Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM193. Perdebatan tentang anak-anak


__ADS_3

"Ngobrolin apa nih?" Adi menimbrungi obrolan mereka, setelah mengantar tamunya sampai halaman rumah.


"Ini tentang Zio, Bang. Rasa hormatnya besar ke Canda dan Givan, pas tadi Nadya main tuh," jawab Adinda singkat.


"Oh, pastilah. Apalagi, kalau sama bu Ummu. Dibawa pulang ke Jawa bareng bu Ummu pun dia mau keknya." Adinda duduk di samping istrinya di bawah pohon mangga yang memiliki bangku panjang tersebut.


"Kenapa kek gitu?" Adinda menantikan keterangan suaminya.


"Soalnya bu Ummu pahlawannya, kek lagu nenekku pahlawanku. Siapapun yang marahi dia, yang belain dia cuma bu Ummu. Padahal bu Ummu cuma belain, 'maklum namanya juga anak-anak', tapi itu berarti besar untuk Zio." Adi memahami sudut pandang Zio.


"Iya bukan kek Mamah sama Papah, cuma tau marahin aja. Kek Ra gitu, Aca dianggap ibunya, ibu kandungnya dianggap musuhnya. Sulit didamaikan, sulit disatukan, ribut terus anak perempuan sama Canda tuh." Givan merasa pusing jika dipaksa untuk mengerti tentang anak-anak mereka.


"Ra sih rewel dari lahir. Bingung Mamah urusannya juga harus gimana, gendong begini salah, gendong begitu salah, ujung-ujungnya ngamuk. Yang paling anteng, nurut, patuh itu cuma Chandra, cucu mahal Mamah." Adinda membayangkan rupa cucu laki-laki yang dinantikan selama tiga tahun tersebut.

__ADS_1


"Nah itu, karena kita condong ke Chandra, kita kek tak anggap bagaimana Zio. Khususnya anak Givan, Abang sih ngerasanya Adek beda ke anak-anak Givan dan ke anak-anak Abang. Ini sih pengamatan Abang aja. Padahal, anak Abang juga anak Adek, tapi Adek beda sama Givan dan anak-anak Givan." Adi melirik istrinya dan memandang ke arah lain


Givan langsung memperhatikan ayah sambungnya. "Lebay Papah tuh, segitu aku sampai menjauh juga tapi tetap aku yang kena."


"Abang tau Givan tak ada nurut-nurutnya," timpal Adinda kemudian.


"Nah itu. Karena Givan tak ada nurut-nurutnya, perhatian Adek penuh untuk mengurus anak yang tak nurut ke Adek. Kasih perintah Ghifar, gampang betul. Far ngaji cepat, ambil sarungnya terus pergi ke meunasah sana. Langsung pergi itu anak. Jadi perhatian Adek udah tuh selesai, karena Ghifar langsung pergi, tak nampak di mata lagi. Lah, Givan. Van ngaji cepat, Adek kasih perintah gitu. Bentar aku mandi dulu, mah. Dah tuh, Adek tinggalin lagi Givan di kamar, lima belas menit kemudian, Adek datang lagi kasih perintah. Alasan lagi itu anak, Adek datang lagi ingatin perintah Adek. Tuh, berapa kali lipat perhatian Adek turun ke Givan?" ungkap Adi yang membuat dua orang tersinggung sekaligus.


"Ya karena anaknya tuh tebal telinga, Bang. Bukan karena aku perhatian lebih. Rata semua lah, ke anak aku atau ke anak Abang kan aku perhatian semua." Adinda membela dirinya.


"Abang kan tau Givan kek mana, jangan salahkan aku lah. Abang aja agak lain ke Givan." Adinda menyikut lengan suaminya.


"Tak, Abang tak agak lain. Abang cuma kasian sama Canda, kasian anak-anak Canda. Menantu yang lain sih, anaknya tak sebanyak itu. Mereka pun kuat-kuat, tak selemah Canda. Abang agak lain, karena anak Givan itu anak Canda." Perdebatan suami istri itu berbuntut panjang, karena Adi membela dirinya juga.

__ADS_1


"Ya iya, Abang tuh gitu kalau ke Canda. Padahal Kin adalah garda utama yang selalu siaga waktu Abang kumat dartingnya, Canda cuma nemenin Abang sambil nangis. Tapi, beda perlakuan Abang ke anak Canda dan anak Kin."


