
"Nah, makanya Saya mengajukan proses hukum. Ya untuk hal itu, Ai. Bukan untuk perihal tanggung jawab ke bayi kau."
Canda memperhatikan suaminya yang tengah berbicara tersebut.
"Tapi Abang pas itu tak minum khamar juga kan?" Kepala desa mengkhawatirkan hal itu. Karena Givan bisa saja lepas dari pasal pengguna jasa perempuan, tapi bisa terkena pasal tentang minuman keras.
"Minum, Pak. Ai pun minum juga." Givan mengakui agar proses hukumnya dipermudah.
"Ehh, Saya dicekoki A Givan. Bukan karena mau Saya sendiri." Ai paham, dirinya akan diberi hukuman tambahan jika mengakui bahwa dirinya pun minum minuman keras.
"Saya hanya menyodorkan, bukan memaksa. Minum atau tak, itu pilihan kau sendiri. Tapi kau minum kan di situ?" Givan masih ingat jelas, ketika ia menuangkan dan memberikan untuk Ai. Ia tidak memaksa, atau sampai membuka paksa rahang Ai.
Semua orang menunggu respon Ai, tapi Ai hanya melirik mereka semua dalam keadaan tertunduk. Jelas, ia terkena masalah.
"Aduh, Bang Givan. Saya jadi ikut mikirin aja nih." Kepala desa memijat pelipisnya sendiri.
"Bisa dibantu tidak ini, Keuchik?" Adi terlihat begitu berharap jika anaknya bisa dibantu.
"Pasti Saya bantu, Teungku. Tapi sebelumnya, Saya obrolkan dulu dengan beberapa orang hukum di desa. Karena dalam masalah awal, menurut pandangan Saya Bang Givan tidak bersalah. Kalau tentang khamar, ya Bang Givan kena ini, Teungku. Masuknya kan ini, sengaja meminum khamar. Diancam Uqubat Hudud cambuk empat puluh kali."
__ADS_1
Mendengar kata cambuk lagi, Adinda semakin dibuat pening. Ia tidak ingin anaknya mendapat hukuman cambuk, entah itu kesalahan ringan atau kesalahan berat.
"Kembali lagi, Keuchik. Kejadiannya itu bukan di Aceh. Jadi baiknya bagaimana?" Hukum negara pun memiliki sanksi tegas bagi siapa saja yang meminum atau menjual minuman keras, bahkan hukumannya lebih berat dari hukuman syariat.
Namun, tidak menampik kemudian. Jika hukuman itu tidak didapat sama sekali, bila kadar alkoholnya di bawah peraturan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah. Kadar 0,5 persen diambil sebagai bentuk kehati-hatian, dalam menetapkan batas aman kandungan alkohol pada makanan atau minuman.
"Saya hubungi orang yang lebih paham tentang hukum ini ya, Teungku?" Kepala desa mengeluarkan ponselnya.
Givan memikirkan dirinya sendiri di sini. Apa sebaiknya ia mengikuti hukum yang berlaku di sini, agar dirinya tidak perlu berpisah dengan suaminya. Gerakan tangannya yang berulang, untuk memijat pelipis dan dahinya sendiri mengundang perhatian Canda. Kekakuan dalam urat wajah suaminya, dengan bulir keringat yang bercampur dengan aroma tubuhnya. Membuat diri Canda semakin percaya, jika suaminya tengah dirundung kerumitan masalah dalam diamnya.
"Begini, Bang.... Ada warga Saya............." Kepala desa menjelaskan pokok permasalahannya sesederhana mungkin, agar dapat dimengerti oleh orang penting yang lebih mengerti akan hukum di daerah tersebut.
"Oke, Baik. Terima kasih ya, Bang Romli? Nanti tolong dibantu jangan diberatkan, misal kasusnya naik dan ditangani Bang Romli." Kepala desa membaurkan tawa ringan mencairkan suasana.
