Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM78. Permintaan maaf


__ADS_3

"Saya percaya dengan ucapan Bang Givan. Tapi sesuai prosedur, ini pun harus disertai bukti jika ada. Jika tidak ada, pengakuan ini diangkat dengan sumpah." Kepala desa tersebut merasa senang, karena Givan tidak mempersulit kasusnya sendiri.


Adinda menyadari ada hukuman lain, yang memberatkan putranya. Namun, ia lebih memilih diam dan tidak mengutarakan. Agar, putranya tidak semakin diberatkan dalam menjalani hukuman tersebut.


"Eh, tapi ada masuk ke ruangan dan hampir melakukannya ya?" Rupanya ketua RT setempat menyadari hal yang Adinda tidak ungkapkan.


"Benar, Pak." Givan mengakui kembali.


"Bisa kena khalwat dan ikhtilath, kena pelecehan s*****l juga. Coba Keuchik lihat ulang tentang poin qanun Aceh tentang hukum jinayat."


Adinda lemas seketika, ketika ketakutan yang ia simpan dalam hati diungkapkan oleh ketua RT setempat.


"Wah, benar juga. Tapi pasti dievaluasi lagi kan itu? Karena dalam kondisi tersebut, ada aktivitas fisik di mana rela sama rela dan juga berc***u ini kan? Bang Givan bilang tadi, hanya sempat mengeluarkan kejan***** tanpa melakukan kegiatan berc***u." Kepala desa yakin, Givan tidak dikenakan pasal berlipat yang berat.


"Kita lihat nanti aja, Keuchik. Yang penting, itikad baik Bang Givan di sini ada. Bang Givan mengaku dan menyerahkan diri aja pun, ini udah poin plus untuk dia." Ketua RT menyinggungkan senyum lebar pada bang Givan.


"Tapi siapkan aja dana, Bang. Untuk dilakukan restitusi, untuk keadilan Dek Ainya." Kepala desa menggulirkan pandangannya pada Ai. "Keluarganya kalau bisa diminta datang ke sini ya, Dek Ai? Kalau keterbatasan biaya, bisa virtual juga."


Apa itu restitusi? Restitusi dalam hukum Aceh, adalah sejumlah uang atau harta tertentu yang wajib diberikan oleh pelaku Jarimah, keluarganya, atau pihak ketiga berdasarkan perintah hakim kepada korban atau keluarganya, untuk penderitaan, kehilangan harta tertentu, atau penggantian biaya untuk tindakan tertentu.


Keluarga Ai tidak tahu apapun tentang keadaannya di sini. Mereka bahkan tidak tahu, bahwa Ai menjadi pemandu lagu di rantau orang. Mereka pasti sangat terkejut, jika mengetahui bahwa Ai hamil tanpa suami.

__ADS_1


"Siap, Keuchik." Givan mengangguk sedia.


"Ada alasan pembenar dan pemaaf juga, Bang Givan. Jadi Bang Givan tenang aja, ada pengecualian kasus di sini, meski Bang Givan ditarik pasal berlipat. Ada uqubat, ada jinayat juga. Mana jinayat ini, bukan satu kasus saja yang diduga dilakukan Bang Givan." Mendengar tekanan untuknya yang sebanyak ini, Givan tidak gentar menghadapi proses hukum yang akan segera naik tersebut.


"Insha Allah Saya siap, Keuchik. Dalam hal ini, Saya pun meminta maaf yang sebesar-besarnya pada istri Saya." Givan menggenggam tangan Canda. "Pada orang tua Saya." Givan menatap kedua orang tuanya. "Juga, pada pihak Ai sendiri." Givan menggulirkan pandangannya pada Ai yang duduk di sofa single tersebut.


Perasaannya tersalur hangat lewat genggaman tangannya pada istrinya. Ia merendahkan harga dirinya dan membunuh sifat sombongnya, hanya untuk bisa tetap bertanggung jawab atas tindakannya dan juga bertahan untuk tidak meninggalkan istrinya dalam keadaan hamil tersebut dalam sel penjara yang dingin.


Adinda menunduk sedih. Haru bercampur dengan kepasrahan dan kekalutan, bercampur dengan tumpahnya air mata tersebut. Jalur hukum negara, yang selalu ia ambil untuk membuat anak-anaknya jera, kini malah salah satu anaknya harus merasakan dipermalukan dengan hukum adat yang berlaku. Sakit tidak seberapa, tapi sejarah dalam kampung tersebut pasti akan turun temurun hingga dewasanya cucu-cucunya.


