Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM32. Mengadu


__ADS_3

"Canda, apa aku boleh berkunjung ke kau?" Givan memeluk ransel yang berisikan beberapa pakaiannya.


"Ya, boleh."


Dengan jawaban itu, Givan memiliki kesempatan untuk membuat Canda bisa seperti sediakala lagi padanya. Givan akan mencoba untuk membuat rumah tangganya harmonis kembali.


"Aku di rumah mamah ya? Di kamar kita dulu. Kalau sulit tidur, datang ke sana aja ya?" Menurut Givan, rumah orang tuanya akan membantunya menjaga dirinya sendiri tanpa istri.


Canda hanya mengangguk, kemudian ia langsung mencium tangan suaminya seperti saat suaminya akan pergi bekerja. "Mas bebas kok mau apa aja, tapi jangan minta aku untuk tetap di rumah juga."


Givan paling membenci ucapan itu.


"Aku tak apa kau kekang juga, Canda. Kau tau kan, kalau kau akan dilaknat kalau pergi dari rumah tanpa izin suami. Kita masih suami istri, Canda." Givan mengusap rahang istrinya.


"Kalau Mas kasihan aku di akhirat nanti, ya berarti harusnya kita bukan suami istri lagi. Begitu kan?"


Baru kali ini, Givan merasa kalah berdebat dan tidak ingin berdebat dengan istrinya. Ia khawatir ketika mengeluarkan pendapatnya lagi, ucapan itu akan dikembalikan padanya. Givan tidak ingin menciptakan keributan dalam diamnya Canda seperti ini.


"Ya udah, aku izinkan kau keluar rumah. Yang penting jaga diri ya? Ingat anak-anak kita, ingat jagoan kita juga." Givan berlutut dan mencium perut Canda.


Harapannya sama dengan Canda, yaitu memiliki buah cinta berjenis kelamin laki-laki. Meski pada akhirnya akan diberikan perempuan lagi juga pun, mereka tidak akan menolak dan pasti akan tetap membesarkannya.


"Ya." Canda tidak mengusap kepala suaminya, seperti biasanya saat suaminya mencium perutnya.


Givan merasa cukup untuk berpamitan dengan Canda dan buah cintanya. Ia tidak akan melakukan pamit pada anak-anaknya yang lain, karena pasti akan menciptakan kehebohan yang membingungkan anak-anak.


Givan keluar dari rumahnya sendiri dengan berat hati. Ingin melawan Canda, ia takut Canda malah nekat pergi dari dari rumah. Ia tak mau mengambil resiko besar, jika memaksakan inginnya yang tetap berada di rumah.


"Hei, Bang. Mau ke mana?" Sapa Ghavi, salah satu adik kembar Givan yang berada di depan kantor kecil miliknya sendiri.


"Ke mamah." Givan tetap memeluk tasnya, tidak mengenakannya di belakang punggungnya.


Ghavi memahami raut sedih di wajah kakaknya. "Bawa apa itu, Bang?" tanya Ghavi kembali.

__ADS_1


Namun, tidak dijawab oleh kakaknya itu.


Kehadiran Ai di teras rumah orang tua Givan tersebut, membuat Givan ragu menjadikan rumah orang tuanya untuk tempatnya pulang. Namun, hanya rumah orang tuanya yang paling dekat dengan rumah yang Canda tempati.


"A...," sapa Ai dengan senyum yang amat lebar.


Sayangnya, tidak disahuti oleh Givan. Ia melepaskan sandalnya, dengan berjalan masuk ke dalam rumah.


Sampai ia berpapasan dengan ibunya yang baru keluar dari dalam kamar, Givan langsung memeluk tubuh ibunya yang melahirkannya tiga puluh sembilan tahun silam itu. Givan melepaskan rasa lemahnya pada ibunya.


"Mah, aku diminta pergi dari Canda." Suara Givan begitu kencang dengan aduan isakan dewasanya.


Adi panik, ia yang berada di halaman belakang langsung berlari masuk ke dalam rumah. Ia berpikir terjadi pertumpahan darah, karena suara tangis lepas itu.


"Ada apa?" Adi bingung melihat anak sambungnya memeluk istrinya begitu erat.


"Coba ke Canda dulu, Bang." Adinda melihat ke arah suaminya.


