Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM225. Rindu yang tumpah


__ADS_3

"Kangen betul aku sama Mas." Canda duduk di pangkuan suaminya yang tengah sibuk dengan laptopnya.


"Ya ampun." Givan hanya bisa pasrah menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa.


"Kangen betul," akunya dengan bermanja di leher suaminya.


"Kangen apa? Orang cuma tak ketemu setengah hari. Sekali ada yang bantuin tuh, kau sih malah lepas tangan. Lagi ngapain dua bayi itu?" Givan menempatkan tangannya di pinggang istrinya.


Aliyah sudah diberi perintah untuk menunggu kedua bayi Canda. Kak Ifa pun, sudah dihubungi kembali. Ia mengatakan pada Givan, akan pergi sore hari dalam perjalanannya.


"Pengen." Canda menyembunyikan wajahnya ke leher suaminya.


"Belum selesai kan? Aku takut kalau kau disesar tuh, Canda. Aku tak mau ambil resiko." Givan mencoba memberi pengertian pada istrinya.


"Tapi aku mau." Canda membingkai wajah suaminya, kemudian menciumi seluruh wajah suaminya.


"Yang mesra dong bangkitinnya. Masa, main aku mau aja. Aku digodain dulu, ini kan belum berdiri." Givan menekan tengah-tengah tubuhnya yang diduduki istrinya.


Canda menyatukan dahinya dengan dahi suaminya. "Ayo kita berpetualang."


Givan tertawa renyah, mendengar ucapan istrinya. "Aku keluarkan aja ya? Tapi tak aku masuki. Mau tak?" Givan mengusap-usap paha istrinya.


"Tapi pengen itu juga, Mas," rengeknya dengan memainkan kancing kemeja teratas suaminya.


"Iya aku keluarkan. Bentar, aku tutup laptop dulu." Givan condong ke arah meja, membuat tubuh Canda sedikit tertekan.


"Aku turun dulu deh." Canda tidak nyaman dengan posisinya.


"Nanti aku gendong. Bentar." Givan segera menyelesaikan pekerjaannya yang baru ia simak.


"Tapi jam tanggung, Mas juga udah mandi. Tak apa kah?" Canda bersiap berpegangan di leher suaminya.

__ADS_1


"Tak apa." Givan tidak keberatan untuk dirinya mandi kembali.


Givan tidak yakin, jika ia akan melepaskan rasa rindu istrinya. Jika sudah dalam keadaan yang berbeda, ia pun pasti akan berusaha untuk melepaskan rasa rindunya juga.


"Malam nanti aku minta ibu tidur di sini ya? Aku mau cek kerjaan nantinya." Givan mulai mengangkat tubuh istrinya.


"Kan ada yang megang Cala sama Cali juga."


Givan merasa, dengan adanya pengasuh bayi. Canda malah tidak terlalu ikut andil untuk mengurus anak-anaknya kali ini.


"Ya ASIin mereka." Givan sedikit paham, jika mengASIhi mereka saja itu cukup lelah. Tapi hati kecilnya pun tetap ingin anak-anaknya tidak kekurangan waktu bersama ibunya.


"Iya, Sayang." Canda tentu tidak akan membiarkan ASInya penuh dalam pabriknya.


"Mau yang hard apa yang slowly?" Givan meletakkan istrinya perlahan di dalam sofa yang berada di ruang kerjanya.


Canda paham, mungkin suaminya ingin suasana baru. Karena saat hamil, mereka hanya aktif di dalam kamar.


"Slow aja deh, takut linu bekas sesar aku." Canda mengusap-usap perut bagian bawahnya.


"Ohh, dari aku tak sadar pun dihitung kah? Berarti aku udah nifas dua puluh lima hari?" Givan lekas menjawab dengan anggukan kepalanya.


"Aku kunci pintu dulu." Givan memberi serangan singkat dengan bibirnya.


"Oke." Canda mengusap rahang suaminya sekilas, ia membiarkan suaminya pergi sejenak.


Ada rasa tidak mengerti untuknya, kenapa istrinya jelas sangat jauh berbeda dengan Canda dahulu. Perbandingan terbalik, Canda seperti bukan Canda yang pertama ia nikahi. Makin bertambah tahun pernikahan mereka, Canda semakin menampakkan sifat aslinya dalam kebutuhan ranjang.


Meski sesekali ada rasa bosan menyelimuti. Namun, akhirnya rasa penasaran yang terus menanti.


