Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM206. Tentang vasektomi


__ADS_3

"Kenapa? Kenapa tak lanjut ngomong?" Givan masih menunggu keterangan istrinya.


"Masa dipotong semuanya?? Nanti aku pakai apa?" tanyanya amat lirih.


Ghifar langsung memukuli tembok terdekat dengan telapak tangannya. Tawanya membahana, mendengar kekonyolan tutur kata Canda.


Apa yang Canda pikirkan? Adinda yang masih tajam telinganya pun, seperti merasa ada kejanggalan dari ucapan Canda. Ia yakin, menantunya tidak benar-benar tidak mengerti.


"Vasektomi itu urat salurannya diputus, Canda. Bukan punya aku diputus," jelas Givan gemas.


Ia menahan tawanya, dengan meraup wajah polos istrinya. Ia teringat, ia pernah membahas ini. Hanya saja, ia tahu istrinya pasti akan lupa tentang pembahasan ini. Ia tahu, jika tua nanti istrinya akan memiliki penurunan daya ingat. Karena masih muda saja, Canda gampang sekali melupakan hal-hal tertentu.


"Kan kita pernah bahas ini." Givan duduk di tepian brankar istrinya, kemudian mengusap kepala anaknya.


Ia memperhatikan sekilas bayi mereka yang tengah menikmati ASI dengan ditutupi dengan kain. Tangannya terulur, kembali membenahi dada istrinya agar tidak terlihat oleh Ghifar.


"Iya, waktu di Jepara kan? Yang Mas bujuk aku untuk hamil lagi, terus abis itu Mas vasektomi." Canda mengingat semuanya. Tapi Givan bertanya-tanya, kenapa istrinya memiliki pemikiran bahwa vasektomi adalah pemotongan keseluruhan miliknya?


"Nah, tuh tau." Givan memandang istrinya kembali.


"Ya karena justru tau, makanya aku tak mau Mas vasektomi. Aku masih muda, nanti aku pakai batang siapa? Makanya pas di Jepara pun, aku tak mau Mas vasektomi nantinya. Karena aku mikirnya begitu."


Ghifar kembali dibuat terpingkal-pingkal. Namun, kini ia menularkan tawanya dengan ibunya. Ia memeluk ibunya, dengan mentertawakan kakak iparnya yang memiliki pemahaman yang salah tentang hal tersebut.


"Salah, Dodol! Ya ampun, Canda. Kau buat aku emosi aja! Tak tukak lambung, ini bisa-bisa asam lambungku naik, Canda." Celotehan kesal Givan, hanya menambah tawa Adinda dan Ghifar.


"Vasektomi itu, urat aku diputus! Bukannya milik aku semuanya di tebas! Bisa-bisa mati lemas aku, Canda." Givan menarik dagu istrinya.


Canda terkekeh malu. Ia memamerkan giginya, kemudian mencium pipi suaminya sekilas.


"Nanti gimana kalau vasektomi?"

__ADS_1


Rupanya, Canda memiliki pemahaman yang salah tentang vasektomi tersebut.


"Ya tak gimana-gimana, tetap bisa berhubungan se*s. Tapi, aku tak bisa keluarkan air aku, karena salurannya diputus" jelas Givan kemudian.


"Tuh, ya tak hangat," tutur kata Canda, tetap mengundang geli untuk mereka yang mendengar.


Wajah Ghifar sampai begitu memerah, karena terlalu banyak tertawa. Adinda menggeleng berulang, ia mencoba mengatur napasnya agar tidak terus mentertawakan menantunya.


"Kata Mamah sih jangan, Van. Di air itu tuh, ada hormon panas yang biasanya ditandai dari emosi kau. Kalau emosi kau diserap tubuh terus menerus, bisa kemungkinan kau mati cepat," ungkap Adinda menengahi.


"Iya, Bang. Rasanya tak dikeluarkan empat hari aja kan, kek gerah terus. Apalagi, kalau memang tak bisa dikeluarkan lagi. Kin dulu pernah ngobrol kosong sama aku tentang KB laki-laki itu. Kata dia, mending dia yang steril, daripada aku yang vasektomi. Katanya sih, memang tak ada efek samping berarti. Tapi dia tau, kalau laki-laki tak akan baik-baik aja kalau kl*maks, tanpa keluar air. Kek perempuan gitu loh, tapi kalau perempuan kan memang keluar, sayang tak nampak aja. Kalau laki-laki, biasanya kaku tapi memang tak keluar. Kau bayangkan aja rasanya. Saran aku sih, mending Canda pakai IUD atau implan aja kek Aca. Cek secara berkala, untuk meminimalisir resiko buruknya IUD atau implan berpindah tempat," saran Ghifar dengan bijak.


