
"Huft...." Canda menghela nafasnya. "Aku pikir, Mas mau ngomong aku cinta banget sama kamu." Tidak ada yang lebih menyenangkan, ketimbang pasangan kita mengungkapkan perasaannya.
Sayangnya, untuk klan manusia sombong yang memiliki gengsi tinggi seperti Ananda Givan. Mengakui cinta dengan kata-kata, adalah hal yang tidak penting untuknya. Menurutnya, dari pembuktian saja sudah cukup untuk memahami bahwa dirinya amat mencintai istrinya.
"Lebay deh!" Givan menarik-narik pipi Canda pelan.
"Huh." Canda mendengus sebal. "Tak Ghifar, bang Daeng, Mas Givan juga, tak ada yang cinta sama aku."
Givan cukup sensitif, ketika istrinya menarik nama laki-laki lain. Apalagi, jika Canda membawa nama adiknya yang notabene adalah mantan kekasih Canda.
"Tapi sikap aku ke kau sama Nadya dulu beda. Kau pun tak akan tau payahnya aku, lepas kau lahirin Ra." Givan menurunkan suaranya.
Ia tetap merahasiakan, bahwa dirinya menangis meraung dengan berlebihan. Ketika istrinya itu hilang sadar di meja operasi.
"Nadya lagi, Nadya lagi. Sama Nadya sih, Mas jelas tak cinta. Kan sikap Mas ke aku, sama ke Ai waktu dulu itu beda. Waktu kita kumpul keluarga di rumah omah, aku dibawa Ghifar." Canda menarik kejadian lima belas tahun silam, saat dirinya masih begitu bahagia mengejar cinta dari Ghifar.
"Mana ada! Kau tak pernah ngerasain ditabok aku, dijambak aku, dibekap, diikat, dikasari kan?"
Jelas hal itu membuat Canda melongo saja. Namun, sejurus kemudian ia malah meraup wajah suaminya.
"Tapi aku ngerasain diperkosa sama Mas." Ketika teringat akan kejadian itu, Canda merasa ingin menganiaya suaminya saja. Pelaku yang merebut kesuciannya, kini menjadi suaminya sendiri.
Givan terkekeh kecil. Ia menepis cubitan brutal dari istrinya, ia geli sendiri melihat raut marah istrinya yang mendadak itu.
"Tapi enak kan?"
Bukannya mereda, Canda semakin berniat membuat tubuh suaminya biru-biru karena cubitannya.
"Mana ada diperkosa enak, untung-untung aku masih hidup. Lari ditarik lagi, dipeluk paksa, dibawa masuk ke kamar. Kaki ditarik-tarik, ditahan buat dibuka."
Tawa Givan menggema. "Hei, cuma begitu loh. Daripada dikasih pemanasan, tadi dikasari aku. Hayo, mending mana?"
"Sama tak enaknya! Huh! Heran aku, kenapa juga bisa aku bilang tergila-gila sama laki-laki begini." Berakhir Canda yang bersedekap tangan, dengan menggerutu hebat.
Itu adalah humor untuk Givan. Ia suka melihat ekspresi marah istrinya yang berubah-ubah tersebut.
__ADS_1
"Karena aku punya uang. Dulu waktu krisis ekonomi melanda, kau kek tak sudi betul ngurus suami." Tentu saja perkataan tidaklah benar, Givan hanya mencoba mengguraui istrinya.
"Mana ada!" Suara tinggi Canda, membuat gelak tawa Givan lepas kembali.
"Karena apa dong, bisa tergila-gila itu?" Givan menyambar bibir istrinya karena gemas.
"Entah, padahal tukang bentak. Sakit bukannya diurus, malah dimarahin dulu," jawabnya dengan gerutuan kembali.
"Apanya? Segitu diurusnya kok. Ditemani BAB, dibawa ke rumah sakit. Dibantu mandi, digendong-gendong terus." Givan tidak terima karena istrinya seolah tidak menyadari kasih sayangnya.
Namun, Givan teringat akan kejadian sebelum di kamar mandi itu. Ia masuk ke kamar mandi, dengan Canda yang tengah diare. Kemudian dirinya melakukan mandi untuk membersihkan diri, karena ia mengurung Ai dalam kamar rahasia saat keadaannya tidak sadar.
Apa karena hal ini, Ai sampai di Aceh untuk menemuinya?
Tapi, kenapa Ai tidak mencarinya ketika ia berada di Jepara?
Givan merasa, ada kabar buruk yang menyertai kedatangan Ai ke sini. Apa Ai meminta kerugian darinya? Atau, Ai menuntut sesuatu darinya?
Ia dirundung rasa penasarannya sendiri.
Givan langsung tersadar dari lamunannya. Ia menoleh pada istrinya, dengan menyunggingkan senyum yang merekah.
