
"Memang itu saran terbaik dari dokternya, Van? Kalau kata Papah sih, ambil tindakan aja sih. Jauh-jauh sekali ke Tangerang, Papah Mamah gimana nengokinnya?" Adi kebingungan melihat Givan mengabari bahwa mereka akan lama tinggal di rumah sakit Tangerang.
"Biar nanti disesar pun, Canda tak kesakitan, Pah. Nanti dia cepat pulih. Di sini belum ada tindakan sesar eracs, di sana sesar udah pasti eracs." Givan membenahi letak barang bawaannya di garasi mobil.
"Jangan banyak-banyak bawanya, Van. Kena biaya nanti di pesawat. Mending nanti beli pakaian di sana." Adinda duduk dengan gelisah di teras rumah anaknya.
"Siapa yang bakal antar kau ke Tangerang sana?" Adi memijat pelipisnya. Orang tua tersebut tidak bisa tenang, mendengar kabar yang mengejutkan ini.
"Aku, Canda sama dokter yang rekomendasikan. Canda berangkat pun pakai infus lengkap, udah pucat betul Canda, Pah. Aku takut, aku khawatir kalau tak cepat kasih opsi ke dia." Givan menutup bagasi mobilnya.
Ia ingin cepat untuk berbenah, karena ia teringat istrinya di ruang inap hanyalah sendirian.
"Opsinya cuma tak usah punya bayi, Van. Tak apa kita tak punya cucu baru juga, yang penting jangan ganti dengan menantu baru." Adi tidak ingin menantunya kenapa-kenapa.
"Doain Canda kuat, Pah. Doain keselamatan kita, Mah. Aku panggil Ghava dulu, suruh antar aku ke rumah sakit." Givan berjalan cepat ke arah pintu samping rumahnya.
"Kita tak bisa ikut, Bang." Adinda teringat akan Ai dan keluarganya yang tinggal di dua penginapan mereka.
Bukan ia memikirkan biaya tinggal mereka yang ia gratiskan. Tapi, ia bingung jika ingin melepaskan Ai begitu saja. Ai masih terikat dengan hukuman, ia tengah menyelesaikan masa kurungan mandirinya.
Lalu setelah Ai selesai menunaikan hukumannya, mereka pasti ikut andil untuk memulangkan mereka. Adinda paham, Ai dan keluarganya tidak mampu untuk membayar tiket pesawat mereka.
__ADS_1
"Iya, Dek. Abang cepat capek, Abang tak mampu keknya untuk perjalanan jauh." Adi tidak sampai memikirkan tentang keberadaan Ai.
Yang ia pikirkan, memang karena usia mereka sudah renta. Mereka tak bisa bebas berpergian, karena terhalang tenaga dan tubuh yang tidak kuat lagi untuk banyak beraktivitas.
"Aku sih masih mampu. Tapi aku mikirin Ai dan keluarganya, aku harus arahkan mereka sampai pulang lagi ke kampungnya. Belum lagi aku janjikan kerjaan untuk Awang, dia pasti harapin itu. Sedangkan, Awang dan Nafisah mikirin juga tempat sekolah anaknya yang harus pindah kalau Awang kerja di peternakan. Serba bingung, aku kasian ke mereka. Hidup udah susah, tambah susah lagi nanti mereka." Adinda seperti melamun dengan memperhatikan mobil anaknya yang terparkir.
"Iya, betul. Abang baru ingat. Jadi, gimana baiknya?" Adi bertopang dagu.
"Baiknya yaaa.... Kita tetap di sini dulu. Kita kontrol Canda dan Givan lewat telepon. Aku yakin, Givan mau yang terbaik untuk istrinya. Dia ambil rumah sakit yang di Tangerang pun, ya demi kebaikan istrinya." Adinda baru mengalihkan perhatiannya ke suaminya.
"Tapi kata Abang sih, Dek. Duh, udah aja gitu ambil jalan tengahnya. Toh setelah ini, mereka bisa ambil keputusan untuk punya anak lagi. Kita ambil keputusan untuk gugurin kandungan Canda pun, ya karena ada alasan medis." Adi tidak mengerti, kenapa anaknya sulit sekali mengambil keputusan tersebut.