Dalam sekejap, Givan mampu membuat istrinya menyebut namanya begitu lepas. Givan merasa dirinya begitu gagah, karena mampu memberikan kepuasan untuk istrinya.

__ADS_1


Tangan kirinya bekerja, untuk mengurut miliknya sendiri. Givan terus memberikan sensasi unik untuk istrinya, dengan ia pun menikmati pekerjaannya kali ini.


Rindu mereka terpecahkan, di tengah kebingungan Chandra mencari keberadaan orang tuanya. Ia sampai beberapa kali mengelilingi rumah, tapi tidak menemukan keberadaan orang tuanya. Ia datang ke rumah neneknya pun, tapi tetap tidak menemukan keberadaan orang tuanya.


Logikanya bermain, rasanya tidak mungkin jika ibunya dan ayahnya pergi cukup jauh dengan meninggalkan dua anak bayi tersebut. Meski tidak dijelaskan, Chandra cukup mengerti siapa Cali untuknya. Ia tahu, Cali adalah sepupunya. Namun, ia tidak begitu heran dengan keberadaan Cali di sini. Karena ia sudah biasa saja, dengan keberadaan para sepupu atau saudaranya yang tinggal di lingkungan mereka. Atau bahkan, hidup dalam asuhan orang tuanya. Ia tidak begitu mempersalahkan keputusan orang tuanya yang menambahkan adik untuknya tersebut.


"Ayah kau ke mana?" Gavin mendatangi teras rumah Chandra, dengan wajah frustasinya.


Ia merasa tidak ikhlas, dengan keberadaan ayah kandung Elang di usaha milik orang tuanya. Bahkan, usaha tersebut sudah tunjukkan untuknya dan Gibran.


Ia ingin membicarakan perihal masalah yang berhubungan dengan usahanya tersebut, pada kakaknya yang menurutnya cukup ahli di bidang bisnis. Gavin paham, bahwa kakaknya adalah orang yang super sibuk. Ia pun mengerti, tentang aturan hidup kakaknya yang bilamana ia butuh, ia harus mencari orang yang ia butuhkan.


"Tak tau, Pak Cek. Aku sampai keringetan keliling nyariin ayah." Chandra menyeka lehernya dari lelehkan keringatnya.


"Periksa kah? Tadi Pak Cek dengar, katanya ayah sama biyung kau mau ajak Cala dan Cali periksa." Gavin sudah tahu nama untuk anak yang terdengar kembar tersebut.


"Tak, Cala sama Cali ada di kamar tamu rumah ayah. Mereka lagi tidur, sama kak Aliyah yang lagi lipetin baju mereka. Kata kak Aliyah, tadi ayah sama biyung ada kok lagi ngobrol." Chandra tidak mengetahui keberadaan orang tuanya yang hilang secara misterius.


"Pak Cek Gibran mana?" tanya Chandra berlanjut.


"Main bola di tanah belakang. Kau mau main, ya tinggal main aja tuh. Nanti Pak Cek bilangin ke ayah kau, kalau kau pergi main bola." Gavin menepuk pundak keponakannya.


"Aku mau minta izin main ke Izza sebentar."


Gavin geleng-geleng kepala, mendengar pengakuan keponakannya. Setelah kejadian ini, ia merasa trauma dengan bangsa perempuan. Ia tidak mau orang terdekatnya terlalu dini dikecewakan oleh perempuan.


"Kau jangan pacaran ada, kau jangan terlalu bucin ke Izza. Nanti kau dipesantrenkan, belum tentu Izza setia nungguin kau. Belum lagi, pendidikan tinggi nanti kau di Singapore. Kau yakin, Izza di sini cuma fokus belajar? Kau yakin, Izza di sini tak diantar jemput laki-laki lain? Masa depan kau masih panjang, susun aja dulu rencana hidup kau kedepannya." Gavin memperhatikan pemuda tanggung tersebut dari samping.


"Aku tak pacaran sama Izza. Aku ke sana mau ambil surat keterangan sakit punya Izza, karena Senin besok dia tak berangkat. Aku pun sekalian mau nengokin dia, dia sakit udah semingguan." Chang sedikit malu, jika orang lain paham bahwa ia menaruh rasa pada Izza.


"Kau tak paham, Chandra." Gavin memandang kosong ke depan.

__ADS_1


Pikirannya kembali rumit, ia ingin mencari pertolongan kakaknya untuk menyelesaikan masalahnya.


...****************...


__ADS_2