"Bisa, Pak. Tolong dipenuhi saja bukti-buktinya, hal-hal yang sekiranya meringankan juga. Contohnya, beberapa saksi hidup yang berkata jujur bahwa terdakwa tidak sepenuhnya bersalah. Itu pun, melalui proses sumpah juga, Pak. Terdengar ringan memang, tapi itu urusannya antara dia sama Yang Kuasa. Dia bersaksi dusta, atau memanipulasi kebenaran yang ada, ya apes diderita sendiri biasanya itu, Pak. Kalau kasusnya zina, diperlukan kesaksian dua belah pihak juga. Lain hukuman bujang, atau mereka yang sudah menikah. Lain hukuman non muslim, atau orang Aceh yang ketahuan melakukan di luar Aceh. Ditunggu kasus naik berserta bukti-buktinya juga ya, Pak? Masalah keringan, Saya ikut aturan saja. Tapi Saya bisa membantu untuk meringankan, jika ada saksi hidup atau bukti penguat yang menyatakan bahwa terdakwa tidak sepenuhnya bersalah. Kejujuran terdakwa juga dituntut di sini, ada ahli yang bisa membaca ekspresi juga, jadi biasanya hukumannya bisa berbeda-beda, jika ketahuan terdakwa malah berdusta ketika diberi kesempatan untuk mengatakan yang sebenarnya terjadi."
Givan merasa semakin mantap, untuk melakukan hukuman yang berlaku di provinsinya saja. Ia yakin, hanya harga dirinya di depan warga yang bisa mati. Tidak dengan waktu kebersamaannya dengan istrinya, yang terbuang sia-sia karena ia dipenjara lama. Givan berani mempertaruhkan harga dirinya, untuk mendapatkan hukuman yang pantas, tanpa meninggalkan istrinya begitu lama.
"Bisa dimengerti, Bang Romli. Kalau begitu, Saya bereskan dulu di sini, biar bisa diproses segera oleh Bang Romli." Kepala desa menyerahkan kepercayaannya, pada salah satu kenalan di ruang lingkup tanggung jawabnya mengemban tugas sebagai kepala desa tersebut.
__ADS_1
"Siap, Pak." Panggilan disudahi cepat.
"Boleh Saya minta pena dan kertas?" Kepala desa mengisyaratkan seperti mengukir sesuatu dengan jemarinya.
"Boleh, Keuchik." Adi bangkit dan berjalan ke sudut ruangan. Ia mengambil barang yang dibutuhkan, dari rak penyimpanan yang begitu terlihat unik tersebut.
"Buktinya bagaimana, Bang Givan?" tanya Keuchik dengan menjejakkan ujung penanya pada sebuah buku tulis yang masih kosong tersebut.
"Ada dalam dokumen digital Saya, nanti Saya rekap sendiri dan Saya serahkan ke Keuchik langsung." Givan teringat akan bukti-buktinya yang belum berwujud fisiknya.
"Oke, apa saja hal-hal yang perlu Saya ketahui?" Kepala desa meminta pena dan kertas, karena ia sadar di usianya ia sudah mulai pelupa.
"Saya meminum khamar golongan C, dengan kadar lebih dari 20 persen. Tapi Saya masih dalam keadaan sadar, Saya pun masih bisa keluar dari ruangan itu sendiri. Saya melakukan akad jasa penggunaan tubuh dengan Ai, ia meminta delapan digit untuk jasanya, dengan Saya membayar lima puluh juta. Saya tidak melakukan hubungan *****al dengannya, tapi Saya tidak sengaja menyobek variasi pada roknya, karena ikat pinggang Saya tersangkut oleh jaring variasi tersebut. Saya tidak menc*m*uinya, tapi Saya sempat mengeluarkan ke*a*t*nan Saya, tapi memasukkannya kembali ke dalam celana karena istri Saya menghubungi Saya dan Saya memilih pergi meninggalkan Ai yang sudah dalam kondisi mabuk berat. Saya pergi begitu saja, meninggalkan Ai yang tidak berdaya dengan lima laki-laki yang dalam pengaruh alkohol juga. Saya sempat berpikir untuk menghidangkannya dengan para laki-laki tersebut, dengan pembayaran yang Saya lakukan itu. Karena pikir Saya, sepuluh juta untuk satu laki-laki, sedangkan Saya membayar lima puluh juta. Tapi, Saya tidak merealisasikan dalam perintah atau ucapan Saya. Dalam artian, hal itu hanya niat dalam hati Saya saja, Keuchik. Saya menjamin dan berani bersumpah untuk pengakuan Saya sendiri, Saya pun siap dan tunduk pada hukum syariat di sini," ungkap Givan dengan penuh kesungguhan.
"Van!" Adinda tidak percaya, Givan langsung memutuskan kesiapannya untuk tunduk pada hukum yang berlaku.
Semua keluarga inti tidak percaya, dengan kesiapan Givan untuk melakukan hukuman yang berlaku. Mereka sama-sama tahu, bahwa Givan memiliki gengsi dan harga tinggi yang tak ternilai harganya. Bagaimana mungkin, Givan akan rela jika dirinya dicambuk dengan dipertontonkan oleh warga setempat?
...****************...
__ADS_1