
"Ammak bilang, nenek sama kakek di sana udah meninggal. Mau sedih aku tuh, tapi kak Hala ngajakin ngobrol tentang Jungkook aja."
Alis Givan menyatu. "Jongkok?"
Jasmine menghela napasnya. "Udah, Ayah tak usah tau." Jasmine memutar bola matanya malas.
"Kapan nenek sama kakek meninggal? Ayah tak dengar kabar itu." Givan pun memiliki banyak pekerja dari daerah kampung halaman Putri, tapi ia tidak mendengar kabar itu. Ia malah meragukan kabar tersebut. Mungkin saja Putri berbohong, untuk menarik perhatian Jasmine.
"Katanya sih baru, makanya ammak balik. Tapi rumahnya udah tak di sana lagi katanya, Yah." Binar mata Jasmine terlihat polos.
"Ya iya, di kuburan dong. Gimana sih kau, Jasmine?!!" Givan menepuk jidatnya sendiri.
Jasmine tertawa renyah. "Eh, iya ya? Tapi tuh, Yah. Ammak bilang, rumah ammak, rumah nenek kakek tak di dekat rumah besar mangge Lendra yang di Makassar. Udah pindah gitu, Yah." Jasmine menjabarkan pemahaman yang ia mengerti sendiri.
Givan manggut-manggut. "Terus, ammak ada bilang apalagi?"
"Bilang aku kok tambah cantik, kerudungnya serasi sama warna baju dan sendal yang aku pakai. Aku dipuji." Jasmine tersenyum lebar dengan memegangi kedua pipinya.
Jasmine senang dengan pujian.
"Hmmm...." Givan meraup wajah anak angkatnya itu. "Nyamuk akan mati karena tepuk tangan." Givan menginginkan secara tidak langsung, agar Jasmine tidak begitu kecanduan dengan pujian.
"Ya udah deh. Ayah belikan aku baju setelan warna pink fuchsia ya? Ini lagi trend di 2022." Jasmine langsung memberikan pandangan pop eyes pada ayah angkatnya.
Givan menarik napas dalam-dalam. "Bilang lah kau ke biyung kau. Tak paham warna Ayah tuh, Dek."
"Ya udah ayo ke biyung." Jasmine langsung bangkit dan menarik tangan ayah angkatnya.
__ADS_1
"Bilang kak Hala dulu sana! Nanti kak Hala nyariin." Givan menunjuk pintu rumah Jasmine yang sedikit terbuka.
"Oke deh." Jasmine dengan ceria berlari ke dalam rumah. Ia izin pada pengasuhnya, untuk ikut dengan ayah angkatnya itu.
Sang pengasuh pun, sampai memastikannya sendiri. Sebelum akhirnya ia mengangguk, mengizinkan Jasmine untuk dibawa oleh orang tuanya.
Seseorang yang mengintip dari sela pagar rumah tersebut bertanya-tanya. Mengapa interaksi Givan dan putrinya amat berbeda? Lalu, siapa perempuan yang keluar dari dalam rumah minimalis tersebut? Ingin bertanya langsung, dirinya merasa belum waktunya untuk keluar. Ia ingin waktu yang tepat, untuk memperlihatkan bahwa kini dirinya sudah bebas.
Drrtttttttttttttttttttt......
Putri tersentak kaget karena getaran di saku celana jeans ia kenakan. Ia merogohnya langsung dan menerima panggilan telepon tersebut.
"Ya hallo." Putri sampai berbisik-bisik.
Ia masih memperhatikan Jasmine yang digandeng pergi oleh Givan. Ia memperhatikan terus menerus, sampai Givan sudah melewati pintu samping penghubung halaman rumah tersebut dengan halaman rumahnya.
"Tolong dokumen dicek dulu! Malam ini bos minta laporannya."
"Iya, siap." Mau tidak mau, Putri langsung bergegas menuju mobilnya yang terparkir di dekat masjid milik Nalendra.
Kebingungan berputar di kepala Ai. Ia bertanya-tanya dalam benaknya sendiri, tentang seorang perempuan yang mengendap-endap untuk mengintip di pagar rumah Givan. Yang Ai tahu, itu adalah rumah milik Givan karena warna pagar dan bentuknya yang sama.
"Siapa dia?" Ia bertanya-tanya seorang diri, dengan memperhatikan Putri untuk berjalan cepat ke dalam mobil.
Putri menoleh, karena ia merasa diperhatikan. Namun, Ai cepat-cepat melanjutkan langkahnya pura-pura tidak melihat keberadaan Ai. Ai berjalan menuju ke rumah orang tua Givan, seolah-olah tidak melihat Putri.
