Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM22. Gavin membawa Canda


__ADS_3

"Kenapa, Ai?" tanya Adinda dengan memperhatikan Ai dari ujung kaki sampai kepala.


"Perut aku tak nyaman." Ekspresi wajah Ai seperti begitu kesakitan.


"Pandangan Papah udah berkurang kalau nyetir malam. Mamah pesankan taksi online aja ya?" Adinda melirik suaminya.


"Ada A Givan kan, Mah?" Ai melongok ke dalam area ruang tamu.


"Ya ada, kenapa?" Givan langsung menyahuti.


Gavin masih memperhatikan Ai sejak tadi. Ia masih mengingat, di mana ia pernah bertemu Ai. Ia merasa kenal dengan rupa Ai, tapi ia masih mengingat siapa Ai yang ia kenal.


"A, tolong anterin ke rumah sakit. Perut aku rasanya nyeri." Ai meringis.


Givan merasa, Ai hanya beralasan. Tadi pun, ia menemui Ai. Tapi Ai tidak terlihat kesakitan. Givan yakin, bahwa Ai mengikutinya dari belakang. Karena belum lama ia duduk, Ai sudah menyusulnya di sini.


"Anterin sebentar sana, Van!" Adi menepuk pundak anak tirinya.


Bukan tanpa alasan, Adi hanya khawatir terjadi sesuatu pada ibu hamil tersebut. Ia teringat akan istrinya saat hamil, lalu mengalami banyak keluhan yang membutuhkan pertolongan medis.


Givan melirik tidak suka pada ayah sambungnya. "Ya udah, ya udah." Givan terlihat setengah hati untuk menurutinya.


Givan menggunakan mobil milik orang tuannya, untuk mengantar Ai ke rumah sakit. Namun, ketegangan pun terjadi saat ia sudah mempersilahkan Ai untuk masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


"Mas!!! Keluyuran aja!" Canda menatap marah pada suaminya.


Gavin memperhatikan situasi yang terjadi. Ayahnya yang bergegas untuk menahan pintu tempat Ai duduk di sisi tersebut. Sedangkan Givan yang mengunci pintu mobil dari remote yang ia genggam, dengan lirikan mata ibunya yang seolah memperingatkannya.


"Abis jemput aku, Kakak Ipar Ducky. Anda tenang saja." Gavin berjalan menuju ke arah kakak iparnya yang tengah menatap tajam suaminya tersebut.


Canda marah, lantaran suaminya meninggalkan kamar tanpa meminta izin darinya. Ia tidak suka ditinggalkan tanpa permisi.


Gavin langsung mencium tangan Canda. Kemudian ia memamerkan senyum seramah mungkin pada kakak ipar yang pernah berjualan seblak tersebut.


"Kau pulang? Katanya kuliah di sana?" Canda memperhatikan adik iparnya yang lebih tinggi darinya tersebut.


"Udah selesai lah, Kakak Ipar. Aku ambil master aja, selesai delapan belas bulan sampai dua puluh empat bulan di sana. Mestrado, di sana disebutnya. Aku bisa selesai dalam waktu delapan belas bulan. Program dirujuk sebagai stricto sensu. Kurikulum fokus ke teori, penelitian dan kemampuan yang harus ditunjukkan dalam bahasa asing yang diperlukan. Tesis wajib untuk wisuda, terus nanti bersertifikat Mestre. Pendidikan dasar di sana itu sembilan tahun, di sini kan enam tahun. Pendidikan menengah di sana, sama kek di sini, tiga tahun. Tapi pendidikan kejuruan di sana, kisaran empat tahun. Ada lagi pendidikan orang dewasa di sana, nanti dapat sertifikat untuk lanjut ke perguruan tinggi. Aku pun ikut pendidikan orang dewasa dulu, karena persyaratan masuk perguruan tinggi di sana harus ngangtongin sertifikat Certificado de Conclusão de Ensino Médio Supletivo. Aku lulus MA kan tujuh belas tahun, jadi aku punya senggang waktu untuk memperbanyak sertifikat dulu untuk masuk perguruan tinggi." Givan beradu pandang dengan Gavin. Ia berkomunikasi dengan sorot matanya.


"Memang kebiasaan di sana harus ada sertifikat dulu untuk masuk perguruan tinggi?" Canda terbawa perbincangan Gavin.


