
Sebelum Adinda mencurigai kamar sebelah. Lebih dulu ia mendengar suara aneh, seperti beberapa kali pintu tertutup dan terbuka. Kemudian, suara sepasang manusia yang tengah tertawa bersama. Sebelum akhirnya, suara itu begitu mengganggu karena lenguhannya terdengar familiar di telinga Adinda.
Ketukan berulang dilakukannya para pintu kamar tersebut. Ia sengaja tidak mengucapkan salam, atau mengeluarkan suaranya, karena khawatir penghuni kamar tersebut mengenali suaranya.
Sedikit keanehan pun terjadi. Ia sejak tadi bertanya-tanya soal pegawainya yang mengurus penginapannya ini. Kenapa bisa ada manusia yang masuk dalam satu ruangan bersama, lalu memadu kasih di siang hari seperti ini. Ia akan memaklumi orang tersebut telah menikah, jika yang membuka pintunya bukanlah Ria.
Pandangan kaget tak henti-hentinya menyelimuti sorot yang Adinda arahkan ke arah Ria. Wajah polos Ria yang tengah tersenyum kaku tersebut, tidak mencerminkan lenguhan yang dilakukan di dalam kamar, hingga terdengar ke telinganya tersebut.
"Sama siapa kau?" tanya Adinda dengan mendorong pintu kamar tersebut.
Ia memaklumi pegawainya yang membiarkan Ria mengambil kamar dengan seorang laki-laki, karena mereka menganggap Ria adalah anak dari keluarga pemilik penginapan tersebut.
Nafisah masih sibuk membereskan kamar penginapan Ai. Ia tidak bisa melihat ruangan yang begitu kotor karena ulah adik iparnya itu.
Ria tidak menahan saat pintu kamar tersebut terus didorong. Pemandangan laki-laki matang yang atletis tengah membenahi resleting celananya, jelas mengungkapkan kejadian apa yang terjadi sebelum ia masuk ke dalam kamar inap ini.
Keith tersenyum manis, ia mengenal siapa perempuan berumur yang terbungkus wajah muda itu. Ia tergesa-gesa memakai kaosnya, kemudian berjalan ke arah pintu.
Ia mengulurkan tangannya, kemudian menunduk kepalanya. Yakin dengan tangan laki-laki muda itu kotor, Adinda enggan menyambut uluran tangan tersebut. Ia berpikir, tangan laki-laki tersebut baru saja digunakan untuk mengabsen lorong yang tidak terjangkau.
"Kok begitu sih, Mah?" tanya Ria heran, karena Adinda tidak seramah biasanya.
"Cuci tangan belum kau?!" ketus Adinda melirik tangan dan wajah Keith bergantian.
"Ya Allah, Mamah." Keith menegakkan punggungnya, terlihat mungilnya Adinda di depan Keith.
"Sana cuci dulu! Abis dipakai tuh." Adinda melirik kesal pada tangan Keith tersebut.
"Harus steril atau gimana, Mah? Mamah tak kek biasanya sih?" Keith dilanda kebingungan, atas sikap Adinda.
"Kan habis itu." Adinda melirik ke arah resleting Keith sekilas. Lirikan kecilnya itu, cukup memberi pemahaman duda muda yang matang tersebut.
__ADS_1
"Ya ampun, Mamah Dinda! Mana ada, Mah! Dikiranya aku ngobok-ngobok gitu? Boleh kumasuki sih, tak perlu lelah-lelah aku ngobok-ngobok, Mah," gerutu Keith dengan suara keras.
Adinda tertawa renyah, kemudian mengulurkan tangannya untuk dicium oleh Keith. Tanpa menunggu kesempatan itu hilang, Keith langsung bergegas menundukkan kepalanya dan mencium tangan wanita yang dituakan menurutnya itu.
"Sehat, Mah?" Basa-basi Keith kemudian.
"Sehat. Kapan kau datang? Kau bisa nginap di rumah Mamah, tak perlu ambil kamar di sini." Pikir Adinda, gerak-gerik Keith akan terkontrol jika mengambil anak muda tersebut tinggal di rumahnya.
Ia pun sudah berpikir aneh tentang kelakuan Keith di dalam ruangan ini bersama adik dari menantu tertuanya. Ia yakin Ria terjebak dengan Keith, karena setahunya Ria begitu polos untuk merespon seorang laki-laki.
Berbeda dengan pendapat Keith, yang pernah berpikir bahwa Ria adalah wanita yang pandai berkamuflase. Wajah polos dan tingkah konyol Ria, tidak sebanding dengan tindakan Ria jika ruangan tengah sepi. Bahkan, ia selalu tidak sengaja terbangkitkan jika Ria berada di satu ruang kerja yang sama. Gadis itu sudah handal, dengan basic pertahanan yang cukup kuat.
