Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM103. Dipulangkan


__ADS_3

"Pah, sehat?" Putri langsung merunduk dan mencium tangan Adi.


Adi memperhatikan Putri dengan seksama. Wajah kagetnya tidak bisa disembunyikan, ia masih ingat betul dengan mantan pacar anaknya yang sering menginap di rumah.


"Ya. Kau di sini?" Adi menggulirkan pandangannya ke arah dalam tenda.


Terlihat anak sambungnya tengah menyantap nasi kotak dengan santai. Adi memperhatikan dari tempatnya keadaan anaknya dengan seksama, ia khawatir fisik anaknya tidak kuat menanggung rasa pedas tersebut.


"Ya, Pah. Aku ada proyek jalan tol," jawabnya dengan tersenyum ramah.


Adi mengangguk, ia tidak berminat banyak bertukar kata dengan Putri. Sejak tadi, ia memikirkan keadaan anaknya. Ia tidak tenang, karena Givan tidak kunjung diantarkan ke rumah. Ia khawatir anak itu ambruk, karena mental dan fisiknya yang tidak baik-baik saja.


"Kau tak apa, Van?" tanya Adi, dengan melangkah masuk ke dalam tenda.


Putri meninggalkan tempat tersebut, begitu tahu orang tua yang ia ajak bicara beranjak masuk ke dalam tenda. Tadinya Putri berniat untuk memberikan anaknya satu set baju yang ia simpan di dalam tasnya tersebut, tetapi sejak tadi menunggu ia tidak melihat keberadaan anaknya. Ia tidak tahu jadwal kegiatan Jasmine, ia pun tidak tahu di mana Jasmine tinggal.


"Tak apa, Pah." Givan menoleh sekilas pada ayah sambungnya. Kemudian, ia melahap kembali makanannya.


Adi duduk di brangkar pasien. Ia memperhatikan anaknya dari belakang.


"Papah bawa baju kau yang pagi tadi, nih ganti dulu. Lepas baju itu, papah trauma lihat baju gamis putih panjang itu."


Jubah itu, menjadi kenangan pahit untuk Adi. Ia tidak pernah tahu, jika jubah yang khas di pakai di Makkah itu ternyata menjadi busana wajib untuk mereka yang akan menjalani hukuman cambuk. Ia tidak pernah menonton eksekusi hukuman cambuk, karena ia adalah jenis manusia yang tidak tega.


"Ya, Pah." Givan meninggalkan bangkunya.


Ia menutup tirai tenda tersebut, lalu mengganti pakaiannya kembali. Setelan celana jeans dan kemeja, menjadi style sehari-hari Givan.


"Nanti kita cek ke rumah sakit." Adi sekilas melihat luka di punggung anak tirinya.

__ADS_1


"Udah dicek sama dokter, Pah." Givan membuka tirai kembali, lalu duduk di bangkunya untuk melanjutkan makan.


"Scan bila perlu, Van. Kau keknya tak baik-baik aja." Luka di kulit dan tidak berdarah tersebut, seperti ciri khas yang sudah menyatu di tubuh Givan.


Setelah ini, Adi tak akan mengizinkan anaknya untuk melepaskan kaos atau kemejanya. Karena nanti, malah akan teringat tentang hukuman hari ini.


"Lihat nanti aja, Pah. Sekarang sih, cuma agak sakit dan pedas aja rasanya." Givan memperhatikan lalu lalang di luar tenda.


Hingga masuklah kepala desa, dengan membawa obat-obatan yang didapat dari dokter. Empat macam obat, dengan aturan minum yang tertera.


"Sudah tuntas ya, Bang? Plong," ucap kepada desa dengan akrab.


"Alhamdulillah, kek tak punya hutang." Givan memamerkan senyum lebarnya.


Kepala desa baru menyadari, jika ada orang lain di tenda tersebut. "Eh, Teungku. Ya Allah, Saya tak lihat ada Teungku di sini." Ia mendekati Adi dan berjabat tangan dengan Adi.


"Iya, Teungku. Tadi diperiksa dulu sama dokter, kita kasih nasi kotak, suruh makan dulu terus diminta langsung minum obat di sini. Sisanya, minum obat di rumah. Biar tak infeksi atau semacamnya, biar rasa sakitnya samar juga." Kepala desa bergulir memandang Givan. "Nanti obatnya dihabiskan, Bang Givan," lanjutnya kemudian.


"Oke, Keuchik." Givan sudah menyelesaikan makannya.