"Orang aneh." Komentar Putri tentang diri Ai.
__ADS_1
Mereka melanjutkan kesibukannya masing-masing. Ai yang mengantarkan daftar kebutuhannya, karena esok pagi ia akan benar-benar merasakan diisolasi oleh dirinya sendiri. Ia pun berpikir, untuk meminta nomor kontak Adinda saja agar ia tidak perlu keluar kamar penginapannya.
Hari-hari dalam kesibukan yang padat. Hari begitu cepat berlalu setiap harinya. Tetapi hari Jum'at ini seperti hari yang buruk untuk Ai. Bagaimana tidak buruk, jika ia kini dibebankan dengan hukuman lagi.
Ia hanya bisa tertunduk menerima, saat Givan menerima dengan kelapangannya.
"Dibebankan kepada Ananda Givan, total lima puluh kali Uqubat Hudud cambuk, dengan denda emas murni sembilan ratus sembilan puluh gram emas dan masa kurung mandiri satu Minggu. Dibebankan kepada Ai Diah, seratus tujuh puluh cambuk. Dikurangi dengan hal-hal bersyarat lainnya, dengan total hukuman Uqubat Hudud cambuk seratus delapan kali dan denda emas murni empat ratus dua puluh gram dan masa kurung mandiri delapan belas Minggu, lalu dipersilahkan untuk meninggalkan kampung."
Tok.....
Setiap orang yang dengan sengaja meminum khamar, diancam dengan Uqubat Hudud cambuk empat puluh kali. Lalu setiap orang yang mengulangi perbuatan sebagaimana yang dimaksud, diancam dengan Uqubat Hudud cambuk empat puluh kali ditambah Uqubat Ta'zir cambuk paling banyak empat puluh kali dan denda paling banyak empat ratus gram emas murni atau paling banyak penjara empat puluh bulan.
Namun, ada beberapa hal yang ditinjau ulang dan dimaafkan jika disertai bukti dan saksi yang kuat.
Sedikit lega untuk Ai, karena hukuman cambuk untuknya sedikit berkurang. Namun, kini ia dibebankan dengan masa kurungan mandiri yang bertambah dua Minggu. Juga, sekarang ia memiliki tanggungan untuk membayarkan denda yang ditetapkan.
Berbeda dengan Givan, yang hukumannya lebih banyak dialihkan untuk membayar denda. Ia tidak mengajukan permohonan untuk tidak mendapat masa kurung, tapi ditambahkan jumlah denda yang ia bayar. Jika Givan tidak mengajukan permohonan tersebut, ia akan diminta untuk melakukan kurungan mandiri selama empat puluh bulan.
Meski jumlah hukuman yang ia dapat lebih sedikit dari Ai. Tapi, kini Adinda menangisi putranya yang divonis mendapat hukuman. Berbeda dengan Canda, yang terus memeluk tubuh suaminya, dengan isakan kecil yang hanya didengar oleh Givan.
"Adapun peraturan yang wajib diketahui......." Acara belum selesai, masih terus dibacakan hal-hal yang menjadi dasar untuk penerima hukuman tersebut.
"Canda, jangan nangis. Tak baik perut kau terguncang kek gitu." Givan mengusap-usap perut istrinya.
Ia harus sempat lebih dulu membawa Canda untuk cek kehamilan, sebelum Minggu depan dilakukan eksekusi untuknya dan untuk Ai. Ia yakin, setelah hukuman diterima ia membutuhkan waktu untuk keluar dari rumah. Di samping karena ia melakukan kurungan mandiri selama satu Minggu, ia pun butuh pemulihan fisik dan mentalnya.
Perintah menjadi kurir Canda, ia akan membayar adiknya untuk melakukannya. Canda tidak boleh sampai kekurangan makanan yang dibutuhkan, apalagi makanan-makanan dengan klaim itu adalah ngidam ibu hamil dan harus dipenuhi. Karena jika tidak, anaknya terus menerus akan mengeces.
__ADS_1
Kini, lamunan menyerang diri Ai. Ia tidak bisa membayangkan, bagaimana sakitnya mendapatkan hukuman tersebut. Beberapa artikel yang ia baca mengatakan, hukuman tersebut dilakukan hanya untuk memberikan efek jera saja. Sakitnya tidak seberapa, tapi malunya akan menjadi tontonan orang banyak di atas panggung eksekusi yang sudah dihias semenarik mungkin untuk mengundang perhatian orang-orang. Namun, tetap saja. Ia terus memikirkan rasanya di atas panggung eksekusi, yang akan dilakukan Jum'at depan tersebut.
...****************...