
"Dari mana, Ai?"
Ai tersenyum kaku, setelah melihat pemilik penginapan baru keluar dari samping kamar penginapan. Waktunya tepat sekali, ketika ia tengah memutar kunci kamarnya.
Ia berpikir, jika ia lebih cepat sedikit saja. Sepertinya, ia tidak akan berpapasan dengan Adinda.
"Dari rumah sakit, Mah. Kan pagi tadi aku izin." Senyumnya sudah terlihat lebih alami sekarang.
Adinda manggut-manggut, lalu melirik ke arah tentengan yang Ai bawa. Footwear, nama toko yang tercetak tebal di paper bag tersebut.
"Mantap rumah sakit zaman sekarang, ada toko sepatunya juga," sindirnya terang-terangan.
Ia langsung tersenyum amat lebar, mengarah pada Ai yang tengah berdiri kaku di hadapannya.
"Boleh minta buku KIA-nya?" Adinda menengadahkan tangannya pada Ai.
Senyum lebar tersebut, nyatanya membuat Ai takut. Padahal, terlihat begitu indah dan ramah. Jika tanpa senyum, wajah ibu berusia lima puluh enam tahun tersebut terlihat judes dan tidak ramah.
"Buat apa, Mah?" Nyatanya, Ai makin mengempit buku tersebut di lengannya.
"Lihat perkembangan bayi kau." Dengan alasan itu saja, buku tersebut mudah berpindah tangan. Karena Ai berpikir, bahwa memang Adinda ingin tahu keadaan cucunya.
Namun, siapa sangka nyatanya Adinda hanya melihat tanggal yang tercatat di buku berwarna pink tersebut. Tanggal hari ini, tidak masuk ke daftar catatan tentang cek up kandungan tersebut.
Ai benar-benar mengelabuinya. Uang yang diminta untuk cek kandungan, nyatanya teralihkan ke arah sepatu incaran Ai.
__ADS_1
"Ai, kau pulang aja ke Jawa ya? Aku kaku hati ngadepin kau." Adinda sudah tidak menyebut dirinya mamah lagi.
Sebelumnya, ia bisa begitu ramah pada Ai. Bahkan, Adinda sampai begitu iba karena kejahatan anaknya. Tetapi, ternyata simpatinya disalahgunakan.
"Kok gitu sih, Mah?" Ai terkejut dengan perkataan Adinda secara mendadak tersebut.
"Aku paling tak suka kalau dibohongi gini, Ai." Adinda mulai menampakkan wajah garangnya.
Ai berpikir, bahwa Adinda menyangkanya pura-pura hamil. Jelas, itu tidak benar sama sekali.
"Aku beneran hamil, Mah." Ai mengusap perutnya yang membuncit tersebut.
Adinda menghela napasnya, ia memejamkan matanya sejenak. Emosinya mulai menguasai dirinya, tapi ia sebisa mungkin mengontrolnya.
"Kau minta uang, mengiba kau minta cek kandungan kau karena khawatir dengan janin kau karena kau selalu stress. Dikasih uang, bukannya cek malah beli sepatu. Aku tak mau ngomong ini itu, buka semua rencana kau, aku malas berurusan sama kau. Tapi gini aja, misal bayi kau kenapa-kenapa, kau tak punya alasan lagi untuk tetap di sini. Kau peralat bayi kau, untuk ego kau sendiri. Masanya bayi kau kenapa-kenapa, kau tak punya senjata lagi. Banyak kau menuntut ini itu, capek kasihan sama kau tuh. Lebih baik, kita tempuh jalur hukum aja ya? Mengganggu kenyamanan banyak orang begini, dikiranya tak kena pasal kah? Pelakor itu kena pasal, mengusik ketenangan orang itu kena pasal." Dalam kalimat yang berbelit-belit ini, Ai memahami bahwa Adinda sudah mengerti tujuannya berada di sini. Dengan benih ini yang menjadi alasannya, kini membuatnya khawatir juga jika bayi ini kenapa-kenapa, lalu berimbas pada rencana awalnya.
"Dua-duanya! Kau pun, dia pun!"
Ai melongo saja, ia tidak percaya jika Adinda berani mempolisikan anaknya sendiri. Sudah pasti, itu hanya gertakan saja.
"Aku tak percaya, Mah. Aku tau gimana sayangnya Mamah ke a Givan, tak mungkin Mamah penjarakan anak sendiri."
Adinda berpikir, mulai saat ini ia sudah tidak mau mengasihani Ai lagi. Rumahnya akan selalu tertutup, untuk manusia bernama Ai.