Ia amat menyayangi Canda, ia tidak mau kehamilan tersebut merenggut nyawa menantunya. Jikalau memang cucunya belum rejekinya, Adi akan ikhlas untuk itu.
"Adek juga pernah punya kista kan pas hamil siapa tuh?" Adi menyimak cerita istrinya dengan baik.
"Itu istri yang mana?!" Adinda langsung menampakkan wajah seramnya.
Adi tertawa geli, kemudian mencubit pipi istrinya berlainan arah. "Ikut antar Canda ke bandara yuk? Adek masih bisa nyetir kan? Kaki Abang kadang tak kerasa pas nginjak gas atau semacamnya itu." Adi teringat akan luka di tulang kakinya saat dirinya masih belum menikah dulu. Ternyata, efek luka tersebut sangat dirasakan ketika sudah tua.
"Kan Givan minta Ghava antar. Kita tinggal ikut, nanti pun Ghava ikut pulang lagi. Jangan nyusahin aku! Segala nyuruh aku nyetir! Aku masih sanggup, masih bisa memang. Tapi kadang kalah sama mental tua, diklakson aja kaget betul sekarang." Adinda pun tidak mengerti, kenapa kemampuannya seperti tidak berguna di masa tuanya. Padahal, ia tidak merasa begitu tua seperti suaminya. Ya, Adinda merasa bahwa dirinya jauh lebih muda dari suaminya.
__ADS_1
Saat dirinya memiliki keperluan di luar rumah pun, ia selalu meminta anak-anaknya untuk mengantar dan menunggunya selesai dengan urusannya.
"Oh, oke-oke." Adi menahan tawa dengan merangkul istrinya.
"Aku ambil dompet dan ganti sandal dulu. Abang bilang Givan, kalau kita ikut." Adinda meninggalkan teras rumah anaknya.
"Oke." Adi menunjukkan ibu jari tangannya.
Adinda begitu tidak tega, saat memasuki ruangan menantunya. Keringat dingin menantunya dan bibir pucat menantunya, terlihat menunjuk bagaimana lemahnya Canda.
"Mah.... Nitip anak-anak. Kalau sayang sama aku, tolong jaga anak-anak aku. Marahin mereka, kalau mereka berlaku salah. Nasehati mereka, jaga mereka." Canda begitu pasrah akan keadaannya sekarang.
"Tanpa kau minta, Canda. Yang kuat-kuat, ingat tanggung jawab kau masih besar. Terus, apa kau ikhlas kalau kau mati terus suami kau nikah lagi? Kau tak mau kan itu terjadi?" Adinda mendekati brankar menantunya, kemudian ia menyeka keringat Canda dengan tisu.
"Mas Givan tak boleh nikah lagi, Mah. Pasti nanti anak-anak aku ditirikan sama istri barunya nanti." Canda melirik suaminya yang duduk dekat kepalanya.
"Tak ada ceritanya anak-anak ditirikan. Kau lupa kah anak kau itu bisa buat masa demo dari jumlahnya? Ibu tirinya satu, mereka banyakan gitu. Pasti lah tak mungkin, Canda," sahut Givan kemudian.
Adi memelototi anak tirinya. "Bisa tak tenangkan istri kau?! Malah kau bahas tentang anak tiri, ibu sambung segala!" Adi menekan suaranya dengan memukul lengan anaknya pelan.
Givan terkekeh, kemudian ia mengusap kepala istrinya. "Kau hidupku, Canda. Kau mati, aku pun tak mungkin hidup lagi. Sehat-sehat, kita masih punya mimpi besar. Yang kuat, ini kan pilihan kau untuk melahirkan anak bungsu kita. Aku tak pernah maksa kau untuk ambil keputusan ini, aku lebih takut kehilangan kau, Canda. Bukan berarti aku tak sayang sama anak kita, tapi anak besar nanti pasti hidup dengan pilihan hidupnya. Sedangkan kau, sampai kita tua nanti pun kita akan tetap hidup bersama. Kek Mamah sama Papah, yang tiap hari berantem dan minta tolong carikan sandal karena lupa naruh. Drama kita pasti lebih heboh dari itu, Canda. Karena kesabaran aku ketemu sama orang yang nguras kesabaran aku, kita ini pasangan yang cocok betul. Ya kan?" Givan menaikturunkan alisnya dengan tersenyum lebar.
__ADS_1
...****************...