"Mamah tuh tak KB lagi sampai menopause. Kalau kau bisa kendalikan diri sih, hindari aja masa subur, atau masa subur pakai sarung." Adinda membocorkan tipsnya dengan suaminya.


"Mamah sama papah sih memang tak masalah, kalau Mamah hamil dan punya bayi lagi. Papah mikirnya, adik kita nanti pasti kita urus kalau memang umurnya tak sampai untuk besarkan anaknya. Mamah pun tak punya trauma mendalam dalam persalinan, tak ada drama begini." Givan menoleh pada keluarganya.


"Hei! Kata siapa? Kau tak tau ibu kau lahiran di ruang TV, Bang. Bayi dan darah udah keluar di atas karpet, dengan dukunnya aku sama papah." Ghifar membubuhkan kenangannya yang membuatnya sedikit trauma untuk menyentuh wanita.


"Permisi." Petugas medis masuk dengan membawa sebuah nampan.


"Iya, Sus." Adinda dan Ghifar bangkit dari duduknya di tepian singel bed tersebut.


"Ini obat untuk Pak Givan. Yang ini, harus diminum makan. Terus, sisanya diminum setelah makan." Perawat tersebut memberikan obat untuk Givan.


"Oh, iya. Makasih, Sus." Adinda menerimanya.


"Iya, sama-sama. Saya permisi kembali." Perawat tersebut undur diri dengan membubuhkan senyum untuk semua orang yang ada.


Adinda membukakan satu obat, lalu berjalan ke arah anaknya. "Nih." Ia memberikan ke tangan Givan. Namun, Givan malah membuka mulutnya saja.


"Hmm, manja." Adinda menaruh sebutir tablet kunyah tersebut di mulut anaknya.

__ADS_1


"Makan apa aku, Mah?" Givan melihat meja di sekelilingnya.


"Biasa, nasi sama chicken." Adinda menggeser posisi Givan, kemudian ia menengok keadaan cucunya.


"Yey, senang. Ketemu ASI Biyung, jadi minta ASI terus." Adinda mengusap-usap pipi cucunya.


Givan menoleh ke belakang. "Bisa cepat besar Cala nih, anak Yayah." Ia merundukkan kepalanya, lalu mencium tubuh anaknya. Wangi bayi begitu semerbak, membuat Givan ingin terus menciumi anaknya.


"Udah eling sih, anak Yayah. Kemarin kau bilang, urusin dulu, kau pamannya. Pengen kucekik rasanya kau, Bang." Ghifar kesal melihat kakaknya seperti melupakan dirinya.


Givan berbalik arah, ia menatap adiknya yang duduk di singel bed tersebut. "Jadi, aku harus bilang terima kasih berapa kali? Atau, mau aku peluk cium aja?" Givan berjalan ke arah adiknya, dengan menarik tiang infusnya.


"Sungkan!" Ghifar menghindar, saat kakanya berada di sampingnya.


Ia teringat, jika kakaknya tidak akan sungkan untuk mencium dan memeluknya. Sedangkan, ia geli karena mereka sama-sama laki-laki.


"Kabur! Sialan kau! Awas aja kau, kalau infusan Abang udah lepas." Givan terkekeh kecil, dengan melirik adiknya.


"Ya kau m*ho praktek sama aku! Aku geli loh, Bang!" Ghifar memeluk tubuhnya sendiri dan bergidikan.


"Terus, mau praktek sama siapa? Kan kita jenis yang sama." Givan tertawa sendiri mendengar bualannya.


"Udah lah kau, Van! Kau tau adik kau kek kupu-kupu kalau kau cium-cium dia. Dia dari kecil mana mau diciumi begitu, sama Mamah juga." Adinda sudah tahu gambaran Givan yang mendekati adiknya itu.


"Terus ketemu istri yang kek Aca, nyosor aja ke laki-laki. Puas!!!!" ledek Givan dengan lepas.


Ghifar tertawa geli, dengan menutupi wajahnya. Ia tidak bisa mengelak dari ucapan kakaknya, ia tahu bagaimana istrinya.


"Kau pun sama. Emosional, ketemu sama yang tiap hari nguji kesabaran. Puas!!!!" Adinda meledek anak sulungnya.


Givan tertawa malu, dengan menutupi wajahnya sendiri. Ia baru menyadari, ternyata Yang Kuasa begitu adil memasang-masangkan seseorang.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2