
"Keknya, tak ada. Ceysa melakukan aktivitas berulang-ulang itu, ya hanya berjalan dan masuk ke ruangan dan ruangan lainnya." Awalnya Givan tidak curiga dengan aktivitas tersebut. Namun, semakin diperhatikan Ceysa seperti terlihat orang bingung yang lupa menyimpan barangnya di mana.
"Nah, bukan OCD nih berarti. Kita lagi ngobrol aja, kita klaim itu bukan OCD. Tanpa pemeriksaan dan tanpa pengamatan, ya aku tak bisa klaim bahwa Ceysa benar-benar tak mengidap OCD. Semuanya, perlu pemeriksaan serius pada ahlinya." Putri merasa, ilmu pengetahuannya berguna juga jika ia berniat untuk memperbaiki kehidupannya.
Givan manggut-manggut. "Oke, terus gimana tentang OCDP?" tanyanya kemudian.
Putri memerhatikan rumah anak-anak di sekelilingnya. Ada suara beberapa benda jatuh, yang menarik perhatiannya.
"Itu suara Chandra numpahin balok susunnya. Dia suka dengan mainan mengasah otak itu dari kecil, tapi dia tak misterius kek Ceysa." Givan familiar dengan bunyi balok susun mainan anaknya yang sengaja ditumpahkan tersebut.
"Oke, OCDP itu.... Obsessive compulsive personality disorder, gangguan kepribadian yang menyebabkan seseorang memiliki pola pikir perfeksionisme berlebihan dan memiliki keinginan untuk mengendalikan semua aspek hidupnya. Orang dengan OCPD sangat fokus pada detail, keteraturan, keseragaman, atau daftar tertentu sehingga ia kadang jadi lupa akan tujuan utama melakukan sesuatu. Meskipun sifat perfeksionisme akan keteraturan terkesan baik, efek samping dari perilaku tersebut justru dapat menghambat produktivitas. Saking perhatiannya, ketika orang dengan OCPD melewatkan detail tertentu, ia malah akan menghentikan kegiatannya sama sekali karena merasa gagal. Bisa juga orang dengan OCPD memilih untuk mengulang segala sesuatunya dari awal lagi ketika ada hal yang salah atau terlewatkan. Tentu hal ini akan menghabiskan banyak waktu. Contohnya gini.... Aku mengdiap OCDP, aku lagi menata gelas berwarna putih dan merah. Aku tata dengan tapi, garis lurus, berjejer rapi dan satu warna. Putih semua gitu, terus baru merah semua gitu. Nah, terus datang kau yang ambil gelas warna merah. Kau pakai untuk minum, lalu kau taruh di tempat barisan warna putih. Udah tuh, aku marah dan langsung perbaiki susunan warna itu. Benar-benar perfeksionis gitu, Van. Beda kan antara OCD dan OCDP?" Putri memberikan waktu Givan untuk berpikir.
Givan terdiam sejenak dan memahami contoh yang berbeda tersebut. Ia paham maksud dari penjelasan Putri, ia paham tanpa Putri mengulangi penjelasannya lagi.
"Nah, apa Ceysa mengacu ke arah OCDP?"
Givan langsung menggeleng, mendengar pernyataan Putri. "Ceysa tak melakukan apapun, dia cuma keliling ruangan dan negur kalau ada barang yang hilang, atau letaknya pindah. Dia pun punya kebiasaan nyusun sandal saudara-saudaranya, tapi cuma dirapikan, bukan harus sejajar atau satu garis lurus. Karena banyaknya saudara, cari sandal ini kan jadi ribut. Ada aja yang bilang, kalau sandalnya ini hilang. Jadi, Ceysa tuh yang sering bertugas carikan sandal. Nah, dari kebiasaan itu dia jadi sering susun sandal saudara-saudaranya." Menurut Givan, contoh dari OCDP dan kegiatan menyusun sandal yang dilakukan Ceysa adalah hal berbeda.
__ADS_1
"Untuk barang-barangnya? Di rumahnya sendiri gimana?" Putri membutuhkan informasi lain, agar ia memahami seorang anak kecil yang penuh misteri tersebut.
Givan kembali terdiam, ia mengingat susunan pensil dan susunan barang di rumah anak tirinya.