"Nih, diminum satu dari empat macam obat ini. Biasa, tiga kali sehari. Banyakin istirahat dulu, Bang." Kepala desa mengulurkan obat yang masih berada di tangannya.


Givan menerima kantong plastik berwarna putih tersebut, kemudian membuka isinya. Ia mengeluarkan satu persatu obat dari dalam bungkusnya, kemudian segera meminumnya dengan meneguk air mineral kemasan gelas. Banyak tersedia di bawah bangku tersebut, air mineral kemasan gelas yang masih berada di dalam kardus.


"Aku udah pegang surat tahanan mandirinya, nanti serah terimanya di rumah aja, Teungku." Kepala desa menunjukkan amplop berwarna putih pada genggaman tangan kirinya.


"Oke, Keuchik." Adi mengangguk beberapa kali.


Suasana yang sudah sepi, tidak terlalu mencolok ketika rombongan dari desa mengiringi kepulangan Givan bersama ayah sambungnya. Rumah Adinda, adalah tujuan mereka datang.

__ADS_1


Hanya berjarak sekitar seratus meter, dari tempat Givan di eksekusi di masjid milik Nalendra ke rumah ibunya. Harapan Givan hanya satu, setelah ini ia benar-benar berubah menjadi lebih baik lagi dan jera terhadap perbuatan tercela.


Basa-basi terjadi di ruang tamu Adinda. Keterangan waktu pembebasan Givan, akan disusul lagi dengan surat dari desa yang menyatakan bahwa dirinya sudah menyelesaikan masa hukuman.


Kini, Adinda begitu erat memeluk tubuh anaknya yang sudah sedikit naik suhu tubuhnya. Ia masih terbayang, dengan rasa yang Givan dapatkan di atas panggung tadi.


"Mah, aku udah tak apa." Givan mencoba menenangkan ibunya.


"Dek, jangan bikin keadaan jadi cengeng dong." Adi mengusap-usap punggung istrinya yang tengah memeluk tubuh anak tirinya. Ia paling tidak bisa, jika melihat Adinda menangis.


Adinda adalah kekuatannya. Bagaimana bisa kekuatannya malah menangis seperti ini?


"Ya udah, Pah. Aku pulang aja, dari pada keadaan jadi cengeng gini." Givan tidak ingin menciptakan tangis yang lebih besar di sini.


"Ya udah, ayo Papah antar. Papah mau mastiin bahwa Canda pun aman aja di sana." Adi mengizinkan anaknya untuk pulang ke rumahnya sendiri.


"Eh, Mah, Pah. Putri tadi ngasih nomor, dia minta diizinkan untuk nemuin Jasmine. Karena di jalan, dia tak enak sendiri sama orang-orang." Givan membicarakan ini dahulu, karena ia tidak bisa keluar rumah untuk membahas hal ini dengan orang tuanya. Sedangkan dalam ponsel, menurutnya kurang sopan.


Adi dan Adinda saling memandang. "Kau yakin mau izinkan dia?" Adinda belum memutuskan, tapi sudah bertanya balik.


Ia ingin tahu pendapat anaknya, tentang kabar tersebut.


"Tadi, Putri datangi aku. Dia...." Givan menceritakan dari awal, tentang kejadian di tenda tadi. Tanpa sedikitpun, ia tidak mengarang cerita atau berdusta tentang kabar tersebut.


"Terus, pendapat kau gimana? Betul tak dia ini berubah? Betul tak dia ini udah insaf? Kalau dikasih kesempatan untuk nemuin Jasmine, apa mulutnya bisa dijaga juga? Kau tak mastiin itu kan? Gimana kalau akhirnya Putri yang doktrin yang bukan-bukan ke Jasmine? Mamah jadi ingat Ai yang ngumbar mulutnya ke anak-anak, tentang ayahnya yang tak baik itu? Kan hal tersebut, terus dikonfirmasi Key ke Mamah. Anak-anak cari kebenaran sendiri, di samping dia nanya langsung ke kau. Khawatirnya, mereka malah dapat bukti dari perkataan yang Putri umbar. Tapi kalau dilarang ketemu, malah dia semakin menjadi karena merasa anaknya kami larang untuk kenal sama ibu kandungnya sendiri." Kemungkinan buruk dan baiknya, terus menjadi perbandingan mereka semua.


...****************...


Maaf untuk telat jadwal updatenya 🙏 Karena ada beberapa episode di IS yang diminta untuk direvisi 🙏 Mohon maklumnya kak 😁🙏

__ADS_1


__ADS_2