"Bang Givan yang ambil kamar untuk aku, Mah." Keith yakin, ia selalu mendapat kesempatan dengan Ria. Meski ia akan tinggal di rumah orang tua bosnya.
Adinda manggut-manggut. "Pulang sama Mamah yuk, Dek?" Adinda sudah izin untuk pulang pada Nafisah. Nafisah bersedia untuk ditinggal, ia pun akan kembali ke rumah sendiri.
"Eummm...." Ria beradu pandang dengan laki-laki yang selalu diam menerima ketika mendapat sentuhannya.
"Ayo ke abang ipar kau, kalau mau dilanjutkan. Canda yang janda, mampu tak hamil duluan kok. Jangan sampai kau yang gadis, malah buat malu ibu kau!" Adinda mengacungkan jari telunjuknya ke arah Ria.
"Iya, Mah. Iya nih, pulang." Ria berjalan ke arah ranjang, untuk mengambil beberapa barang miliknya.
"Ini, Dek. Katanya minta dibawakan ini." Keith bergegas mencari barang yang ia bawa dari Singapore. Sebuah pernak-pernik indah, dengan hiasan yang begitu menarik.
"Wah, iya. Makasih, Bang." Ria langsung mengambil alih barang tersebut.
"Sini cium." Ria hendak meraih leher Keith, agar ia bisa menjejakkan ciuman manis di pipi duda tersebut.
"Eukhmm...." Adinda bersedekap tangan, dengan membuang wajahnya.
Ria mengurungkan niatnya. Keith dan Ria hanya saling tertawa kecil saja, saat mendapat tatapan tidak ramah dari Adinda.
__ADS_1
"Pulang dulu, Bang." Ria melambaikan tangannya dengan melangkah ke arah pintu.
"Ya, Dek. Chat aja nanti." Keith tersenyum manis.
Ia tidak habis pikir, dengan keberanian gadis yang dikenal polos dan lugu itu. Keith tahu bagaimana Ria yang sebenarnya, ia adalah pemberani yang royal juga. Ria pun tahu menyenangkan ego laki-laki.
Adinda dan Ria berjalan beriringan. Adinda sedikit dongkol, karena Ria datang ke kamar inap laki-laki. Meski ia tahu Ria dan Keith tadi belum sampai melakukan hubungan terlarang tadi, tapi ia akan tetap mengadukan pada Givan. Karena ia tahu, Ria hanya tunduk pada kakak iparnya itu. Ria sulit dinasehati, kecuali jika Givan sudah turun tangan. Givan bagai pengganti ayahnya, yang lama sudah meninggal dunia.
"Mah, mau mie ayam tak?" tanya Ria, yang baru saja melewati orang jualan mie ayam.
Adinda berpikir itu adalah sogokan, agar Adinda tutup mulut.
"Tak!" ketus Adinda tanpa melihat Ria sedikitpun.
"Kok begitu sih, Mah? Jajan aja kita." Ria masih celingukan, melihat gerobak mie ayam yang sudah dilewati mereka.
"Mamah tau ya pikiran kau, Ria!" Adinda merogoh kantongnya.
Ia segera mencari nama anak sulungnya dalam kontaknya. Ia tahu, bahwa ia pelupa. Ia akan melaporkan pada Givan, sebelum ia melupakan kejadian tadi. Ia tahu, usianya sudah membuatnya pikun. Untung saja, ia tidak lupa dengan nama anak cucunya.
[Van, adik ipar kau ngamer sama Keith.] Adinda yakin, anaknya akan menanyakan kejelasan dari aduannya ini. Jika ia tidak langsung menyampaikan, ia yakin ia akan lupa dengan hal ini.
Ria tidak tahu, jika Adinda melaporkan pada kakak iparnya. Ada ketenangan tersendiri baginya, karena ia tahu kakak iparnya hanya menanyakan satu pertanyaan saja, jika ia ketahuan bermain dengan para laki-laki.
"Bakso, Mah. Mau tak?" Mereka melewati gerobak pedagang bakso keliling.
"Tak juga!" tolak Adinda ketus.
"Loh, kok gitu sih, Mah? Mamah kau jajan apa, aku jajanin," ujar Ria dengan menggandeng tangan mertua kakaknya tersebut.
Adinda menoleh pada Ria, dengan memberikan sorot tajamnya. "Rupanya.....
__ADS_1
...****************...