"Siswa di sana sering mengambil kursus-kursus tambahan, setelah selesai sekolah menengah mempersiapkan untuk vestibular. Jadi vestibular itu kek ujian untuk masuk ke universitas di sana. Siswa ikut vestibular tes pada berbagai mata pelajaran, ujian bervariasi oleh institusi. Beda-beda setiap universitas di sana, ada nilai minimum untuk bisa masuk ke salah satu universitas di sana." Gavin membawa kakak iparnya itu pulang ke rumahnya sendiri.


Ia pun bingung akan melakukan apa, tapi perintah dari isyarat kakaknya mengatakan untuk membawa Canda pergi dari halaman rumah tersebut.


"NEM kah semacamnya?" Meski ia tidak mengerti, tapi ia sedikit paham pembahasan Gavin tersebut.


Gavin mengangguk. "Iya betul, semacam NEM. Kalau di Indonesia kan, NEM dipakai untuk masuk SMP atau SMA sederajat. Kalau di sana, NEM dipakai untuk masuk perguruan tinggi. Tapi, bukan nilai dari pendidikan sebelumnya. Melainkan, nilai yang didapat dari ujian vestibular itu. Ujian dari pihak perguruan tingginya itu." Gavin membawa kakak iparnya berbelok ke halaman pondok biyung tersebut.

__ADS_1


"Terus, kau udah selesai semua kah?" Canda melirik adik iparnya yang merangkulnya tersebut.


Gavin mengangguk kembali. "Udah, enam bulan yang lalu aku udah dapat gelar Mestre. Mau ambil sarjana gitu, rasanya terlalu lama. Di sana dibagi menjadi dua juga, ada yang umum kek di sini empat sampai lima tahun. Tapi ada yang enam tahun juga, entah tuh aku lupa apa namanya. Pendidikan sarjana umum dibagi dua di sana. Aku pikir, yang penting aku punya basic aja. Ya setidaknya, bahasa asing menguasai gitu. Biar tak terlalu mentah ilmu kek bang Ghifar, terlalu banyak pendidikan pun menurutku buang-buang waktu. Kasian usaha bagian aku kelamaan nunggu."


Di akhir kalimat, mereka tertawa lepas bersama. Mereka melanjutkan obrolan, di ruang tamu rumah Canda. Canda melupakan tujuannya untuk menjemput suaminya, karena kedatangan adik iparnya dari Brasil tersebut.


Di dalam mobil, Ai ikut kagetnya saja saat tiba-tiba mobil terkunci otomatis dari luar. Ditambah lagi, entah percakapan yang tidak ia dengar saat Canda muncul. Padahal, ia datang bertujuan untuk sengaja mengacaukan segalanya.


Ia akan mencobanya esok hari, karena ia merasa hari ini belum berhasil. Keketusan dan sikap tidak ramah Givan, tidak menyurutkan tekad Ai untuk masuk ke dalam kehidupan Givan.


"Besok kau ke rumah sakit sendiri aja! Kau harus dapat suntikan tetanus toxoid tuh." Givan langsung menarik pedal gasnya tanpa perhitungan.


Ai sedikit takut, dengan cara berkendara Givan. Ini bisa saja merenggut nyawanya, sebelum ia mendapatkan kebahagiaan.


"Tadi Canda datang, untuk jemput Aa ya? Makasih ya? Udah mau ngutamain aku, ngutamain anak kita." Ai mengusap lengan kokoh Givan.


Sontak saja, Givan langsung mengibaskan lengan kirinya. Ia tidak bermaksud untuk mengutamakan Ai, dengan mengesampingkan Canda. Hanya saja, ia khawatir Ai tiba-tiba menggebrak-gebrak jendela mobil tersebut. Jika ia melarikan diri dari Ai, dengan meninggalkannya di dalam mobil tersebut.


Givan yakin, Ai tidak akan tinggal diam saat ia melangkah pergi bersama Canda. Jika seperti itu, maka Givan yakin posisinya sudah tidak aman lagi.


Namun, Givan pun enggan untuk menjelaskan teorinya pada Ai. Karena sebanyak apapun Givan berterus terang, Ai tidak akan mempercayainya. Ai akan lebih percaya dengan persepsinya sendiri, ketimbang kebenaran dari mulutnya.


"Jadi kapan aku dikenalkan ke Canda dan anak-anak Aa?" tandas Ai, karena Givan hanya diam membisu.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2