Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM75. Pengakuan


__ADS_3

"Saya tidak mengatakan hal tersebut, mungkin orang lain yang menambahkan." Lempar batu sembunyi tangan, pribahasa yang tepat untuk seorang Ai yang tidak mengakui perbuatannya.


"Oke, ke siapa aja Dek Ai cerita ini?" Kepala desa merekam jelas ucapan Ai, begitupun para keluarga Adi's Bird tersebut.


Ai menimbang-nimbang untuk menyebutkan nama beberapa orang, karena ia yakin orang-orang tersebut akan didatangkan. "Aku gak tau pasti namanya siapa, Pak. Aku ditanya-tanya di depan TK Islam itu, terus di warung." Dengan begitu, Ai yakin kepala desa tidak bisa menarik beberapa nama dengan tepat.


"Warung mana ini?" Kebetulan sekali, kepala desa tersebut berasal dari kampung yang sama dengan Adi. Jadi, ia pasti mengenal beberapa orang asli kampung ini.


"Warung sayur, warung sarapan, warung jajanan." Dengan menyebutkan tidak jelas seperti ini, Ai bertambah yakin dengan kepala desa yang tidak bisa menyangka orang-orang yang tepat.


"Letaknya, tepatnya?" Kepala desa masih berusaha mengorek.


"Depan TK, terus di sana, di sana." Ai menunjuk asal tempat yang ia maksud. Ia tidak benar-benar ingin memberitahu dengan pasti.


Dengan keterangan yang tidak jelas, kepala desa tersebut semakin yakin bahwa Ai yang bersalah di sini.


"Begini, Dek Ai. Berterus terang lebih baik, kalau berbelit seperti ini, orang yang dituduhkan tidak terima, Dek Ai malah kena pasal berlipat nantinya."


Ketakutan lagi, yang kepala desa tersebut tambahkan.


Bagaimana ini? Ai memainkan jemarinya sendiri. Ia benar-benar merasa buntu dan pening, sampai-sampai buliran keringat semakin deras berjatuhan. Ditambah lagi, tidak ada yang berpihak padanya. Pandangan semua orang, terlihat menyudutkannya.


Kaku dari perutnya semakin mengencang. Ai mengusap-usap perutnya, dengan memandang wajah Adinda. Ia ingin Adinda kasihan padanya.


Meski Adinda mengerti Ai yang tertekan dan merasa tidak enak dengan perutnya, ia pura-pura tidak mengerti dengan bahasa tubuh Ai. Meski ada ketakutan tentang tubuh Ai yang bisa kembali ambruk, tapi Adinda mencoba tetap tenang agar masalah tersebut Ai selesaikan sendiri. Karena yang memperpanjang masalah ini, adalah Ai sendiri.


"Oke." Ai mengatur napasnya. Ia menyadari bahwa dirinya kalah di sini.


"Saya mengaku bersalah dan Saya minta maaf."


Canda langsung mendekap punggung suaminya. Ternyata, ucapan Ai tentang nikah siri itu tidak benar. Givan benar-benar masih miliknya seorang.

__ADS_1


"Bisa diperjelas???" Kepala desa tersebut mencondongkan tubuhnya ke depan.


Ai mengangguk. "Saya mengatakan bahwa Saya menikah siri dengan A Givan, karena Saya mencoba mengambil simpati orang. Karena keadaan Saya yang tidak mendapat keadilan, memb......"


Kepala desa memasang telapak tangannya, membuat Ai tidak bisa melanjutkan ucapannya.


"Pengakuan saja, bukan disertai dengan alasan. Alasannya bisa diungkap nanti, setelah pengakuan bisa dimengerti," jelas kepala desa dengan terang.


Ai mengangguk. "Saya mengatakan menikah siri dengan A Givan beberapa tahun silam, Saya pun mengatakan bahwa Saya tidak diberi jatah penuh. Saya juga mengatakan bahwa keluarga A Givan lepas tangan, Saya pun mengatakan bahwa anak Saya kelak akan dijatah sampai dewasa. Tapi, A Givan tidak mengatakan sampai kapannya."


Pengakuan akhir tersebut, yang membuat Canda bertanya beribu kali pada suaminya. Akhirnya terungkap, memang Ai di sini ya menambahkan ucapannya.


"Baik." Kepala desa memperhatikan wajah orang-orang yang berada di ruangan ini.


"Bisa dimengerti tidak, Teungku?" tanya kepala desa langsung pada orang kepala rumah tangga di rumah megah tersebut.


Adi mengangguk. "Bisa."


"Yakin dengan resikonya, Dek Ai?" tanya kepala desa.


