
"Kenapa, Canduku?" Givan merangkul wanita yang tiba-tiba duduk di sampingnya lalu memeluk lengannya itu.
"Tapi aku kecanduan bang Daeng. Bisa tak ya, kita ketemu lagi di akhirat nanti?"
Givan tidak menyukai perkataan yang keluar dari mulut istrinya.
"Mood swing kah?" Givan memilih tidak menanggapi ucapan Canda barusan.
Canda mengedikan bahunya. Ia pun tidak mengerti, kenapa dirinya tiba-tiba memiliki perasaan yang tidak jelas seperti ini.
Hormon kehamilannya, membuatnya bersedih hati dan tidak mengerti akan keinginannya agar tidak sedih kembali. Canda tengah dirundung kegundahan dan pendingin hatinya.
"Anak Yayah ini tak ditengok lama. Rindu Yayah tak, Nak?" Givan memilih mengusap-usap perut Canda.
Namun, Canda mengerti akan kalimat tengok menengok itu. Ia menepis tangan suaminya, lalu ia memeluk perutnya sendiri.
"Tak rindu kok, Yah." Canda yang menjawab pertanyaan untuk anaknya tersebut.
"Hmm...." Givan hanya bisa menghela napasnya. Ketika ia mengajak istrinya ke swalayan besar pun, nyatanya saat pulang Canda tidak mau mampir sejenak ke hotel yang banyak mereka lewati.
Givan sudah merasa seperti saat istrinya nifas, ia berpuasa lama untuk tidak merasakan kehangatan istrinya. Perubahan emosional pada diri Givan cepat berubah, karena hawa panas tersebut selalu ia pendam untuk tidak memaksa istrinya.
Ia tidak kuasa memaksa Canda, ia begitu takut Canda teringat akan luka traumanya. Ia tidak ingin, Canda berpikir kembali bahwa ia adalah pelaku perampasan mahkotanya.
"Assalamualaikum, Bang...." Terdengar seruan dari luar rumah mereka.
"Ya, wa'alaikum salam." Givan meninggalkan istrinya untuk membukakan pintu.
"Bang, aku mau gantikan mamah sama papah di sana. Kasian, udah tua malah nunggu pasien di rumah sakit." Gavin datang dengan urat masamnya.
Ia sedikit kesal pada kakaknya, karena Givan tidak peka terhadap orang tuanya sendiri. Ai datang karenanya, tapi orang tuanya yang malah repot.
"Oh, ya udah." Givan berpikir adiknya hanya meminta izin saja.
__ADS_1
"Ya udah gimana maksudnya, Bang? Bang Ghifar tak WA memang?" Nada keras Gavin terdengar jua akhirnya.
"Ehh, ada WA kah?" Givan menoleh ke arah istrinya.
Canda mengedikan bahunya. "Aku baru balik dari rumah anak-anak."
Givan pun tengah fokus pada laptopnya, ia tidak mengantongi ponselnya sejak siang tadi.
"Bentar, Abang cek dulu." Givan meninggalkan daun pintu utama tersebut, kemudian hendak berjalan ke arah kamarnya.
"Udah! Tak usah! Biar aku bilang aja!" Gavin mengeluarkan suara kerasnya lagi.
"Ehh." Givan berbalik ke arah adiknya lagi.
"Gimana?" Ia menghadap pada adiknya kembali.
"Minta uang cash ataupun debit, bayar administrasi. Ai tak punya asuransi kesehatan. Papah sama mamah udah keluar uang buat administrasi kamar dan oksigen tadi. Aku larang mereka keluar uang lagi, karena Ai bukan tanggungan mereka."
Cukup berani Gavin menurut Givan. Ia pun tidak keberatan, jika memang diminta untuk biaya rumah sakit.
Dua orang yang memiliki sifat tempramen itu, dibuat melongo dengan ucapan Canda yang tengah berada di mode mood swing itu. Canda dengan santainya melanjutkan jarinya terus menscroll sosial medianya, tanpa memperdulikan ucapan yang baru keluar dari mulutnya itu.
"Ya tak bisa gitu dong, Kakak Ipar! Masa orang tua aku lagi yang dibebankan. Ai itu, dia tak mungkin punya uang juga untuk bayarnya. Toh, dia pun lagi tak berdaya di atas brankar. Gimana ceritanya dia suruh bayar perawatan rumah sakitnya sendiri?" Gavin sampai ngotot-ngotot ketika berbicara pada kakak iparnya yang paling ia hormati itu. Sifat aslinya keluar dan Canda sudah tahu, akan sifat Gavin yang tidak pernah ada halusnya ketika marah.