"Kita tengok nanti ya? Aku malas banyak debat sama kau, otak kau tak waras! Cara pikir kau aneh. Udah ketahuan, nampak jelas masih bersikukuh aja!" Adinda meninggalkan penginapan miliknya tersebut.
__ADS_1
Gelak tawa anaknya yang berada di salah satu kamar yang cukup mewah, mengundang rasa penasarannya. Apalagi, pintu kamar tersebut tertutup rapat.
Ia teringat Gavin masih ada di sini, anaknya tersebut belum kembali ke Brasil. Namun, apa perempuan yang pernah ia ceritakan ada di sini juga? Adinda akan membahas hal ini dengan suaminya dan Gavin juga, ketika sudah berada di rumah.
Ketetapan Adinda untuk tetap menutup pintu rumahnya untuk Ai tersebut, berimbas pada ketua RT setempat yang bertamu setelah satu bulan kemudian. Sore hari ini, menyatukan rasa malu Adinda dan suaminya karena sampai mendapat teguran lagi.
"Ini perempuannya mengaku sudah menikah siri, Teungku. Jika memang begitu, ya tolong diurus juga. Setidaknya, lapor ke kami begitu, jika memang bang Givan ini punya sinyak baro." Dengan sopan, ketua RT tersebut fokus berbicara pada Adi Riyana.
"Silahkan Bapak mau percaya atau tidak, nyatanya Saya tidak punya menantu baru."
Kebenaran akan Gavin yang memiliki istri rahasia pun, nyatanya belum terungkap sampai sekarang. Bahkan, sampai Ajeng dan putranya kembali ke Brasil untuk melanjutkan pekerjaannya. Sedangkan Gavin, ia sementara di sini untuk mencari kesempatan yang pas mengatakan hal tersebut. Gavin tidak bisa menahan Ajeng tetap di sini, karena wanita tersebut memiliki tanggung jawab besar dalam usaha pasar kopi milik ibunya di Brasil.
"Jangan buat Saya bingung, Teungku. Laporan warga bukan cuma sekali aja, bahkan Saya pernah tanyakan perempuannya langsung. Kalau konfirmasi dari Teungku berbeda, ini mana yang betul? Soalnya, sumber ghibah ya problem satu ini. Kita sama-sama paham, kalau ghibah pun kena sanksi di sini."
Adi menghela napasnya dan memandang istrinya. Rupanya, Ai adalah ular berkepala dua.
"Apa mau sidang di desa aja, Teungku? Bang Givannya, perempuannya, saksi yang mendengar langsung cerita perempuannya dan yang punya buktinya juga. Biar diselesaikan baik-baik, Teungku. Jika memang ada kekeliruan, ya kami luruskan. Jika memang ada yang bersalah, ya kami jembatani sampai ke pihak yang berwajib."
Rumit menuntut.
Adi langsung berpikir, sudah pasti anak tirinya yang akan disalahkan di sini. Anak tirinya yang pasti akan mendapatkan hukuman.
"Memang pengakuan perempuannya bagaimana, Pak?" Adi mencoba mengulik lebih dalam tentang informasi yang diumbar Ai.
"Nikah siri udah lama, terus bang Givan kabur. Tahun ini mereka ketemu lagi, terus mengandung lah si perempuan ini. Udah mengandung, tapi bang Givan dan Ibu Dinda katanya lepas tangan. Udah sebulanan juga, katanya dibiarkan dan tak dijatah. Saya yang kenal Teungku dan Bu Dinda, kan jelas tak mungkin begitu. Dengan informasi aneh-aneh yang dia sebarkan, pandangan masyarakat tentang keluarga Teungku kan jadi jelek. Meski ada juga yang tak percaya, tapi banyak juga yang termakan omongannya. Di sudut rumah, pasti ada aja obrolan tentang begini. Ghibah udah di setiap teras rumah, kan jadi kampung kita tak berkah juga, Teungku. Untuk kenyamanan Teungku, untuk kenyamanan warga juga, lebih baik masalah ini Kami tengah." Penjelasan dari ketua RT begitu jelas, diikuti dengan saran yang selalu diambil untuk menyelesaikan masalah itu.
__ADS_1
Adinda menyangka, anaknya masih mensupport finansial Ai, kala dirinya lepas tangan seperti ini. Tapi ia meragu kembali, apa benar anaknya tidak memberikan uang? Pasti itu adalah akal-akalan Ai saja.
...****************...