Cukup dulu ia merasakan ditarik untuk bermusyawarah di balai desa, karena pemerkosaan yang hampir suaminya lakukan dulu. Ia paham malunya, ia masih ingat prosesnya dan sejarah itu tidak hilang di ingatan warga kampung. Meski pada akhirnya, jalan pintas ditempuh untuk menghindari hukuman yang berhak Adi patuhi. Namun, latar belakang tentang jinayat yang berlaku tidak bisa ia lupakan sampai sekarang.


"Waduh.... Kalau Saya berhak, Saya anggap masalah ini selesai saja, Bang Givan. Saya paling tidak bisa, jika keluarga sudah berderai-derai seperti ini." Kepala desa menyadari bahwa ratu di rumah tersebut sedang tidak baik-baik saja.


Canda yang baru bangun dari tidurnya pun, hanya mampu untuk tetap berada di samping suaminya dan memberikan support sebesar-besarnya untuk suaminya. Ia mengerti, hal ini tidak mudah untuk suaminya.


"Tenang, Dek Ai. Kami di sini, mencoba memberikan keadilan untuk Dek Ai. Karena marwah perempuan, di sini sangat dijunjung tinggi. Dengan kasus Bang Givan ini juga, Bang Givan mencoba mempertanggungjawabkan perbuatannya pada Dek Ai. Tetapi, lewat cara hukum yang berlaku di sini." Ketua RT setempat memberitahukan hal yang mungkin tidak Ai pahami di sini.


"Tanggung jawab kan bisa secara kekeluargaan, Pak. Menurut Saya, tidak ada keuntungan juga untuk Saya, karena Saya tetap mengandung tanpa suami jika begitu. Hukuman untuk A Givan, hanya seperti denda dan cambuk saja kan? Nah, mana keadilan untuk Saya jika begitu?" Ai mencoba mengeluarkan sisa amunisinya.


Kepala desa dan ketua RT setempat saling memandang. Kemudian, mereka memperhatikan Ai dengan wajah bingung.

__ADS_1


"Sekalipun mengandung anak Bang Givan, Dek Ai bakal kena hukuman juga setelah melahirkan, karena berbuat zina. Jangan lupakan juga, di sini kekuatan hukum Dek Ai pun ditanyakan. Dek Ai minum minuman keras, Dek Ai juga mengandung sebelum menikah. Belum lagi, kasus fitnah itu. Keputusan akan diberikan Minggu depan, meski hukuman nantinya diberikan setelah melahirkan. Ini hanya yang dimengerti saya saja, belum nanti jika diproses sama pihak yang berwajib." Kepala desa membantu menyadarkan posisi Ai di sini.


"Terus maksudnya keadilan untuk Saya yang bagaimana, Pak?" Ai teramat bingung dengan persoalan yang ia bawa sendiri, ini seperti buah simalakama untuknya.


"Ya nanti biar hakim yang memutuskan itu, Dek Ai. Yang jelas, tidak dengan pernikahan karena Bang Givan tidak menghendaki." Kepala desa menoleh ke arah Adi. "Maaf-maaf ya, Teungku?"


Adi segera mengangguk.


"Kasus lama Teungku Haji diadili dengan pernikahan, karena desakan keluarga hingga bisa lepas dari hukum yang berlaku di sini. Itu masih masuknya kasus desa, yang kebetulan masa itu mungkin keuchiknya banyak tak enak hatinya pada keluarga Teungku." Kepala desa membaurkan tawa, agar ucapannya tidak membuat Adi tersinggung.


Adi manggut-manggut dan terkekeh kecil. Adi menyadari, bahwa keluarganya malah membeli hukum tersebut, agar dirinya tidak dipermalukan di depan warga karena hampir memerkosa seorang janda beranak satu.


"Atas dasar suka sama suka juga," timpal Adi dengan memamerkan giginya yang sudah bercampur dengan gigi palsu yang begitu mirip dengan tulang asli tersebut.


"Mana ada!" Adinda memukul pangkuan suaminya.


Suasana berangsur membaik, dengan gelak tawa yang disiram dalam pembahasan hukum tersebut.


"Cuma tak mau ngakuin aja perempuannya, Keuchik. Keknya sengaja bikin aku kena cambuk dulu, untungnya meleset," tambah Adi semakin mencairkan es balok yang begitu membuat emosi terkuras tersebut.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2