
"Ken kenapa, Bu?" Givan menunggu bu Ummu melanjutkan ucapannya.
"Ken kan duda, gak ada hubungan ipar juga. Ibu ngerasa, kayanya kedekatan mereka gak wajar." Ibu Ummu mengkhawatirkan anak gadisnya.
"Bang Ken tak cabul juga kok, Bu. Aman aja, Bu." Givan begitu mempercayai Kenandra, di luar kenyataan bahwa Kenandra tetaplah laki-laki yang memiliki hormon normal.
"Bukan takut dicabuli juga, Van. Tapi sebaiknya jangan kasih mereka waktu untuk mereka bisa lebih dekat lagi. Jangan suruh Ria pergi bareng Ken lagi, Van. Ibu gak suka." Bu Ummu memperhatikan wajah menantunya dari samping.
"Ohh...." Givan mengangguk beberapa kali. "Iya, Bu," lanjutnya kemudian.
Kemarin pun, bukan kehendaknya agar Ria ikut bersama Kenandra. Ia cukup bingung untuk itu, ia hanya bisa menyetujui saja tanpa berpikir panjang. Karena pada dasarnya, ia mempercayai Kenandra penuh. Maka dari itu, ia tidak sedikitpun berpikir bagaimana Ria jika bersama duda panas tersebut. Apalagi usia Kenandra yang cukup jauh dengan Ria, pasti akan berpikir bahwa Ria adalah anak kecil.
"Apa kau berniat jodohin mereka?" tanya bu Ummu kemudian.
Jelas Givan menggeleng cepat. "Sama Ghifar aja dulu, aku cuma iseng nawarin Ria. Apalagi sama bang Ken, tak mungkin lah, Bu. Duda, dapat model Ria. Pasti dia merasa nambah anak, bukan punya istri sambung." Ia membayangkan bagaimana jika Ria diminta untuk mengurus anak-anak sang duda.
"Nah, itulah." Bu Ummu memandang jalanan di depan matanya yang begitu sepi. "Ria jangan dihidangkan duda, apalagi yang ada anak. Ria sih, Ibu yakin dia bakal mau aja. Waktu didekati duda anak satu teman kamu itu, ya dia nerima aja kan? Kalau kau gak ngelarang, mungkin udah tuh dikawini si duda." Bu Ummu teringat kejadian beberapa tahun silam.
"Aku cuma coba jaga dia aja, Bu. Masalah laki-laki, sebenarnya tergantung selera Ria aja. Cuma kadang seleranya itu, bukan patokan aku. Makanya, kadang aku larang. Sering juga aku minta dia pulang, kalau jalan sama laki-laki yang tak cocok kriteria aku pun, aku tau, ya aku minta dia balik." Givan mencoba memberitahu bahwa dirinya tidak mengekang kebebasan Ria, hanya saja ia mencoba memfiltrasi pilihan Ria.
"Sama siapa dia sering jalan? Gak pernah anteng di rumah, jadi Ibu sudah ngecek. Kadang ditelpon, katanya lagi di Canda. Ditelpon lagi, ada di mamah Dinda, ada di kantor, ada di Novi, ada di Ahya. Keluyuran aja tuh, jadi gak tau dia dibawa pergi sama laki-laki mana." Bu Ummu sedikit kewalahan mengurus anak gadis yang tidak pernah makan bangku sekolah tersebut.
"Tenang aja, Bu. Insha Allah dia aman kok, keluyuran pun di rumah saudara. Aku pun tak sedikit kasih dia wejangan, kasih dia pemahaman." Meski Givan merasa mengajari Ria dunia bebas, tapi ia pun mengajarkan adik iparnya norma-norma kehidupan yang berlaku di masyarakat. Agar nama Ria, tidak dipandang buruk oleh masyarakat.
"Dia gak pernah pacaran kah?" Bu Ummu tidak tahu sama sekali, jika Ria pernah dekat dengan beberapa laki-laki.
__ADS_1
"Pernah, Bu. Tapi aman aja kok, pacaran sehat." Givan sengaja mengatakan seperti ini, agar pemikiran negatif bu Ummu tidak bermunculan.
"Gak kayak kamu kan?"