Givan garuk-garuk kepala, ia bingung bagaimana untuk menengahi kedua orang tuanya yang tengah beradu pendapat tersebut.


"Ke mana aja kau, Dek?" Adi meraup wajah istrinya. "Adek mana tau gimana Abang nasehati Kal tiap waktu, biar dia buang nasehat jeleknya. Gimana caranya Abang kenalkan agama ke anak-anak yang pandai di ilmu pengetahuan dunia aja itu, Adek tak ikut andil usaha Abang untuk lakukan itu. Adek tak tau bingungnya Abang atur waktu, untuk antar jemput sekolah mereka masa Ghifar masih terpuruk karena ditinggal Kin. Bukan cuma ke anak-anak Ghifar aja, ke anak-anak Ghava, Ghavi, Giska, Icut pun Abang coba adil. Abang harus buang rasa malu Abang setiap kali Abang datang ke rumah anak-anak Abang, dengan menantu yang berpakaian apa adanya di dalam rumah. Abang kek kakek-kakek yang minta dibuatkan kopi, terus duduk aja di teras rumah nunggu cucu-cucu pada hampiri Abang. Berapa kali sehari, Abang bujuk Adib untuk ikut Abang ke ladang? Berapa kali sehari, Abang datang dan bujuk anak-anak Ghavi untuk main di luar atau? Macamnya Athaya sih anak lepas liar dari kecil. Ghava sibuk di studio, dia ke sini sendiri nyari temen. Kadang kesel sama Ghava, tak khawatir anaknya ketenggor motor pas nyebrang sejengkal itu. Dia selalu jawab, Atha bisa dan udah aku ajarkan caranya nyebrang. Percaya betul sama anak kecil, mentang-mentang anaknya cerdas. Belum lagi ke Giska, pagi-pagi Abang mesti absen nanya Giska sarapan dan mandi belum. Kalau belum, Abang rela jagain anak-anaknya, biarin Giska mandi dan sarapan dulu. Dari Giska di rumah sana, sampai dia pindah ke sini, Abang tetap gitu ke Giska. Icut kalau dekat pun, tak luput dari kehadiran Abang tiap hari di dekatnya. Buktinya, Abang sering-sering mungkin telpon Icut tuh. Memang Adek? Masak banyak, bawakan ke Canda. Pasar malaman, ajaknya Canda. Ngajar belanja, ngajaknya Canda. Anak-anak Canda ngerengek, langsung sudi untuk urus anak Canda yang rewel. Anak Canda kan anak Givan juga, tuh mungkin karena alasannya itu adalah anak-anak Givan. Abang sih udah curiga sejak awal pas Adek minta pisah sama Abang, tapi Adek tak mau bawa Ghifar, sampai tega kasihkan Ghifar yang masih merah ke Abang. Memang agak lain Adek ke Givan ketimbang anak-anak Abang yang lain tuh." Adinda langsung terkekeh malu, saat suaminya menyebutkan semua tindakannya yang lebih condong dari istrinya.


"Ya karena Canda istrinya Givan, jadi aku tak tega lihat dibegitukan sama Givan." Adinda masih membela dirinya.


"Udah tuh, memang aku ini patutnya dilebihkan dalam kasih sayang. Karena papah kandung aku kurang sayang ke aku loh, Pah. Dia condong ke anak-anaknya yang lain, daripada ke aku." Givan mengiba untuk melerai perdebatan orang tuanya.


"Kenapa sih harus begitu?" Adi menyorot istrinya dengan tatapan dalam.


"Tak tau, Bang. Tak beralasan apapun. Karena memang Givan kurang nurut aja, jadi ya aku terus datang lagi dan datang lagi. Kalau ke Canda, karena aku tau menantu yang lain sibuk. Sedangkan Giska kan udah bucin betul sama Zuhdi, jalan-jalan, pasar malaman, ke swalayan, belanja-belanja, ya maunya sama suaminya. Sedangkan menantu yang lain kan, mereka punya kegiatan sendiri-sendiri. Canda kan udah pasti pengangguran dan tak punya kegiatan, dia pun selalu mau kalau diajak pergi, ya jadilah kita macam BESTie." Adinda memeluk suaminya saat menjelaskan tentang pandangannya.

__ADS_1


Adi sulit mengerti, jika anak-anaknya memiliki kehidupan sendiri setelah menikah. Yang ia paham, anak-anaknya adalah tetap anak-anak yang membutuhkan peran orang tuanya, meski mereka telah memiliki keturunan.


...****************...


__ADS_2