"Ai udah bangun sejak siang tadi. Aku rutin chat sama mamah, Vin. Tinggal kau bilang aja ke Ainya, bilang aja Canda larang Givan bayar administrasi rumah sakitnya, dia suruh bayar sendiri. Masalah nanti, biar Abang kau yang hadapi."
Rahang Givan terjatuh. "Bisanya aku yang hadapi? Kan kau yang ngelarang?" Givan terkekeh geli sendiri, setelah mencerna ucapan istrinya.
"Kan Mas suami aku! Katanya, dosa aku aja Mas yang tanggung?!" Canda sampai menajamkan sorot matanya.
Givan langsung hormat pada istrinya. "Oke siap, Canduku." Givan paham mood istrinya tengah kacau. Karena biasanya pun, Canda tidak pernah sepelit ini.
"Oke gimana maksudnya, Bang?!" ketus Gavin dengan memandang marah kakaknya.
__ADS_1
"Bilang aja Ai suruh bayar." Givan mengedipkan matanya rapat, ia berharap Gavin mengerti situasi sekarang.
Sayangnya, pemuda berusia dua puluh dua tahun tersebut malah mengeluarkan pertanyaan yang harusnya diucapkan nanti.
"Oh berarti nanti Abang bayarin sendiri ya, Bang?"
Tepok jidat. Givan langsung mengacak-acak rambutnya. Istighfar ia ucapkan berulang kali, karena ia pasti akan membuat Canda berdrama lebih lama lagi.
"Abang sendiri gimana, Vin? Uang Abang kau, ya uang aku juga! Aku tak mau bayar, Mas Givan pun tak boleh bayarkan juga!" Canda sampai berteriak lepas.
Berdenyut sudah kepala Givan. Ia khawatir anaknya lahir lebih dini, karena Canda ngotot-ngotot saja.
"Haduh! Sulit kalau ngomong sama bocah!" Givan membuang napas panjangnya. "Nanti juga dibayar, tapi nanti. Kalau Kakak Ipar kau udah sadar." Akhirnya Givan berterus-terang di sini. Sudah terlanjur Canda mengamuk juga pikirnya.
Givan bermaksud kelak nanti akan membayar, jika sudah mendapatkan izin dari Canda.
"Mas pikir aku gila juga kah macam Ai?!!" Begitu lantangnya suara orang yang terkenal alim tersebut.
Givan memijat pelipisnya sendiri. "Tak begitu, Cendol. Biasanya dalam amalan itu kau paling terdepan," terang Givan yang sudah pasrah akan ancaman dana kata-kata dingin istrinya setelah ini.
Ia mencoba mempersiapkan diri, juga menguatkan mental agar tidak menangis kembali ketika diusir dari rumah.
"Aku tak mau sedekah sama perempuan yang mau rebut ayahnya anak-anak aku. Bawa sana sekalian anak-anaknya! Minta dia urus tanpa baby sitter!" Canda langsung mengeluarkan ultimatumnya.
Jemari kakinya langsung menggigil. Givan tidak bisa membayangkan, jika anak-anaknya hidup dengan wanita yang tidak memiliki ilmu agama yang luas. Ditambah lagi dengan background-nya yang begitu suram, ia khawatir anak-anaknya minus akhlak dengan tambahan karma darinya. Hal itu jangan sampai terjadi menurutnya.
"Ya tak bisa gitu dong, Canda. Kau pun berarti harus ikut." Givan memilih untuk mendekati istrinya yang tengah berubah menjadi maung tersebut.
Gavin kebingungan di sini. Ia menggaruk kepalanya, kemudian balik arah dan bubar jalan. Ia kembali ke rumahnya, kemudian segera membawa sebuah mobil milik orang tuannya yang sudah terdapat beberapa keperluan untuk di rumah sakit nanti. Ia gagal meminta uang pada kakaknya, ia lebih takut disalahkan karena memperkeruh suasana di rumah kakaknya. Karena ia baru tahu sendiri, begitu seramnya Canda mengamuk.
"Sana pergi ke rumah sakit sekalian! Bawa uang-uang Mas! Sana bayarin j****gnya! Penuhi sana biayanya! Tanggung sana dosa-dosanya! Bahagia sana, karena cintanya terpenuhi! Kesampaian tuh punya istri yang montok, tinggi dan berisi."
Sejak kapan mulut istrinya begitu kasar? Givan dibuat terkaget-kaget, karena Canda terlihat bukan seperti Canda yang ia kenal baik.
__ADS_1
...****************...