Kepala desa tersebut tidak ingin ada keributan, meski dalam skala masalah keluarga saja. Apalagi, Givan terlanjur menyeret namanya untuk membantunya menyelesaikan masalah ini. Sekalipun, harus dengan jalur hukum.


Ai mengangguk. "Saya hanya ingin kehidupan yang layak dan baik untuk anak Saya, Pak." Ai tertunduk sedih dengan mengusap perutnya


Bisa dipastikan, bahwa Ai tengah menarik iba orang-orang lagi. Berbeda dengan pikiran Ai yang menginginkan menguasai Givan setelah pernikahan itu terjadi. Pasti akan terjadi hal yang sangat berbeda, jika ia pun memiliki sedikit hak pada Givan.


Ai memandang orang-orang satu persatu. "Aku minta maaf semuanya." Ia terisak-isak penuh sesal.


Mood kehamilan Canda, membuat Canda tertular ingin menangis. Ia sampai membayangkan, jika ketidakadilan tersebut sampai ke dirinya. Apa yang akan ia lakukan, selain mengiba seperti Ai juga.


"Hei, kenapa kau?" Givan menyadari istrinya yang mulai cengeng tersebut.

__ADS_1


Ia merangkul istrinya, dan mengusap ujung mata istrinya. Tanpa sungkan, Givan mencium mata istrinya yang tengah bersedih tersebut.


"Tak kenapa-kenapa." Canda malu untuk mengatakan bahwa dirinya membayangkan bagaimana jika ia menjadi Ai.


Sasaran Ai kurang tepat, karena malah mengenai Canda yang jelas tidak sedang ia arah. Karena dalam pikirannya, Canda tidak akan mampu untuk membantunya dan menyelaraskan posisi agar setara dengan Canda tersebut.


"Jangan nangis lah. Keuchik cuma bilang resiko nikah siri itu, kan tak betul ambil siri." Givan memandang kepala desa dan wajah istrinya yang berada di dekapannya.


Kepala desa menyadari, bahwa ucapannya membuat menantu keluarga terhormat tersebut sampai menangis.


"Oh, maaf Dek Canda. Semua keputusan ada di Bang Givan sendiri kok, Saya hanya menjebatani dan memberi gambaran saja. Saya tidak akan memaksa bang Givan, untuk ikut saran terbaik dari Saya." Ketua desa menjelaskan maksud baiknya sedikit mencampuri masalah ini.


Canda tidak tertarik untuk mendengar hal itu, karena bukan itu permasalahan yang membuatnya menangis. Ia mendekap suaminya erat, menyembunyikan wajahnya pada dada lebar suaminya tersebut.


"Tuh, jangan nangis." Givan mengusap-usap lengan istrinya.


Canda hanya mengangguk, dengan masih bersembunyi dalam tempat ternyamannya. Sayangnya, kenyamanan ini membuatnya semakin betah. Tanpa ia sadari sendiri, rasa kantuknya mulai bertautan dengan kenyamanan tersebut. Hormon kehamilannya, membuatnya kembali hibernasi dalam dekapan suaminya tersebut.


Givan yang menyadari bahwa istrinya terlelap kembali, malah terkekeh dan mencium jidat istrinya. Canda hiburan dan humornya sendiri, yang semakin membuatnya begitu nyaman hidup bersama perempuan lugu itu.


Obrolan serius dilanjutkan, meski Givan dalam keadaan menopang berat istrinya yang terlelap tersebut. Ia sesekali menimpali, dengan menyimak obrolan yang menyangkut hukum-hukum yang berlaku.


"Saya tidak bisa memaksa seseorang untuk memberikan maafnya, itu hak setiap orang pribadi. Untuk kepentingan di desa, silahkan Dek Ai membuat surat pernyataan tidak akan mengulangi lagi dengan tanda tangan di materai tempel. Nah, untuk proses hukum syariatnya nanti diputuskan di balai desa." Kepala desa tersebut menoleh ke arah pak RT. "Bagaimana, Pak?" tanyanya kemudian.


"Ya, nanti biar pihak desa yang lebih berwenang untuk melanjutkan. Tapi mohon kehadiran Keuchik dan juga keluarga Teungku juga pihak saksi yang diperlukan."


Permasalahan itu tidak selesai sampai di sini, karena ternyata Ai tidak mendapat maaf dari Adi, Adinda dan juga Givan. Ketiga nama tersebut, menolak permintaan maaf dari Ai.


"Saya lagi hamil, Pak. Mohon keringanannya." Aku menyatukan kedua telapak tangannya di depan wajahnya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2