. Tapi, sedikit banyaknya Givan tetap merasa khawatir pada keturunannya yang memiliki jejak petualangan sama sepertinya.


Chandra tidak berkedip, ia seperti kaget dengan ucapan ayahnya. "Kenapa aku tak boleh pacaran?" tanyanya kemudian.


"Kalau tak salah, beberapa hari yang lalu biyung pernah kasih nasehat tentang sebuah hadist. Kek gini bunyinya seingat Ayah, jangan sekali-kali seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang perempuan kecuali beserta ada mahramnya, dan janganlah seorang perempuan melakukan musafir kecuali beserta ada mahramnya. Khalwat ini artinya berduaan di dalam suatu ruangan, dengan mengacu pada hal perzinahan. Pelukan, cium, pegangan tangan dan hal kecil lainnya yang terjadi lewat sentuhan dan keinginan, itu disebutnya zina. Abang tau kan hukuman zina? Kalau musafir ini, perempuan berpergian tanpa mahramnya. Yang ditakutkan ini, jika perempuan berpergian dan tidak ada yang menjaga, adalah pelecehan." Givan malah teringat hukuman khalwat yang ia jalani beberapa hari silam.


"Berarti, aku harus jaga jarak sama Izza?" Chandra seperti mengingat beberapa kejadian yang sudah ia lalui.


"Betul." Givan menjentikkan jarinya. "Tidak sama Izza aja, sama perempuan yang bukan mahram kau juga. Meskipun saudara, kau pun punya batasan dengan saudar. Kek kak Key, kak Jasmine atau Kal. Sama adik-adik pun, Bang Chandra harus bisa menjaga. Selain kesopanan, adab dan etika. Bang Chandra ini, tak boleh sentuh area terlarang adik-adik maupun saudara kau. Kek dada, part belakang ataupun depan, paha, perut. Dijaga intinya, Bang Chandra tak boleh sentuh, Abang pun harus jaga adiknya dan saudaranya biar tak ada yang berani nyentuh juga."

__ADS_1


Chandra yang cenderung penurut, langsung mengangguk dan mengerti petuah bijak dari ayahnya itu. Ia tidak akan melakukan hal-hal yang dilarang agama, etika, kesopanan dan norma-norma kehidupan sosial lainnya.


"Pernah Abang berduaan sama Izza di ruang kelas?" Givan khawatir dirinya telat menasehati anaknya.


Chandra menggeleng. "Tapi aku pernah ajak di makan bakso pas pulang sekolah, aku pun sering main ke rumah Izza sambil jalan berdua. Aku tak pernah pegang-pegang, Yah. Aku tak berani, aku pun takut Izza marah kalau aku gandeng tangannya."


Givan melongo saja, mengetahui bahwa anaknya sudah sering main ke tempat wanita yang dirinya sukai. Meski memiliki sifat Canda, rupanya mental dan keberanian Chandra menurun darinya. Seorang anak SMP kelas satu, sudah berani berkunjung ke tempat perempuan yang ia sukai. Itu memang bukan suatu kebanggaan, tapi hal yang jarang ditempuh untuk remaja laki-laki pada umumnya. Mereka akan lebih memilih untuk bersembunyi, atau mencari kesempatan ketika tidak ada orang.


"Dalam rangka apa main ke Izza?" Givan tidak langsung melarang tindakan anaknya yang main ketika pulang sekolah itu, meski dirinya baru tahu ternyata anaknya pulang sekolah tidak langsung pulang ke rumah.


"Kalau ada tugas ngeprint gitu, Yah. Kalau pulang cepat juga, atau kalau ada tugas banyak," aku Chandra tanpa takut karena pembawaan ayahnya yang sudah bisa memanage emosinya.


Givan manggut-manggut. "Suruh gantian, ajak main ke sini. Abang akrab sama keluarganya?" Hal itu langsung diangguki Chandra.


"Mereka tau aku cucunya teungku haji, mereka pun tau aku anak Ayah. Kadang kalau pulang main dari Izza, aku diantar omnya sampai depan pagar pakai motor. Makanya pas aku kasih bantuan bayar SPP Izza, ayah Izza langsung bilang nanti diganti. Karena tak enak sama Ayah katanya, kan mereka bisa malu."


Givan jadi curiga tentang keluarga Izza yang mengenal keluarganya.


"Iya, main boleh tapi jangan pas pulang sekolah ya? Amit-amit, misal ada kejadian di rencana manusia, Ayah tak tau harus nyari Bang Chandra di mana. Kalau kejadiannya di sekolah kan, jelas gitu kau ada di mana. Nah, kalau kejadiannya lagi di jalan rumah Izza atau di rumah Izza, kan Ayah tak tahu. Lebih baik, Minggu sekolah libur tuh suruh Izza main. Atau, Abang yang main ke sana atas izin Ayah sama biyung. Abang jemput ke sana, terus Izza main ke sini pun tak apa, boleh kok asal jangan ngobrol di dalam rumah. Ngobrol sama Ayah di teras gitu kan, berbaur sama saudara yang lain gitu." Givan menjeda kalimatnya sejenak, untuk mengambil napas lebih banyak.


"Memang, kau kalau ke Izza mainan apa di rumahnya? Ngobrolin apa? Apa Izza punya banyak balok susun juga kek Abang?" Givan mengorek kembali aktivitas anaknya di luar jangkauan matanya.


...****************...

__ADS_1


Sadar gak ya kalau lagi ada peralihan alur 🤭 semoga tetap suka ya😉


__ADS_2