Givan tertawa sumbang. "Aman, Bu. Ria perempuan baik kok, aku usahakan dia tak merugi." Givan pun tidak lupa mengajari Ria untuk menjadi perempuan yang mahal.
Bu Ummu manggut-manggut. Ia ingin menarik problem rumah tangga menantunya dan anaknya pun, ia sedikit sungkan karena ia tahu sendiri tentang kasus Givan yang akan segera naik ke permukaan.
"Eummm.... Bu, barangkali nanti aku sibuk beberapa hari urus hukuman aku. Nanti sering-sering ke rumah ya? Sering-sering tengokin Canda, karena barangkali dia malah anteng rebahan aja." Givan mencoba menitipkan istrinya, bila mana ia tidak bisa selalu ada untuk Canda.
"Kok ngomongnya gitu, Ibu kan memang sering-sering ke rumah kamu, sehari ada tiga kalinya. Kasih cicip masakan Ibu, tengokin cucu-cucu Ibu, kasih mereka uang saku juga." Perihal uang saku, itu adalah urusan ibu Ummu dan cucu-cucunya. Canda memasrahkan beberapa nilai rupiah dalam jumlah besar pada ibunya, untuk dibagi juga sebagai uang saku anak-anaknya.
Canda melibatkan ibunya, karena anak-anaknya sering kesulitan membangunkannya yang tengah tertidur untuk meminta uang saku. Di luar uang saku, anak-anaknya bisa meminta uang jajan lain pada Canda jika matanya tengah terbuka lebar. Jika ia dalam kesibukan juga, anak-anaknya pasti akan berlari ke neneknya dari ibunya untuk meminta uang jajan mereka.
Namun, tetap ada saja anak-anak yang meminta pada Adinda. Meski Canda tidak menitipkan uang padanya. Anak-anaknya tetap merecoki neneknya dari ayahnya tersebut, untuk setiap waktu aktivitas dan kebutuhannya.
"Bismillah aja, Van. Kalau kamu ketakutan Canda kenapa-kenapa terus, malah takutnya kenapa-kenapa beneran." Bu Ummu mengambil ucapan klasik orang tua di zamannya dulu.
"Iya sih, Bu." Givan lebih mempercayai bahwa itu adalah ilmu sugesti akan hal-hal yang dipercaya akan terjadi, maka akan benar terjadi pada kita.
"Van...."
Givan langsung menoleh ke arah kanan dari tempatnya. Di sebelah ruko tersebut, mangge Yusuf tengah melongok ke arahnya.
"Ya, Mangge. Gimana?" Givan bangkit, kemudian ia menoleh ke arah ibu mertuanya. "Aku ke mangge dulu, Bu." Givan menunjuk orang tua dari mantan suami dari istrinya.
__ADS_1
"Ya, Van." Bu Ummu menoleh ke arah mangge Yusuf.
Givan mengayunkan kakinya, kemudian ia sampai di ruko beras tersebut. "Gimana, Mangge?" Givan memperhatikan wajah kalut mangge Yusuf.
"Putri itu dipenjara berapa tahun?"
Pertanyaan itu, langsung memunculkan kerumitan Givan bahwa Putri keluar dari masa hukumannya lebih cepat.
"Tujuh belas tahun, Mangge." Givan sedikit lupa untuk mengingat benar atau tidaknya masa hukuman Putri.
"Dari kejadian itu, sekarang udah berapa tahun?" Mangge Yusuf pun bersiap menghitung tahun-tahun yang sudah mereka lewati.
"Eummm, kurang lebih tujuh atau delapan tahun." Givan menekuk beberapa jemarinya.
"Mangge dapat email, dari alamat email yang ada nama Putrinya. Dia rencana mau jemput Jasmine katanya."
Menegang.
Givan kaku di tempat, mendengar mantan kekasihnya yang bukan tandingannya tersebut. Kenekatan perempuan itu, menambah momok menakutkan penghancur rumah tangganya.
"Aduh, Mangge." Givan langsung memijat pelipisnya.
"Kalau bisa, konflik Putri ini nanti aja. Konflik Ai belum selesai, aku udah terlanjur mumet ini." Givan menjambak-jambak rambutnya sendiri.
"Nih, biar Mangge tunjukkan email masuknya." Mangge Yusuf meninggalkan Givan di teras ruko beras tersebut.
__ADS_1
...****************...