"Sholat yuk? Bareng anak-anak yuk? Nanti abis itu kita ngaji bareng, sampai Isya. Terus kelonan deh, nengok anak Yayah." Berakhir dengan Givan yang mengusap-usap perut istrinya.
"Nanti jangan keras-keras ya, Mas?" Canda bangkit dari tempat tidurnya.
Givan pun mengikuti gerakan istrinya. "Mana pernah aku keras? Aku tak pernah cepat-cepat juga, kalau kau tak minta cepat." Selembut itu, ia memperlakukan istrinya.
Padahal sebelumnya, Givan terkenal egois dan kasar dengan fantasinya sendiri. Givan jarang memberi kepuasan untuk pasangan, ia hanya mementingkan dirinya sendiri. Namun, itu semua ia redam hanya untuk istrinya. Ia paham, jika istrinya memiliki trauma s******l.
Canda terkekeh kecil, kemudian mendahuluinya suaminya untuk mengambil air wudhu. Setelahnya, mereka bersama-sama melakukan sholat Maghrib berjamaah dengan anak-anaknya.
Givan pun memenuhi kebutuhan batin istrinya, yang kemarin hari tidak dilakukan. Karena seperti itulah siklus aktivitas ranjang mereka. Sehari melakukan, sehari hanya tidur saja. Kadang pun, Givan menagih di waktu siang hari atau ketika fajar menyerang.
Namun, setelah itu. Bukannya ia terlelap, tetapi malah termenung karena baru mengetahui bahwa ayah sambungnya menelponnya tiga kali. Pasti, orang tuanya tersebut memintanya untuk datang ke rumah.
__ADS_1
"Canda, kau udah lelap?" Givan masih mengusap-usap punggung istrinya, karena seperti itu kebiasaan tidur Canda selepas ia dirujuk kembali oleh Givan.
"Udah nyaman." Canda tetap memejamkan matanya.
Untungnya, mereka sudah mencuci dan berpakaian kembali.
"Aku izin keluar ya? Pengen ngopi aja, terus langsung pulang lagi."
Tanpa memiliki pikiran buruk, karena provinsi ini minim tempat untuk maksiat. Canda langsung menganggukkan kepalanya, menyetujui hal tersebut.
"Tapi, tunggu aku lelap dulu." Satu syarat itu Canda keluarkan.
"Iya, Canda." Givan mencoba membuat istrinya bermimpi indah.
Mulut terbuka istrinya, dengan dengkuran halus menandakan bahwa istrinya itu sudah begitu nyaman di alam mimpi. Selimut yang acak-acakan, Givan benahi lalu ia gunakan untuk menutupi tubuh istrinya agar tidak kedinginan tidur tanpa pelukannya.
Ia bertekad untuk segera kembali ke rumah, setelah ia memenuhi panggilan tidak langsung lewat telepon tersebut. Ia paham, orangtuanya pasti memintanya untuk datang.
Dengan mencari atasan piyama tidurnya, Givan juga membawa ponsel dan dompetnya. Ia khawatir istrinya mencarinya lewat telepon, jika ia tidak membawa ponsel.
Kancing terakhir pada piyama berwarna biru gelap tersebut Givan tuntaskan, sampai akhirnya ia meninggalkan kamar. Setelah ia keluar dari pintu rumahnya, ia mengedarkan pandangannya pada rumah anak-anaknya yang tinggal dengan para pengasuhnya.
Baru ada empat rumah, di hadapan matanya. Rumah milik Key dan Zio berdampingan. Lalu rumah milik Chandra dan Cani, juga berdampingan. Sedangkan, rumah Ra belum lekas dibangun. Ra masih tinggal bersama neneknya dari ibunya, kadang pun ia ikut bersama pengasuhnya di rumah suami pengasuh tersebut. Givan tidak khawatir akan hal itu, ia percaya dan mengenal baik karakter orang-orang yang ia percayakan tersebut.
Langkahnya bergerak, melewati jalanan yang diguyur hujan di kampung tersebut selama dua jam. Udara dingin yang menusuk, dengan kabut putih yang menyeramkan, memberikan kesan horor di kampung yang mayoritas penduduknya adalah berkebun semua itu.
Kurang dari lima menit, ia sudah menginjak lantai rumah ibunya yang paling megah sekampung tersebut. Ia langsung masuk, karena lampu rumah tersebut masih menyala.
Tanpa disangka, satu tonjokan langsung mengenai tulang pipinya. Ketika ia baru menutup pintu rumah tersebut.
Emosinya terpancing seketika, dengan serangan tiba-tiba tersebut.
"Maksud kau apa, hah?!" Givan langsung mencengkeram kaos laki-laki di hadapannya.
...****************...
__ADS_1
Yang belum tap ❤️ favorit, belum rate ⭐⭐⭐⭐⭐, mohon ditap dan beri dukungannya ya 😁🙏 terima kasih