Ia mengusap-usap punggung anaknya yang sesenggukan pada bahu istrinya. Anak sulung yang begitu kuat, berpikir matang, sombong dan memiliki gengsi tinggi itu terkenal tidak pernah menangis. Namun, kali ini ia melihat sendiri anak sulungnya begitu lepas menangis seperti anak kecil.


"Diusir Canda katanya." Adinda pun kebingungan di sini.


"Loh? Kok bisanya diusir dari rumah sendiri?" Adi tidak habis pikir, anak sulungnya kalah dari menantunya yang pandai mengadu dan menangis tersebut.


"Cobalah ke sana, Bang! Aku urus Givan dulu." Adinda membawa anak sulungnya masuk ke dalam kamarnya.


Dengan menggaruk kepalanya, Adi keluar dari rumahnya. Tetapi, ia kembali dikagetkan dengan sosok perempuan berkerudung hitam itu.


"Ya ampun! Udah dikasih tau, jangan pernah mejeng di depan rumah begini. Kalau mau berkunjung, ya datang dan bertamu dengan sopan. Jangan pernah mengumbar penasaran orang lain begini, Ai!" Suara tegas dan keras itu mengejutkan Ai.


Ia kebingungan mendengar tangis pecah tadi. Tapi ia tidak berani untuk menimbrungi dan menanyakan hal tersebut.


"Aku udah ketuk pintu beberapa kali, udah assalamualaikum berulang-ulang. Tapi tak ada yang nyahutin, tak ada orang-orang." Cukup lama Ai di sini, sejak Canda keluar rumah dan akhirnya memilih untuk berbelok ke rumah Ghifar.

__ADS_1


"Ada perlu apa sih? Sering betul ke sini?" Adi merasa risih dengan kehadiran perempuan muda yang sering datang ke rumah tersebut.


"Aku ada perlu sama mamah, Pah." Ai menghadap Adi.


Adi gelang-gelang kepala. "Ck.... Bisa di chat aja! Udah, sana pulang!" Adi mengusir tamunya.


Ini bukan pengusiran pertama yang ia dapat dari ayah di rumah tersebut. Menurutnya, itu hal yang sudah biasa karena watak keras Adi.


"Ya, Pah." Ai tertunduk dan langsung bergegas meninggalkan rumah itu.


Itu semua hanyalah alasannya saja. Satu yang ia tunggu setiap saat adalah, ingin berbicara langsung dengan Canda. Ingin bertemu dengan Adinda hanyalah alasannya saja. Padahal jelas, dari awal ia tidak mengetuk pintu atau mengucapkan salam. Ia di situ, untuk menunggu Canda datang dengan amarahnya.


Setelah Ai tidak terlihat lagi di pandangannya, Adi langsung bergegas untuk menemui menantunya. Ia ingin menanyakan langsung, akan putra sulungnya yang dibuat menangis lepas seperti itu. Cukup aneh untuk Adi, makanya ia tanpa berpikir panjang langsung mengiyakan perintah istrinya untuk menemui Canda.


"Canda...." Adi memanggil nama menantunya dari teras rumahnya.


Canda yang tengah membasuh wajahnya pun langsung berseru menyahuti, karena ia tahu diri bahwa gerakannya lambat. Jadi, ia mengutamakan agar suaranya sampai terlebih dahulu.


"Ya, Pah. Bentar, lagi di kamar mandi." Canda mengeringkan wajahnya, kemudian ia berjalan dengan hati-hati untuk membukakan pintu rumahnya.


Ia sudah menyangka bahwa pasti mertuanya akan datang untuk menegur. Namun, ia tidak menyangka bahwa yang datang adalah ayah sambung suaminya.


"Ya, Pah." Canda membukakan pintu yang baru ia kunci beberapa menit lalu tersebut.


Adi memandang wajah menantunya yang sudah seperti anaknya tersebut. Ia tidak menemukan wajah penuh emosi atau penuh air mata dari menantunya. Tapi keadaan anaknya sampai menangis meraung, seperti bukan anaknya sendiri.


"Sambil duduk, Papah tak kuat berdiri lama." Adi masuk begitu saja ke dalam ruang tamu rumah tersebut.


Canda mengikuti langkah orang tua yang begitu ia patuhi tersebut. "Masalah mas Givan ya, Pah?" Canda sudah menebaknya.


"Nah, kau tau. Ada apa coba?" Adi langsung membuka pembicaraan mengenai hal tersebut.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2