"Ceysa cukup rapi, dibandingkan Key yang lebih besar usianya dari dia. Key pulang sekolah itu ya sepatu masih di luar, kaos kakinya pun satu di utara satu di timur. Tas, kerudung, ya dia asal letak. Barulah dia ganti baju, cuci tangan dan balik beres-beres sepatu, tas dan kerudungnya. Nah, kalau Ceysa ini dia langsung simpan di tempat yang semestinya. Misal sepatu, ya kaos kaki tuh diambil dan sepatunya di taruh di rak sepatu. Taruh kaos kaki di keranjang baju kotor dan kerudungnya juga, tas langsung digantung di paku. Dia salin, baju seragam langsung di kastok. Barulah dia cucu tangan di kamar mandi. Jadi, Ces ini tak dua kali kerja. Kalau Key, dia harus dua kali kerja. Cukup rapi rumah Ces, mainan pun dia mau bereskan lagi tapi dengan syarat dibantuin pengasuhnya. Karena misal dia mainan ini, ya semua mainanya keluar, karena menurutnya itu ya dia perlu untuk memainkan mainan sebanyak itu."
Putri manggut-manggut menyimak. Menurutnya, tidak ada keterkaitan dari OCD maupun OCDP. Orang yang perfeksionis, belum tentu mengidap OCDP. Apalagi orang yang sistematis dan suka kerapian seperti Ceysa, itu jauh dari gangguan mental yang dibahas tersebut.
"Ceysa tak OCD dan OCDP, dia cuma suka kerapian dan kecerdasannya dipakai di kesehariannya. Dia bakal dua kali kerja kek Key, kalau misal dia ini bukan anak yang cerdas. Aku tak bermaksud ngatain kalau Key bodoh juga, tapi mungkin Key pun punya kecendrungan yang lebih unggul di bidang lain. Tapi, Ceysa paham caranya mengatur segalanya agar waktunya tidak terbuang percuma." Putri langsung menyimpulkan hal ini tanpa keraguan.
"Yayah, udah kenyang. Mau main sama abang."
"Nih minum dulu." Givan membukakan tutup botol air mineral milik Ra yang berwarna biru tersebut.
Ra langsung meneguk air minumnya. "Boleh aku ke abang, Yah?" Binar mata Ra selalu menjadi kebanggaan sendiri untuk Givan. Ia yakin, bahwa ia masih cinta pertama untuk anaknya. Perannya tidak tergantikan, meski Ra memiliki orang tua asuh.
"Boleh, ketuk pintunya dengan sopan. Bilang, ini Ra dan Ra mau main. Ra pun tak boleh ganggu proyek abang, Ra mainan balok susun yang dikasih abang aja." Givan tidak bosan-bosannya menasehati Ra, karena anak laki-laki tertuanya itu selalu mengamuk ketika adik-adiknya mengacak-acak proyek pembangunannya dengan balok susun koleksinya.
__ADS_1
"Iya, Yah." Ra bangkit dan ia langsung berjalan ke arah rumah kakaknya.
Givan memerhatikan dari jauh, bagaimana Ra mengetuk pintu rumah kakaknya dan akhirnya masuk ke dalam rumah tersebut.
Givan melirik nasi sisa anaknya yang sudah tercampur dengan kuah sup tersebut. Ia langsung melahapnya, tanpa jijik meski nasi tersebut sudah mengembang.
"Aku penasaran sama Ceysa, Van." Putri mengungkapkan keinginannya.
"Mau ke Ceysa kah? Jam segini, anak-anak lagi main di dalam rumahnya masing-masing. Mereka baru bangun tidur biasanya." Givan buru-buru menghabiskan nasi sisa anaknya tersebut.
"Iya, ya aku mau tau aja gimana dia. Biar aku bisa kasih saran untuk kau, biar Canda pun tak tersinggung kan kalau kau main langsung bawa dia ke ahli psikolog aja." Putri berharap, kecemasan Givan pada Ceysa bisa terkikis dengan penjelasan dan saran darinya.
Ia tidak akan sepeduli ini, jika Jasmine mengatakan hal buruk tentang perlakuan Givan padanya. Namun, hanya pujian dan didikan yang disiplin yang Jasmine ceritakan tentang ayah asuhnya itu.
"Ayo. Tapi bentar dulu, aku ngucek mangkuk ini dulu." Givan bergegas masuk ke dalam, dengan membawa botol minum milik Ra.
Putri mengangguk samar, dengan memperhatikan Givan yang masuk ke dalam rumah. Putri tahu, tentang Givan yang pasti mencuci piring bekas makanannya sendiri. Givan menerapkan kedisiplinan pada kehidupannya sendiri.
__ADS_1
...****************...